
Hans ingat sekali sejak kecil ia selalu mendidik Ken agar menjadi pribadi kuat. Kuat berarti tidak lemah. Anaknya itu cerdas dan selalu tidak menyusahkannya.
Ken adalah pribadi yang sangat mandiri dan jarang meminta bantuan padanya. Namun sekarang Hans dibuat hampir tak bisa berkata-kata. Menatap lurus pada kondisi sang anak yang terlihat sangat acak-acakan.
Kondisi yang tidak pernah Hans lihat sekalipun. Dan sang anak bahkan terlihat sangat putus asa ketika tadi berucap.
Dan sang anak bahkan terlihat sangat putus asa ketika tadi berucap.
Ken meminta tolong dengan sangat putus asa padanya. Permintaan tolong pertama yang membuat Hans terdiam karena terlalu terkejut.
“Daddy, tolong jangan diam saja. Aku, aku benar-benar putus asa sekarang. Aku sudah mencarinya di setiap tempat. Tapi tidak bisa menemukannya.”
“Aku, aku cemas dia pergi dalam keadaan yang marah. Dia marah padaku Daddy.”
Ken berucap jujur. Seharian tubuhnya lelah. Detik waktu terus berputar, seiring perputaran pencariannya. Namun ujung rambut sang kekasih yang sangat ia cintai itu tak kunjung ia lihat.
__ADS_1
Seharian penuh! Dia terus mencari menyusuri setiap jalan. Alex pun diperintahnya untuk ikut mencari. Namun mereka masih tak bisa menemukan Ayana.
Ketika mendengar mencari di ruko tempat Ayana bekerja, di sana dia hanya mendapati para karyawan Ayana. Tidak ada Ayana di sana. Sehingga kegusarannya menjadi. Dia lalu mencari ke tempat yang kadang mereka kunjungi selama beberapa waktu belakangan.
Namun kembali lagi hasilnya nihil. Dan harapan Ken terakhir adalah dimana Ayana tinggal. Dia menuju rumah Ayana dengan kondisi yang sudah tidak sadar dengan sekitar. Dia memacu kendaraannya dengan kencang.
Dia menggedor dan meminta Ayana membuka pintu rumah. Kehidupan tak terasa dari dalam rumah. Dan sudah pasti Ayana tidak ada. Sampai malam menjelang. Keputusasaan Ken membuah sebuah penyesalan.
Seharusnya siang tadi ia tidak terburu-buru, meminta Ayana agar mau menjadi istrinya. Seharusnya dia menunggu sedikit lebih sabar.
“Tenanglah Ken.” tegur Hans. Lalu lelaki yang sudah menyandang status sebagai orang tua itu segera mendekat dan meraup bahu anaknya.
“Aku tidak bisa tenang Daddy. Tidak bisa. Tolong Daddy tolong bantu aku. Daddy pasti bisa membantuku bukan.”
Ken tau sang Daddy punya kuasa besar. Sehingga menggantung harapan pada sang Daddy adalah hal yang paling tepat.
__ADS_1
Hans menarik nafas karena sikap sang anak yang sangat mudah dilanda emosi. Namun poin utama sudah ia tangkap. Segala kegusaran yang sekarang sedang dalam dialami oleh sang anak disebabkan oleh kehilangan sang kekasih.
Yang baru-baru ini diketahui Hans adalah Ayana. Dan Hans belum mengenal lebih jauh calon menantunya itu. Namun sekilas ia melihat Ayana pun dia sudah memberikan penilaian positif.
“Baiklah, Daddy akan meminta bantuan. Sekarang coba tenangkan dirimu. Kau sangat acak-acakan sekarang.”
Ken menangguk langsung, meski hatinya belum cukup lega. Sang Daddy bersedia membantunya mencari keberadaan Ayana.
Sekarang dari detik ini ia hanya berharap pada firasatnya yang salah besar. Nanti dia pasti akan bertemu Ayana dan segera memeluk Ayana.
Perasaannya pasti salah besar.
Di ribuan kaki dari atas bumi bintang bercahaya terang. Menerangi pula kamar temaram itu. Dan sesosok perempuan sedang berbaring di sana. Tak sadarkan diri. Air matanya menetes.
Demi tuhan jangan sampai layar monitor itu menunjukkan garis lurus!
__ADS_1