Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
Ch 46 ~ Guncangan Besar


__ADS_3

Beberapa jam sebelumnya...


Silau lampu, klakson mobil, dan teriakan orang-orang berhenti dengan cepat. Ayana yakin jika sedikit saja mobil itu menyentuhnya, maka dia sudah terpental bermeter-meter. Yang paling parah mungkin ia akan terlindas mobil dan—, hanya tinggal nama. Tubuhnya bergetar hebat. Dia menarik nafasnya. Kakinya serasa lumpuh.


Dia selamat, ya Tuhan dia selamat. Pada detik dia memohon masih ingin melihat dunia, tuhan dengan segala kuasanya menyelamatkannya. Tuhan masih menyayanginya.


Sekitar Ayana krasak-krusuk. Pria berkemeja yang tadi berdiri di samping Ayana juga sama terkejutnya. Manik matanya tampak horor. Melihat mobil itu melaju kencang. Ia menerobos dan membuka paksa pintu mobil yang sekarang berhenti melewati batas lampu merah.


Lelaki itu sudah berdiri di tengah jalan. Dengan dada yang memburu, siap meluapkan amarah. Ditariknya secara paksa si pemilik mobil yang tampak sempoyongan.


“Kau mabuk hah?! Kau tidak melihatnya? Lampu sedang merah. Di mana kewarasanmu berkendara dengan kecepatan setinggi itu!”


Sudah ada yang main hakim. Sekumpulan pria sudah mengerumuni pemilik mobil yang tadi sudah hampir menyebabkan kecelakaan.


Ayana tak punya tenaga ke sana. Menerobos dan meneriaki pemilik mobil gila itu. Dia tidak memiliki tenaga.


“Dia mabuk!”


“Astaga!”


“Contoh manusia yang merugikan manusia lainnya. Dia perlu diberi pelajaran!”


“Pak jangan main hakim pak. Tidak boleh sebaiknya kita serahkan pada pihak kepolisian.”


Pro kontra terjadi dalam menyelesaikan perihal pengemudi ugal-ugalan itu.


Ayana segala keterpakuannya, merasa tubuhnya semakin bergetar.


“Ya tuhan gadis muda kau baik-baik saja kan? Kau terkejut?”


Bahu Ayana disentuh.


Suara itu datang bersamaan dengan dua orang wanita paruh baya kembar. Mereka menghampiri Ayana. Dengan nada perhatian. Mereka yang tadi meneriaki Ayana agar Ayana berhati-hati. Nafas dua orang itu menderu. Mereka memang berlari pada jarak yang cukup jauh.


Jarak antara mereka membentang tadi. Dua wanita paruh baya itu tadi berada di seberang jalan. Mereka dengan sekuat kemampuan berlari mendekati Ayana.


“Sudah pasti dia terkejut kak. Lihatlah wajahnya itu.”


“Kita ke sana ayo, nak. Jangan berdiri di pinggir jalan ini lagi. Kau harus menenangkan diri.”


Ayana dipapah dengan perlahan. Dibawa berjalan menuju sebuah bangku yang ternyata adalah tempat duduk di sebuah pemberhentian bus.


“Ini nak ayo minum. Minum bisa membuatmu lebih tenang.” Wanita itu menyerahkan botol kemasan, tangannya dengan sangat penuh sayang mengelus punggung Ayana.


Ayana mengambilnya, meneguknya. Itu menenangkannya.


Dia mengusap sisa-sisa air yang menempel di permukaan bibirnya. Nafas Ayana menderu. Dia gemetar. Mengapa kesialan tadi hendak mengenainya. Ya tuhan jika saja tadi. Jika saja mobil itu terus melaju dan mengenainya. Dia pasti sudah terpental dan meregang nyawa. Kemungkinan yang sangat mengenaskan!

__ADS_1


Pikiran Ayana menjadi kalut.


Ya tuhan.


Matanya segera bersitatap dengan dua pasang mata yang mencemaskannya itu. Dua orang ini sangat baik, menolongnya dan menenangkannya.


“Te, terima kasih Bu.” Dia meremas botol itu, salah satu bibir bawahnya ia gigit keras.


“Sudah mulai tenang nak?”


“Sudah Bu,” sahutnya, dan itu kebohongan besar. Karena dia nyatanya tak setenang itu. Dia hanya tidak mau merepotkan dua orang itu.


“Te, terima kasih banyak sekali Bu. Saya sudah merepotkan Anda berdua.”


“Astaga nak, kami tidak merasa direpotkan.” Sela yang satu. Berdiri dan menyahut Ayana dengan nada yang agak keras. Tidak tampaknya wanita itu memang punya ciri berbicara dengan nada keras. Berbeda dengan sang kakak yang berbicara dengan nada lembut.


“Pengemudi itu mabuk, dia sudah dibawa polisi. Hampir saja dia diamuk masa. Huh, aku tidak sempat menjambak rambutnya tadi. Dia tidak waras, sudah tau mabuk malah berkendara!”


Suaranya menggebu, sudah seperti tipe yang akan menerobos apapun kalau itu kebenaran yang nyata. Ayana tersenyum lembut.


