
Ehmmmmm!
Warning!!( Baca saat sudah berbuka Puasa!)
Jauh dari Pulau Maldaves, di suatu lokasi
Hans sedang memasang wajah kesal sekarang. Hujan yang tiba-tiba turun membuat langit diselimuti oleh awan gelap. Suasana makan malam romantis tak jadi kenyataan.
"Sudahlah sayang, cuaca akhir-akhir ini kan memang sering hujan." Angel berusaha meredakan kekecewaan suaminya itu. Padahal tadi suasana romantis sekali, saling peluk-pelukan setelah ciuman panjang. Eh hujan datang secara tiba-tiba.
"Seharusnya aku juga meminta mereka untuk memasang tenda transparan tadi! Ini kan makan malam romantis kita sayang, semuanya malah kacau."
Sudah menggelontorkan dana yang banyak, tenyata masih tidak bisa membendung kuasa Tuhan.
Angel geleng-geleng kepala melihat suaminya yang masih saja misuh-misuh itu.
"Dengar coba lihat aku sekarang." Angel menangkup kedua pipi Hans dengan lembut, Hans menundukkan pandangan dan menarik
pinggang istrinya itu agar masuk dalam dekapannya.
"Hem?" Masih acuh-acuh tapi memandang diam menuruti istrinya.
"Coba kamu lihat situasi, yang merasa kecewa di sini bukan hanya kita, tapi semua...lihatlah para karyawan restoran itu." Hans melihat ke arah tunjukan Angel. Para karyawan laki-laki maupun perempuan terlihat sibuk sekali. Ada yang mengambil kue yang sudah dipesan Hans, ukurannya besar dan perlu beberapa orang untuk itu. Mana lagi hujan semakin lebat.
"Apa kamu tidak kasihan dengan mereka yang sibuk berlari itu...mereka sedang kewalahan sekarang karena cuaca yang kacau. Mereka juga merasa kesal dan kecewa dengan situasi...Bukankah kita masih berada pada pihak yang masih untung di sini...kita untung karena tidak kebasahan seperti mereka...kita untung karena tidak perlu berlari seperti mereka.” Hans diam seribu bahasa, mencium kening istrinya itu dengan lembut.
"Panjang sekali bicaramu ya." Cemberut tapi sudah luluh. Angel hanya tersenyum menanggapi itu.
__ADS_1
"Karena terkendala cuaca artinya urutan rencana pertama sudah dicoret, jadi kita lanjut ke rencana kedua."
"Rencana kedua?" Angel heran dan mencoba menari jawaban dari suaminya itu, namun hanya senyum saja yang diberikan Hans.
"Rencana apa lagi sayang? Kamu tidak lihat cuacanya sedang tidak bersahabat sekarang." Mengutarakan lagi keadaan alam, takut saja jika Hans lupa. Tapi sudah sangsi mana mungkin suaminya itu lupa.
"Rencana ini tidak akan terpengaruh sama sekali dengan kondisi cuaca sekarang, malah dengan hujan yang deras rencana ini akan semakin berjalan lancar." Hans mengedip mata nakal pada Angel.
Istri polosnya itu malah masih memasnganya tidak paham.
***
Angel merasa pipinya menghangat ketika Hans menarik tangannya, agar melangkah lekas.
Hah ku pikir rencana apa yang membuatnya berikat jahil. Ya pasti rencana mengurung diri di dalam kamar. Tidak habis pikir dengan Hans.
Angel merasa sangat lega jalinan rumah tangga mereka tidak mudah goyah seperti kebanyakan orang. Suaminya itu sangat setia bahkan tidak melirik wanita lain. Hal itu sangat disyukuri Angel.
Baru saja pintu untuk dibuka dan kembali tertutup Hans segera mengangkat tubuh sang istri dan melesatkan sebuah ciuman yang dalam. Angel berusaha menahan tubuhnya, mengalungkan tangannya di sekeliling pundak Hans.
"Eughh..." Lenguhan nakal itu terdengar ketika Hans meninggalkan tanda kepemilikan di dekat leher jenjang putih istri yang sangat dicintainya itu.
Hans menghentikan sejenak kegiatannya, memandang Angelnya dengan senyum jahil.
"Sayang!" Angel merengek karena tau Hans itu sedang ingin menggodanya.
Wajahku sudah semerah ini karena tingkahnya yang nakal, sekarang dia malah ingin melihat ekspresiku. Aku tau itu!
__ADS_1
"Sweet Wife." Hans tergelak, tidak melanjutkan aksi memandang wajah Angelnya. Kali ini tangannya sudah bermain untuk membuka resleting gaun mahal istrinya itu.
Tubuh proposional Angel terpampang. Menitan Hans meneguk ludahnya karena semakin terbakar hasrat.
Kali ini Hans segera membawa Angel agar terbaring di ranjang. Dia bergegas melepaskan seluruh pakaiannya. Angel melihat itu dengan wajah bersemu.
Hans naik ke atas dan mengukung tubuh Angel. Kali ini tangannya bergerak melewati perut mulus Angel dan mendarat tepat di tas pemuka segitiga itu.
Hans melesatkan ciuman membabi buta, dengan tangan yang lihai bermain di dalam segitiga itu. Angel mengerang, tubuhnya menggelinjang. Hans terus menerus memuaskan Angel, hingga Angel mengalami pelepasan pertamanya.
Hans tersenyum melihat hasil karyanya itu, wajah Angel sudah mulai dipenuhi keringat.
"Rencana berhasil kan sayang, walau hujan sekali pun itu tidak menganggu sema sekali." Hans tergelak jahil di tengah ambang sadar tidak sadarnya Angel.
"Sekarang kita mulai ya." Dikecupnya lama kening istrinya itu lalu tangannya membuka bagian penutup dada sang istri. Matanya menatap penuh damba pada bagian mencuat itu, penuh dan tampak ranum. Menggoda sekali, berwarna merah jambu.
Merasa diperhatikan tanpa tindakan Angel, malu dan ingin menutupinya, namun Hans menghentikannya dan menahan tangan Angel di kedua sisi kepalanya.
"Jangan ditutupi sayang." Ucapnya lembut dan sangat sarat akan buncahan hasrat.
Setelah itu Angel kembali dibuat melayang ke awan dan tidak bisa lagi memikirkan hujan deras yang menimpa bumi. Bunyinya bahkan serasa menghilang, karena yang disadari Angel hanya suaranya yang mendesah lah yang didengarnya. Tangannya meremas rambut Hans yang sedang menenggelamkan diri di dadanya.
Dibawah Sana segitiga itu juga sudah terlepas, tangan Hans bergerak. Nafas Angel putus-putus.
Setelah merasa Angel siap Hans pun melesat jauh ke dalam diri Angel. Dia ikut mengerang hebat.
Hans memasang Angelnya yang sesekali memandangnya lalu menutup mata. Ekspresi yang selalu saja membuat Hans merasa gemas dengan tingkah istrinya itu. Tidak pernah berubah sama sekali.
__ADS_1
Malam masih panjang...
Dan tidur damai akan segera di dapat ketika si tuan itu sudah merasa lelah....