Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
Ch 29~ Aku Bukan Wanita Sempurna


__ADS_3

Pesta terpaksa diselesaikan lebih awal. Tuan rumah tidak lagi mau menjamu. Para pelayan mengantarkan semua tamu undangan dengan ramah. Mengucapkan selamat malam.


Sementara di sisi lain para pelayan terlihat ketar ketir. Karena si tuan rumah sedang dalam keadaan gusar.


Hans menatap sang istri memegang tangan istrinya. Angel sudah berganti pakaian dengan yang lebih nyaman.


“Bagaimana ini? Matamu memerah sayang.” Hans kembali mengecek kondisi mata sang istri. Ini sudah pasti efek dari minuman yang tadi di semburkan Anggun pada sang istri.


Hans geram sekali.


“Sialan sekali! Beraninya dia membuatmu jadi begini.” Pria yang begitu cinta pada istrinya itu, tidak bisa menyurutkan kecemasannya.


“Sudah sayang, jangan terlalu emosi. Ini mungkin hanya efek sebentar saja.” Angel mengelus lengan sang suami. Hans sudah sejak tadi menanggalkan jas yang membalut tubuhnya. Berganti dengan kaos rumahan. Sebab kemeja yang membalut tubuhnya ikut basah tadi. Saat berusaha membantu menyusutkan cairan yang lengket di mata dan wajah sang istri.


“Bagaimana kalau pandanganmu menjadi kabur nanti. Dan kamu tidak bisa mengenali dan bahkan melihat wajah tampan suamimu ini? bagaimana?” Kecemasannya bertambah dan semakin menjadi-jadi. Mata Angel membulat mendengar itu.


Nara memutar bola mata, mendengar suara sang Daddy.


Hah, jangan sampai mommy tergores pisau dapur. Kalau sampai tergores dari direktur rumah sakit sampai tempat produksi pisau akan sangat repot. Ya meskipun sudah terjadi sih sebelumnya.


Hal gila yang pernah Hans lakukan adalah menutup produksi pisau perusahannya sendiri. Sebab pisau itu terlalu tajam dan membuat sang istri jadi terluka.


Yah yang rugi sih dia sendiri juga. Hal itu dilakukan karena dia tidak mau sang istri terluka lagi.


“Jangan mikir jauh-jauh ah, tidak mungkin efeknya sampai ke sana. Sekarang pun aku masih bisa melihat wajahmu sayang. Nah, kan masih jelas tidak kabur.” Angel mendekatkan matanya berusaha menyakinkan sang suami. Dia berusaha meredam amarah suaminya.


Kening Hans masih terlihat menaut tidak memudarkan sekali antisipasi kecemasan.


“Kamu bukan dokter yang bisa menilainya!” Sudah kembali bersikap gusar lagi.


Angel manyun.


“Kita lihat saja setelah Daren datang, dan kalau benar-benar efeknya membuat matamu menjadi buta. Maka aku akan membuat gadis itu masuk penjara!” Tegasnya.


Mata Angel melebar mendengar putusan dari suaminya itu, yang nampak...sangat tidak main-main.


“Dia masih muda sayang.” Angel mengelus permukaan tangan sang suami.


“Memangnya kenapa?” Kesal Hans. Nadanya tidak sedikitpun melembut karena kesal dengan Anggun itu. Anak dari koleganya yang sangat kurang ajar!


“Dia perempuan.” Angel mencari alasan lain agar kemarahan sang suami sedikit teredam.


“Memagnya kenapa?” Lagi-lagi hanya itu sahutan Hans. Tanda bahwa dia tidak peduli mengenai Anggun masih muda atau Anggun adalah perempuan. Dimata Hans, gadis itu hanya gadis pengacau yang perlu dia berikan pelajaran.


“Apa kamu tidak bisa membiarkannya saja? Toh aku tidak mengalami cidera parah sayang. Tidak perlu menghukum gadis itu.” Angel tersenyum lembut.


“Mom, biarkan saja Daddy membuat pelajaran dengan gadis itu.” Sela Nara. Mata Angel membulat menatap sang putri.


Susah-susah ya nak, mommy membuat daddymu tenang kamu malah menyela dengan santai begitu. Astaga anakku ini.


