Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
CH 129- Tiga serangkai berkumpul


__ADS_3

~Ruangan CEO


Bram membawa Hana memasuki ruangan Hans. Dihadapan segera dengan Hans, Hana hanya memasang wajah datar. Ya pantas saja ini kan makanya sendiri.


“Ingat Bram, ajari dia dengan keras. Jangan diberi keringanan meskipun dia adikku!” Mendengar ucapan kakaknya itu, Hana segera melotot kesal.


“Memangnya siapa yang mau diberikan keringanan. Aku pasti mampu melakukan semua hal.” Ucap sombong Hana.


“Hah tenyata semua keluarga pak Hans memang memiliki sifat yang mengesalkan.”


Sedangkan Naura yang jadi pemerhati hanya bisa menahan tawa. “Ya sudah baguslah kalau begitu. Sudah sana pergi.” Usir Hans, si bungsu keluar dengan kaki menghentak kesal. Jika saja lagi dirumah rasanya ia ingin berkelahi saja dengan kakaknya itu.


Hans memang tidak memberikan kemudahan untuk Hana, jika ia memberikan kemudahan maka keluarga Prasetyo mungkin akan mengalami kemunduran. Karena ada bibit manja.


Putaran waktu terasa berjalan lambat untuk Hans. Dia tidak tahan membuat Angelnya harus ditinggalkan dirumah, meskipun banyak juga yang menjaga.


Bram sudah berlalu pula.


“Katanya Juna akan kerumah, lalu teman-temanya itu juga.” Hans bergumam sendiri, ia memang memberikan ijin kepada kedua teman Angel untuk mengunjungi. Memang sudah lama juga Angel tidak bertemu dengan kedua temannya itu, jadi pikir Hans itu akan membuat mood istrinya menjadi lebih baik.


“Ck, aku ingin segera pulang.” Gumamnya lesu.


***


Kediaman keluarga Prasetyo


“Ya tuhan rumahnya sebesar ini.” Mulut Dina terbuka lebar dan melongokan kepalanya keluar dari jendela mobil.“ Halamannya duhhh.” Terus merasa wah dengan kediaman keluarga Prasetyo. Bahkan mereka juga belum sampai ke depan rumah Karena luasnya pekarangan dan perlu berbelok segala. Pancuran tinggi terlihat di depan rumah.


“Iya benar, Memang rumah keluarga kaya tidak sungguh besar dan megah.” Vina ikut berkomentar.


Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di depan kediaman keluarga Prasetyo.


“Kamu aja Vin yang pencet bel.” Menodong Vina.


“Ih kamu aja deh, aku dibelakang kamu.” Mundur, dari tadi saling suruh menyuruh tidak ada satupun yang memencet bel.


Akhirnya Dina yang memencet bel. Angel yang sejak tadi menunggu segera berdiri.


“Nona jangan lari!” Bibi Mirna meneriaki, sudah menerapkan hal yang ia baca kemarin. Bahwa wanita hamil tidak baik berlari-lari, akibat nantinya akan fatal.


“Oh, iya bi maaf.” Angel menyahuti, bersyukur juga diingatkan.


“Ehem maaf non, saya hanya mengingatkan.” Bibi baru sadar suaranya terlalu keras tadi.


“Tidak masalah bi.” Sahut Angel. Bibi pun segera membuka pintu di susul Angel yang berjalan perlahan.


“Haiii.” Langsung saling sapa dan berpelukan.


“Duh sudah lama banget kita gak ngumpul ngel.” Dina memasang wajah memelas.


“Ya pasti lah, pas pacaran dulu aja kita jarang ketemu gara-gara Angel punya pacar. Apalagi sekarang udah punya Suami.” Sindir Vina. Sedangkan bibi Mirna sudah kembali ke Dapur.


“Mohon dimaklumi.” Ucap Angel singkat.


Angel, Dina dan Vina baru bertemu lagi. Wajar saja, sejak Angel dan Hans menikah, Hans selalu menguasai Angel, hingga Angel dan tinga serangkai jarang bertemu. Sekarang sudah masuk menuju ruang tamu.


Baru saja memulai pembicaraan mereka sudah dibuat terkejut dengan kabar kehamilan Angel.


“Hamil? Kamu hamil beneran?” Vina berseru tak percaya. Angel menanggapi dengan Anggukan.


“Wow memang seorang CEO kualitas, pembuahannya beda.” Mulai lagi seruan nyeleneh Dina.


Vian segera berdecak.


“Penempatan kata kamu itu ya, Din. Gak sesuai.” Sela Vina.


“Ck, ya intinya gitu lah hebat banget Pak Hans.” Wajah-wajah mesum sudah terlihat di diri Dina.


“Awas kamu ya Din. Jangan mikir yang aneh-aneh, cari suami dulu baru mikir yang kayak gitu.” Angel memperingati, bagaimanapun Dina memang yang paling sengklek di antara mereka.


