
~Jangan lupa kasih jempol
Hari sudah menjelang sore saat perlombaan telah berakhir. Para karyawan bergotong royong mengembalikan properti yang ada, dan membersihkan sampah yang berserakan di halaman vila.
Hans sudah kembali ke kamarnya, langkah ringannya diiringi senyum tipis. Tangannya menggapai pintu kamar dan segera menutupnya kembali .
“Haha ternyata sangat menyenangkan.” Tergelak sembari melepaskan baju yang melekat dengan satu kali tarikan. Langkah kakinya membawanya menuju kamar mandi .
Sungguh dai tidak menyangka. Ternyata sangat menyenangkan sekali menghabiskan waktu berbaur lebih dekat dengan para karyawan. Meskipun dia dapat melihat dengan nyata mana yang menjilat dan mana yang bersikap tulus.
Sangat menyenangkan dia begitu diperhatikan Angel sang sekretaris .Entah mengapa dia tau Angel melakukan itu sebagai bentuk kewajiban. Tapi hatinya senang .
“Kapan waktu yang tepat ?” Menghela nafas dibawah guyuran shower. Entah apa arti dari gumamannya tersebut.
***
.
~Kamar Tiga serangkai.
Saat kembali dari perlombaan mereka bertiga sibuk ingin menjadi yang pertama memakai kamar mandi. Akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan suit.
“Yes Aku menang .” Dina berjingkrak semangat .Angel lesu ,cemberut dan menuju kipas Angin ingin menyegarkan diri sembari menunggu Dina.
“Cepet sana .Yas yes Yas yes.” Cerca Angel.
“Santai aja kali wek.” Vina menggedor pintu sebagai bentuk kekesalannya melihat kelakuan Dina.
Sudah 15 menit Dina tak urung keluar dari kamar mandi .
“Woy!!,Din lama benget!.Cepetan keluar gantian.”
“Santuy.”
Sahut dari dalam. Vina menendang pintu kamar mandi kesal. Sangat kesal! Angel sudah mulai mengantuk menunggu giliran hanya menggulir-gulir layar ponsel.
Akhirnya pintu kamar mandi dibuka .Segera Vina berdecak kesal menyenggol tubuh temannya Dina yang Hanya berbalut handuk .
“Woy santuy ck...ck.” Tidak tau malu sekali si Dina ini .Karena terlampau kesal Vina berbalik ,membuat langkah Dina mundur dengan mata melayangkan tatapan menerawang .Apalagi melihat senyum jahil terlihat di sudut bibir Vina.
“Aaaaaaaaa...”
Gubrak
Pintu ditutup segera dengan gelak tawa yang memenuhi kamar mandi.Vina sangat puas .Tadi dia dengan jahil menyentak kasar handuk Dina hingga hampir terlepas .
“Wahaha...haha...haha.Rasain.” Angel tertawa terbahak sembari memukul-mukul kasur. Wajah Dina sudah masam dan cemberut .
“Vinnnaaaaaa!”
Tidak seperti menunggu Dina waktu yang dibutuhkan Vina untuk mandi malah lebih singkat .Kilatan mata tajam sudah Dina tujukan pada Vina dan Vina masa bodoh dengan itu.
***
“Kemana mereka, Haduh main ninggalin aja .” Mengeringkan rambut dengan handuk .Segera memilih baju tidur yang nyaman .Berkaca dan memakai pelembab. Rambut Angel dibiarkannya tergerai .Setelah selesai dia keluar dari kamar .Menuruni tangga mencari keberadaan temannya.
“ Angel.”
“Aaa..astaga pak Anda mengejutkan saya.” Angel mengelus dadanya berpegangan pada tepi tangga. Sementara yang memanggil menatap datar.
“Apa ada yang saya perlu bantu pak?.” Menghampiri atasannya yang tidak lain adalah Hans Prasetyo .Laki-laki itu memanggilnya dari arah dapur dengan satu tangan memegang gelas.
“Tidak ada .Ayo.”
Ayok apa ini sebuah ajakan?
“A-ayo?” Angel mengernyit bingung .
