Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
Ch 148~ Meeting Yang terlupakan


__ADS_3

Hans sedang sibuk dengan layar laptop. Saat ini ia melakukan zoom meeting untuk memeriksa perkembangan anak cabang perusaahan di setiap daerah.


“Kenapa tidak bisa menjawab?” Hans merasa kesal dengan mata yang tertuju ke arah layar laptop.


“Kenapa kalian tidak ada progres. Apa ini? progresnya mana?!” Layar yang berisikan para anggota meeting senyap tak bersuara. Hans memijit pelipisnya.


“Bulan depan harus ada target yang perlu dicapai. Tidak mungkin kalian terus merasa puas, padahal hanya satu penghargaan yang kalian terima.” Kata-kata Hans begitu menohok mereka yang berlindung di balik nama kantor yang mulai dipercayai oleh banyak klien. Hans menghela nafas kenapa para orang pilihan ini mudah merasa puas, hingga lalai dalam bekerja.


“Tidak tahukah kalian disana banyak yang terus berusaha mengejar kita. Mereka bahkan menunda waktu untuk tidur, disini kalian malah merasa santai.” Jika saja berada di ruang yang sama maka Hans akan langsung melemparkan sajian data yang diberikan.


Ceklek pintu kamar mandi dibuka. Saat Hans sedang dalam kondisi tangan mengepal dan pikiran yang berusaha menenangkan diri.


Angel keluar menggunakan handuk, masih bersikap santai tidak tau bahwa sang suami sedang melakukan metting penting.


“Itu istri Pak Hans?”


“Astaga cantik sekali.”


Kening Hans mengeryit ketika mata semua anggota metting tertuju ke arah belakang tubuhnya. Hans berbalik, matanya membelalak penuh. Tangannya dengan tergesa menekan matikan layar video pun pula suaranya.


“Kenapa kamu berpenampilan begitu?” Nada Hans yang terdengar tinggi membuat Angel berjingkit berhenti mengeringkan rambutnya.

__ADS_1


“Ke-kenapa? kenapa kamu marah begini aku baru mandi tentu saja memakai handuk!” Bibir Angel mencebik kesal pula. Hans bicara tinggi hanya karena dia keluar dari kamar mandi. Dan itupun hal yang wajar keluar dengan menggunakan handuk.


Hans segera berdiri.


“Mereka melihatnya sayang. Aku sedang melakukan meeting penting tadi. Tiba-tiba saja mereka mengarahkan fokusnya ke arahmu yang baru saja keluar mandi. Kurang ajar sekali!” Suara Hans terdengar kesal, sudah kesal karena meeting yang dilaksanakan tidak memberikan progres yang dikehendaki. Ditambah lagi anggota meeting melihat ke arah sang istri yang baru saja keluar mandi.


Angel membulatkan mata terkejut.


“Lalu? Ke-kenapa kamu bekerja saat sedang liburan begini? kalau masih ada pekerjaan seharusnya tidak ikut liburan.”


“Dan di rumah sendirian, pulang tidak ada yang menyambut. Hanya ada beberapa pembantu, kamar sepi tidak ada anak-anak. Tidak akan! aku masih bisa mengatur agar ikut liburan sembari masih memantau pekerjaan.” Suara Hans terdengar tegas. Dari pada dirumah sendirian, lebih baik dia kerepotan menyudutkan waktu melakukan pekerjaan dan liburan secara bersamaan.


Sementara dua orang itu sedang melakukan perbincangan anggota meeting mulai bertanya-tanya. Apa yang terjadi? kenapa layar tampilan wajah Hans tidak terlihat bahkan wajahnya pula.


“Ya sudah sana aku sedang meeting sayang. Jangan terlalu banyak lalu kesana kemari. Nanti fokus mereka buyar melihat istriku yang cantik ini. Apalagi baru saja mandi.”


“Iya-iya sudah sana.” Hans yang menyuruhnya pergi Hans pula yang mengikis jarak. Angel sudah pasang antisipasi saya pinggangnya direngkuh erat lalu tekuknya ditarik mendekat.


“Ehmmp...” Hans malah secara tiba-tiba mencium bibirnya dengan sangat cepat, dengan mengabsen setiap inci bibir Angel. Hingga Angel merasa kewalahan. Hans sebanrnya memang sudah meneguk saliva melihat Angel yang baru keluar dari kamar mandi. Rasa ingin menyeret kembali ke dalam gelutan tempat tidur segera hadir.


Sekarang nampaknya hal itu diwujudkan. Hans mengangkat tubuh Angel hingga bagian handuk sudah terlepas.

__ADS_1


Nafas mereka terengah setelah Hans menyudahi aksi ciuman penuh nafsunya.


Angel menahan dada Hans.


“Ka-katanya kamu sedang meeting.” Tidak jangan lagi, aku baru saja mandi setelah kau lepaskan. Kenapa membawaku lagi ke atas tempat tidur. Astaga mana handukku. Panik segera.


“Mereka bisa menunggu.” Seringai terbit di bibir Hans. Berlalih dengan posisi duduk sedang Angel ada di atasnya. Ciuman Hans mulai menjalar menuju bagian leher. Angel hanya bisa meremas rambut Hans kuat. Apalagi tangan Hans sudah menggoda mengelus paha, terus naik hingga mencapai puncak berwarna menggoda itu.


Semuanya terjadi, saling memasrahkan diri. Sedang para anggota meeting juga memasrahkan diri karena perlu menunggu.


***


.


.


.


Happy reading


Maaf ya kemarin-kemarin tidak update. Ada beberapa hal yang harus diselesaikan.

__ADS_1


__ADS_2