
Semua hal diurus oleh kuasa hukum Ken. Hingga Ayana kembali bisa memperoleh surat asli kepemilikan rukonya yang sudah dijadikan sebagai jaminan.
Para Debt Collector itu tak berkutik di hadapan kuasa hukum Ken. Mereka tidak memiliki banyak koneksi untuk bisa membela diri. Mereka juga merasa sangat bodoh sampai-sampai berani berurusan dengan orang besar.
Ya keluarga Prasetyo. Nama marga itu mengguncang mereka. Sungguh jika sejak awal mereka tau mereka berurusan dengan keluarga Prasetyo. Mereka tidak akan berani membusungkan dada. Mereka pasti akan menunduk.
Namun layaknya nasi sudah menjadi bubur. Semuanya sudah terlambat. Surat Ruko itu sudah diambil alih lagi. Dan mereka tidak mendapatkan apa-apa selain kerugian. Ya kerugian karena sudah merusak properti Ruko.
Kalau mereka tidak menggantinya maka kuasa hukum Ken akan melanjutkan rencana seperti sedia kala. Membawanya ke jalur hukum. Tentu mereka yang sudah serasa tersudut tidak mau memilih hal itu. Mereka menghindar dan membayar segalanya.
Bowo! Akan mereka seret nanti laki-laki itu!
Satu hari sudah berlalu sejak kejadian itu. Saat ini keluarga Ken sedang disibukkan dengan Anniversary pernikahan Angel dan Hans.
“Ken.”
“Iya Dad?”
Ken menghampiri Daddy Hans nya yang sedang duduk di ruang keluarga. Televisi tampak menyala menampilkan visual salah satu pesepak bola dalam iklan sampo rambut.
“Kemari dan duduk di sini.” Suruh Hans.
Ken menurut dan duduk menghampiri sang Daddy. Menghentikan aksi tangannya yang sibuk mengetik lalu menghapus pesan. Layarnya tadi tertera nama Ayana. Eh tampaknya dia sedang ragu ingin menghubungi Ayana.
“Ada apa dad?” Tanyanya segera. Namun bukannya mendapat jawaban segera juga, dia malah di teliti oleh sang Daddy.
Hans menatap Ken serius.
“Katanya beberapa hari lalu kamu memanggil Pak Dean. Apa yang terjadi?”
Hans memang penasaran apa yang sedang dilakukan oleh putranya itu sampai-sampai perlu menggunakan pengacara mereka. Dua hari ini dia memang sangat sibuk sehingga jarang sekali bertemu dengan anaknya. Ditambah lagi Ken yang juga sama sibuknya.
Membuat mereka jadi jarang bertemu. Dan sekaranglah. Hans baru bisa menanyakannya pada Ken.
Ken mengusap tekuknya sebelum menjawab.
“Aku hanya sedang membantu seseorang yang tersangkut masalah dad.” Sahut Ken. Dia tidak mau menyebutkan lebih jelasnya.
Kening Hans bertaut lebih menyoroti lagi pergerakan anaknya itu.
“Seseorang? Sebutkan dengan jelas siapa yang kamu maksud? Masalah apa yang dibuatnya?” Sodor Hans.
Mata Ken membesar dia mendengar nada tidak senang dari sang papi.
“Bukan dia yang membuat masalah dad, bukan... tapi dia tersangkut masalah karena orang lain, dad.” Entahlah Ken takut jika saja sang Papi akan memberikan penilaian buruk pada Ayana.
Ada sedikit rasa aneh dalam pandangan Hans melihat gelagat sang anak yang tampak gelagapan. Namun dia memilih mendiamkannya.
“Jangan berurusan dengan orang-orang yang merugikan mu Ken.” Saran Hans tiba-tiba. Dia perlu menasehati anaknya ini.
“Aku tau dad, tapi dia tidak merugikan sama sekali.” Bela Ken, kali ini suara lebih tegas dan...
Manik mata Ken tampak berbinar. Hans tidak salah tangkap itu memang sebuah binar ceria.
Ada apa dengan ulasan senyumannya itu?
Pak Dean bilang Ken bahkan sulit mengontrol emosinya saat menyelesaikan masalah itu.
“Ya sudah sana. Jangan kemana-mana malam ini. Kamu ingat kan acara apa malam ini.”
“Iya, ingat. Ken ingat.” Sahut Ken. Ini sudah kali menerpa juga Ken mendengarnya agar mengingat. Apa hanya orang rumahnya saja ya yang tidak mengakui betapa dia cerdas dan mudah mengingat sesuatu.
Ya Ken salahkan saja dirimu yang sering sekali keluyuran. Sampai-sampai membuat semua penghuni rumah mengingatkan.
