
Angin yang berhembus tidak membuat Ken beranjak dari tempat duduknya sekarang. Alex tadi sudah membereskan Silvia. Perempuan itu ia kurung di dalam kamar agar tidak bisa kemana-mana.
"Gadis itu pasti merencanakan sesuatu. Tidak mungkin dia sampai begitu memberontak kalau tidak punya salah." Mata Ken tampak menggelap, aura yang terlihat darinya seperti awan mendung. Awan mendung yang tidak tau berisikan curah hujan atau Guntur dan petir.
Suara derap langkah membuat Ken menyadari kehadiran orang lain.
Alex, Dev dan Yayan baru saja menghampiri
Ken yang duduk di depan kamar milik Ayana.
Jujur saja Dev dan Yayan merasa sangat terguncang dengan kejadian tadi. Apalagi Ayana yang secara langsung mendapat penghinaan. Mereka ikut merasa terluka melihat Ayana yang dipermalukan.
Silvia itu sungguh wanita tidak berhati! Meski lidahnya tak bertulang namun tajamnya tak terkira.
"Apa Ayana sudah tenang sekarang Ken?" Dev mendekati Ken. Sama halnya dengan Yayan dan Alex.
Ken mendongakkan kepala melihat ke arah Dev, Yayan dan Alex yang muncul di depannya. Ken menatap pada pintu kamar milik Ayana sejenak sebelum kemudian menjawab dengan nada cemas.
"Kurasa hanya tangisnya saja yang tenang, sedang hatinya pasti masih berkecamuk." Ken menjawab dengan wajah gusar.
Raut wajah gusar Ken, membuat Dev ikut terdiam. Laki-laki itu tidak pernah sekalipun dilihatnya dalam keadaan kalut. Namun sekarang Ken kalut karena gadis bernama Ayana itu.
Kuharap kau bisa menelan hatimu nantinya Ken. Dev
"Yang penting dia sudah tidur. Kami sudah mengurus Silvia tadi. Dia kami kunci di dalam kamarnya." Dev menjelaskan secara rinci.
Ken mengangguk.
"Jangan lupa Lex lakukan perintahku sebelumnya." Alex mengangguk tau rujukan pembicaraan tuan mudanya. Yaitu mengenai minuman yang tadi diminta Ken untuk menganalisisnya.
Mereka berbicara di bawah cahaya yang hanya dihasilkan olah satu bohlam lampu. Di bawah atap depan kamar Ayana lah mereka sekarang sedang berdiri. Ken duduk pada perhimpitan kursi yang menghadap kamar Ayana.
Sedang Dev, Yayan dan Alex sejak tadi masih bediri.
"Aku sungguh tidak mengerti jalan pikiran wanita itu! Bisa-bisanya dia menghina Ayana." Yayan rasanya naik pitam ketika mengingat perilaku Silvia. Meski pun perkataan dari Silvia itu benar, apa pantas membeberkan hal itu. Apalagi Silvia sampai-sampai menyebut ibu Ayana orang gila. Mereka yang mendengar saja rasanya merasa terluka apalagi Ayana.
"Dia wanita keji!" Cetus Alex, tak ayal ucapan dari Alex yang jarang bicara itu membuat mereka mendongak menghadapai Alex.
"Benar sekali!" Yayan menepuk pundak Alex yang lebih tinggi darinya. "Itu sebutan yang sangat cocok itu wanita itu." Yayan berdecih keras.
"Tapi Ken memangnya Ayana satu sekolah dengan kita? Tapi kenapa aku tidak mengenalnya ya?" Dev penasaran dan menyuarakannya. Ken memang seiring sekali dibuntuti oleh para perempuan ketika masa SMA dulu.
__ADS_1
Orang ganteng itu memang ada untung dan ruginya. Untungnya bisa mendapatkan perempuan secara mudah tinggal kedip mata saja sudah klepek-klepek.
Tapi oarng ganteng juga sering risih karena sering dipandang sampai dipelototi, lebih ngeri lagi kalau yang melototi adalah sesama jenis. Yayan pernah mengalami hal itu. Meski tengil begitu dia punya moto untung jadi orang ganteng.
Orang ganteng juga serba salah kalau mau nolong orang. Dev ingat sekali ketika ia, Ken dan Yayan sedang main basket, bola basket itu mengenai seorang perempuan yang satu sekolah dengan mereka.
Eh niat ingin tanggungjawab plus nolong—, lah malah di cie cie in dikira lagi pendekatan. Haduhhh, susah juga jadi orang ganteng.
"Kau tidak perlu mengenalnya, cukup ketahui saja secukupnya." Setelah jeda cukup lama Ken baru menjawab. Nadanya ketus pula. Ken menatap tajam pada Dev.
