Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
Ch 40~ Satu Minggu Lagi


__ADS_3

“Mo-mommy?” Ken meneguk ludahnya susah payah. Merasakan ancaman dari manik mata sang mommy. Mata sang mommy terlihat membara sedang gelegat tubuhnya seakan hendak menerkamnya hidup-hidup.


“Kenan Prasetyo! Apa yang kamu lakukan!” Benar saja, sang mommy menjerit dan sudah berjalan setengah hendak menerjang dirinya.


“Mommy, jangan emosi mom. Kita bicara baik-baik. Tenang mom.” Berusaha lari bersembunyi di balik sofa. Tadi sudah melakukan aksi lompat dari tengah, menuju balik sofa.


“Tenang! Tenang! Bagaimana mommy bisa tenang. Melihat kamu dan calon mantu Mommy saling pangkuan! Kalau mommy dan Daddy tidak datang mungkin kamu sudah melakukan hal-hal lain pada Ayana.” Gawat sang mommy sangat marah sekali padanya sekarang.


“A-aku hanya mencium kekasihku mommy. Kenapa mommy berlebihan.” Menyahuti tak tahu malu.


“Hanya? Sini kamu sini! Mommy mau jewer telinga kamu sekarang!” Menggelung lengan gaunnya yang tadi sampai ke bagian pergelangan tangan.


Ayana merasa wajahnya memanas. Dilanda rasa malu yang luar biasa.


Ken tak bisa lagi berlari dan di tertangkap, telinganya benar-benar dipelintir oleh sang mommy tanpa ampun.


“Sakit mom.” Mengerang kepala menyeleng karena menyelesaikan arahan jeweran yang semakin menarik turun.


“Kalau menepis tangan mommy juga tidak bisa. Kalau sampai aku melakukan itu mungkin akan mendapat bogem mentah dari Daddy.”


“Jadi laki-laki itu jangan suka mengambil keuntungan Ken! Mommy mintanya apa beberapa waktu lalu? Hah?” Membentak dengan gemas.


Sedang Ayana mengkerut meremas kedua jari tangannya tak henti.

__ADS_1


“Apa aku lari saja sekarang?” Tapi matanya udah bersibobrok dengan manik mata Hans. Ayana meneguk ludahnya terasa Kelu.


Ken tak bisa menjawab pertanyaan sang mommy, takut jika dia kembali menjawab bukan hanya mendapat dosa. Namun juga mendapatkan kemarahan lain.


“Mommy mintanya kamu bawa calon mantu ke rumah. Dalam keadaan baik. Bukannya calon mantu yang perutnya udah kembung!”


Sontak saja ucapan sang mommy yang begitu tegas, membuat mata Ken terbelalak lebar.


Apa tadi kata mommy'nya? Kembung? Kembung yang bisa diartikan sebagai hamil? Hah?!


“Mom, aku tidak sejauh itu. Aku tau batasanku!” Baru tadi juga Ken sampai saling pangkuan saat berciuman dengan Ayana. Dan sial sekali, niat tadi mau menghukum Ayana dia sekarang juga mendapat hukuman dari sang mommy.


“Oh itu yang tadi katanya tau batasan? Saling pangkuan gitu? Batas kamu itu yang mana Ken! Ih anak ini ya.” Akhirnya Ken kalah telak dengan segala kecerewetan sang mommy.


“Batasan kamu udah kamu lewati sekarang. Dari coba peluk, coba cium nanti coba apa lagi? Coba buka baju Ayana gitu?” Todong Sang Mommy.


“Ya, aku akan memuka baju Ayana nantinya!” Jawaban Ken itu membuat mulut semua Yanga dan diruangan terbungkam.


“Tapi tentu aku akan melakukannya setelah kami menikah mom nanti. Bukan sekarang.”


Dan ucapan Ken sontak saja membuat semua mata tertuju padanya. Suaranya terdengar yakin dan tak main-main. Berbanding terbalik dengan angel dan Hans yang menatap putranya dengan sedikit kelegaan. Ayana malah merasa ketegangan menyelimutinya.


“Jadi kamu benar-benar akan menikah dengan Ayana Ken? Dengan gadis ini?” Hans mengarahkan sorot matanya pada Ayana.

__ADS_1


“Iya aku akan menikahi Ayana Daddy!” Jawab Ken dengan suara yang menekan teguh.


Mata dua pria itu saling tatap dengan serius. Lalu Hans tersenyum miring.


“Ini tidak keputusan sepihak kamu bukan? Dari yang Daddy lihat gadis ini bahkan terkejut ketika kamu menyebut akan menikahinya.”


Dan ucapan sang Daddy yang sungguh benar adanya itu. Membuat Ken sontak segera melihat ke arah Ayana.


Ayana memandang Ken sejenak. Manik matanya penuh keraguan.


“Utaran apa yang kamu inginkan. Jangan menyimpannya.”


“Daddy!” Ken menyela, namun Hans mengangkat tangannya mengintrupsi Ken agar berhenti bicara.


Dengan segala keraguan dan kecamuk pikirannya Ayana menatap Pria yang tidak lain adalah Hans Prasetyo itu.


“Sa-saya rasa saya perlu waktu untuk berpikir. Saya, saya mohon undur diri.”


Ken menekan rasa getir. Membuat matanya melemah ketika melihat punggung Ayana yang mulai menjauh.


“Ayana!”


Ayana tak berbalik.

__ADS_1


Apa maksud gadis itu? Jadi gadis itu menolaknya? Setelah semua yang mereka habiskan? Setelah waktu yang bergulir? Ayana masih ragu menjadi pendampingnya?


Sekarang Ken mulai menghitung waktu yang ditentukan tinggal satu Minggu lagi. Ken berlari mengejar Ayana.


__ADS_2