
Pintu mobil ditutup kasar. Hans segera kembali beralih membopong istrinya.
“Dokter! Mana dokter! Bantu istriku, istriku tidak sadarkan diri sejak tadi!” Untuk kali kedua dalam hidupnya ia harus menandangi rumah sakit dengan teriakan keras. Dan untuk hal yang sama dengan rasa yang sama.
Hana menelpon Mama dan papa segera.
“Ma, kakak ipar dibawa ke rumah sakit ma.”
“Apa! Kenapa menantu mama, Apa yang terjadi, Hana?!”
“Kak Angel tiba-tiba pingsan ma, sekarang lagi dibawa kak Hans masuk ke dalam.”
“Dimana? Lokasinya dimana?!” Grasak grusuk dan teriakan terdengar di seberang. Segera Hana menyahuti titik lokasi keberadaan.
“Oke, oke mama nyusul kesana.” Tak lupa juga mama menghubungi ayah dan ibu.
Angel segera di angkat dan direbahkan diranjang rumah sakit. Tubuh Hans masih bergetar hebat.“Apa yang terjadi sayang? Kenapa kau sampai tidak sadarkan diri begini?” Hanya bisa membatin menatap tubuh istrinya dibalik tubuh para dokter yang mulai memeriksa kondisi istrinya tersebut.
“Jangan disentuh!” Teriaknya segera. Laki-laki muda dengan nama Abhi. Sorot mata tegas meskipun diliputi kecemasan masih membawa getaran takut bagi yang disentak.
“Kalau melakukan pemeriksaan, dokter wanita itu saja yang melakukannya.” Masih memilih dokter. Istrinya tidak boleh disentuh laki-laki tidak dikenal. Dokter wanita itu dengan gugup mulai melakukan pemeriksaan. Mengamati dan memeriksa dengan teliti.
Dokter wanita ini sudah diberitahu, bahwa laki-laki yang berada di depannya ini adalah laki-laki berkuasa. Jadi layaklah situasi saat ini, semua dokter senior diturunkan untuk merawat istri dari Hans Prasetyo. Namun tenyata ia yang terpilih dari banyaknya dokter senior.
“Aku sangat gugup, bagaimana ini? Aku takut jika jadi salah diagnosa.” Si dokter wanita membatin takut.
“Kenapa lama sekali?! Cepat sadarkan istriku!” Hans menjadi tidak sabaran kembali. “Apa dia baik-baik saja? Kenapa dia pingsan tadi? Apa masalahnya, kenapa istriku belum membuka matanya?!” Hans membombardir setiap telinga dengan lontaran tanya penuh kecemasan.
“Mohon untuk tenang tuan.” Sahut Dokter laki-laki yang tadi dibentak, dari wajahnya terlihat dokter Abhi sedang menahan kesal.
“Bagaimana aku bisa tenang!” Sahut Hans penuh kegusaran.
Namun suara dokter wanita yang menyela membuat Hans terdiam.
“Tuan ini memang bisa terjadi pada masa awal kehamilan.” Keterangan dokter wanita itu menyentak Hans. Suasana menjadi sepi, yang menjadi cemas terdiam kaku.
“Ke...Ke-kehamilan?” Ulang Hans ragu.
Dokter wanita tampak mengangguk mengiyakan.“ Iya tuan, hal ini disebabkan karena ibu hamil mengalami perubahan kadar hormon dalam tubuh. Hormon progesteron akan meningkat dan membuat pembuluh darah Bumil melebar. Hal ini menyebabkan tekanan darah Bumil menjadi lebih rendah dari biasanya.” Penuturan penuh bahasa kedokteran tak Hans hiraukan hanya satu kata yang terus ia tangkap, KEHAMILAN. Istrinya Hamil.
“Hamil? Istriku hamil? Angelku hamil?!” Pekiknya masih tidak percaya.
“I-iya tuan.” Sahut dokter lagi. Pergerakan kelopak mata Angel segera membuat Hans mendekat.
“Sayang!”Kumpulan dokter tadi tampak menjauh.
“Ukhh...” Angel meringis kepalanya terasa sakit sesaat.
“Sayang, kau sudah sadar. Syukurlah aku begitu cemas tadi.” Suara Hans bergetar.
“Sayang, maaf aku pasti membuatmu terkejut kan... Aku juga tidak tau sayang aku bisa pingsan tadi. Maaf ya sudah membuatmu cemas.”
Menjangkau tangan Hans.
“Iya kau mengejutkanku sayang begitu mengejutkan! ” Kabar kehamilan tentu mengejutkan Hans.
“Angel sayang, selamat...Selamat sayang...” Hans menghadiahkan kecupan tak berkesudahan di permukaan wajah istrinya. Dokter yang melihat hanya bisa berpalimg malu.
