
Jangan Lupa like...
Komen...
Shere...
Vote...
Saat mobil itu melaju Ken menatap pada hamparan jalan yang gelap gulita. Ada yang aneh pada sikap Ayana. Ken merasa Ayana seperti menyembunyikan sesuatu darinya.
Namun apa?
Tanya itu belum menemukan jawaban.
Gelagat Ayana yang terlihat gelisah tak ayal menyentil rasa cemas dalam diri Ken. Ken tidak tau kenapa setiap hal menyangkut Ayana membuat pikirannya berkecamuk dan tidak bisa tenang.
Bahkan tadi.
Ia adalah contoh orang yang bisa menahan emosi, namun dengan Ayana dia malah melimpah ruah'kan itu dan tidak menahan-nahan.
Ayana...
Sejak dulu dia tau Ayana adalah gadis pendiam yang selalu mengikutinya. Mata Ken terpejam mencoba mengingat bayang masa lalu.
Entah itu Ken sedang diperpustakaan, atau Ken sedang dikantin, atau Ken sedang di lapangan basket. Ayana ada di sana. Hadir dalam diam dan tidak mencoba mendekat. Hanya melihat dari kejauhan.
Namun sikapnya malah sudah membuat Ken tertarik dan selalu mencari-cari sosok Ayana.
Menggeleng pelan Ken mengusir bayang itu saat mobil ternyata sudah sampai dipekarangan rumah miliknya. Alex membukakan pintu untuknya hingga Ken lebih leluasa untuk keluar.
Ken lalu menatap Alex lurus-lurus.
“Kau tidak lupa kan, kau perlu membereskan seseorang malam ini?” Ken bertanya dingin, hingga auranya terasa kejam.
Mungkin Ken memang memerlukan sedikit waktu untuk melakukan pembalasan. Namun tempatnya hal itu akan memuaskannya juga.
“Tidak tuan muda. Saya akan melaksanakan perintah.” Alex menyahut tegas dengan wajah penuh keseriusan. Senyum smirik terulas di bibir Ken.
Menepuk pundak Alex.
“Lakukan yang terbaik.”
***
Alex tidak menyangka hujan akan mengguyur ketika mobil yang ia kendarai ingin menuju pada suatu tempat.
“Aku akan segera ke sana.” Telepon yang tadi berdering sudah diangkat dan dibalas dengan suara datar.
Alex punya misi balas dendam sekarang. Tuan mudanya menginginkan itu. Alex yang akan mengambil tindakan namun tuan mudanya yang akan mendapat kepuasan.
Kelok demi kelok jalan dilalui. Sunyi sudah mencekam. Saat Alex sudah melihat bangunan yang akan ia tuju, gelegar petir menyambar.
“Seperti yang tuan muda inginkan. Gigi dibalas dengan gigi. Dipermalukan dibalas dengan dipermalukan.”
__ADS_1
Payung hitam terbuka lebar, sepatu fantofel yang membalut kakinya menampak genangan air.
Derap langkahnya memecah setiap genangan membuat percikan-percikan kecil. Mata legam Alex awas dengan sekitar.
Masuk ke dalam lift dan menekan tombol bernomor tujuh. Tenang dalam diam. Alex menunggu detik-detik lift akan berdenting.
Sekarang ia akan melakukan tugasnya. Pada sosok target yang sudah berani-beraninya bermain-main pada wanita milik seorang CEO.
“Tuan Alex, saya sudah menunggu Anda.” Kehadiran Alex disambut oleh si Pak Dirga.
Kedatangan Alex sungguh membuatnya terkejut. Awalnya pria yang hampir berumur kepala empat itu berpikir mungkin saja tangan kanan dari pria berpengaruh di kota ini hanya sedang salah memberikan info.
Akan tetapi kedatangannya kembali dikonfirmasi dengan pasti. Maka dari itu pak Dirga dan beberapa staf entertainment miliknya menahan diri untuk pulang. Sebab perlu menyambut tamu kehormatan.
Alex diarahkan pada sebuah kursi lebar. Sementara ada tangan cekatan yang sudah menyajikan kopi yang mengepul di depannya.
“Saya ingin Anda melakukan sesuatu pada wanita ini.” Alex menyerahkan satu buah dokumen berisi lembar data. Ah koreksi bukan hanya lembar data namun juga sebuah flashdisk. Berisikan gambar dan video yang akan membuat seseorang merasa malu. Dan juga gemparnya, dunia entertainment .
Pak Dirga membuka berkas itu dengan hati-hati. Ketika tangannya berhasil membuka matanya terbelalak.
“I-ini kan Silvia artis top kami tuan. Apa yang ingin Anda lakukan kepadanya? Ke-kenapa Anda...” Pak Dirga meneguk ludahnya.
Mata Alex menajam penuh peringatan.
“Seperti perintah langsung dari tuan Ken, beliau ingin artis itu redup karirnya. Beliau juga ingin agar terjadi pemutusan kontrak kerja. Apa anda mengerti Tuan Dirga?”
Inilah tugas Alex. Ini pembalasan pada Silvia yang berani macam-macam pada wanita sang tuan muda. Silvia mungkin terbutakan oleh target yang begitu bercahaya dan membuat seseorang rakus untuk memiliki.
