Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
CH 142~ Aku Lelah


__ADS_3

Para rombongan itu menuju Waterpark.


Wah...Mereka semua sudah berdecak ketika melihat begitu luasnya wahana air yang ada. Perosotan yang mengacu adrenalin terlihat mengular.


Wahana ini milik umum. Banyak sekali manusia-manusia dengan segala umur yang ada di sana. Mereka semua berangkat dari villa menuju tempat ini. Memerlukan waktu 30 menit untuk sampai ke lokasi.


Semua sudah memisahkan diri, mencari hiburan paling menarik yang ingin mereka coba.


“Aku tidak mau sayang! itu tinggi sekali. Kamu aja sana. Aku tidak mau.” Angel dari tadi memberontak. Sebab Hans begitu memaksakannya menaiki wahana


“Aku tidak mau sayang. Jangan memaksa.” Angel memasang wajah cemberut terus di paksa naik.


“Ada aku sayang.”


“Aku takut Hans.” Kalau sudah memanggil Hans, Angel benar-benar dalam mode kesal. Sejak tadi memberontak dari gendongan sang suami yang tidak melepaskannya. Hans dengan kurang ajarnya bertelanjang dada, semakin menarik mata untuk tidak beralih ke tempat lain.


“Iya ada aku...Semuanya akan menyenangkan percaya padaku.” Angel menajamkan matanya. Hans sudah berhasil membawanya melewati tangga yang banyak tadi. Angel seperti dihadapkan pada terowongan yang akan melahapnya.


Ia semakin takut.


“Udah ih, aku tidak mau hans.”


Bukannya mengerti Hans malah semakin tergelak. Membawa sang istri ke atas sebuah pelampung yang disiapkan.


“Siap sayang.” Hans berseru kesenangan. Memeluk Angel dari arah belakang. Sementara Tangan Angel berpegangan pada bagian pelampung.


“Aaaaaaaa!!” Angel menjerit. Terus menjerit kesal air matanya berkucuran.


Angel tersedak air ketika tubuhnya melambung dan jatuh.


“Uhuk...uhukkk.”


“Sayang.” Hans menjadi cemas. Berusaha meraih istrinya. Namun Angel malah menjauh dan menangis. Hans dibuat gelagapan.


“Sudah kubilang aku tidak mau! kenapa memaksa! Aku takut Hans! aku takut!” Angel begitu kesal debaran jantungnya masih terasa. Mata Hans melebar.


“Sayang aku...” Hans menjadi merasa bersalah niat hati ingin membuat sang istri Merakan pacuan adrenalin dan membawa kesenangan yang didapat malah tangis sang istri.


“Jangan memaksaku lagi!” Baru kali ini Hans melihat sang istri begitu marah. Angel berbalik berusaha ketepian, begitu kesal dan takut.


Masih dirasakan dalam ingatannya ia merasa tidak bernafas ketika memasuki wahana tadi. Ketika secercah cahaya datang saat itu barulah perasaannya tenang.


Hans selalu begini, Aku merasa lelah sekarang.


Angel mengusap air matanya. Semakin dekat ketepian, namun sebuah tangan memeluknya dari belakang.


“Jangan kayak gini sayang. Maaf...Maaf...Aku salah. Aku hanya ingin menikmati wahana bersama istriku. Maaf ternyata kamu ketakutan sekali.” Suara Hans tampak begitu menghiba. Hans dibuat kalut tadi ketika melihat kemarahan istrinya.


Angel memejamkan matanya.“Jangan kayak gitu lagi, jangan memaksakan keinginan kamu.” Karena aku tidak tau sampai kapan aku menahan diri.


“Iya sayang iya. Maaf.” Suara Hans terdengar sangat lirih. Membalik tubuh sang istri menghadapnya. Perlahan tangannya menghapus jejak air mata yang sudah bercampur dengan air kolam.


Untung saja mereka tidak menarik perhatian para keluarga. Mungkin saja mama akan langsung memarahinya sebab membuat sang menantu menangis ketakutan. Hans menjadi sangat ngeri. Apalagi membayangkan Papa mertua.


“Pakai baju kamu, dari tadi unjuk perut aja. Tutup yang bener.” Gaya Angel berbalik meniru Hans. Hans yang selalu mengomentari pakaian yang ia kenakan.


Hans menaikan alis melihat sang istri, namun tak pelak hal itu membuatnya tergelak.

__ADS_1


“Iya, sayang, istriku yang cemburu.”


“Siapa juga yang cemburu.” Kilah Angel segera.


“Itu cemburu sayang. Kamu takut aku yang tampan ini dilirik wanita lain.” Sempatnya begaya narsis.


“Terserah kamu aja nyebutnya apa.” Angel mengalah. Mulai melanjutkan jalannya.


“Sayang tunggu.” Hans mengikuti mensejajarkan tubuh mereka. Sampai di sebuah tempat duduk ia segera mengambil sebuah handuk untuk Angel membalutnya dengan sempurna.


“Kamu yakin tidak mau ikut main lagi?”


“Tidak!” Menolak keras.


“Aku di sini aja sama ken.” Ken yang di sebuah menoleh lalu kembali melanjutkan mainnya.


“Ya sudah.” Hans memasang bajunya, berlalu meninggalkan sang istri.


Di tinggal Hans, Angel termenung. Kesalnya maaihh ada.


Sudah Angel jangan terus merasa kesal. Jangan memikirnya dan memperumit masalah. Angel bermonolog dalam hati.


