Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
CH 106- Kondisi Hans & Bram ?


__ADS_3

Di bawah remang-remang rembulan, seorang wanita sedang gelisah. Tempat tidur yang beberapa hari lalu ia rindukan terasa tidak nyaman, sama halnya dengan hatinya yang terasa berdenyut nyeri.


Angel, wanita ini tidak bisa menenangkan rasa agelisah dalam hatinya. Dia kemudian duduk dan bersandar pada kepala ranjang.


“Kenapa ini? perasaanku sungguh tidak nyaman!” Ia meremas dadanya kuat. Sekelebat bayangan sang kekasih mengusik hatinya, juga gelas pecah tadi.


Matanya menatap rembulan yang berpendar di tengah gelapnya malam.


“Hans kau baik-baik saja kan? Kumohon ya Tuhan jaga dia, lindungi dia.” Meminta dengan lirih. Matanya mulai menganak sungai, akibat rasa gelisah yang menghantam.


Sungguh hati yang tidak nyaman membuat ia urung untuk tidur. Jika saja akses jaringan di daerahnya lancar maka detik itu juga dia akan menghubungi Hans. Memastikan bahwa Hans baik-baik saja tidak seperti kata hatinya.


Malam ini, menjadi malam panjang penuh rasa gelisah. Angel hanyut dalam pikirannya smapsi kantuk datang, wanita ini tampak menyedihkan. Dia tertidur dengan bertumpu. pada kedua lutut.


***


Suara mobil ambulan menggema di tengah kota. Di malam hari yang lengang sebuah mobil ambulan melaju dengan lancarnya membawa pasien. Pertolongan pertama langsung diberikan saat pertama kali menemukan dua pasien tidak sadarkan diri. 


Beberapa saat lalu.


Ckittt Brakk!! Brak!! Brakk!! 


Sebuah mobil jungkir balik di tengah lengangnya jalan. Ban mobil berada di permukaan, kondisi pengemudi dan penumpang menandingi tidak sadarkan diri. 


“Rasakan itu!” Decih seseorang yang melihat dari kaca spion. Matanya menyala bibirnya mengulas senyum sinis merasakan kepuasaan hati. Rencana putar baliknya berhasil, target mengalami kecelakaan besar. 


“Matilah !!”


Brum mobilnya melaju meningkatkan lokasi.


Sementara itu laki-laki yang tidak mengetahui adanya kecelakaan beberapa kilometer di depan sedang menggerutu dan berpikir.


“Ada apa dengan anak itu? Biasanya dia selalu menjaga kesehatan. Pingsan? Sungguh tidak bisa dipercaya.” Dokter Daren menggerutu namun juga cemas.


Matanya dibuat membulat penuh rasa marah! “ Woy!! Bawa mobil yang bener !! Jangan ngebut-ngebut! patuhi kecepatan normal!! ” Teriaknya dengan tubuh yang keluar dari balik jendela mobil. Rasa amarah menyeruk, dengan kondisi yang bercita-cita hampir saja dia kecelakaan karena sebuah kendaraan yang tak bermoral.


“ Meskipun jalanan lengang tidak seharusnya mengebut!! ” Merasakan kekesalan yang mencuat. Keningnya berkerut dalam, kejadian tadi meninggalkan kekesalan dan rasa dongkol di benak.

__ADS_1


Mobilnya perlahan melambat, siluet seorang sosok yang dikenalnya membuat ia segera menghentikan mobil.


“Hans!!” Teriaknya dengan suara yang mengisyaratkan keterkejutan. Hans berusaha memfokuskan pandangannya melihat ke arah sumber suara. 


“Kenapa kau ada disini! Bram bilang kau pingsan! Lalu dimana dia sekarang !” Seruan penuh rasa cemas menyeruk pendengaran. 


“Jangan banyak bicara! Bantu kami sekarang !” Daren baru menyadarinya situasi tidak tenang sekarang. Dari tadi seseorang sedang berusaha memecahkan kaca mobil, dengan gerakan tubuh yang berusaha membuka pintu. Hans yang terlihat lemah juga ikut membantu.


“Jangan-jangan!!” Dugaannya mengejutkan dirinya. Dia mendekat dan berusaha membantu segera.


“Bram!!” 


“Akhhh…” Dengan 3 tenaga seadanya mereka berhasil membantu Bram keluar dari mobil. 


Sungguh Bram sudah berusaha menghindari mobil yang melaju ke arah mereka. Namun naasnya mobil mereka malah terbalik.


“Bram!! Sadar!” Teriak Hans segera. Kepala Hans rasanya kembali berputar, ia meremas perutnya keringat dingin mulai membanjiri dahinya.“Buka matamu Bram! jangan terpejam!” Suara beratnya mulai memudar.