“Ta-tapi artis ini membawa banyak pundi-pundi uang bagi perusahaan Tuan.” Pak Dirga masih berusaha sedikit saja ingin melakukan negosiasi. Karir Silvia pun baru meroket.
Sebenarnya apa yang wanita itu lakukan sampai berani mengacau orang yang berpengaruh. Pak Dirga merutuki kebodohan Silvia dalam diam.
“Apa Anda tidak mendengar perintahnya dengan jelas!” Alex sudah mengebrak meja dengan kuat, hampir saja membuat kopi yang tadi tersaji jatuh menumpahkan isinya.
Mata Alex menajam. Pak Dirga tersentak. Tampaknya ia tidak bisa lagi melakukan pembelaan di sini.
“Laksankan perintah tuan Ken. Terlepas dari kerugian yang akan di dapat perusahaan. Anda tidak mau bukan tuan Ken malah memilih menutup saja perusahaan ini. Ingat juga seberapa berpengaruh tuan Ken dalam perekonomian.”
Pak Dirga meneguk ludahnya.
“Baik tuan, sa-saya akan melaksanakan perintah seperti yang dikehendaki.” Pak Dirga menjawab lekas-lekas dengan gugup
Alex mengulas senyum dingin, membuat pak Dirga merasa bulu kuduknya berdiri. Kesan pertamanya ketika melihat Alex adalah pria dingin dengan insting membunuh.
Alex bediri menatap dari atas ke arah Pak Dirga yang serasa masih dibawah jabatannya. Tampaknya memang benar begitu. Jabatan dari tangan kanan kelurarga Prasetyo memang dijunjung tinggi dan tidak bisa disandingkan.
“Oh iya, gunakan flashdisck itu. Saya pikir Anda pasti paham dengan yang harus Anda lakukan nantinya.”
Pak Dirga cepat-cepat mengambil Flashdisck itu. Tiba-tiba pemikirannya membuat matanya terbelalak.
Senyum Alex terulas melihat raut wajah tegang pak Dirga.
“Tuan muda kami akan sangat menunggu berita eksklusif pagi besok. Jangan sampai Anda mengecewakannya tuan Dirga.”
__ADS_1
Kata mengecewakan ditekan kuat, sama dengan pundak pak Dirga yang serasa ditekan kuat. Pemikirannya benar.
Bahwa Flashdisck itu berisikan sesuatu.
Alex pergi meninggalkan pak Dirga yang memijit pelipisnya. Tidak menyangka melihat isi Flashdisck tersebut.
Ia bahkan sangat malu sekali melihatnya.
“Pagi esok kita akan menyajikan berita dahsyat dari seorang aktris.” Umumnya pada para bawahan yang masih ada.
“Berita apa pak?” Salah atau bawahan bertanya. Namun hanya senyum miris terulas di bibir pak Dirga.
“Berita besar, sangat besar.” Kata-katanya penuh Misteri.
***
Berita Terkini
Ayana menggosok giginya sembari melihat layar televisi. Melihat berita terkini di pagi hari.
Aktris yang terkenal dengan peran antagonisnya, yaitu aktris Silvia, membawa berita baru yang mengejutkan publik.
Scandal tentangnya yang menyeret para pejabat berdasi dengan rekaman video di dalam bilik kamar hotel. Menjadi berita paling panas hari ini.
Potret potret panas itu menyebar di berbagai media. Semua orang dikejutkan akan hal itu.
Ayana terkejut melihat berita tersebut hingga tangannya yang tadi telaten menggosok gigi menjadi berhenti. Membuat volume dari televisi menjadi full.
Gambar-gambar Silvia dengan beberapa pria berdasi menghiasi kaca televisi. Mata Ayana membelalak setiap slide demi slide tayangan itu.
Dia terperangah. Ada foto yang menunjukkan Silvia dan seseorang. Tak berbusana, meski sebagian di blur namun wajahnya tidak sama sekali.
Video berdurasi detik per detik itu juga. Tak ayal semakin membuat Ayana merinding.
EO Entertainment merasa tidak perlu mengkonfirmasi apa pun terkait scandal aktrisnya. Keterangan dari agensinya itu menyebut. Mereka tidak lagi memiliki kontrak eksklusif dengan aktris Silvia.
Perbincangan saat ini menyebutkan....
“Astaga Silvia...”
Ini Silvia yang sama. Silvia yang satu sekolah dengannya. Silvia yang beberapa waktu lalu mempermalukannya.
Ditempat lain seorang wanita meringkuk pada sudut ruangan. Ia menjambak rambutnya frustasi.
“Sialan! Bagaimana bisa ini terjadi?!” Tubuhnya gemetar hebat.
“Foto-foto dan video itu menyebar cepat! Hancur...hidupku hancur...” Tubuhnya semakin dikerdilkan dengan memeluk erat.
“Laki-laki itu, se-seharusnya aku tidak bermain-main dengannya!”
“Sialannnn...”
Pada dunia wanita itu yang hancur dan mulai menyusuri kegelapan. Sisi lain ada sosok yang puas dengan belas dendamnya.
__ADS_1