Ia mendesah lalu mengusap wajahnya. Sesosok pria datang membawa minuman dan makanan.


“Ini tuan kecil pesanannya.”


“Terima kasih,” Ucap Ken, dan melepaskan kameranya.


Mendengar suara itu Angel menengadah. Matanya dibuat terkejut sama halnya dengan si pria.


“Lim?”


“Astaga sudah lama tidak bertemu.” Seru si pria pengantar makanan tadi.


“Iya sudah lama sekali Lim. Astaga apa kabarmu?” Angel menatap teman lamanya ini. Tepatnya teman semasa SMA nya dulu. Tidak menyangka juga bisa bertemu.


“Aku baik, sangat baik.” Sahut Lim. Lim senang sekali bisa bertemu dengan si Bunga desa. Bunga desa masih begitu ramah seperti dulu.


“Mommy, hati-hati.” Suara Ken mengejutkan Lim.


“Mommy?”


“Iya ini anakku.” Ucap Angel. Tidak mengindahkan kata-kata Ken tadi yang sangat amat penting.


“Wah kau sudah memiliki anak ya.” Si lim tampaknya tidak tau bahwa Angel sudah menikah. Hampir saja ia menarik kursi dan mendudukkan diri. Seseorang menarik kursi itu dengan kasar membuat Lim jatuh.


“Hans!” Angel terkejut dengan perilaku Hans.


“Siapa Anda beraninya menduduki tempat ini?” Mata Hans begitu nyalang. Tenyata inilah yang diperingatkan Ken. Hati-hati. Dadanya dibuat terbakar ketika melihat sang istri di dekati seorang pria.


Lim bangun segera.“Saya hanya ingin berbincang dengan teman saya.” Sahut Lim.


“Teman? ck.” Suara Hans berdecak.“Istri saya tidak berteman dengan pria sebab sudah ada saya.” Ucapan Hans terdengar menekan membuat mata si pria terkejut. Ia diperlakukan seperti selingkuhan Angel saja. Padahal hanya ingin berbincang sedikit tadi.


“Oh maaf.”


“Lim.” Angel memanggilnya merasa tidak enak hati.

__ADS_1


Hans mendelik menatap Angel dengan kecemburuan.


“Aku permisi Angel. Senang bertemu denganmu. Aku perlu bekerja sekarang.” Lim menjauh saja.


Sosok itu menghilang.


“Senang bertemu denganmu? hah dia senang bertemu dengan istriku! berani sekali dia!” Hans merah padam.


Angel kesal.


“Ken, kamu datengin kakek ya.” Angel tersenyum menatap anaknya. Ia ingin ada argumen dengan Hans saat ini. Untung saja anaknya itu patuh setelah meminum gelas yang berisi jus tadi melangkah menjauh turun dari kursi kebesaran tadi.


“Kenapa kau begitu kesal ketika aku mengusirnya?” Hans tenyata lebih dulu lagi membuka kekesalan.


Angel menajamkan alisnya.


“Hans kamu sudah terlalu lama kudiamkan.” Perubahan raut wajah Angel yang terlihat begitu kecewa membungkam Hans.


“Kamu pikir kenapa aku tampak kesal? tentu saja aku kesal karena teman yang sudah lama tidak bertemu denganku malah kau usir begitu saja!”


“Dia laki-laki Angel!” Hans semakin dibuat meledak.


“Iya dia memang laki-laki, dan dia hanya sebatas teman lama yang bahkan sudah 10 tahun lalu mungkin kami sempat berhubungan. Sekarang rasa cemburumu itu membuat dia pergi.”


“Oh jadi kau menyalahkan ku!” Hans begitu tidak terima, semakin dibuat kesal dengan cara bicara Angel.


“Aku tidak menyalahkanmu. Aku kesal pada diriku, yang terus menuruti kemauanmu hans.” Bibir Angel bergetar.


Angel menjatuhkan bulir air matanya.


“Hans...” Hans sungguh sangat diluar nalar. Kadang ada saatnya Angel merasa terkekang dengan segala otoriternya Hans. Namun saat ini ia tidak menahan. Entahlah mungkin picuannya tadi ketika ia merasa ketakutan dan Hans tidak mengindahkan perkataannya.


“Aku menahan diri dengan sikap cemburu kamu. Aku sangat mencintai kamu, aku tidak tertarik kepada laki-laki lain. Sebab aku memiliki suami yang sempurna.” Angel menatap Hans dnsgan serius. Ada rasa sesak ini adalah pertengkaran pertama mereka.


Kerutan yang bertaut di kening Hans menjadi samar. Tubuhnya dibuat kaku dengan lontaran kata sang istri yang berubah lemah.


“Aku ingin Hans yang bisa sedikit saja paham, menghadapi sesuatu yang berkaitan denganku dengan sikap tenang.”


Angel bicara begitu serius namun tatapan Hans tidak dapat di artikannya. Angel tertawa.


“Sudahlah tidak ada gunanya juga bicara begini dengan kamu.”


“Aku lelah, mari kita berhenti.” Angel berbalik menjauh. Berhenti? Apa maksudnya berhenti?! Mata Hans melebar penuh keterkejutan memeluk sang istri dnsgan tubuh bergetar.


“Apa maksud kamu?!!”


.


.


.


Happy reading


~Salam


Ya sudahlah, Hans perlu diberi pelajaran.

__ADS_1


__ADS_2