“Biar dia tidak bisa angkat dagu angkuh lagi.” Lanjut Nara dengan mata berkedip polos.


Hans mengangguk setuju.


Hei dua orang ini ya, astaga kenapa mereka rasanya menurun sifat Hans semua sih. Keras kepala.


“Gadis itu memang perlu diberi pelajaran sayang, terlepas dari cidera yang kamu alami itu ringan atau tidak. Tapi dia sudah berniat jahat. Biarkanlah dia mendapat ganjaran dari akibat niatnya yang jahat itu!” Mata Hans membara oleh rasa kesal yang menjubun.


“Tapi...”


Angel masih hendak menyela, namun Hans tidak mau memberi celah.


“Jangan membela dia lagi, gadis itu gila. Berani sekali dia membuatmu jadi begini. Apa dia pikir juga kita akan menerimanya dengan lapang dada? Hah lucu sekali. Hanya karena tampilan berkelas, bukan berarti kita mau menerima dia.” Hans berdecih tidak senang.


“Hah kurasa Bu Kila itu sedang kehabisan ide sampai-sampai bersekongkol dengan anaknya ingin memerangkap anak kita.” Ucap Hans. Sebenarnya Hans tau, apa niat terselubung yang dimiliki oleh dua anak itu.


Apa mereka pikir aku tidak bisa membacanya?


Perusahaan milik keluarga Herman atau suami dari nyonya Kila itu. Saat ini diketahui Hans akan segera mengumukan kebangkrutannya. Perusahaan itu mengelami defisit keuangan. Sehingga sulit untuk membuat pondasinya kokoh lagi.


Hans tau apa yang dipikirkan rubah betina licik itu. Mereka pasti ingin masuk ke keluarga mereka dengan dalih pernikahan, lalu juga ingin mendapat bantuan segera.


Cih, dua rubah licik yang tidak paham dunia bisnis berani-beraninya ingin bermain-main.


Angel mengamati perubahan ekspresi sang suami.


“Maksudnya?” Angel tidak paham, dia bertanya dengan hati-hati dan juga penasaran.


“Tidak kamu tidak perlu tau sayang. Sudahlah jangan membicarakan mereka lagi.” Putus Hans.


“Tuan, ini minuman untuk nyonya.” Bibik Mirna datang dengan membawa gelas yang tampak mengepul.


“Baik terima kasih bik.” Ujar Hans.


“Untuk apa minuman ini sayang? Yang sakit kan hanya mataku.”


“Apa matamu sakit?” Suara Hans meninggi dan sudah grasah grusuh mengecek istrinya.


Salah, Angel sudah salah berucap sekarang.


“Mana si Daren itu! kenapa belum datang!” Hans sudah berteriak nyaring. Cemasnya yang tadi surut kembali naik.


Eh kenapa malah begini sih, aku kan tadi niatnya hanya mau protes dia berlebihan. Kenapa sampai-sampai membuat bibik repot dengan membuat minuman. Padahal kan yang sakit hanya mataku. Haishh...makin kacau jadinya...


“Maaf Hans aku baru datang. Tadi keadaan sangat macet sekali, aku bahkan menggunakan motor ke sini...dan tadi...” Daren datang dengan tersengal-sengal. Memang kondisinya tampak seperti terkena badai.


“Stopp hentikan penjelasanmu itu! Aku tidak mau mendengarnya!” Hans malah memotong dengan tidak punya hati sama sekali.


Apa aku boleh membanting orang ini sekali saja? Hah sabar Daren sabar...


“Untung saja kau segera datang, kalau telat satu detik saja tadi. Aku sudah berencana mengirimkanmu ke pelosok negeri!”


Mata Daren melebar, apa Hans juga tidak menangkap penjelasannya tadi. Dia terjebak macet!

__ADS_1


“Yang benar saja kau ini Hans, di masa tua ini kau malah mau mengirimkan ku ke pelosok tidak punya hati sama sekali.” Daren berkacak pinggang, memang satu-satunya manusia yang bisa melawan Hans ya dokter Daren.


Hans segera memberikan tendangan keras di kaki Daren.


“Hans!” Daren meringis merasa sakit pada tulang keringnya.