Hans masih memandangi putranya itu hingga menghilang dari daun pintu menjulang belakang rumah.
Hans menggeleng.
“Hah sudahlah, lebih baik aku menyeleksi gaun istriku. Gayanya tidak boleh memperlihatkan kulit bersihnya, lekuk tubuhnya atau apapun itu!” Mulai melangkah lebar menuju lantai atas.
***
Ken menggunakan ponselnya untuk menghubungi Ayana. Sebari tangannya tampak bermain santai di atas bunga-bunga yang bermekaran di belakang rumah.
Masih belum di angkat Ken pun berdecak.
[“Iya?”]
“Ehm, apa yang kau lakukan sekarang?” Sial Ken gugup dan malah berbasa basi.
[“Aku? Aku hanya sedang mengemas paket yang baru saja datang. Ada apa?” ] Suara Ayana terdengar sangat manis. Hingga membuat Ken mengulas senyum.
Astaga! Tunggu-tunggu kenapa respon otaknya malah begini.
Ken berdehem sebelum kembali lanjut bicara.
“Aku menagih pembayaran kuasa hukum ku.” Entah karena gugup atau karena tidak percaya diri Ken malah mencabuti satu demi satu helai bunga berwarna kuning itu. Bunga milik Kanjeng mami Angel.
Ayana yang diseberang menghentikan kegiatannya yang tadi membereskan barang. Dia tidak menyangka Ken akan menagihnya secepat ini.
Sungguh kedatangan Ken saat itu memang sangat membuatnya merasa berterima kasih sekali. Dan untuk segala tindakan Ken yang tidak memiliki penjelasan sama sekali. Mengenai Ciuman di kening, pelukan, perhatian, atau menyematkan kata Calon istri—, Ayana pun tidak berusaha menguliknya. Ken tidak membahasnya sama sekali. Entahlah mungkin laki-laki itu sedang bersandiwara. Tapi rasanya gemetar Ken waktu itu memang tampak nyata...
Ah tidak...Yang pasti Ayana tidak perlu berpikrian rumit. Untunglah hatinya tidak mengharap lebih.
Kembali ke sekarang Ayana sedang menghitung jumlah saldo tabungan dalam pemikirannya. Biaya pengacara pasti mahal sekali. Dimana dia bisa mendapat uang puluhan juta itu. Dia tidak bisa menguras saldo rekeningnya lagi.
Ayana menggigit bibirnya sebelum menjawab Ken.
__ADS_1
[“Em, kalau sekarang aku masih belum punya banyak uang Ken. Apa bisa nanti saja. Satu bulan dari sekarang? Bisa memberiku waktu lebih?”]
Suara Ayana terdengar menghiba. Polos sekali.
Ken tergelak. Membuat Ayana yang ada di sebrang terheran. Apa kata dia tidak punya uang adalah hal yang membuat para konglomerat bisa tertawa keras ya? Ayana jadi merasa rendah diri.
“Aku tidak meminta bayaran dengan uang Ayana. Malam ini datang ke rumahku dulu. Orang tuaku akan mengadakan Party Anniversary pernikahan mereka.”
[“Eh?”] Tidak mengerti.
“Datang ke rumahku malam ini. Bersiap saja nanti aku akan menjemputmu.”
[“Tunggu-tunggu Ken, itu kan acara orang tuamu memangnya aku boleh ikut hadir?”]
“Ck, datang saja semua orangku boleh datang.”
Lalu sambungan terputus segera, si tuan muda tidak memberi waktu Ayana untuk menyela lagi.
***
Ayana benar-benar di jemput di malam harinya. Ayana menggunakan gaun yang bisa dia gunakan bila ada acara penting. Tunjangan wajahnya yang segar membuatnya tampak fresh.
Alex keluar dari dalam mobil dan segera membuka pintu mobil.
“Eh terima kasih.” Ucap Ayana dengan sangat sungkan. Matanya tidak mendapati Ken sama sekali di dalam mobil itu. Ulasan senyum yang tadi begitu lebar. Sekarang mulai sedikit meredup. Dia masuk dan mulai mendudukan diri.
Ternyata Ken tidak menjemputnya dan hanya Alex yang datang. Tiba-tiba saja Ayana ingin tertawa keras.
Ah apa yang kau pikirkan Ayana? Memangnya kau pikiran tuan muda itu punya waktu untuk menjemputmu. Astaga! Kau bukan Cinderella Ayana. Berhenti...
Kenapa aku jadi begini. Mendesah kesal dengan keadaan hatinya. Begitu tidak karuan sekali.
Alex mengamati sekilas raut wajah Ayana. Saat dia datang tadi dia bisa menangkap Ayana yang curi-curi pandang sepeti mencari seseorang. Yang sudah Alex tau itu pasti tuan mudanya.