“Di halaman vila sedang diadakan acara BBQ. Jadi mari ke halaman bersama .”
Angel mangut .Hans masih setia menatapnya. Hingga membuat Angel mengerjap polos .“Kenapa masih belum bergerak?”
“Ehm...Silahkan Anda lebih dulu pak .”Tanpa disangka Angel, Hans menarik lengan tangannya hingga tubuh mereka sejajar lalu mulai berjalan tanpa satu patah kata lagi.
“Hah sekarang pak Hans semakin berlaku seenaknya, saya bisa sendiri pak tidak perlu menyeret saya!”
***
~Halaman Villa.
Acara BBQ sudah dimulai sedari tadi ternyata .Bau daging sapi yang dibakar dengan perpaduan bumbu khas menyeruak ke Indra penciuman Hans dan Angel saat mereka baru menapakkan kaki pada rumput halaman.
Halaman vila sudah disulap sedemikian rupa menjadi tempat yang nyaman untuk acara. Ada juga yang asyik bermain gitar mencari hiburan. Banyak meja yang disediakan. Jadinya juga banyak kelompok yang terbagi-bagi. Langkah kaki Angel membawa Hans menghampiri tempat dua sahabatnya yang sudah ribut ketika melihat dia muncul bersama sang atasan.
Dina berdecak dari kejauhan melihat Hans dan Angel seperti pasangan .Vina duduk dengan sudut mata melirik ke arah datangnya Angel.
“Angel...”Dina memanggil Angel sambil melambaikan tangannya.
__ADS_1
Angel hanya menganggukkan kepala paham, kemudian mempersilahkan Hans terlebih dahulu berjalan menuju kursi yang ada.
Dari kejauhan asisten Bram bangun dari tempat duduknya .Melihat atasannya ternyata memilih duduk dengan kelompok Angel. Dia mendekat dan menyapa Hans di tanggapi Hans dengan menyuruhnya duduk .Meja ini terasa sangat indah dengan dua pria tampan duduk disana .Namun suasana heningnya yang membuat ketampanan mereka tidak memiliki arti.
“Silahkan pak dimakan .”
Angel mengambilkan Hans BBQ yang sudah matang dan meletakkannya di piring Hans. Dina melihat dengan menggigit sumpit .Deg-deg an dia juga menjaga sikap karena satu meja dengan atasan mereka .Padahal tadi sudah berpikir banyak hal. Bahkan masih mau ribut dengan Vina namun apalah daya situasi tidak mendukung.
“Terima kasih .” Hanya dengan Angel kata terima kasih itu sangat ringan terucap dari mulut seorang Hans .Bibirnya mengulas senyum tipis segera memasukkan satu suapan ke dalam mulutnya .
Melihat itu Dina juga ingin mengambil kesempatan ke Bram di sampingnya ,baru dia ingin mengambilkan BBQ untuk Bram .Bram Sudah terlebih dahulu mengambil BBQ tersebut dan melahapnya .
Cih...Untung muka tampan pak.
Vina menyenggol Dina pelan dan berbicara dengan nada yang pelan juga di dekat telinga Dina.
“Udahlah Din, gak usah banyak modus ,fokus makan aja.” Dina menatap horor ke arah Vina yang sengaja mengejeknya karena ditolak secara terang-terangan.
Setelah beberapa saat ,mereka sudah menyelesaikan makan mereka dan hanya tinggal sedikit porsi BBQ yang ada di meja ,suasana di meja tersebut sangat sunyi berbanding terbalik dengan meja-meja lainnya ,mereka saling berbicara saling bercanda bersama sama .
Angel memecah keheningan .
“Ehm..Bagaimana kalau kita main tebak-tebakan .” Ajak Angel dengan mata mengedar mencari mata-mata yang berminat dengan ajakannya.
“Boleh.”
“Banget...”Dina menimpali dengan Kekehan.
Kening Hans mengernyit merasa bingung dengan ajakan Angel. Bram memilih menjadi penonton tidak menyahuti. Mata Hans bertemu dengan mata Angel.
“Pak mau ikut main?”
Krik...
Krik...
