
Sekalipun dalam hidup ini Ken tidak pernah terpikir, ia akan menjadi pria yang sulit mengendalikan diri. Dia yang dulu begitu Workholic. Sekarang sudah mulai berubah.
Dulu ia selalu menghabiskan waktu dengan segudang pekerjaan. Bahkan waktu di rumah pun sulit untuk di sisihkan. Dia menikmati segudang kesibukannya.
Namun itu dulu...
Sekarang...
Baginya waktu kerja adalah waktu yang paling mengesalkan!
Dia tak bisa menemui Ayana karena terhalang pekerjaan! Ken tak lagi menjadi sosok yang suka lembur. Dia malah lebih suka menyelesaikan semua hal lebih awal.
Setelah pulang kerja ia akan memilih menemui Ayana.
Ken merasa Ayana sudah sedikit membuka hati padanya. Terbukti dari sentuhan fisik mereka yang mulai tak kaku lagi. Ayana tak lagi berjingkat ketika Ken mencium keningnya, atau mencium bibir Ayana.
Dengan malu-malu gadis itu malah ikut melakukan hal yang sama. Membalas ciuman Ken. Dengan mengaplikasikan pengajaran Ken.
Hubungan mereka berjalan lancar. Ken sangat mengenali postur tubuh Ayana. Bahkan jika disuruh melihat dari kejauhan pun ia akan menemukan Ayana dengan cepat. Karena Ayana sudah tertanam di dalam pikiran dan hatinya.
Dan sekarang, Ken bisa yakin sekali. Kalau yang di seberang jalan sana—, yang sedang melepaskan helm dibantu oleh seorang pria adalah Ayana'nya!
“Sialan!” Ken menggeram. Dia baru saja selesai melakukan pertemuan bisnis tadi di dalam restoran. Jarak antara restoran dan perusahaan hanya kurang dari 50 meter.
Ken sungguh tidak menyangka! Setelah keluar dia malah menemukan gadisnya sedang bersama pria lain!
Ken menahan rasa marahnya.
Lampu lalu lintas menyala di warna hijau. Membuat Ken tak bisa langsung melintasi jalan. Lalu menjauhkan dua orang itu!
Berani-beraninya dia berusaha mendekati wanitaku!
“Terima kasih Ayana, sungguh terima kasih sekali sudah memberi tumpangan. Kalau saja mobilku tidak berulah, semuanya pasti akan lancar.”
Ayana tersenyum, menatap pria di depannya itu.
“Iya tidak masalah. Aku merasa senang kalau bisa membantumu.”
“Eh, kalau begitu apa kau ingin kutaktir minum kopi nanti? Sebagai ganti bayaran karena kau membantuku.”
“Eh tidak perlu Rafka. Sungguh, sebaiknya kau pergi saja kau terburu-buru bukan.”
“Masih ada lima belas menit lagi Ayana, karena kita memakai motor tadi waktu yang dibuang menjadi sedikit. Ayo Ayana.” Ajak Rafka kembali.
“Biarpun begitu tidak perlu Rafka.” Ayana kembali menolak. Begitu sungkan.
“Jangan menol...” Ucapan Rafka terhenti ketika sebuah suara mengtrupsi begitu nyaring dan tampak menggeram.
“Ayana!” Tiba-tiba seruan itu datang ditengah perbincangan mereka. Sebelum Ayana menoleh dan melihat ke sumber suara.
Tangan posesif sudah melingkari sepanjang pinggangnya. Menarik Ayana hingga menabrak tubuh kokoh yang sekarang terlihat menguarkan kemarahan.
__ADS_1
Ayana terperangah. Perlu waktu untuk ia bisa melihat jelas sosok yang sedang memeluknya secara kurang ajar itu.
Dan ia bungkam ketika mengetahui sosok itu.
“Apa yang membuat kekasihku bisa bersama pria lain di siang yang terik ini?”
Ken! Laki-laki itu hadir dengan wajah yang tampak murka.
Ayana meneguk ludahnya. Ken marah karena menemukan dia bersama Rafka.
Aaaa, bagaimana ini? Kenapa bisa berpapasan begini sih? Dia kan sangat tidak suka kalau aku berinteraksi dengan Rafka. Ultimatumnya selalu diberikan setiap hari. Aaaaaa, bagaimana ini?
Menjadi cemas. Ayana menyadari sekali, Ken sangat posesif. Tipe yang tidak suka miliknya diganggu oleh orang lain.
“Oh jalan salah paham senior, tadi saya hanya ikut menebeng dengan Ayana. Mobil saya rusak.” Rafka menjelaskan. Takut jika terjadi pertengkaran di antara dua orang itu. Sejak awal pun dia sudah tau bahwa Ayana sudah memiliki kekasih. Karena Ken sendiri yang mengatakannya.
