Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
CH 109- Keterkejutan


__ADS_3

“Angel.” Seruan dari depan rumah menyetak Angel yang sedang santai-santai di ruang tengah rumah. Di depan Pintu tampil seorang pria muda dengan tampang cengengesan dan berkacak pinggang. Angel melototkan mata ke arah si pria.


“Angel!! Angel !! gak sopan banget kamu itu dek.” Haduh si Juna lagi cari gara-gara ini. Bukannya takut Juna malah menanggapi dengan tawa lepas.


“Lagian ngelamun aja. Pasti mikirin kak Hans kan?, ck...ck...ck... gak ada habisnya.” Bibir Juna naik tampak mengejek Angel. “ Gak segitunya juga kali baru pisah satu bulan aja udah lecek.” Sambungnya lagi. Sontak saja sindiran Juna membuat Angel kesal.


“ Sini kamu Juna!! mau kakak cubit sekali-sekali!! bikin kesel aja.” Angel meneriakan kata-kata kesal, Juna berlari menjauh takut tubuhnya babak belur akibat kakaknya yang tampak sangat kesal. Enak aja berkomentar dengan seenak jidat, Juna tidak berada diposisi Angel. Jika saja Juna berada diposisi Angel mungkin saja Juna juga akan mengalami hal yang sama merenung karena menunggu.


“Astaga kak Angel ngamuk!!” Berlari ke arah halaman rumah. “Kamu juga yang cari gara-gara!! Sini kamu !! ”


“Ampun-ampun maaf-maaf, Juna cuma becanda kak.” Ibu yang sedang menyapu jadi terusik dengan dua anaknya itu.


“Gak pokonya sini mau tak cubit dulu.” Seru Angel tangan Angel sudah seperti jepitan kepiting yang siap memangsa.


“Eh-eh, ibu lagi nyapu ini jangan diganggu. Angel, Juna, sana.” Ibu menegur dua anaknya.


“Pasti kamu nakal lagi kan.” Ibu mencubit bagian pinggang jua dengan kuat.


“Aaa aduhh!! Kenapa Juna dicubit sih bu.” Angel tertawa lepas melihat tatapan memelas Juna. “ Ibu tau pasti kamu lagi nakalin kakak kamu!”


“Iya Bu bener Juna ngeselin Bu.” Angel memanasi ibu yang sedang marah, biar saja Juna semakin dimarahi ibu.


“Eh jangan bu.” Juna menyesal karena menggangu ketenangan kakaknya. Jika begini telinganya akan panas mendapat semprotan kata-kata wejangan dari ibu.


***


Menjelang sore kebosanan semakin menjadi, ayah pergi ke kebun bersama ibu, dirumah tinggal Angel dan Juna. Konflik -konflik kecil serta perkelahian kecil acap kali terjadi antara mereka berdua.


“Kak.”


“Hmm.” Angel menyahut malas wajahnya terbenam di bantal sofa dengan tubuh yang tengkurap.


“Kalo Juna ngomong diliatin dong.” Kening jua mengernyit kesal.


“Cih, dari tadi ngomong gak ada pentingnya, malah mau bikin berantem sekarang mau didengerin. Gak bakalan mau bang jablay. ” Huff inilah hasil keusilan Juna, mendapatkan julukan tidak senonoh dari Angel.


“Bang jablay! Juna Pramana! Nama sebagus ini diganti-ganti.” Degus Juna kesal mengeja nambah dengan benar, Angel malah acuh.


“Udah deh jangan berantem lagi. Gimana kalo kita Naik paralayang.” Ajak Juna.


Mendengar paralayang Angel segera menegakkan posisi tubuhnya matanya berbinar memancarkan ketertarikan. “Paralayang?” Ulangnya memastikan, Anggukan Juna membuat Angel semakin bersemangat.


“Ayo! ayo Dek!, Aduh Kakak udah lama gak naik paralayang, Huwaa mau naik paralayang dek. Mau lihat desa dari atas astaga pasti asyik banget...Ayo ayo ayo dek. ” Bergerak lincah kesenangan.

__ADS_1


Juna terkejut dengan perubahan sikap kakanya, wanita ini tampak seperti bunga yang layu dan sekarang baru saja mendapatkan pupuknya nmhingva segar begini.


“Ganti baju dulu, mumpung Anginnya kenceng jadi bagus naik Paralayang.” Ucap Juna.


“Iya, tungguin ya dek.” Juna menggeleng pelan melihat antusias kakaknya itu. Dulu dia memang sering naik paralayang di desa. Ada tempat di desa yang memfasilitasi kegiatan paralayang. Disana ada orang-orang profesional yang akan mendampingi. Bayangkan saja melihat keindahan desa dari atas dengan paralayang lalu nantinya mendarat di rerumputan huh pasti sangat mengasyikan.


***


Setengah jam yang diperlukan untuk mencapai lokasi. Angel merentangkan tangannya sesaat setelah sampai, meresapi udara pegunungan yang kental. Semilir Angin berhembus menerpa kulit Angel.


Si Juna sedang mendaftar untuk bisa menikmati kegiatan paralayang.


Tubuh Angel dan Juna mengunakan pakaian khusus untuk paralayang.


“Huwaa dek.”


“Duh kak, teriak Mulu dari tadi. Sakit telinga Juna dengernya.” Juna merasa jengah juga dengan siap kakanya.“ Wek biarin aja,orang lagi seneng.” Sahut Angel ringan.