Padahal tuan mudanya tidak ikut.
“Tuan muda sebenarnya akan ikut menjemput Anda tadi. Tapi nona Nara meminta Ken menjemputnya.”
Supaya Ayana tenang Alex menjelaskan yang sebenarnya. Ya memang sebenarnya Ken menjemput Nara. Ken padahal menolak menjamur namun titah dari sang Mommy tidak bisa dibantah. Membuatnya bersungut-sungut kesal dan menjemput Nara.
“Eh iya.” Sahut Ayana dengan gugup.
“Anda tau.” Alex menatap Ayana dari kaca spion.
“Iya?”
Ayana tidak tau Alex juga bisa memulai pembicaraan. Karena biasanya dia melihat Alex selalu banyak diam. Kecuali jika Ken bersuara.
“Tuan muda kami itu memang sulit di mengerti. Jadi mohon bersabar sedikit lagi saja.”
“Maksudnya apa ya? Ah ini saya terlalu bodoh. Maaf sekali.” Ayana nyengir tidak berdosa.
“Pertahankan kepolosan Anda.” Ujar Alex.
Lagi-lagi Ayana merasa kalimat itu penuh misteri.
***
Sampai di tempat yang dituju. Alex dan Ayana bisa melihat si tuan muda yang beberapa saat lalu mereka bicarakan sudah menunggu di dekat undakan tangga. Tangannya bersedekap. Siluetnya terlihat bagaikan seorang pangeran. Meski cahaya yang sedikit temaran. Laki-laki itu tetap tampak bersinar.
“Apa kau sengaja mengambil rute terjauh Lex? Kau sengaja ingin berlama-lama bersama Ayana iya?”
Mata Alex membulat karena todongan tuduhan dengan mata yang berkilat tajam itu.
Ken merasa kesal sekarang. Sorot matanya tertuju pada Alex memang sengaja ingin mengintimidasi.
“Tidak tuan muda, untuk apa saya punya niat seperti itu.” Mana mungkin juga saya berani melakukan itu. Padahal saya pun sudah tau kalau wanita ini sudah Anda tandai.
Ya mungkin saja Anda belum menyadarinya Batin Alex.
Ken medengus tidak terima.
“Tidak mungkin, kau punya selisih waktu 10 menit dari seharusnya kau sudah tiba.”
Mulut Alex menganga. Tidak menyangka tuan mudanya bahkan menghitung waktu seharunya dia datang.
Ayana yang memang polos saja malah membuat Alex sudah di ambang jurang!
“Oh itu mungkin karena tadi kami sempat berbincang ken. Karena itu mungkin Alex tidak sadar.” Jelas Ayana.
Ah tolong selamatkan Alex.
Hitung dulu...
sebelum kita lihat Ken akan meledak.
Satu...
Dua...
Ti....
“Apa?! berbincang? Apa yang kalian perbincangkan?”
Sudah mendekat dan menarik Ayana. Merapatkan jari tangannya di antara sela jari Ayana hingga menyatu sempurna.
Tidak sampai hitungan ketiga sudah meledak.
__ADS_1
Astaga! Kenapa juga malah dijelaskan. Ya Tuhan tolong lindungi aku dari duplikat Tuan Hans ini.
“Ken, kenapa nadamu ketus begitu?” Ayana heran sekali.
“Kau benar-benar ya, jangan mau diajak Bicara dengan Alex. Biasanya dia juga tidak berbicara denganmu.”
“Iya karena itu tadi kejadian langka.” Sahut agan anteng sekali.
“Dan kejadian langka itu tidak akan terjadi lagi!”
Ken bersuara tegas dan segera menarik Ayana. Tatapan mata itu seperti sudah mem-becklist Alex.
Memasuki rumahnya ia segera membawa Ayana masuk.
“Ayo kita sapa dulu orang tuaku.” Ajak Ken segera.
Sumpah demi apa pun. Ayana merasa gugup sekarang. Dia merasa sangat gugup. Harus bertemu dengan orang tua Ken. Dulu dia hanya bisa melihat dari kejauhan.
Sekarang dia tidak menyangka bisa bertemu secara langsung.
Ayana dibuat terkejut ketika mendapati sebuah
tangan yang melewati punggung pinggangnya dan melingkar tepat di sana.
Tubuh mereka merapat sempurna. Hans dan Angel teekeget ketika mendapati putra mereka hadir dengan seorang gadis asing.
“Nak, ini siapa?” Angel segera bertanya.
“Ini Ayana mom.” Sahut Ken memperkenalkan dengan senyum lebar.
“Saya Ayana om, tante. Selamat merayakan anniversary.” Ayana kikuk sekali ketika mengucapkan itu.
Angel tersenyum maklum dan mendekati Ayana. Dia mengelus tangan Ayana dengan lembut.