Mata Ken menyipit curiga.
“Kau yakin tidak sedang mencari kesempatan?”
Ken melempar kata itu penuh kesinisan. Baginya Rafka adalah sosok yang sangat perlu diwaspadai pergerakannya.
Rafka memandang Ken.
“Ke-kesempatan? Astaga tidak sama sekali senior. Saya tidak akan melakukan hal seperti itu.” Rafka langsung berkilah. Sungguh dia baru mengetahui kepribadian Ken rupanya begini. Dulu dia hanya sekilas saja melihat anak emas dari sekolah, yaitu seniornya ini.
Ken itu kebanggan sekolah. Melihat Ken secara langsung dan bisa berbicara awalnya menumbuhkan kebanggan bagi Rafka, namun pada detik ini—, hal itu tak dirasakannya lagi.
“Ken.” Ayana menarik kemeja milik Ken. Membuat laki-laki itu menoleh, masih dengan tatapan galaknya.
Aaa, dia tidak mau aku bicara. Astaga! Maaf sekali Rafka. Kau saja yang menjelaskannya.
Ken lalu menghunus tatapan serius pada Rafka. Tubuh tegap dan tingginya membuat Rafka perlu mendongak. Rafka meneguk ludahnya.
Sepertinya aku sudah melakukan kesalahan dengan menumpang ikut bersama Ayana. Rafka membatin penuh sesal.
“Dengar Rafka, Ayana adalah calon istriku, dan aku tidak suka kalau kau sampai melakukan obrolan lebih atau segala komunikasi berlebihan. Aku tidak suka memberi celah, bagi orang lain untuk masuk dalam hubungan kami.”
Ken melempar ultimatum yang tampak serius. Memperingati keras Rafka. Kemarin-kemarin Ken tidak melakukan ini. Karena Rafka tidak melakukan pergerakan.
Dan sekarang Ken menganggap Rafka sedang melakukan pengerakan untuk mengambil Ayana darinya. Hal itu tidak akan ia biarkan!
Tatapannya menghunus, aura dingin dan intimidasi Ken. Membuat Rafka merasa takut.
“Jadi aku memperingatkanmu, agar jangan menyentuh wanitaku.”
Rafka terdiam, menelaah dengan cepat ultimatum yang diberikan Ken.
Ayana merasa malu melihat Ken yang memberikan ultimatum pada Rafka. Lagipula mana mungkin Rafka tertarik padanya. Mereka dulu pun hanya berteman saja.
“Te- tentu saja senior.” Rafka menjawab pasti.
__ADS_1
“Baguslah.”
Ken lalu beralih pada Ayana. Meraka tatapan Ken, Ayana merasa perlu waspada.
“Ikut aku ke kantor.”
“Eh, mana bisa begitu Ken. Aku membawa motor sekarang.”
Aku harus lari, aku tidak boleh ikut dengannya.
Membuat ancang-ancang akan berlari namun semua tindakannya tak terwujud.
Tubuh Ayana terangkat, gadis itu terpekik ketika merasakan perutnya dijadikan tumpuan ketika Ken memanggulnya! Iya, Ken memanggulnya sekarang!
Kepala Ayana menghadap bawah, rasa pusing menyerangnya.
“Ken! Turunkan aku! Astaga kenapa kamu begini! Turunkan aku ken.” Ayana memberontak dan berusaha turun, namun sial sekali. Tenaga Ken begitu kuat dan dia tak bisa turun.
“Ken!...”
Malu sekali! Ayana yakin mereka sudah jadi tontonan sekitar. Dan tidak menunggu waktu dai sudah bisa mendengar bisik-bisik sekitar.
Astaga!
“Tidak akan! Jangan mencoba lari sayang. Kau perlu mendapat hukuman.” Ken lalu memukul pantat Ayana. Membuat Ayana terjingkat.
Ken membawa Ayana lekas, meninggalkan Rafka yang tercenung karena tidak menyangka akan melihat Ken bersikap demikian.
Alex terperangah melihat tuan mudanya memanggul Ayana. Sungguh sejak tadi ia hanya memperhatikan dari jauh, karena malas.
“Kau urus motor milik Ayana Lex! Setelah itu baru susul kembali ke perusahaan.” Tanpa mendengar jawaban Alex, Ken berlalu.
Ah saat ken masuk ke dalam perusahaan. Semua karyawan menjadi heboh. Hal itu sampai ke telinga seorang Hans Prasetyo.
Heboh!
.
.
.
Untuk tangan-tangan ringan
Ayo pencet like, komen dan kasih Vote.
Jangan lupa kunjungi Ig khusus novel mereka ya
Ig:_tya_1013
Penampakannya dibawah
__ADS_1