Ck dasar gak nyadar, makin kakak banyak senyum makin banyak yang merhatiin. Hadeuhhhhh memang wanita tidak peka sekali.


Mata Juna mengedar melihat sang kakak tampak menjadi pusat perhatian dari para laki-laki desa. Juna sudah sekuat tenaga menjadi benteng pertahanan dari mata-mata para lelaki, namun tetap saja dia tidak bisa menghalau semuanya.


Angel bersama dengan pelatih paralayang, dadanya berdegup kencang merasakan kegirangan. “Lari sekuat tenaga ya neng Ingat.”Ucap pak pelatih.


“Iya pak pelatih.” Sahut Angel.


“Sekarang!! Ayo lari.” Suara pak pelatih menyentak pendengaran Angel. Dia segara menggerakan kakinya untuk berlari sekuat tenaga. Mereka terus berlari dan berlari Samapi aba-aba dari pak pelatih... “ Angkat!” Angel menurut dan... mereka sudah berhasil terbang dengan paralayang.


“Huwaaa, ini sangat menyenangkan pak pelatih.” Teriaknya. kakinya menjuntai diudara, desa tampak begitu indah pemukiman penduduk terlihat jelas dari atas.


“ Dek!!” Ia melambai ke Juna yang baru saja mulai terbang. “ Haha, seharusnya aku pergi kesini dari tadi. Untung saja Juna mengajak, kalau tidak mungkin aku akan mati kebosanan.” Yah meskipun usil ada kalanya Juna juga menyenangkan hati Angel.


Pak pelatih melakukan beberapa atraksi di udara. Bukan hanya terbang biasa bahkan paralayang meliuk-liuk sempurna karena kelihaian tangan pak pelatih.


“Aaaaaaa....” Angel terus saja berteriak semangat. “Aaaaaaaaa”


Haha sungguh sangat mengasyikan. Paralayang tadi perlahan lahan menurun.


“Wah cepat sekali berakhirnya pak pelatih.” Ucapnya.


“Haha nanti bisa naik lagi neng.” Pak paltih tampak heran juga, biasanya para wanita paling tidak suka dengan kegiatan paralayang namun berbeda dengan wanita yang dia temui saat ini. Wanita ini sangat bersemangat sedari tadi.


“Haha iya pak pelatih.” Sahut Angel. Secara perlahan pak pelatih membantu membuka pengaman yang ada ditubuh Angel.

__ADS_1


Angin kencang yang entah dari mana asalnya membuat Tubuh Angel goyah.“ Eh eh ini kenapa ?! Pak pelatih! Ada apa ini apa ada angin pu*ing beliung ?” Angel menduga ada pu*ing beliung dia berusaha memegang rerumputan bertahan di dasar tanah agar tidak terbawa Angin, matanya sudah terpejam takut.


“Juna!! Adek saya mana pak! Dia sudah turunkan?” Angel mencemaskan Juna, sementara matanya terpejam. Semua benda disekitar tampak melayang membuat dada Angel semakin cemas.


“I-itu.” Suara pak pelatih yang ragu membuat Angel semakin takut.


“ Aduh pak pelatih itu apa? Ada pu-ting peliung beneran pak? Huwaaaaa gimana ini?!”


“ Bu-bukan neng, ta-tapi He-helikopter.” Ha? Mata Angel seketika terbuka, Angin yang berhembus kencang tadi mereda. Sebuah helikopter tampak mendarat jauh dari posisi mereka.


“Hah tumben ada helikopter neng, helikopter nyasar kali ya.” Komentar pak pelatih.


Mata Angel kemudian menyipit mulai memberanikan diri membuka mata.


Deg


Deg


Deg


Keterkejutan malandanya, dadanya berdesir seketika. Seseorang sedang berlari ke arah mereka. Semakin dilihat dan diperhatikan sepertinya ia mengenali sosok ini. Kakinya perlahan mendekat ingin memastikan sosok yang ada dipikirannya ini benarkah ada di depannya.


“Angel sayang!!” Ya benar!! Dugaannya tidak salah. Suara teriakan kacang ini menggetarkan hati Angel, itu adalah buktinya. Sosok itu ada disini sekarang. Pak pelatih heran melihat Angel yang berlari.


“Ha...” Matanya mulai menganak sungai.


Sosok yang ia rindukan.


Sosok yang mengisi hatinya.


Sosok yang mengacaukan pikiran dan hatinya.


Sosok itu ada didepannya sekarang.


Angel terus berlari mendekat, Matanya berkaca dengan dada yang membuncah.


Pangerannya!!!


“Hans!!” Pelukan Erat menyambut pertemuan mereka. Tubuh Angel terangakt bagaikan anak koala yang memeluk erat Hans. Ya ini adalah Hans Prasetyo. Dengan gagahnya pria ini keluar dari helikopter lalu belari menuju Angel.


“Aku merindukanmu sayang.” Hans mencium pundak Angel.


“Hiks...Hans!! Hans! Hans.”

__ADS_1


“Iya ini aku.” Angel semakin mengeratkan pelukannya.


Pelukan Mereka sama eratnya Angel tidak menyadari lagi posisi dirinya sekarang. Dia hanya larut dalam perasaanya saat ini. Dunia rasanya berhenti hanya untuk mereka berdua. Daerah pegunungan ini seketika terasa dipenuhi dengan cinta.


__ADS_2