“Main apa? tebak-tebakan apa yang kamu maksud, Permainan kekanakan apa yang tidak kuketahui ini.” Bergumam bingung.
Hening tidak ada jawaban dari Hans. Vina dan Dina saling pandang mengulas senyum palsu. Dasar perusak suasana pikir mereka. Ingin sekali mereka mengusir dua laki-laki itu Tampan? tapi tidak menyenangkan.
Kenapa diam...Kalau tidak mau ya tidak Masalah.Saya hanya takut Anda menyendiri disini.
“Kalau Anda asisten Bram?”
“I-iya.”
Hans nagjat tangan. Angel mengulas senyum tipis. Tau bahwa itu tanda agama ikut juga. Pasti malu untuk berucap makanya memakai tanda.
“Aturan mainnya sederhana, yang tidak bisa jawab harus disentil dahinya. ”Terang Angel.
“Saya dulu yang ngasih tebak-tebakan.” Dina berbicara formal karena ada boss mereka.
“Gang gang apa yang bikin ibu ibu kesel ..?ayok jawab.”Dina tersenyum lebar melemparkan tebak-tebakannya.
“Gang? Apa maksud gang dari ucapannya?” Hans sudah bingung. Manik matanya jatuh ke arah bawah. Berusaha mencari jawaban dengan bersedekap dada.
“Otak ku yang sempurna berpikirlah .Ck...Hans kenapa kau sampai tidak paham tentang tebak-tebakan.” Merutuki kekurangan dirinya. Matanya menatap sekitar .
“Mudah jawabannya...”Sahut Angel.
Mudah?... apaAngel melampaui otak sempurnaku? Gusar sendiri.
“Gang-guin suami orang ...haha haha. ”Jawaban Angel diiringi gelak tawa.
“Masuk akal juga.Astaga ada apa dengan cara berpikir wanita -wanita ini.” Bergidik ngeri.
Prok prok prok.
“Astaga kamu ternyata, otak cak lontong juga ya .”Dina tergelak sendiri dengan candaan nya. Tiga wanita itu larut dalam sebuah suasana yang menyenangkan. Berbeda dengan Hans. Sama halnya dengan Bram yang tampak berekspresi dengan kening semakin mengkerut dalam tidak bisa menjawab.
“Cak lontong siapa itu?”
Batin Hans heran.
“Baiklah ini lanjut giliran saya.” Seru Vina. Hans bertekad untuk menggunakan otak sempurnanya kali ini.
“Mudah ini...sepatu sepatu apa yang gak bisa dipakai?”
Hans masih heran sepatu kan bisa dipakai semua, kenapa ada sepatu yang tidak bisa dipakai. Aha! Hans menemukan jawabannya tanpa pikir panjang ia menjawab pertanyaan Vina.
“Sepatu rusak. “Sudah yakin dengan jawabannya hingga menjawab dengan nada nyaring. Juga lihat itu dia sudah membusungkan dadanya .
“Pfttt...haha haha .” Mata Hans melotot ke arah Angel yang tertawa .Lalu beralih pada Vina yang memberi pertanyaan sama juga tertawa .Satu lagi yang membuat Hans heran wanita yang bernama Dina itu tertawa dengan memukul-mukul temannya sungguh aneh .
“Haha haha...maaf pak Anda salah. Jawaban bapak terlalu masuk akal, ini jawabannya nggak masuk akal pak.” Vina menyahuti jawaban Hans .
“Kenapa seperti itu. Di dalam dunia bisnis ...”Hans menolak salah. Sudah mau menjelaskan dengan logika seorang Hans .Si otak bisnis.
“Pak ini bukan bisnis. Hanya tebak-tebakan .” Angel menyela.
__ADS_1
“Anda salah pak terima hukumannya .” Angel menaikkan kedua alisnya menatap Hans, dengan senyum merekah .
Masih menolak salah tapi Terpaksa dia menggerakkan tangannya untuk menaikkan rambutnya ke atas menyodorkan dahinya ke arah Vina.
Vina merasa tidak enak karena itu boss mereka jadi ia hanya menjentikkan jarinya pelan ke dahi Hans.