Angel heran.“Apanya yang selamat, sayang?”
“Selamat, karena kau akan segera menjadi seorang ibu dari sekarang.” Penuturan Hans begitu mengejutkan.
“Sayang, jangan bercanda. Aku tidak hamil sayang, Maaf...” Lirih Angel merasa bersalah.
__ADS_1
“Aku tidak bercanda, kau hamil sayang. Itu yang dikatakan dokter tadi.” Mengusap lembut perut istrinya. Angel lekas menatap dokter yang tampak berbaris rapi di depan ranjang yang ia rebahi.
“A, Ap-a itu benar dokter, sa-saya hamil?” Tanya Angel dengan mata yang mulai mengenang. “Iya benar nona, Anda sedang dalam masa awal kehamilan saat ini.”
Tangisnya segera pecah. “Sa-sayang itu benar, aku hamil!” Suaranya bercampur senang dan haru. “Ditubuhku, dia hadir disini.” Mata tertuju ke arah perut dengan masih menitikkan air mata.
“Iya, sayang iya. Dia hadir, akhirnya tuhan telah mempercayakan kita untuk menjaga titipannya.” Hans berucap penuh haru. Angel menangis keras penuh rasa syukur.
***
Ruangan penuh nuansa putih itu sekarang dipenuhi oleh keluarga Prasetyo. Hans ingin melihat calon bayi mereka. Maka itu sekarang mereka ingin melihat hasil USG Angel. Ibu, ayah dan Juna pun ada disana.
“Kak Angel benar hamil?” Entah untuk keberapa kalinya Hana berucap masih dengan ekspresi terkejut.
“Iya mantu mama Hamil.” Mama yang menyahuti, sementara papa sedang fokus menunggu dengan detak jantung yang berdegup. Ia membernarkan letak kacamata fokus pada layar USG.
“Mana cucu saya dokter?” Tidak diduga pertanyaan itu dilontarkan oleh Papa.
“Iya mana cucu saya?” Ayah juga bertanya tidak sabar, sama-sama saling menghimpit ingin melihat jelas layar monitor USG.
“Ini tuan, calon cabang bayi terlihat baik.” Ucap si dokter wanita.
“Kenapa kecil sekali dokter?” Tanya papa.
“Itu karena masa kehamilan masih pada usia 3 minggu. Pertumbuhan cabang bayi akan terlihat lebih jelas saat memasuki bulan berikutnya.” Tutur si dokter.
Hans masih menggenggam tangan istrinya. Ada perasan haru yang begitu menyeruak sampai-sampai jantungnya terasa dibuat meledak-ledak.
“Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, tapi terima kasih sayang.” Mengecup penuh cinta kelopak mata Angel.
“Ini sangat menakjubkan, sekarang ada yang tumbuh dalam diriku. Meskipun dia kecil dan lemah, namun aku merasakan detak jantungnya. Nak, ibu akan menjagamu, terima kasih sudah hadir nak.”
***
“Sebenarnya kau benar dokter, atau bukan!” Ucapan Hans begitu membuat Daren terheran.
“Istriku hamil! Dan kau tidak mengetahuinya padahal kau dokter!”
“Ha-hamil? istrinya Angel hamil? Astaga aku tidak tau itu. ini juga salahmu karena menyuruhku datang pada saat aku mengantuk! ”
“Kau malah bicara omong kosong hanya karena nafsu makan istriku menurun, bahkan memberikan resep lain. Padahal semua itu ternyata karena dia hamil! karena dia sedang mengandung Anak dari seorang Hans Prasetyo!” Sungguh Hans melupakan rasa kesal pada Daren, jika saja Daren bisa mendiagnosa dengan benar mungkin Angelnya tidak akan sampai pingsan tadi, dan Hans bisa melakukan penjagaan extra terhadap istrinya.
“Sebagai hukuman, kau bekerja saja di uruk menjadi sukarelawan!”
Sontak saja hal itu membuat Daren gelagapan dan menghiba.
“Jangan Hans! Kenapa kau tega mengirimku kesana,” Berpikir Daren berpikir.“Kalau kau mengirimku, maka kau juga yang akan kesusahan karena harus mencari dokter lain.”
Meskipun tetap kesal dan marah, Hans tidak bisa membatah ucapan Daren.
“Cih, awas saja kalau kau mengulangi kelalaianmu ini, jika itu terjadi lagi maka akan benar-benar kukirim kau ke uruk!”
Hans tak main-main dengan ancamannya, dia sebagai pemegang saham terbesar dirumah sakit, tentu saja bisa membuat Daren terhempas. Sementara Daren sekarang sedang berlagak memukul Hans dari arah belakang.
“Itu kau juga penyebabnya!”