“Sekali lagi terima kasih Bu.” Ayana bisa berdiri dan membungkuk menghadap dua orang itu.


“Astaga nak tidak perlu sampai membungkuk begitu. Terima kasih mu diterima oke.”


Ayana memasang senyum. Sejenak ketegangan semua syaraf tubuhnya sudah mereda.


“Eh, ti-tidak perlu Bu. Tidak perlu, sudah cukup bantuan ibu sekarang. Terima kasih. Oh ini minumannya. Saya ganti ini Bu, berapa Bu? Kebetulan saya punya uang di saku saya.” Sudah dengan tergesa mencoba merogoh sakunya.


Wanita itu segera menangkap tangan Ayana. Dan menggeleng keras.


“Tidak perlu nak, astaga kenapa kau mau membayar minuman ini. Sudah, jaga diri ya nak. Baik-baik.”


Dua orang yang baik, batin Ayana. Senyum Ayana mereda, dia mengusap wajahnya. Terlalu banyak guncangan hari ini. Jujur dia merasa sangat lelah.


Dia berbalik dan mulai berjalan menjauh meninggalkan halte itu. Dia merasa aneh, hatinya tiba-tiba berdenyut, Ayana merogoh koceknya dan menemukan uang receh, permen dan juga pengikat rambut.


Dia memilih mengambil pengikat rambut dan mengikat cepat rambutnya yang sudah panjang melewati bahu. Ayana merasa dia butuh keheningan. Dia perlu tempat untuk menumpah ruahkan segala resahnya.


Alasan dia tidak bisa membuat Ken terjebak dengannya, salah satunya karena dia memiliki ayah seorang pemeras. Ayana tidak akan mampu menghadapinya nanti. Kalau sewaktu-waktu lelaki itu dengan sesenaknya menghancurkan ketenangan mereka.


Mata Ayana terpejam, keresahan menderanya. Raut wajah kecewa dan putus asa Ken membayang, dan itu memukulnya keras. Sangat keras sekali.


Sejujurnya dia juga ikut terluka. Ken terluka dan dia pun sama. Dadanya berdenyut-denyut. Seakan baru saja ikut tertikam. Oleh rasa kecewa, resah, dan juga rasa putus asa.


“Maafkan aku Ken.”


Desahannya lirih. Headset yang terpasang di telinganya menemani langkah suramnya. Dia memutar lagu keras. Dia berlari dengan kencang. Tuhan apa dia boleh sekali saja egois? Apa dia boleh hanya memikirkan tentangnya, tentang betapa bahagianya dia nanti bersama kekasihnya. Bolehkan dia?

__ADS_1


Mata Ayana terpejam, dan pukulan keras air mata rasa sesak jatuh.


Memimpikan dia dan Ken bisa mengarungi sebuah rumah tangga yang harmonis.


Memimpikan dia dan Ken bisa memiliki malaikat kecil yang akan menemani masa tua mereka.


Apa hari itu akan bisa ia rengkuh? Bisakah ia egois dan membuat angan-angannya menjadi sebuah kenyataan?


Terlalu banyak hari yang bertabur duka yang sudah Ayana alami. Sekali saja. Sekali saja ia ingin merasakan hari penuh tawa ceria.


Tidak lagi hari dimana ia berkeluh kesah sendiri. Sampai membuat dadanya sesak. Karena tidak ada satu orang pun yang ada disisinya. Yang bisa ia jadikan tempat bersandar.


Air mata Ayana menggenang.


Demi tuhan, tolong berilah sedikit saja aku kebahagiaan.


Genangan air mata itu jatuh, menjadi sebuah Isak tangis. Ditengah deru nafasnya. Kakinya semakin membuat langkah panjang.


Suara dari headset berubah. Menjadi dering ponsel. Ayana menekan layar dan menggeser ikon hijau. Menghapus jejak air mata.


Suara penuh kekalutan emosi menyambangi Indra pendengarannya.


“Nona Ayana! Gawat nona! Tolong segera ke rumah sakit. Ibu Anda...”


Suara di seberang bergetar hebat. Mata Ayana terbelalak.


“Bicara yang benar suster! Ada apa dengan ibu saya?” tidak jangan bilang...jangan bilang sesuatu yang buruk menimpa ibunya. Jangan tidak lagi.


Dengan kaki yang bergetar Ayana mulai berlari. Dia berlari kencang. Menerobos semua penghalang. Ibunya satu-satunya wanita yang membuatnya bisa meneguhkan hati ingin bertahan di dunia ini. Sedang...


“Ibu pasti baik-baik saja. Pasti, pas...”


Ayana meragu. Jangan, jangan ada gelombang guncangan besar kedua.


.


.


.


Saya memutuskan untuk publish satu persatu bab secara rutin 🤗 karena takut jikalau anda akan menjadi pembaca mode pembalap, yang melaju lupa meninggalkan jejak komen ataupun like 🤗🤗🤗


Haha sayang semua pembaca...🤗🤗🥰🥰🥰


Kasih banyak cinta untuk Aya dan Ken


Bab selanjutnya akan segera meluncur...

__ADS_1


Ayo antusiasmenya 🤗 Dukung dengan komen, like dan vote + hadiah


__ADS_2