
“Loh mana bisa gitu mbak! Aku udah luangin waktu sampe nunggu 2 jam sekarang malah disuruh pulang!” Marah sekali.
Ayana mengatupkan tangannya menghadapi wanita yang dibawanya ini. “Mohon mengerti mbak, ini keputusan dari tuan Ken juga. Maaf ya.” Sekali lagi meringis. Tapi sekaligus menyadari perempuan yang dibawanya ini tenyata tidak sempurna. Luarnya saja terlihat tenang, lah sekarang malah menuntut dan marah-marah karena kesal. Tidak ada lagi ketenangan yang diperlihatkan. Wah tampaknya Ayana sudah salah pilih orang ini.
Ken tau akan perdebatan Ayana dan wanita asing itu. Namun ia memilih bersandar pada pintu mobil mengkilat miliknya. Seringai menghiasi bibirnya.
Sekali lihat saja aku sudah tau raut wajah itu palsu. Lihatlah emosinya saja sudah membumbung sekarang. Ken berdecih sinis. Ya sejak awal Ken bahkan sudah bisa melihat seringai kecil ketika wanita itu melihat dirinya. Tatapan yang penuh akan rencana licik. Apa wanita itu pikir dirinya bodoh? jadi tidak bisa membedakan mana berlian mana logam berkarat.
Tidak seberapa Ayana datang ke arah Ken, sementara wanita asing tadi menghentak langkah jengkel sempat mendelik ke arah Ayana. Padahal dirinya mau membuang waktu karena melihat kelebihan pria yang akan diperkenalkan padanya. Lihatlah mobil itu terlihat sangat mewah sekali. Sial! Dia sudah kehilangan tangkapannya. Mendengus dirinya melewati dua orang itu.
“Kenapa wajahmu menekuk begitu?” Dengan santainya Ken bertanya pada Ayana.
“Apa Anda bertanya karena tidak tau?”Ketus Ayana. Tidak mungkin Ken tidak bisa menangkap mengapa wajahnya jadi menekuk begini.
Bibir Ken mengulas senyum tipis, melihat raut wajah ragu-ragu Ayana yang ingin menunjukkan kekesalan namun juga menahan diri.
“Kau lucu ya.” Kekehnya pelan. Ayana malah terpelongo mendengar itu, tidak nyambung sekali.
“Masuk sekarang, rapikan bajumu juga. Kita akan ke rumahku sekarang.”
“Ha?”
“Tunggu-tunggu tuan.” Menahan tangan Ken yang sudah hendak masuk dalam bangku kemudi.“Kenapa kita ke rumah Anda? Bukannya kita perlu bicara sekarang.” Benar kan mereka perlu bicara untuk melakukan langkah selanjutnya, lalu kenapa Ken membawa mereka ke rumah.
Biasanya orang-orang kaya itu memiliki banyak rumah. Rumah mana yang akan dituju mereka sekarang. Apa Ken akan membawanya pada rumah sunyi yang hanya dihuni oleh laki-laki itu?
Ayana bergidik, mundur dan mendekap diri.
__ADS_1
“Pikiran kotor apa yang sedang kau olah?” Ken terkekeh geli sekaligus menggeleng pelan.
“Kita akan kerumah orang tuaku. Kau perlu melakukan wawancara dengan ibuku, wanita seperti apa yang disukainya. Tentu saja tidak secara gamblang tapi dengan obrolan kecil.”
Duarrr!
Ayana tertampar oleh kenyataan.
Ayana berdehem merasa malu, melarikan arah pandang ke bawah kakinya.
“Haha, dasar!” Ken lagi-lagi menoyor kepalanya.
“Hiss.”
“Sudah masuk sana.” Menyuruh dengan gerakan kepala. Masih dengan rasa malu Ayana pun melangkah menuju pintu sebelahnya. Mobil Ken sudah melaju meninggalkan histeris pada karyawan yang melihat kejadian langka tadi. Gosip-gosip akan segera menyebar. Bahwa sang CEO Ken Prasetyo baru saja begitu dekat dengan seorang wanita.