***
Kehamilan Angel menjadi berita hangat dirumah. Mama bahkan memberikan bonus kepada para pelayan karena begitu senang akan kehadiran seorang cucu.
Yang hamil begitu diperhatikan. “Sayang jangan lama-lama mandinya.” Hans mengetuk pintu kamar mandi. Sedari tadi Angel masuk kedalam dan belum keluar.
“Iya sebentar.”
__ADS_1
Menempelkan telinga di depan pintu. “Sebentarmu itu kapan sayang, sudah 10 menit di dalam. Sayang, keluar dalam 5 menit kalau tidak pintu ini akan kudobrak!” Hans mengancam karena tidak ada sahutan.
“Iya iya.”
Tidak seberapa lama setelah ancaman pintu kamar mandi dibuka. “Kenapa lama sekali mandinya, kalau masuk angin bagaimana sayang, sini!” Menarik tubuh istrinya supaya duduk di sofa kamar.
“Tadi itu gerah sayang. Makanya mandinya lama.” Sahut Angel polos. Hans hanya bisa berdecak, masih setia mengeringkan rambut Angel dengan handuk kecil.
“Lain kali tidak boleh, memang seharusnya tadi aku yang memandikanku. Bagaimana kalau kau pingsan tanpa kuketahui lagi.” Memasang raut wajah kesal.
“Iya sayang, iya kenapa jadi bawel gini sih.” Angel cemberut, pipinya semakin menggembul. Meskipun begitu pipi chubby Angel malah semakin membuat Hans gemas dan suka. Memang semenjak tau bahwa Angel hamil Hans menjadi begitu cerewet dan perhatian. Sering kali ia bangun dan membenarkan tidur istrinya. Meskipun perut Angel belum besar namun Hans sudah mulai belajar cara menjaga istrinya yang hamil. Salah satunya membenarkan tidur istrinya agar terbaring miring dengan nyaman.
“Ayo kita makan malam. Anakku perlu diberi nutrisi.” Ajak Hans pada Angel. Lekas Angel mengaguk dan melangkah bergandengan dengan istrinya.
Baru saja sampai di depan tangga, gerakan Hans tiba-tiba membuatnya terkejut.
“Eh sayang! Aku bisa jalan sendiri! kenapa harus digendong.” Mata Angel melotot.
“Ini cara yang paling aman, sudah diam saja.” Ucap Hans satai namun serius.
Sampai di meja makan Hans segera mendudukan Angelnya.“ Biar aku yang suapi ya sayang.” Hans mendekat membawa makanan yang sudah ia siapkan tadi.
Satu suapan sudah masuk. Tangan Angel yang tidak bekerja menggapai sebuah buku yang tergelak di meja makan. Aneh biasanya tidak ada buku dimeja makan.
“Lho, buku yang kamu kasih kok ada disini sayang? perasan tadi aku tinggal dikamar deh.”
“Oh itu Mama yang beli.”
“Ha? untuk apa? jangan-jangan Mama hamil juga.” Pekik Angel segera.
“Pffttt, bukan begitu sayang.” Hans tergelak lepas dengan polosnya tebakan sang istri.
“Tapi Mama memang sengaja beli banyak-banyak dibagi sama semua penghuni rumah.” Hah? hah? hah? Angel masih tak dapat mencerna.
“Lihat aja itu, bibi lagi baca juga.” Tunjuk Hans, pada bibi yang sedang mencuci piring. Mata Angel dibuat melotot berkali lipat.
Lalu melihat kesekitar, ditemukan! Kesekitar lagi! Ada lagi! Ada lagi! Ada lagi yang membaca. Bahkan papa yang berada di ruang tengah membaca juga. Lembar demi lembar memang terlihat papa baca dengan serius, dibuktikan dari gerakan tubuh papa yang sebentar maju dan mendekatkan mata dengan buku.
“Ini kan, aku yang hamil! kenapa kalian juga membaca buku tentang kehamilan!! Astaga!!”
***
Epilog:
“Bi bagi-bagi sama semua pelayan, suruh harus dibaca buku ini ya. Harus dipahami dihapal, supaya nanti kalo Angel ada apa-apa tau cara membantunya.” Ucap mama.
“Oh, i-iya, Nya.” Segera bibi membawa tumpukan buku tadi.
Mama tersenyum lebar. “Pah baca ini...” Menyerahkan dengan tatapan galak. Tidak sempat papa betanya.
Itulah asal mula buku tentang kehamilan banyak di rumah dan tampak dipegang setiap pelayan, tenyata semua karena nyonya rumah yang bergerak.
“Apa para tentangga perlu kubagikan juga ya.” Hah? tidak cukup orang rumah mama bahkan juga berpikir membagi ke para tentangga.
.
.
.
Happy reading
~Tyatyut
__ADS_1