Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
Ch 49~ Pemakaman


__ADS_3

Prosesi pemakaman sedang berlangsung. Para karyawan biro jodoh Ayana datang. Mereka dikabarkan melalui pesan teks grup kerja. Bahwasannya Ibu dari boss mereka meninggal dunia.


Hal itu merupakan kabar mengejutkan dan membuat mereka syok. Mira, Shera, Riyan dan pak Gino ada di sana membantu semampunya dalam hal mengurusi pemakaman.


“Riyan bantu saya mengangkat ini.”


Pak Gino karyawan Ayana membaur dan kerepotan, Riyan yang dipanggil segera mendekat membantu pak Gino memindahkan bongkahan kayu yang menghalangi jalan.


Disisi lain segelintir keluarga Ayana dari pihak sang ibu juga datang. Ya hanya segelintir saja. Karena menyisihkan pergaulan bukan hanya terjadi di kaum elit saja. Dalam pergaulan keluarga juga di sisihkan, dieliminasi, mana seonggok daging tak berguna mana yang pantas dipuja bagai dewa. Menyedihkan bukan? Karena itu Ayana berusaha tetap kuat. Meski hati meronta-ronta dalam duka.


Keluarga Prasetyo membantu proses pemakaman juga. Ada Papa Fadli, Hans, Ayah Yoto, Juna, Bram, Hanna, Angel, Nara, Mama Rina, Ibu, semuanya membantu.


Hal itu sebenarnya membuat Ayana sangat-sangat merasa merepotkan keluarga itu. Namun melihat betapa ramahnya keluarga itu dan beberapa kali berbicara dengan Ayana tanpa mengucapkan nada sumbang bahwa dia merepotkan, Ayana seakan melihat para kumpulan malaikat.


Para malaikat dari kaum elit yang jarang ia temui. Bahkan hampir punah. Karena biasanya dia banyak melihat manusia yang berlomba dalam kesombongan. Berusaha memamerkan diri bahwa aku yang terbaik, kau tidak ada apa-apanya.


Dan ada sosok yang tetap berada disampingnya sejak tadi. Menggenggam tangannya, mengusap bahunya. Sosok yang tidak lain adalah Kenan Prasetyo.


Sosok jakung yang sudah kerepotan sejak tadi. Namun selalu berakhir berdiri di samping Ayana. Memeluk Ayana, menawarkan kehangatan dalam duka yang sukar mereda.


“Ken aku tidak apa jika sendiri, kalau ada yang perlu kamu lakukan dahulukan.”


“Mana mungkin aku malah meninggalkan kekasihku yang sedang berduka.” Manik mata Ken tampak serius dan menghujam. Namun ada kelembutan di sana.


“Aku akan di sini sayang menemanimu. Semua hal yang menyangkut pekerjaan sudah ku serahkan pada alex.”


“Maaf merepotkan mu.”


“Hei, ini tidak ada apa-apanya.”


Menangkup wajah Ayana. Lalu jari jempolnya menyapu pipi Ayana. Basah kulitnya merasakan itu.


“Astaga, tiba-tiba saja air mata ini menetes lagi. Huft, padahal aku sudah berusaha menyekanya sejak tadi.”


“Menyeka air mata bukan berarti kamu mengikis duka.”


Sumber air mata Ayana duka, dan duka adalah hal yang tak kasar mata. Yang hanya bisa terasa.


Ken mengecup kening Ayana.


“Kuatlah sayang.”

__ADS_1


Menggigit bibirnya hanya itu yang bisa dilakukan Ayana. Mereka lalu dikejutkan dengan datangnya dua wanita.


“Bu Aya, saya turut berduka cita ya Bu. Ibu yang sabar.”


Itu Mira, gadis itu memeluk Ayana. Si karyawan paling muda itu menunjukkan mimik wajah sedih.


Ayana memasang senyum.


“Iya, terima kasih Mira sudah datang dan direpotkan.”