“Sakit! Tolong aku” Rintihan Bram terdengar begitu pilu.


“Daren pe-periksa Bram, Daren.” Hans memegang lengan Daren dengan lemas.


Dokter Daren memeriksa kondisi Bram, kucuran darah terdapat di dahinya. Sapu tangan segera dokter Daren tempelkan pada dahi Bram. “ Apa ada yang sakit lagi Bram? ”


“Leherku” Suara Bram terdengar lemah. Hans yang sedari tadi berusaha mengeluarkan semua tenaganya mulai ambruk.“Pak!!” Dua orang yang tadi membantu terkejut dan segera menangkap Hans agar tidak jatuh. 


“Astaga Hans !!”


“Tenang pak, mobil ambulan akan segera datang. Saya sudah memanggil ambulan.” Terang salah satu orang yang menolong tadi. 


Dokter Daren segera melakukan pertolongan pertama terhadap Bram! Laki-laki ini terluka parah, dan mengalami patah tulang di leher.


***


Mobil ambulan  berhenti di depan sebuah rumah sakit.


Para Tim medis nampaknya sudah menunggu pasien gawat darurat ini. 

__ADS_1


“Pasien mengalami benturan keras di area kepala! Pasien juga mengalami patah tulang di leher! Tolong segera dilakukan perawatan.” Suara tidak tenang dokter Daren menginterupsi para tim medis yang terdiam.  Mereka terpaku dengan penjelasan yang tergesa singkat dan jelas tadi. 


Bram segera di dorong dan masuk ke dalam rumah sakit. Sekarang tinggal Hans. Untunglah dia tidak mengalami kondisi yang serius. Bram sebagai pengemudi mengalami imbas yang paling parah. 


Kabar kecelakaan ini sudah sampai ke telinga Keluarga Prasetyo. Mama Rina dan papa Fadli segera menyusul Hana pun dibangunkan untuk ikut. Para pembantu ikut bangun karena tuan rumah yang ribut.


***


“Daren! Bagaimana kondisi Hans, nak? Bagaimana kondisinya?! Huuu...pa… anak kita! Bagaimana kondisinya!...huuu...perasaan mama udah gak nyaman, ternyata anak kesayanganku kecelakaan… huhu kenapa anakku harus mengalami hal yang tidak mengenakan sampai dua kali.” Mama cemas gelisah dan marah. Butiran air mata sudah berjatuhan membasahi pipinya. Cemas dengan kondisi Hans, gelisah karena tidak mengetahui benarnya kondisi Hans dan hanya menduga-duga. Pun rasa marah, karena anak tersayang harus masuk ke rumah sakit lagi.


Tidak ada satu pun orang tua yang akan senang jika mendengar anaknya menafkahi kecelakaan. Ketika mendapat berita Hans kecelakaan hantaman rasa sesak menyeruak di salsa mana Rina. Dunianya terasa mau runtuh seketika!!


“Mah tenang dulu mah.” Papa berusaha menenangkan sang istri, memberikan usapan-usapan. Dari tadi dokter Daren tidak bicara karena mama Rina yang menyatakan kecemasan sedari tadi.


Hana yang masih bisa menguasai diri bertanya pada dokter daren.“Kak bagaimana kondisi kak Hans?” 


Daren menarik nafas dalam.“ Hans tidak mengalami luka berat.” Semua mata tertuju ke arah Daren, mereka memasang pendengaran. Kata dokter tadi Hans mengalami kram perut. Hans sudah mendapatkan perawatan. Sebaliknya Bram asistennya mengalami kondisi yang berat.” Jelas Daren. 


“Kenapa dengan Bram? ” Tanya papa Fadli.


Mata Daren dan papa Fadli saling temu.“ Bram mengalami patah tulang dibagian leher dan juga pendarahan di area dahi.”


“Astaga, Ya tuhan semoga Bram segera diberi kesembuhan.” Mama Rina merasakan iba yang mendalam. Meskipun tidak akrab dengan Bram, ia sering kali diperlakukan sopan oleh Bram kerena itu mama Rina menghawatirkan kondisi Bram.


“Semoga.” Sahut papa Fadli yang berada di samping mama Rina.


“Lalu dimana anakku?”


“Hans dilantai 3 Kamar VVIP Tante.” Hajar Daren. Hal itu segera ditanggapi mama Rina segera menarik lengan Hana dan bejalan tergesa. Ia bahkan meninggalkan sang suami dan tidak mengajaknya.


“Mah!” Papa Berteriak namun sang istri yang tidak Mengindahkan malah semakin melaju, menuju lift. Ck jadilah papa Fadli juga berlari menyusul sang istri meninggalkan Daren yang terbengong.


.


.


Happy reading

__ADS_1



__ADS_2