“Manis ya Ken.” Kerlingnya pada anaknya itu. Ayana yang polos hanya diam. “Makasih udah datang ya nak. Duh ini kejutan banget loh, Ken datang sama perempuan.” Angel memberi kode keras.
“Ah ini saya hanya temannya Ken saja Tante om. Jangan salah paham.” Ayana bisa menangkap pemikiran ibu dari Ken ini. Dia takut jika dua orang itu salah paham dengan keberadaannya. Padahal Ken hanya ingin bebicara sesuatu dengannya sebagai kompensasi dari jasa hukum yang diterima Ayana. Sembari langsung menghadiri pesta.
“Ya ya, dia polos sekali.” Komentar Hans. Ayana heran dengan komentar laki-laki itu.
Ken hanya bisa mendengus di tempat.
“Hai jeng Angel.” Seru sebuah suara yang tampak melengking. Menghambur mendekati Angel. Ah hampir saja Ayana kena tubruk. Kalau tidak mungkin dia akan terjungkal.
Ken dan Hans sama-sama memang wajah kesal dengan kedatangan wanita itu. Ini Bu Kila istri salah satu kolega Hans.
“Nak ayo sini.” Bu Killa melambai-lambai ke arah belakang.
Sesosok perempuan muncul dengan gaya anggun. Dan langkah yang tenang.
“Selamat hari anniversary, Nyonya, dan Tuan Prasetyo.” Sebuah hadiah yang tampak dikemas dengan sangat apik di serahkan.
“Wah terima kasih.” Seru Angel. Angel mengulas senyum ramah.
“Aduh pas sekali ada putranya jeng Angel juga. Ayo sapa.” Bu Killa heboh sekali.
Wanita itu berbalik dan Ayana terpukau sekali. Dia melihat lebih jelas wajah wanita di depannya ini. Mulus sekali.
Dia mengintip Ken—, tidak ada ekspresi terpukau.
“Perkenalkan saya Anggun.” Wanita itu memang selaras sekali dengan tampilannya yang memang sangat anggun. Ayana menjadi insecure ketika melihat dirinya sendiri.
Tampilan wanita ini berkelas meski dengan cara sederhana. Berbeda dengannya yang sederhana ya memang sederhana.
Ditengah itu Angel sedikit merasa terusik kenyamanannya. Dia melirik sang suami, cemberut.
“Kenan.” Sambut Ken.
“Ini anaknya Tante, Ken. Gimana cantik nggak? Cantikkan...pasti... Aduh jeng mereka cocok banget ya kalau jadi pasangan.” Ucap Bu Kila.
Angel hanya mengulas senyum palsu. Mana mungkin dia menyetujui ucapan wanita di depannya itu. Sementara tangan anaknya malah bertengger manis melilit tubuh wanita mungil manis yang katanya bernama Ayana.
“Ada yang saya ingin omongkan apa boleh kita ke sudut ruangan sebentar?” Tanya anggun dengan beraninya pada Ken. Tiba-tiba sekali.
Bu Kila sudah tampak tersenyum puas.
Sejenak Ken baru benar-benar memperhatikan wanita di depannya ini. Dia tadi sedikit terusik dengan kata cocok yang diucapkan oleh salah ibu-ibu tadi.
“Tidak perlu ke sudut ruangan. Di sini saja.” Ujar Ken, nadanya biasa saja. Rautnya bisa saja. Seperti wanita di depannya ini memang tidak begitu bersinar seperti yang dieluh-eluhkan oleh yang lain.
Anggun hampir saja merasa kecewa, namun raut wajahnya tidak dia tunjukan sama sekali. dia berusaha sedatar mungkin.
“Katanya Anda sedang mencari calon pengantin.”
Mata Ken menyipit. Angel dan Hans membelalak mata terkejut. Ayana pun sama terkejutnya.
Anggun mengulas senyum, arti senyum itu sangat culas sekali seperti berarti dapat kau.
“Bagimana kalau saya menawarkan diri.” Lanjutnya dengan nada angkuh.
“Saya menawarkan diri menjadi pengantin untuk Anda, Kenan Paratsyo.” Anggun mengulas senyum. Manis sekali.
Semua orang terkejut melihat aksi wanita itu. Ayana pun tidak kalah. Rasa sesak tiba-tiba saja menelusup di hatinya.
Ah wanita itu memang tampaknya sesuai dengan kriteria Ken. Dia menunduk tidak berani melihat lebih lanjut aksi itu. Tawaran dari wanita yang sesuai kriteria tidak akan mungkin Ken tolak sama sekali.
Ah...
__ADS_1
Kenapa sih sesaknya malah semakin bertambah...
Seperti rasa tidak rela...