
Ken menatap kesal pada Yayan dan Dev yang duduk berseberangan dengannya di dalam jet pribadinya.
"Kenapa kalian malah menumpang di jet pribadiku?!" Ken menghunus tatapan tdiak suka pada Yayan dan Dev.
"Hemat biaya lah Ken." Sahut Dev asal. Ya asal sekali karena dia pun juga memiliki jet pribadi, yang pasti alasannya hanyalah malas.
"Dari pada itu, ini gadis yang kamu bawa ini siapa Ken?" Yayan bertanya penasaran menatap pada Ayana yang sejak tadi diam. Ayana diam karena tidak tau juga mau bicara apa.
"Dek, ayo kenalan." Mata Ken melotot mendengar Yayan menyebut Ayana dek!
"Sembarangan, usianya sama sepertimu Yan." Gusar sekali, berani sekali Yayan menyebut Ayana dengan sebutan dek!
"Astaga maaf-maaf, wajahnya modelan kakakmu Nara itu. Kelihatan muda sekali." Yayan menjawab meringis.
Hei aku kan hanya salah sedikit saja, kenapa wajahmu terlihat sangat tidak enak dilihat Ken. Yayan
Aku yakin wanita ini yang waktu itu kulihat di dalam kantor Ken. Dev meneliti Ayana dalam diam. Dia semakin curiga dengan Ken. Ken tidak pernah membawa seorang gadis pun untuk ikut bersamanya dalam segala hal. Dan ini adalah kejadian langka.
Tampaknya wanita ini istimewa.
"Nama saya Ayana." Akhirnya Ayana buka suara. Dan hal itu ditanggapi dengan pelototan oleh Ken, karena tangan Ayana terjulur seperti mempersilahkan Dev dan Yayan menjabatnya.
"Wah, Ayana ya, kenalkan nama..."
Plak!
__ADS_1
Tangan Yayan di tepis keras oleh Ken.
"Owh Ken! Sakit! Kenapa kau malah tiba-tiba memukulku." Yayan mantap kesal ke arah Ken.
"Tidak perlu jabat tangan, kau juga sudah tau namanya Ayana." Ketus Ken.
"Hah sudahlah kalian pindah tempat duduk saja jangan disini." Ken malah mengusir dua temannya itu.
"Hei ken kenapa kau malah mengusir kami."
"Yan kau sungguh cerewet sekali, sudahlah ayo kita pindah saja." Kali ini Dev buka suara.
"Hah kalian ini kenapa sejak tadi tidak ada seru-serunya, kau juga tidak biasanya kau jadi pendiam begini? Biasanya kalau ada wanita kau langsung berubah mode bibir manis." Lah si Yayan yang loading lambat dan belum mencerna situasi malah mempertanyakan sikap Dev.
"Lex, bawa dua orang ini ke bangku paling belakang." Ken memijit keningnya karena habis kesabaran.
"Hei Ken, aku mau duduk di sini. Aku belum berkenalan jauh dengan Ayana. Ayana...aku Yayan...namaku Yayan."
Suara Yayan semakin jauh dan menghilang.
Barulah Ken merasa lega.
Keheningan tercipta sesudah Dev dan Yayan menghilang.
"Apa tidak masalah membuat mereka duduk dibelakang? Apa aku saja yang pindah."
__ADS_1
"Tetaplah duduk. Jangan kemana-mana, mereka yang memang harus duduk di belakang." Jawab Ken kelewatan santai dan sama sekali tidak memikirkan Dev dan Yayan.
Ayana tidak lagi bicara, sebaiknya dia diam dari pada ikut digeret paksa ke bagian belakang juga, menatap pada awan-awan yang tampak begitu indah.
Baru saja Ayana hendak memejamkan mata dia tersentak ketika merasakan bagian bahunya disandari oleh sesuatu. Yang bisa diduga Ayana adalah kepala dari Ken. Harum Pomade memasuki Indra penciuman Ayana.
"Eh ini."
"Diamlah, aku mau tidur sejenak." Ujar Ken. Dan Ayana hanya bisa menahan nafas. Senyum tipis terulas di bibir Ken.
Dari jauh Ken bisa melihat tingkah sang tuan mudanya itu.
"Padahal ada kamar tidur." Alex membatin.
Dasar tuan muda, apa Anda sedang mencari kesempatan?
.
.
.
Tak jadi pindhlah, sini aja lanjittt🙏🙏🙏
Maaf sekali kalian harus mengikuti aku yang plin plan gini!
__ADS_1