
Ayana membuka matanya ketika merasakan kehangatan mulai menelusup masuk ke dalam ruangannya. Ayana bahkan tidak sempat berganti pakaian dan segera tertidur tadi malam. Rasanya dia dibuat malu dan sakit hati. Hal itu membuat dia menangis dalam diam.
Ayana kemudian memandang wajahnya menggunakan kamera ponsel. Matanya terlihat sembab.
Kenapa?
Kenapa?
Kenapa?
Tiba-tiba tanda tanya itu sekarang muncul dalam otaknya.
Kenapa dia selalu dipandang rendah?
Kalau karena dia miskin,
Apa kemiskinan itu sebuah dosa?
Sampai-sampai orang-orang dari dulu selalu saja memandangnya dengan sebelah mata...
Ayana tau dia tidak sempurna...
Bahkan sangat...
Dia tidak punya keluarga yang lengkap...
“Aku juga berharap tidak hidup menyedikan begini...hiks...hikss...aku juga ingin seperti kalian, lahir dari sendok emas dan memiliki keluarga utuh aku juga ingin seperti itu.” Hatinya yang lembut mudah sekali merasa sakit. Padahal sejak dulu dia selalu tegar.
Tapi sekarang rasanya ia ingin juga sesekali menangis dan mengeluarkan rasa frustasinya.
“Aku juga ingin seperti mereka...” Matanya seperti memohon pada yang maha kuasa.
***
Ayana keluar dari ruangannya ketika dia sudah membereskan koper miliknya. Memikirkan malam tadi ia meminta pulang dengan menangis tergugu membuat ia merasa malu sekali. Kenapa dia sudah seperti si tuan yang ingin segera dituruti kemauannya. Padahal dia pun hanya menumpang di sini. Dalam hati Ayana merutuki sikapnya itu.
Ayana keluar dengan memakai kacamata dan masker. Untunglah dia semoga membawa dua barang itu. Tampaknya dua barang itu sangat membantu sekarang. Ayana ingin menyembunyikan raut wajah sendu dan matanya yang sembab.
Ayana keluar dari ruangannya saat ia keluar matanya dibuat terkejut ketika mendapati Ken yang terlihat duduk pada bangku ruang kamarnya.
Ken tidak tidur laki-laki itu sudah bangun. Ayana mengamati Ken dari balik kacamatanya. Ada selimut, penghangat ruangan, lalu juga racun nyamuk.
Apa dia tidur di depan ruanganku tadi malam?
Benaknya bertanya-tanya namun hanya sebatas itu saja.
“Kenapa kau memakai kacamata dan masker?” Ken sudah mendekatinya. Mata itu seperti menyorotkan kecemasan. Namun Ayana segera mengenyahkannya. Mana mungkin Ken merasakan itu. Dia bukan siapa-siapa.
“Aku sudah membereskan barangku. Maaf sekali karena sudah membuat kacau acara reuni kalian.”
Mata Ken terlihat menajam tidak suka dengan ucapan Ayana.
“Bukan itu yang kutanyakan Ayana!” Suara Ken membentak. Ayana berjengkit dan meremas pada pegangan koper yang ia bawa.
Ayana menatap pada sepatu buluk yang membalut kakinya. Lagi-lagi tersenyum miris.
“Aku hanya ingin memakainya.” Ayana menjawab tanya Ken dengan benar.
Hembusan nafas kasar terdengar dari Ken. Secara perlahan Ken menarik tangan Ayana hingga Ayana tertarik mendekati dadanya. Ken mengangkat dagu Ayana dengan lembut, sorot matanya pun tampak membuat juga. Hal itu tidak jadi membuat Ayana membentak.
__ADS_1
“Matamu semabab.”
Ayana menggigit bibirnya.
“Sebelum pulang kita perlu mengisi tenaga dulu. Kau perlu makan. ”
“Aku tidak berselera makan Ken.” Ayana menolak segera.
“Siap-siapa saja tidak ikut penerbangan kalau tidak ikut sarapan!” Ancam Ken. Ayana ingin membantah namun tangannya segera ditarik oleh Ken. Sembtara satu tangan lain bebas. Koper milik Ayana dibawa oleh Ken.
Lagi-lagi Ayana merutuki Ken.
Kenapa tuan muda sempurna ini juga memiliki sikap yang begitu baik. Ayana rasanya bisa menjangkau Ken.
***
Chef terlihat menyajikan beberapa makanan di atas meja. Sarapan yang di pesan Ken begitu banyak. Namun Ayana hanya mengambil nasi goreng yang dirasakannya yang paling cocok pada lidahnya dan mudah untuk ditelan.
“Apa kau tidak mau udang goreng?” Ken sejak tadi terlihat begitu perhatian pada Ayana dan menawarkan ini itu.
Yayan bahkan sampai salah dalam bertindak tadi karena terlalu fokus melihat Ken.
Tangan yang niat Yayan ingin mengambil minuman malah mengarah pada kobokan, bahkan air dalam kobokan sempat masuk dalam mulutnya.