***
“Lihatlah itu tuan.” Ayana menunjuk pada tiga orang yang tampak lusuh di pinggir jalan, di bawah naungan tenda kecil yang tampak akan rubuh, bahkan tata letak penampang yang seharusnya empat, hanya tersisa tiga saja.
“Kenapa?”
“Apa Anda tidak mau memberi sedikit uang yang membengkakkan dompet Anda? Saya ingin turun dan memberikan beberapa lembar uang.” Ayana tersenyum pada Ken dengan sangat ringan. Sejenak ada rasa baru yang menyelinap di hati Ken, perempuan ini begitu baik. Sang mommy Angel pun selalu bertingkah begini ketika bersamanya. Selalu mengajarkan agar menipiskan isi dompet untuk sesuatu yang bermanfaat.
“Tuan, Anda tidak mau ya?” Segaris senyum menghiasi bibir Ayana.“Saya mengerti tu...”
“Siapa bilang! ck, jangan menyimpulkan sesuatu lebih dulu, semuanya perlu proses.” Ken pun membuka dompetnya dan mengambil lima lembar uang, menyerahkannya pada Ayana.
__ADS_1
“Waw Anda baik sekali tuan.” Ayah tersenyum manis sangat manis. Sepeti senyumnya itu juga mengandung kata terima kasih yang tidak perlu diucapkan. “Saya akan turun sebentar, oh iya ini juga saya bawa ya.” Mengambil tanpa ijin pada air kemasan yang masih tersegel di dalam mobil Ken.
“Hei! Astaga anak itu.” Ken menggeleng, tangannya mencengkram kemudi menyoroti pada pergerakana Ayana. Dari tangkapan kacamatanya bisa dilihatnya tiga orang tadi terlihat begitu bersyukur dan berterima kasih pada Ayana.
Saat Ayana berpaling dan kembali mengarah pada mobil miliknya, Ken segera menormalkan raut wajahnya.
“Sudah tuan.” Lapor Ayana.
“Aku juga tau.” Ayana hanya cemberut mendengar sahutan Ken.
“Mereka tampak bahagia.” Suara Ken terdengar sesudah mobil kembali melaju.
“Maksudnya?” Ayana bertanya karena tidak paham.
“Tiga orang tadi, mereka tampak bahagia dengan cara sederhana. ” Ucap Ken ringan.
Sejenak tidak ada tanggapan, suara Ken hanya disambut keheningan. Membuat Ken terheran dan menoleh ke arah Ayana.
“Kenapa kau menatapku serius begitu?" Ken mengerutkan keningnya. Suara helaan nafas Ayana yang kasar membuat Ken semakin bingung.
Ayana menatap ke arah luar jendela mobil.
“Yang terlihat hanya seperempat dari kebahagiaan yang Anda maksud, tuan Ken. Begitu kecil dan bahkan meraihnya pun sulit untuk mereka, asal Anda tau.” Suara Ayana tiba-tiba serius membuat Ken tersentak oleh kata-kata Ayana yang begitu dalam yang membantah ucapannya mengenai "Mereka bahagia dalam kesederhanaan."
Ayana lalu menetap ke arah Ken. Ken yang kehilangan fokus melirik dari sudut matanya pada Ayana.
“Anda tidak tau apa yang sebenarnya orang itu alami. Jadi jangan seringan itu berkata mereka bahagia dalam kesederhanaan. Padahal kucuran keringat dan tangis mungkin sudah membayangi keadaan mereka di setiap harinya.”
__ADS_1
Ken terdiam, menatap Ayana dengan sorot mata dalam. Begitu dalam dan makna dari sorot dan keterdiamannya bermakna sebuah keputusan. Keputusan yang Ayana tidak tau apa itu.
Tampaknya Ken sudah memiliki calon kandidat yang cocok.