“Apa?! Cepat lihat kondisi istriku sekarang. Jangan banyak tingkah begitu.”


Daren menahan kesalnya yang serasa membludak. Berhadapan dengan Hans memang sangat menguras tenaganya.


“Lap dulu keringatmu itu.” Titah Hans.


Daren segera melakukannya. Dia kemudian mendekat ke arah Angel.


“Biar kuperiksa dulu. Kau jangan banyak mengganggu Hans.”


Namun peringatan Daren tidak diindahkan Hans.


“Kepalamu itu jangan terlalu dekat dengan wajah istriku. Kau malah seperti mau menciumnya saja.” Hans menarik kepala Daren dengan kurang ajar. Daren temundur dia menatap Hans kesal.


“Memang begini prosesnya Hans, jangan mengganggu agar semuanya cepat selesai.”


“Makanya Kau jangan mengambil kesempatan Daren! Ingat istrimu di rumah.”


“Astaga! Karena aku ingat istriku makanya aku mau lekas-lekas menyelesaikan ini, tapi kau yang sejak tadi malah menganggu.” Daren berdecak kesal menghadapi Hans.


“Kau saja yang melakukannya tidak becus. Aku bukannya menggangu di sini.” Bela Hans. Dia tidak mau istrinya berdekatan begitu dengan Daren.


“Hei, yang dokter itu aku. Kenapa sih, bisa-bisanya kau menilai apa yang kulakukan selalu salah.” Daren jengkel sekali.


“Ya memang salah.”


“Kalau begitu kau saja yang memeriksa Angel.” Daren menyerahkan alat medisnya.


“Mana aku bisa, kalau aku bisa sudah sejak tadi kulakukan.” Hans menjawab ketus.


“Makanya jangan mengganggu biarkan aku melakukan tugasku sekarang.” Ujar Daren.


“Tapi kau jangan mencari kesempatan Daren.”


“Ya tuhan.” Daren sudah membanting tas berisikan alat medisnya. Dia lalu menarik lengan bajunya agar tersingkap. Menghadap Hans dengan wajah kesal.


“Lebih baik aku menghajarmu dulu sekarang, supaya aku mempraktikkan keahlianku sebagai dokter.” Ujarnya.


Mata Hans melebar.


“Sialan berani sekali kau ingin menghajar ku!”


Dua orang itu malah adu mulut.


Ini kapan sebenarnya aku akan diobati. Angel memijit pelipisnya.


Selalu saja kalau om Daren ke sini, ada adengan banting peralatan medis. Nara terkekeh dalam hati.


Ken merenung dalam diam. Helaan nafas beberapa kali ia lakukan. Tangis Ayana masih terngiang-ngiang dalam pemikirannya. Tangis yang begitu berat, dan mengantarkan rasa sesak yang sama pada dirinya. Serasa menekan dalam dadanya hingga sesak dan sulit bernafas.


Suara Ayana yang tergugu membuat segala respon tubuhnya kacau. Sikapnya tidak biasa-biasa saja.


Aku tidak suka melihatnya menangis...


Gadis itu, bagaimana bisa dia bertahan dalam hidup ini? Apa yang membuatnya bisa bangkit?


Hidup sendirian, tanpa keluarga...


Betapa, menyedihkannya...


Hati Ken rasanya melembut.


Ketika suara pintu terbuka Ken segera mengalihkan pandangan. Ia menemukan Ayana keluar dengan mata sembab.


Tampak menyedihkan dan sangat rapuh.


“Apa kamu menunggu jawaban Ken?” Tanya Ayana pada Ken. Dan Ken paham maksud rujukan pertanyaan Ayana. Hal ini mengenai keinginnanya agar Ayana hidup bersamanya. Menjadi istrinya.


Senyum simpul terulas di bibir Ayana.


“Kenapa diam Hem? Apa jawabannya...tidak diperlukan lagi, Kenan Prasetyo?”


Ayana tau Ken sudah membuat keputusan.


Dia akan menjauhiku, sama seperti kenyamanan mereka.


“Mari bicara, tapi jangan di sini.” Putus Ken.


Ayana hanya bisa mengulas senyum miris.


Dia mengikuti langkah Ken yang ternyata membawa mereka pada lantai paling atas rumah sakit ini.


