Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
Ch 7~ Siapa yang bertamu? Semalam ini?


__ADS_3

Ayana menghempaskan tubuhnya pada ranjang tidurnya, memandang hampa pada langit-langit kamar polos.


“Sebenarnya apa sih yang si tuan muda itu inginkan? Bukannya mengajakku bertemu dengan ibunya dia malah sibuk bermain-main di mall, membuat kakiku pegal saja.”


Ya benar Ayana tidak jadi dipertemukan dengan ibu Ken. Entah apa yang laki-laki itu pikiran, tampaknya Ken berubah pikiran di detik-detik terakhir. Itulah kesimpulan Ayana.


Mereka malah menghabiskan waku di mall. Si tuan muda itu sangat royal sekali terhadap uang, membeli barang-barang tanpa banyak berpikir.


Sekelebat tatapan penuh binar keputusan yang terpancar dari mata Ken saat di mobil membayang di manik mata Ayana.


“Apa arti tatapan itu?”


Sudah berdiri di depan cermin sandar yang menjulang dari tingginya.


“Tatapan penuh keputusan yang seperti bersumber dariku. Kenapa tatapannya begitu ya ?”


Ayana maish terheran, memandangi fisiknya.


Matanya tiba-tiba membulat sendiri.


“Tunggu! Apa karena aku tampil tidak layak karena itu dia tidak jadi membawaku bertemu ibunya! hah! apa karena itu?!”


Kesal dan ingin melambungkan diri di depan cermin. Tapi...ya memang tampilannya begitu sangat tidak pantas sepertinya.


“Ya memang tampaknya itu keputusan yang benar. Mana mungkin aku bertemu dengan orang besar hanya menggunakan kaos polos.”


Mendesah.


“Hei! Lagi pula kan aku tidak perlu mendapat penilaian bagus dari ibunya, aku hanya perlu mendapatkan info calon menantu yang sangat diinginkan oleh ibunya itu.” Lagi-lagi pemikiran logisnya menyerang, membuatnya banyak pikiran.


“Ck, semuanya memang selalu diperumit oleh orang kaya.”


Ayana mengambil bagian bawah kaosnya lalu membuka hingga tertinggal tangtop yang membalut tubuhnya.


Ayana memutuskan untuk mandi dan mendinginkan otaknya yang terasa mendidih. Berurusan dengan Ken tampaknya akan memerlukan stok kerasabaran ekstra.


“Ah menyegarkan sekali.” Menguyur diri di bawah pancuran shower.


Selesai mandi dan menyegarkan kulit kepalanya Ayana keluar dengan balutan handuk. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam.

__ADS_1


“Sudah semalam ini tenyata. Ck, waktuku terhabiskan sia-sia mengikuti si tuan muda berkeliling mall dan bermain-main.”


Mengambil handuk kecil dan menggosok rambutnya. Sudah merasa segar.


Ting nong


Ting nong


Ting nong


“Iya Sebentar!”


“Siapa sih yang bertamu pukul 7 malam begini.” Hah, Ayana melepaskan handuk yang membalut rambutnya digantikan untuk menyampir di depan dadanya. Setidaknya dirinya sudah tertutup oleh handuk.


“Awas saja kalau Melli yang bertamu akan langsung kuusir dia.”


Melli itu sahabat Ayana yang paling gesrek. Suka sekali memang bertamu tanpa kenal waktu. Bagi Ayana pukul tujuh malam sudah memasuki waktu istirahat. Dirinya tidak akan mau jalan-jalan keluar dari rumah. Merehatkan diri dari aktivitas seharian adalah pilihan yang selalu dijadikan nomor satu olehnya.


Apalagi seharian ini dirinya sudah sangat gusar karena malah dibawa kesana kemari tanpa bisa menolak.


Tok tok tok


“Iya sebentar!” Ayana berteriak kesal, sudah tidak mau beramah-tamah pada tamu yang datang. Sudah ada niat mau menyemprot.


Membuka pintu dengan kasar, Ayana segera menatap nyalang pada tamunya itu.


Namun sebelum layangan kekesalan itu terlontar, dirinya malah terbungkam. Melihat sosok yang ada di depannya ini. Tanpa di duga, tanpa diperkirakan, tanpa diperhitungkan.


“Tu-tuan Ken. A-ada perlu apa Anda da...” tang semalam ini?


Tidak sempat melanjutkan kata-katanya karena pintu yang Ayana tadi buka sudah kembali tertutup, bukan Ayana yang menutup melainkan Ken.


“Berpakaian yang benar! Baru kembali membukakan pintu untuk tamu!”


Ken dengan nada tegasnya memerintah Ayana.


Sedang Ayana baru tersadarkan, pipinya memerah melihat tampilannya yang memang tampak menggoda. Dia berlari menuju kamar.


“Sial! Siapa sangka tamu yang datang adalah si tuan muda! Huwaaaaa! Ku kira itu memang Melli! Melli kan suka begitu kalau datang, selaku tidak sabaran!”

__ADS_1


Di luar rumah Ken memandang kesal pada Alex yang tampak syok.


“Apa yang kau lihat Lex! Jangan mengingatnya!”


“Buang raut wajah syokmu itu! Hapus ingatan mengenai yang kau lihat tadi! Ingat! awas saja kau berpikiran mesum.”


Ken pun syok melihat tampilan Ayana dalam balutan handuk yang sangat pendek, kaki jenjang Ayana yang sangat bersih sempat membuat kewarasnaya hampir melayang.


Mana bisa saya mengontrol ingatan saya tuan muda! Kalau bisa mengontrol saya akan sangat merasa sangat beruntung di dunia ini. Ingatan yang saya pelukan akan saya simpan dan yang saya anggap sampah saya buang.


Tapi tunggu dulu, kenapa tuan muda begitu posesif ya? Perilakunya sudah seperti Tuan Hans saat sedang cemburu kalau istrinya dilihat oleh pria lain.


.


.


.


.


.


.


Jangan Lupa Vote


Komennya yang banyak yuk, gimana seru nggak cerita Ayana sama Ken. Ini barupermulaan akan segera mengalir ceritanya. ya...Komen yang banyak yuk...


Oh iya kemarin aku nggak update karena dalam perjalanan dari luar daerah kembali ke rumah. Jadi nggak bisa nulis di sepanjang jalan.


Terima kasih yang sudah setia nunggu ya...


Komen yuk,


sini merapat yang masih malu-malu kalo komen..


Sini merapat yang cuma baca tanpa like tanpa komen...


Yuk yuk merapat...

__ADS_1


komen apa aja😂🙏🏻🤗🤗🤗


__ADS_2