“Jodohku masih dalam perjalanan ini. Sepi deh, ya tuhan kapan seorang Dina humaira dapat pacar.” Menatap langit-langit.

__ADS_1


“Pfttt...Katanya kamu lagi deketin Asisten Bram?” Angel ingat sahabatnya yang satu ini begitu tertarik dengan Bram, sampai-sampai bercerita di grup chat mereka.


“Haduh, itu mah gak usah dibahas deh.” Vina berucap menahan tawa.


“Gak berhasil lagi?”


“Kapan sih Dina huamira berhasil deketin cowok, Angel.” Dina segera mendengus kesal, kedua sahabatnya sudah tertawa terpingkal.


“Haishh, kan sudah ku bilang jodohku masih proses dikirim, udah bayar COD tadi. Mungkin dia lagi tersesat.”


“Haha haha.” Tetawa lepas lagi Angel dan Vina.


“Duh tau kamu hamil gini harusnya kita bawaain yang berhubungan dengan ibu hamil. Bukannya bawa buah-buahan kayak gini.” Vina berucap bersalah.


“Gak papa Vin, kan kita gak tau.” Bukannya Angel yang menyahuti malah si Dina.


Hal itu membawa gelak tawa bagi Angel.


“Iya gak papa, aku juga memang sengaja mau kasih tau pas ketemu.”


“ Ck tetep aja lah.”


“Udahlah, ini kalian kenapa bisa kesini bukannya hari kerja.” Sebenarnya Angel merasa heran dengan kedua temannya itu.


“Ya kekuatan pemilik saham terbesar perusahaan ya gini.” Artinya ini kekuatan Hans Prasetyo.


Tiba-tiba saja mama datang.“Waduh udah pada datang ya temannya, sayang.” Mereka segera menatap Mama Rina yang membawa segelas susu.


“Iya ma.” Sahut Angel.


“Ini minum dulu sayang,” Mama menyerahkan segelas susu untuk ibu hamil.


“Lho Angel bisa bikin sendiri mah.” Angel jadi merasa sungkan karena jadi membuat mama repot.


“Gak papa Mama seneng buat buat mantu Mama. Biar cucu mama sehat nantinya.” Mengelus lembut perut Angel.


“Makasih ya ma.”


“Iya diminum ya sayang, Lanjutin obrolan mama mau pergi keluar mau olahraga.” Ucap mama sembari mencium dahi Angel.


“Iya ma hati-hati.” Memang mama Rina kebiasannya olahraga bersama ibu-ibu komplek sekitar ketika pagi hari.


“Waduh mama mertua kamu perhatian banget deh.” Dina berkomentar.


“Iya memang perhatian.” Sahut Angel.


“Selamat pagi.” Seruan yang berasal dari luar mengehentikan pembicaraan mereka. Pemuda berparas rupawan, dengan jaket kulit hitam tampak masuk ke dalam rumah.


“Ya tuhan, makhluk indah ciptaanmu ada lagi di depan mataku.”


“Lho sudah Dateng dek.” Angel berdiri. Sementara Dina membuatkan matanya.


“Bawa apa...”


“Ini titipan dari Ayah sama ibu. Bagus untuk ibu hamil katanya.” Menyerahkan kresek untuk Angel.


“Oh iya makasih ya dek. Gimana lancar Ulangannya?”


“Pasti dong, Juna kan selalu peringkat satu.” Sombong si tengil Juna.


“Heleh, kalo bukan karena Gogle juga gak bakalan bisa dapet peringkat satu.” Angel mengejek mereka duduk di karpet berbulu.


“Buka gogle juga kan usaha kak, Memang semua materi ada disana tapi perlu pemahaman juga. Karena aku cerdas aku bisa memahaminya.” Manikkan alis bangga. Ayah dan ibu sudah memuji dirumah.


“Gitu aja sombong, udahlah.” Angel malas membahas.


Sementara sedari tadi Dina tercenung.


“Dek? Adiknya Angel, Astaga beruntung sekali Angel dikelilingi laki-laki tampan. Huwaa aku sungguh iri. Punya suami setampan pak Hans Prasetyo, punya mertua setampan Tuan Fadli Prasetyo, lalu punya adik setampan ini juga.”


“Woy, Din! ” Baru sadar saat Vina memukul dahinya hingga terjungkal. Dina malu karena ditertawakan Adik Angel.

__ADS_1


“Nyadarinnya jangan Exstrem gini dong, Vin. Sampe kejungkel akunya, kuat banget tenaga.”


“Ya jelas lah, kan aku sudah sabuk hitam dalam olahraga taekwondo.” Hei Dina baru ingat, memang si Vina teknik bela dirinya luar biasa. Bahkan jika mereka sedang ada masalah, Vina selalu menjadi tameng terdepan.


