Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
Ch 146~ Si Penyebar Berita Terkini


__ADS_3

Bersih-bersih dilakukan di pagi hari. Ada yang tampak menyapu halaman. Ada pula pelayan yang membersihkan villa. Seorang pelayan yang sedang membersihkan ruang tengah, mengeryitkan keningnya ketika mendapati sebuah sesuatu yang berserakan.


“Apa ini?” Mendekat segera. Diperhatikannya lagi lebih dekat. Mulutnya terbuka, tidak percaya dengan yang ia lihat. Bra...****** ***** dan....Ah...apa ini!


“Loh ini baju mommy.” Suara dari anak tuannya segera membuatnya terkejut. Nara polos sekali melihat baju yang berserakan berbeda dengan sang pelayan yang sudah merasa malu.


Astaga di pagi hari saat membersihkan ruangan aku malah menemukan pakaian yang berserakan.


“Ada apa sayang.” Mama Rina mendekat menghampiri sang cucu yang sedang berjongkok. Ketika Nara berbalik menghadapnya dengan menenteng sebuah pakaian dalam yang selalu bergelantung di atas dada mata mama Rina membulat penuh.


“Ini apa Oma?” Nara bertanya dengan polosnya.


“I-ini Ke-kenapa ada disini!” Suara Mama Rina tidak sadar meninggi sebab terkejut.


“Ada baju mommy juga oma.” Ucapan sang cucu bernada polos sontak saja membuat Mama segera memahami apa yang terjadi. Malam tadi... Pakaian ini...bukti dari...


Astaga kenapa pasangan suami istri itu begitu ceroboh. Aku malu melihatnya.


“Kamu kumpulkan semua segera dan serahkan kepada pemiliknya.” Mama Rina bergerak cepat. Menyuruh pada sang pelayan.


“I-iya nya.” Bahkan wajah si pelayan terlihat memerah malu. Mama Rina mengusap wajahnya. Dua orang itu! Padahal Mama melihat ada perselisihan yang terjadi, namun yang dilihatnya saat ini...


***


Ketukan di pintu membuat Hans yang sedang menjahili istrinya segera menoleh ke arah sumber suara. Angel yang masih memakai handuk dan sedang mengeringkan rambut menoleh pula. Saling pandang dengan Hans.


“Siapa?” Seru Hans segera. Memberikan satu kecupan di pipi sang istri.


“Ini saya tuan pelayan.” Suara dari arah luar menjawab.


“Pelayan? memangnya ada apa? kau meminta sesuatu?” Tanya Angel pada Hans. Mungkin saja Hans minta dibawakan kopi atau semacamnya.


“Tidak.” Segara Hans menjawab. Kening Angel mengeryit heran, mungkin ada sesuatu yang penting. Angel pun mau berdiri namun Hans menahannya.


“Mau kemana?” Hans menatap Angel dengan kening berkerut.


“Ya mau membuka pintu sayang.” Sahut Angel dengan wajah polosnya. Hans segera menggeleng keras.

__ADS_1


“Aku saja, kau tidak sadar hanya memakai handuk saat ini.” Mata Angel membulat melihat tubuhnya. Benar ia hanya memakai handuk.


Yang menunggu diluar sedang menggigit bibir, pipinya memerah memandang bawaan yang membawa kehebohan di pagi buta.


Astaga kenapa aku yang harus menyerahkan ini. Rasanya malu sekali hanya dengan melihat ini. Huwaaaaa. Kaki pelayan muda ini menghentak pelan.


“Tapi kan aku bisa membuka sedikit saja pintunya.” Angel memikirkan opsi. Bukan apa-apa ia hanya tidak ingin Hans membuka pintu.


“Tidak-tidak! kau disini saja. Aku yang akan membuka pintu.” Mendengar suara Hans yang sudah sedikit meninggi, Angel segera membiarkan laki-laki itu membuka pintu.


Tentu saja alasan Hans tidak mau Angel yang membuka pintu sebab tidak rela tubuh sang istri yang hanya berbalut handuk terlihat. Meskipun palayan wanita yang akan melihat.


Ceklek


Pintu terbuka, Hans menampilkan wajah dengan kening yang mengeryit.


“Ada apa?” Tanya Hans segera, ia hanya membuka sedikit celah pintu agar si palayan tidak bisa leluasa melihat ke arah dalam di mana sang istri berada.


Pelayan ini menyodorkan sesuatu yang ia bawa, wajahnya begitu memerah. Membuat Hans begitu terheran.


Astaga aku lupa, bagaimana ini? Apa semua melihatnya?! Mata Hans membulat penuh.


Tenang Hans, jangan tampilan wajah malu lagipula hal ini biasa untuk sepasang suami istri. Tapi kan...


Hans berdehem lalu mengambil yang pelayan itu serahkan.


“Baiklah kau boleh pergi.” Hans berupaya menampilkan berekspresi datar. Padahal pikirannya sudah getar getir dengan apa yang diperkirakan oleh keluarga.


Menutup pintu segera dan menguncinya. Suara langkah terdengar yang Hans tau bahwa si pelayan tadi sudah pergi dengan setengah berlari. Astaga! kalau pelayan itu saja malu padahal bukan kelakuannya... apalagi dia yang memperbuat!


“Ada apa?” Suara Angel mengejutkannya, membuat pakaian hasil dari gairahnya tadi malam ia sembunyikan.


Angel mengryitkan keningnya melihat Hans yang menyembuyikan sesuatu dari balik tubuh.


“Tidak ada sayang.” Hans menjawab dengan mata yang tak berani menatap Angel.


Angel menjadi curiga dan mendekati Hans.

__ADS_1


“Apa yang kau sembunyikan?” Menatap Hans dengan garang.


“Tidak ada.” Hans kembali berbohong. Angel berdecak segera memeluk Hans dan menjangkau yang Hans sembunyikan.


Mata Angel membulat penuh, menatap Hans. Jangan bilang...


“Ja-ja...” Tidak bisa berkata.


“Jangan bilang pelayan tadi yang menyerahkan ini?!!” Malu segera menyergap, astaga! Meningkatkan Hans membuat Angel terasa lemah.


“Huwaaaa!! bagaimana ini! malu-malu!” Angel sudah membayangkan kehebohan yang terjadi sebab menemukan pakaian mereka di lantai dasar.


***


Dilantai dasar Mama Rina sudah menjadi pembawa berita terkini ke seluruh villa. Pertama hanya bercerita pada ibu.


“Bu tadi itu loh, saya nemu baju Angel sama Hans berserakan di dekat sofa. Astaga dua suami itu.” Mama berdecak ketika menceritakan. Segera Ibu merasa terkejut mengentikan kegiatan mengiris bawang.


“Kenapa tidak melakukannya di dalam kamar saja astaga.” Sambungan mama yang terdengar frontal membuat ibu tersedak.


Lalu Mama Rina beralih lagi pada pasangan Hana dan Bram.


“Mama tadi Nemu pakaian kakak kamu di ruangan tengah.” Segera mendapat informasi itu, Hana dan Bram mengolah pikiran apalagi disertai info bra yang menekan. Membuat mereka paham langsung.


“Duh, malu kalian jangan kayak gitu ya.” Ujar Mama Rina sebelum kemudian berlalu berlari sudah seperti penjaja berita. Bercerita lagi pada sang suami.


“Aduh mama malu pah.” Itu akhir kalimatnya.


Malu kok malah disebar mah. Papa mengerjap. Harusnya jangan diceritakan lagi...Astaga mama!


.


.


.


Cerita Mereka belum usai ya🤗

__ADS_1


__ADS_2