“Astaga, saya tidak direpotkan sama sekali Bu. Malah rasanya yang banyak bekerja para lelaki. Saya hanya semampunya membantu.”


“Shera terima kasih juga sudah datang.”


“Bu aya yang tabah ya.”


Ayana mengangguk-angguk.


“Saya tau rasanya ditinggal sama orang tua jadi sama memahami perasaan ibu sekarang. Mungkin awalnya dunia terasa runtuh. Tapi dengan berusaha menerima kenyataan saya bangkit.”


Shera menggenggam tangan sang boss. Sebagai karyawan yang sangat mengangumi sang boss dia merasa perlu memberikan kekuatan dan sedikit berbagi kisah kelamnya.


“Hai Ayana.” Yayan datang. Dengan baju Koko rapi, sama halnya dengan Dev. Mereka berdua sudah sejak tadi tiba, namun belum sempat untuk mengucapkan bela sungkawa.


“Ayana, aku turut berdukacita.”


Yayan sudah merentangkan tangan dengan mimik wajah yang sedih ingin merengkuh Ayana. Mira, Shera, dan Dev terkejut ketika Ken, menahan kepala Yayan, dan berhenti di sana.


“Atur jarak, hanya kaum wanita yang boleh memeluk kekasihku. Tidak perlu mencari kesempatan dalam kesempitan.”


Nada posesif. Yayan tak bisa berkata-kata dan mundur. Lalu Dev juga mengucapkan bela sungkawa.


Semua orang sangat baik dan berusaha menghiburnya. Memberikan amunisi kekuatan. Hal itu sangat-sangat Ayana syukuri.


Dari kejauhan Nara, putri dari Hans Prasetyo itu memperhatikan perkumpulan di mana Ayana menjadi sosok utama.


Gadis itu sungguh kasihan. Hah, aku tidak menyangka di pemakaman aku berkenalan dengan kekasih adikku.


Sesungguhnya Nara sangat-sangat terkejut. Ketika semua keluarga bergegas ikut membantu proses pemakaman. Karena dia tidak tau siapa yang meninggal. Ketika bertanya dia baru mengetahui yang meninggal adalah ibu Ayana. Gadis yang malam itu dibawa Ken ke rumah mereka. Yang Ken perkenalkan dengan lantang sebagai calon istrinya.


Dering ponsel menganggu Nara. Dengan lekas dia mencoba menggeser tombol merah pada layar agar panggilan berhenti. Namun berikutnya panggilan masih di dapatnya.

__ADS_1


“Siapa sih yang menelpon.”


Nara menjadi kesal. Dia membulatkan matanya. Nama sang boss tertera di sana.


“Ada apa pak?”


[“Kamu di mana?”]


“Astaga, saya kan sudah ijin pak, saya tidak bisa masuk kerja hari ini. Saya sedang berada di pemakaman sekarang.”


[“Siapa yang meninggal kenapa kamu tidak meminta ijin kepada saya secara langsung?”]


“Saya kirim pesan teks pak kepada bapak secara langsung.”


[“Secara langsung itu dengan cara menelpon.”]


“Aduh pokonya saya minta ijin hari ini. Mohon maaf pak, jangan menganggu. Saya tutup teleponnya sekarang.”


Penggilan benar-benar Nara akhiri.


“Benar-benar boss yang tidak pengertian.”


Mendesah kesal. Tiba-tiba saja dia melihat Ken tergopoh-gopoh menggendong Ayana.


“Ayana pingsan tolong beri ruang.”


Astaga gadis itu pingsan! Dan Ken sudah seperti orang gila mencemaskan Ayana.


Sudah pasti Ayana pingsan Ayana bahkan belum mengkonsumi apa pun hari ini. Perutnya kosong. Belum lagi jiwanya sedang terguncang.


.


.


.


Jangan lupa kunjungi intsgram mereka 🤗


@_tya_1013


__ADS_1


__ADS_2