“Udah-udah berantem Mulu, ini kenalin adik aku Juna.” Dina kembali tersihir saat Juna menyugar asal rambutnya.


“Ehem senang berkenalan.” Ucap Dina dengan suara halus.


Angel melotot tajam.“Astaga dina kamu itu sudah hampir tante-tante malah godain adekku yang imut ini.”


“Iya, kenapa suara kamu pake diperhalus segala. Dari tadi nyeblak aja perasaan.” Vina mengimbuhi, si tengil dipegang Angel erat.


“Hasishhh, dasar punya temen bedua gak ada rasa banget mau naikin imej temen. Malah dibuat jatuh berguling.”


“Kapan sih suara aku nyeblak, kalian itu aneh banget. Ha ha...” Tawa yang dibuat-buat. Angel sudah cemas dengan menutup mata adiknya.


“Jangan liat dek, temen kakak lagi kerasukkan setan genit!”


“Setan genit? Pantas saja suaranya membuat geli.” Juna bergidik keras.


Vina segera menimpuk Dina dengan bantal sofa.“ Setan pergi kamu setan, setan genit jangan menempel ditubuh teman kami! Ini bukan waktu yang tepat!”


“Auuu, auu auuu...WOYYYY VINNAAAA” Melengking keras.


“Syukurlah setannya sudah pergi.” Vina mengelus dada. Hah? Dina sudah kehilangan muka, sudahlah sepertinya tidak tepat memang menggoda laki-laki berondong.


Mereka berkumpul sampai siang hari. Obrolan kecil mereka bicarakan. Mama juga menawarkan untuk makan siang kepada Vina dan Dina. Hal itu disambut dengan senang hati.


***


Hans pulang kerumah disambut dengan senyuman hangat dari istri tercinta.


“Biar aku yang bawa, sayang.” Mau mengambil tas kerja Hans, namun Hans mengelak.


“Jangan biar bibi yang bawa.” Seru Hans lalu memanggil Bibi Mirna.


“Kenapa ceria sekali?” Tanya Hans, dia bisa merasakan aura positif dari istrinya itu.


“Karena bisa ketemu sama Vina dan Dina makanya senang sayang. Biasanya bosan kalo kamu tinggal sendiri di rumah, tapi ada mereka jadi senang.” Terang Angel sembari menelusupkan pelukan dalam ke diri sang suami.


Mereka sudah berada di dalam kamar sekarang. “Kalau sebegitu senangnya, apa perlu mereka datang ke sini setiap hari?” bertanya santai, yang penting istrinya senang.


“Eh tidak, sayang. Tidak perlu sampai seperti itu. Mereka juga perlu bekerja,” Tukas Angel segera, bisa bahaya semua ucapan yang terdengar santai dari suaminya ini, selalu saja terwujud dengan santai pula.


“Aku akan membayar mereka melebihi dari bayaran mereka bekerja.” Lagi menawarkan, begitu menggiurkan.


“Tidak sayang, aku juga tidak setiap saat bosan. Ada mama dan Hana juga dirumah yang bisa diajak ngobrol.” Segera menuturkan jelas keadaannya.


“Bisa gawat, kamu kan selalu mewujudkan apa pun yang kamu ucapkan.” Begidik.


“Baiklah, sekarang buka bajumu.”


“Hah?” Begitu tercengang.


“Kau terus saja membuat ekspresi imut, dan terus saja memelukku kau pikir tubuhku tidak akan bereaksi.” Membelai belahan bibir Angel hingga bibir itu menjadi semakin menggoda.


Sementara Angel berusha menahan diri Hans. “ Sayang, kau bahkan belum mandi.”


“Kenapa? Bukannya sedari tadi kau begitu lengket dan tidak mempermasalahkan mandi atau tidaknya aku. Bahkan sejak tadi kau terus menghirup aroma tubuhku, apa aku salah.” Bicara dengan suara berat dan menggoda dan sialnya semua itu tidak bisa dibantah Angel. Ia memang senang sekali menghirup aroma tubuh Hans, rasanya semakin menggoda dan ia menyukainya.


“Tapi ini masih sore sa...” Mencari jalan lain namun sudah terputus karena Hans mengangkat dan ******* bibirnya. Kelihaian Hans segera membuat akal sehat Angel hilang, ia mengalungkan tangannya di leher sang suami.


“Kita lakukan dikamar mandi.” Ucap Hans dengan suara parau. Lalu dengan satu tarikan ia menjelajahi tubuh istrinya. Dimulai dari menguasai bibir dana menahan tekuk. Lalu beralih pada bagian leher. Kecupan di leher tak berkesudahan dibubuhkan yang nantinya akan meninggalkan jejak kebiruan akibat ulah Hans.


.


.


.


Happy reading

__ADS_1


~Tyatyut


__ADS_2