
Prosesi pemakaman telah selesai, dan di sinilah Ayana berada. Di dalam ruangan asing yang diperuntukkan untuk ia beristirahat.
Ini bukan kamarnya. Ini adalah salah satu kamar yang ada di kediaman keluarga Prasetyo. Ayana padahal sudah berkali-kali mengatakan bahwa dia akan pulang ke rumahnya. Namun semua orang memaksanya untuk ikut ke kediaman keluarga Prasetyo.
Yang paling Ayana tahu adalah Ken telihat sangat bernafas lega ketika ia akhirnya dengan terpaksa menganggukkan kepala pertanda setuju untuk ikut.
“Semuanya tertata dengan rapi. Ranjangnya sangat besar dan juga berkualitas.”
Memperhatikan setiap sudut. Namun semua kualitas kamar itu tak membuat ia melonjakkan semangatnya. Hatinya masih diliputi oleh duka. Ketika memejamkan mata akan ada bayang masa kecil ia dan sang ibu.
“Aku merindukan ibu.” Matanya mulai tergenangi, dengan sekuat tenaga ia mengigit bibirnya menahan diri agar tak menangis.
“Padahal ibu sudah mengingatku. Tapi...tapi kenapa ibu segera dijemput.”
Ayana seakan baru saja dilambungkan ke awan-awan lalu dihempaskan ke bumi dengan kejamnya.
Di luar sana bumi diguyur oleh hujan dengan derasnya. Rintik-rintik air jatuh di setiap sudut. Sedang angin bertiup kencang.
Dalam kesunyian dan suasana duka, Ayana mulai merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Menenggelamkan wajahnya lalu mulai menangis. Dia selalu ingin menangis sekarang. Rasa kehilangan itu memukul keras.
***
__ADS_1
Ini sudah hari ke tujuh. Ayana sering kali mengurung diri di dalam kamar. Sebenarnya Mommy Angel berusaha ingin mengajak Ayana berbicara, juga menawarkan untuk ikut pergi ke mall. Namun Ayana menolak.
Bukan karena dia terlalu jahat. Akan tetapi ia masih ingin menyendiri. Bukan hari Ayana saja yang gelap. Namun hari Ken pun mulai gelap.
Ken seringkali berusaha pulang cepat karena ingin segera menemui Ayana. Dia berbicara kepada Ayana. Berusaha membuka pikiran Ayana agar tidak terselubung dalam duka.
Sekarang dengan menarik nafas lalu menghembuskannya secara kasar Ken membuka pintu mobil. Dia melangkah dan meninggalkan Alex yang menghembus nafas kasar di dalam mobil.
“Apa aku harus bicara ya pada pak Hans. Mengenai tuan muda yang menjadi kurang fokus dalam bekerja.” Alex bergumam kecil.
“Ini benar-benar kali pertama aku melihat tuan muda seperti kehilangan pijakan.”
***
Kamar Tamu
Ayana dengan wajah polosnya memandang langit nan biru. Sekarang dia sedang berpikir keras tentang suatu hal. Dan dia perlu memutuskannya.
Tadi yang dikenalnya sebagai kakak Ken. Yaitu Kakak Nara. Datang ke dalam kamarnya.
“Apa kau akan terus bersikap begini Ayana!”
__ADS_1
Wanita yang lebih anggun, lebih dewasa darinya itu membentaknya ketika baru masuk ke dalam kamar tamu yang ia tempati.
Ayana sangat terkejut karena hal itu. Matanya melebar. Dan lagi-lagi dia terkejut ketika Nara meletakkan dengan kasar makanan yang masih sangat hangat siap untuk di santap.
“Sadarlah Ayana, sadar! Jangan terus mengurung diri begini. Jangan menyiksa dirimu dengan berkubang dalam kesedihan. Bangkit, tatap masa depan, jangan terkurung dalam sangkar begini.”
“Maaf saja, tidak masalah kalau kau menganggap ku kasar. Tapi kumohon jangan buat matamu tertutup kabut. Lihatlah orang sekitar, yang kepayahan mengurus mu. Mencoba membujuk mu.”
“Terutama adikku Ken. Aku sangat tidak suka melihat dia kepayahan, melihat dia yang lesu sebab dirimu. Itu sangat bukan dirinya sekali Ayana. Adikku itu pribadi yang sangat keras.”
“Jadi kumohon jangan berdiam diri saja di kamar ini. Bangkitlah.”
Setelah itu Nara berbalik meninggalkan Ayana yang sekarang dalam kondisi tercenung. Benar, tidak seharusnya dia terus berkubang dalam kesedihan. Hanya saja memang Ayana sangat wajar mengalami fase ingin menyendiri dan juga bersedih. Tidak mungkin dia langsung bersikap biasa-biasa saja. Sementara orang paling berharga dan paling ia cintai meninggalkannya. Sehingga hal itu menjadi pukulan keras.
Sekarang sudah waktunya bangkit dan berhenti bersedih. Ketika Ayana mengulas senyum lalu pintu terbuka menampilkan wajah Ken. Sang kekasih, yang telihat lesu. Manik mata mereka saling terkunci.
“Hai sayang, bagaimana harimu?”
Selalu sapaan yang lembut juga ciuman dan pelukan diberikan Ken. Jika biasanya Ayana akan menyerah dalam rengkuhan Ken tanpa membalas. Sekarang Ayana memeluk Ken. Membuat Ken terkejut. Dan Ken lebih terkejut lagi ketika Ayana berucap.
“Apa kau ingin pergi kencan kekasihku?”
__ADS_1