“Sudah?”
“Sudah pak.” Sahut Vina .
“Jawabannya?” Mata mereka menoleh ke arah suara dengan wajah yang tampak penasaran. Sangat lucu sekali ternyata Bram penasaran dengan jawaban dari Vina.
“Haha jangan terlalau serius. Jawabannya sepatu lari .”
“Apaan vin nagco .Gak bisa lah .”
“Ya bisa lah,gimana bisa dipakai kan sepatunya lari terus.” Jelas Vina.
Masuk akal lagi. Astaga ada apa denganku.
Dina betepuk tangan mengacungi jempol temannya itu .
Tebak tebakan dilanjutkan dengan Angel yang memberi pertanyaan .Bram sudah siap dengan ponsel nya di bawah meja siap untuk meng- Gogle tebak-tebakan tersebut.
“Bayangkan nih ya bayangkan saja dulu.” Angel serius sambil cengengesan.
“Misalnya kamu lagi ada di perahu kecil yang bocor ,nah perahunya hampir tenggelam ,dan di sekeliling kalian ada lima ekor hiu .Gimana caranya kain nyelamatin diri kalian ..?” Lontaran tebak-tebakan Angel membuat Hans kembali bungkam .
“Orang yang berada dalam situasi itu pasti mati.” Gumam Hans
Tak tak tak
Bram sudah mulai mengetikan jarinya ke ponselnya yang ada di bawah meja mencari jawaban pertanyaan Angel, belum sempat ia menjawab Dina sudah membuka suaranya .
“Ya tinggal berhenti membayangkan lah,susah susah amat .”Jawab Dina penuh keyakinan. Mata Hans beralih melihat Angel.
“100! Kamu keturunan cak lontong ya.”
“Buaha haha haha.”
Para wanita terus tertawa .
Hans masih aneh mendengar jawaban Dina. Kemudian ia menganalisisnya dan benar juga masuk diakal Hans jawaban tersebut.
“Tidak dapat dipercaya, Bram berhasil menjawab.” Melirik curiga ke arah Bram, kecerdasannya patut dipertanyakan.
Permainan tebak tebakan terus berlanjut dan Hans masih tidak bisa menebaknya. Bram Sudah mulai bisa menebak .
Bagaimana bisa? Tentu saja karena Bram begitu picik ! ia memakai ponselnya untuk mencari informasi .
Kalau tidak? mungkin dahinya akan memerah sedari tadi.
Hans memperhatikan Angel di sebelahnya yang tertawa, sambil mengusap lengannya pertanda ia kedinginan, seketika itu juga Hans melepaskan jaket yang ia pakai dan memakainya ke Angel
Angel merasakan hangat melingkupi punggungnya.
“Eh, tidak usah pak. ”Angel segera ingin melakukan jaket yang Hans balutkan pada punggungnya .
“Pakai saja.” Seru Hans dengan air muka santai.
“Ta-tapi...”Tapi kalau begini kan saya jadi enak pak.
“Kalau begitu terima kasih pak.” Angel mengeratkan jaket Hans ke tubuhnya ia dapat mencium bau badan Hans yang tertinggal di jaketnya itu.
Lumayan lah ...terima kasih pak atas kemurahan hati Anda ...wangi lah.
Vina Dina dan Bram hanya tersenyum melihat hal tersebut.
***
Acara BBQ sudah selesai ,para karyawan sudah kembali ke kamar masing-masing mengistirahatkan tubuhnya ,namun di salah satu kamar ada yang masih memainkan ponsel.
Ia menggerakkan jarinya men searching di Google
“Tebak tebakan.”
“Tebak tebakan ,Cak lontong.”
“Tebak tebakan sederhana.”
Itulah yang ia tuliskan di mesin pencariannya.
Dibawah ruang yang sudah mulai gelap, sebab lampu dimatikan. Hans laki-laki itu sibuk mengerjakan jari-jemarinya lalu menggulir-gulir layar ponsel.
“Kenapa semua jawabannya tidak masuk akal.” Menggerutu kesal sendiri.
.
__ADS_1
Happy reading
~Tyatyut