“Yan! Itu air kobokan!”
Kata Yayan membulat dan tersadar ia menyemburkannya sesegera mungkin.
“Huwekk!” Yayan segera mengambil tisu. Sial! ini gara-gara Ken dan Ayana. Membuat Yayan merasa tdiak fokus.
“Yan! makanya jangan minum air kobokan. Udah disediain chef minuman kok malah kobokan.” Dev menahan tawanya yang sebentar lagi akan meledak.
“Ini salah ambil! Siapa juga yang mau minum air kobokan.” Dalam hati Yayan sesekali ingin melakukan adu tinju dengan Dev.
Meski meringis Dev malah sjaa tertawa.
“Pfttt, udah ku mauskin insta story' nih. Nanti bakalan masuk kenangan.”
“Kamprett! Hapus woy! Orang salah minum malah di video in!” Yayan menatap kesal pada Dev dan ingin meraih ponsel Dev.
“Terlambat Yan, udah banyak yang liat juga.”
@Nana
[“Wah si Yayan kenapa berulah itu?”]
@Fira
[“Astaga kak, itu kenapa orangnya malah minum air dari kobokan? Astaga, nggak jorok apa ya?” ]
Sial Yayan mengumpat banyak sekali yang sudah mengomentari insta story' Dev.
Matanya melotot ketika membaca satu balasan dari akun yang sangat dia kenal.
@Ajengmomy
[“Anak Tante kenapa aneh begjtu Dev! Ya Tuhan tolong diingatkan anak itu! Waktu kecil juga minum air kolam! Astaga!” ]
“Astaga! Mommy ikut komen juga ini dev.” Sudah riuh sekali suasana.
__ADS_1
“Mana-mana.” Dev lekas ingin melihat.
“Buahahahahah! Yan yan, emang kebiasaan dari kecil tenyata.”
“Sembarangan! Itu waktu kecil dulu sekali! sekarang udah paham. Mana yang bisa di minum, mana yang bisa di obok-obok.”
“Lah buktinya tadi!”
“Kesalahan Dev!” Yayan geram sekali dan ingin membanting Dev. Namun dia tahan diri karena ada Ayana di sini.
“Jangan ketawa!” Bentaknya pada Dev dan memasukkan kerupuk udang di mulut Dev. Namun Dev malah semakin terbahak sampai-sampai menyipitkan matanya.
“Mereka lucu sekali.” Komentar Ayana sontak membuat Ken menatap Ayana segera. Sejak tadi terdiam Ayana malah baru bicara sekarang. Padahal dia menawarkan ini itu hanya ditanggapi anggukan dan gelengan. Ken bahkan curiga Ayana memang berniat untuk bungkam.
Aku bisa melihat kantung mata tuan muda...
Huftt pasti tuan muda tidak banyak tidur tadi malam.Alex membatin melirik dari kejauhan.
***
Ken memperhatikan Ayana yang sekarang banyak diam lagi. Mereka melangkah melewati titian panjang dan akan segera kembali ke negara mereka lagi.
Gadis ini pasti syok sekali, sampai-sampai jadi tidak banyak bicara. Ken bergumam dalam hati.
Memperhatikan Ayana yang seiring kali juga menunduk. Apalagi sudah semakin banyak teman-temannya yang juga lalu lalang yang akan pulang. Sempat saling salam-salaman juga. Pasti Ayana merasa sangat tertekan.
Padahal Ayana sama sekali tidak bersalah. Gadis ini...Ken merasa geram. Kakinya tiba-tiba saja berhenti dan Ayana pun ikut berhenti.
“Jangan terus menunduk ayana.” Ken berhenti dan menghadap Ayana.
Ayana mendongak melihat ke arah Ken keningnya terlihat berkerut samar.
“Jangan terus menunduk dan membuat dirimu tampak lemah. Dunia ini kejam Ayana, mereka yang bersuara lebih keras akan lebih didengar. Jadi cobalah untuk sesekali berteriak dan serukan apa yang kau pikirkan.”
“Aku tidak mengerti apa maksudmu.”
“Pahami secara perlahan. Aku tau otakmu yang kecil ini bisa memahaminya nanti.” Ken tersenyum lembut. Dalam diam Ayana merasa desir hangat tiba-tiba dirasakannya.
Kenapa bersikap sangat lembut...Kalau aku jadi punya keinginan memilikimu bagaimana Ken?
Apa kau mau menerimanya?
Komohom kalau tidak ingin hal itu terjadi, bersiaplah biasa-biasa saja.
Jangan membuatku salah paham dengan pandanganmu yang terlihat lembut itu.
Aku...
Aku takut... Hatiku akan goyah nantinya...
***
Epilog
Satu pesan masuk ke dalam ponsel Yayan.
Ken:[ Coba minum air yang berisikan sambal itu , Yan.]
Yayan menatap horor, pada Ken yang bersikap biasa-biasa saja.
__ADS_1