Angin hembusan malam serasa menyapu setiap inci tubuh. Menghangat gelenyar dingin. Ayana merapikan rambutnya yang tampak berantakan. Namun sebelum niatnya selesai.


Tubuhnya menengang sebab Ken. Laki-laki yang sejak tadi banyak terdiam itu. Sekarang membalutkannya jasnya pada tubuh Ayana. Padahal mereka sama-sama merasa kedinginan sekarang.


Ayana kemudian memandang Ken lurus-lurus. Matanya seperti ingin mereguk dan memuaskan diri memandangi Ken dalam diam.


“Kenan Prasetyo.” Panggilnya dengan lembut.


Ken segera menatap Ayana. Ayana memasang senyum lembut, matanya terlihat berbinar.


“Sebenarnya aku tidak tau sisi mana yang kamu nilai sekarang.” Mulai Ayana.


Ken diam memilih mendengarkan Ayana berbicara.


“Sisi mana dari diriku yang membuatmu menjatuhkan pilihan untuk menjadi calon istrimu. Calon istri yang nantinya akan bersanding denganmu. Bukan hanya dipelaminan, namun dalam segala aspek kehidupan. Aku tidak tau apa yang kau pikirkan ken.” Ayana tertawa pelan. Tawa yang tampak mencemooh dirinya. sendiri.

__ADS_1


Ken tidak suka dengan ucapan Ayana itu, apalagi ekspresi Ayana.


“Berhenti bicara Ayana...” Ken memeringatkan dengan nada keras.


Namun Ayana tidak berhenti.


“Kamu bahkan tidak mengenalku dekat, mengenal bagaimana perangai ku saat sedang kesal atau bagaimana keseharianku.”


“Kubilang berhenti!...” Dada Ken naik turun. Ia tau arahan tujuan pembicaraan Ayana sekarang.


Tatapan Ayana lurus ke manik mata Ken.


“Tidak, Ken jawabannya tidak.”


“Sudah kubilang berhenti! jangan bicara lagi!” Suara Ken tedengar frustasi sama halnya dengan raut wajahnya. Ken


“Aku tidak bisa Ken! Aku tidak mau jadi calon pengantinmu! Jadi berhentilah menemuiku mulai sekarang!”


Ken hampir kehilangan kata-katanya. Tubuhnya menegang, mencoba menelisik lebih dalam ke manik mata Ayana. Bisa saja Ayana sedang melakukan guyonan padanya.


Ada rasa menikmati tak kasat mata yang seakan membuat dadanya sesak.


“Kamu salah pilih Ken. Aku tidak sesuai dengan kriteriamu. Aku bukan gadis cerdas yang bisa mengimbangi cara berpikirmu. Aku bukan orang yang tepat...Aku jauhhh...Dari kriteria yang kamu inginkan.” Dada Ayana merasa sesak. Namun ulasan senyum masih berusaha ia pertahankan.


Ah semuanya selasai...Ayana sudah menolak Ken.


“Masa bodoh dengan semua kriteria itu! Apa kau tidak mengerti Ayana?” Ken mengguncang tubuh Ayana dengan kasar. Raut wajahnya tampak putus asa.


Tidak semuanya belum selesai sama sekali!


“Aku menginginkanmu Ayana, kriteria itu tidak lagi berlaku. Apa kamu masih tidak mengerti dengan segala sikap yang kutunjukan?” Suara Ken begitu serius. Mengguncang kekerasan hati yang berusaha Ayana bentuk.


“Tidak, aku tidak mengerti sama sekali. Jadi pulanglah ken.” Ucap Ayana memotong. Dia tidak sanggup melihat tatapan kekecewaan itu.


“Tidak akan! sebelum kau menerima tawaranku!” Tegas Ken.


Ayana menyentak tangan Ken hingga terlepas.


Ken sama sekali tidak mau melepaskannya dengan mudah. Ayana masih berusaha memberontak. Namun sekarang Ken malah mendekapnya dalam pelukan erat.


Ayana menatap lurus-lurus ke arah Ken. Matanya tampak putus asa.


“KEN! APA KAU TIDAK MENGERTI ARTI KATA TIDAK?! TIDAK KEN TIDAK!” Suara Ayana hempir menjerit.