"Kuperingatkan kau Dev jangan gunakan kelakukan playboymu itu pada Ayana." Ucapnya begitu serius. Membuat Dev diam sejenak. Oh apa di tuan muda ini sedang menegaskan kepemilikan?
"Memangnya kenapa Ken?" Dev pasang tubuh bersedekap memang sengaja ingin memancing emosi Ken.
"Dia orangku dan aku tidak mau kau menganggunya!" Ken menegaskan hal itu.
"Hei kau tau kan bagaimana aku memperlakukan para wanita. Dia akan sangat beruntung menjadi salah satunya." Sombong Dev.
"Coba saja, kalau kau tidak mau melihatku melakukan kekacauan nanti." Mata Ken mengancam dengan berkilat tajam.
"Baiklah-baiklah."
Dev itu itu adalah ancaman. Dan kekacauan yang Ken sebut pasti akan dia lakukan tanpa main-main. Entah itu Dev akan lembur selama satu bulan di perusahan, atau lebih parah Ken akan membawa deretan wanita yang sudah dibuatnya patah hati.
Yayan heran juga dengan Ken yang dinilainya terllau berlebihan dengan Ayana. Namun dia segera mengusir pikiran itu.
Yayan mendekap tubuhnya dan mulai mengelus sepanjang lengannya.
"Udaranya dingin sekali, ayo Ken kita kembali ke kamar saja. Lebih baik kita tidur." Ajak Yayan. Hal itu ditanggapi oleh Dev dan Alex dengan anggukan.
"Aku tidak bisa." Sahut Ken lekas. Matanya melirik pintu kamar Ayana. Lampu ruangan itu sudah redup menandakan si pemilik kamar sudah tidur dalam kegelapan.
Mereka bertiga menatap Ken dengan tanda tanya. Ken menghembus nafas kasar.
"Ayana menangis ingin minta pulang tadi...aku tidak tenang, aku akan tidur di sini. Lex kau ambilkan aku selimut sekarang. Juga mesin penghangat di dalam kamar." Perintah Ken. Alex ragu untuk beranjak.
"Tapi tuan muda, akan ada nyamuk di sini."
"Kau sediakan saja aku racun nyamuk Lex. Sekarang cepatlah ambil yang ku suruh tadi. Jangan membantah lagi."
Dengan enggan Alex melangkah menjauh. Ya memang semua perintah tuan mudanya itu tidak bisa dibantah.
__ADS_1
Apa tuan muda sekarang sedang berperilaku seperti Tuan Hans? Alex membatin dalam hati, hembusan angin bertiup sangat kencang.
Aku tidak mengerti jalan pikiran tuan muda.
Dalam diam Yayan terlihat termenung mencoba mencerna dan menganalisis situasi. Dari gelagat tubuh, dan cara Ken menyikapi hal yang berkaitan dengan Ayana. Matanya membulat.
Ken yang selalu acuh ini sekarang begitu perhatian dengan wanita. Bahkan sikapnya sekarang seperti pria yang menjaga gadisnya. Mencemaskan, menghawatirkan dan...
Astagaa
Pria dingin ini...Apa dia sedang...Masuk fase jatuh cinta? Yayan terkejut dengan analisanya sendiri.
"Kau yakin Ken? Udaranya dingin sekali Ken, lagi pula tidak mungkin Ayana nekat akan kemana-mana dalam keadaan gelap begini." Dev berpikir logis dan berusaha menyadarkan Ken. Laki-laki yang selalu hidup dalam sangkar emas situ sekarang mau-maunya tidur di luar ruangan. Dan semua itu Dev tau. Semuanya karena gadis itu.
Gadis bernama
Ayana Humaira
"Aku melakukan ini agar hatiku tidak cemas, kumohon jangan memperdebatku lagi. Aku sudah merasa sangat pusing sekarang." Ken menjawab dengan gusar sekali.
Sekarang otak Ken tdiak berjalan. Dia mengikuti kata hatinya. Ayana, bagsimana pun gadis itu. Entah itu sikap, wajah atau latar belakangnya Ken tidak terusik sama sekali. Hal yang membuatnya terusik sekarang adalah wajah gadis itu yang menangis.
Hal itu serasa membuatnya beku. Ken tidak paham mengapa sikpanya menjadi begitu berlebihan. Mengapa logikanya rasanya tidak berjalan. Ia malah mengikuti kata hatinya.
.
.
.
Gimana-gimana
Dukung lah supaya couple satu ini cepat berlayar...
Jangan lupa like..
Komen...
Ksish hadiah...
Bisa juga tip
__ADS_1
🤗😍