Kali ini Ken terkejut, kilatan mata putus asa yang hampir menjatuhkan bulir air mata itu, tiba-tiba saja serasa menghantam lubuk hatinya.


Dia tercekat, mata Ayana kembali berair.


“Lepaskan aku sekarang!”


“Tidak! tidak akan!”


“Akhh...kenapa kamu bersikap begini Ken? Kenapa?” Ayana memukul-mukul dada Ken dengan kuat.


Tangisnya semakin pecah. Rengkuhan Ken semakin mengeratkan dan hampir membuatnya serasa remuk.


“Aku tidak sempurna Ken, aku tidak cocok denganmu.” Ayana merendahkan dirinya.


“Hiks...hiks...akhhhh.” Pukulannya melemah.


“Bukan hanya aku saja yang tidak sempurna dan tidak layak berdampingan denganmu disini, Ken. Latar belakang ku pun sangat tidak layak, ken! Kau tau—, sejak kecil ayahku sudah meninggalkan kami. Dia pergi dengan selingkuhannya. Dia membuat aku yang masih kecil merasa tidak mendapat kasih sayang sama sekali. Ditambah lagi...setelah Ayahku pergi ibuku menggila...iya ibuku menggila. Ken, wanita tadi yang kau lihat dia adalah ibuku. Dia sudah gila karena ditinggal ayahku.” Ayana tertawa miris, tawa putus asa dan rasa sesak. Rasa yang selama ini selalu ia pendam.


Ayana menghapus jejak air mata di pipinya dengan kasar. Suaranya susah sesegukan.


“Sekarang...Apa kau masih mau menerima anak dari orang gila ini Ken?...Hiks...” Ayana terlihat sangat rapuh. Dia sudah tersadar dunianya dan Ken sangat berbanding terbalik.


Ken punya orang tua lengkap, kasih sayang lengkap. Sedang dia adalah produk cacat. Sudah terbiasa hidup terlunta-lunta dan sering dijauhi orang lain. Ken salah memilihnya.


Dia bukan orang yang cocok. Tidak cocok sama sekali.


“Ibuku menggila karena ditinggalkan ayah. Duniaku ini tidak sempurna. Jangan mencoba membaur denganku Ken. Tetaplah berada di tempatmu. Aku bukan pilihan yang tepat.”


Suara Ayana tercekat, sebab merasa hantaman kesedihan yang dalam. Air mata tidak berhenti mengucur pada kedua manik matanya.


Ken berusaha membuat Ayana tenang dengan memberikan usapan lembut.


Dia paham sekali...


Paham apa yang sedang Ayana Risaukan...


Rasa risau dan takut sebab memandang masa depan layaknya kehidupan sang ibu...


Namun Ken tidak akan membuat layar hidup mereka begitu...


Ken punya pendirian, dia bukan laki-laki yang mudah goyah.


“Tenenglah Ayana. Aku tidak akan membuat duniamu gelap seperti laki-laki itu.” Ucapan Ken terdengar serius sekali. Manik matanya tidak memendarkan kebohongan.


Hati Ayana yang berusaha menampik Ken sebab merasa dunia mereka sungguh berbeda, sekarang perlahan berusaha membuka ruang kosong.


Dia menatap Ken lurus-lurus.


“Apa kamu tidak takut Ken? Anaknya ini akan ikut gila juga nantinya?”


Setelah kalimat itu keluar, Ayana tidak lagi bisa berucap. Karena mulutnya sudah dibungkam oleh Ken dengan ciuman.


Ciuman keresahan. Ciuman yang mereguk habis oksigen di dalam paru-parunya. Setiap pagutan yang diberikan Ken, seakan-akan penuh dengan segenap perasaan.


Meski Ayana berusaha memberontak dia tetap tidak bisa melepaskan diri. Ken terus menyerbunya dengan ciuman. Mereguk habis setiap inci bibir mungilnya.


Ken tidak suka dengan ucapan Ayana tadi. Ayana tidak akan gila! Ayana tidak akan menjadi gila hanya karena dia punya ibu yang gila!


Ken tidak suka mendengarnya!

__ADS_1


__ADS_2