Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
Ch 26~ Menangani Dua Pengacau!


__ADS_3

Situasi sudah sedikit tenang dengan dua Debt Collector yang terikat itu. Mereka tidak bisa lagi melakukan kekerasan.


“Auu.” Ayana merasa sudut bagian matanya perih karena terkena obat luar yang sedang Ken usapkan menggunakan kapas.


Ken bersikeras dia yang akan mengobati Ayana meski tadi Mira menawarkan bantuan.


“Ini tidak sakit sama sekali ken.” Ayana segera berusaha memasang wajah datar agar tidak meringis. Dia bisa melihat gelagat Ken yang akan segera berteriak. Dan pastinya merutuki dua Debt Collector itu.


“Wajah polosmu tidak cocok untuk berbohong.” Kesal Ken.


“Jangan dibereskan, tetap biarkan segalanya seperti sedia kala. Pengacaraku akan datang sekarang.” Ujar Ken. Dia melihat pak Gino yang tadi hendak melakukan beres-beres situasi.


“Lepaskan kami sekarang!”


“Tidak akan!” Tegas Ken dengan mata memincing marah.


“Coba di sini siapa yang bisa menjelaskan situasi. Sampai-sampai dua orang pengacau ini datang?”


“A-apa?” Tidak bisa berkata-kata dua pengacau itu.


“Kami bukan pengacau kami hanya sedang melaksanakan...auuu.” Mata Bromo membulat ketika bibirnya serasa di tepuk keras menggunakan sebuah map.


“Oh maaf, kau terus bicara omong kosong. Aku tidak senang mendengarnya. Telingaku rasanya risih.” Shera memasang wajah senyum tidak bersalah.


“Berani sekali kau.” Geram Bromo.


“Memang berani.” Sahut Shera dengan dagu terangkat. Si tomboy ini memang tidak kenal takut sama sekali.


“Apa?!” Shera menjulurkan lidahnya meledek.


“Shera berhenti dulu.” Tegur Pak Gino. Pak Gino lalu menatap pada Ken.


“Begini Tuan, mereka berdua ini tiba-tiba saja datang dan memaksa kami keluar dari ruko milik Bu aya.”


“Kami melakukannya karena memang harus!”


“Berhenti menyela sialan!” Kali ini Shera menepuk kepala si plontos. Riyan hanya bisa menghembus nafas kasar.


Meski geram dua Debt Collector itu tidak berdaya karena sudah dilumpuhkan.


“Ken sudahlah semua ini biar aku saja yang mengurusnya. Pak tidak perlu menjelaskan lebih lanjut.”


“Tapi Bu...”

__ADS_1


“Jelaskan secara rinci semuanya.”


“Ken...”


Tatapan Ken yang tidak mau dibantah segera membuat Ayana bungkam.


“Aku yang akan mengurusnya oke.” Uajatnya dengan nada rendah. Yang pastinya meluluhkan Ayana. Sebenarnya Ayana hanya tidak ingin semua nya memakai rumit. Ken dia tau laki-laki tidak akan mengurusnya dengan cara biasa saja.


Pak Gino berdehem karena sempat begitu hayut melihat Ken dan Ayana.


“Ehm, begini tuan. Mereka datang secara tiba-tiba dan mengatakan bahwa ruko ini dijadikan sebagai jaminan oleh pak Bowo. Jaminan dari hutang yang dipinjam.”


“Siapa Pak Bowo itu?”


“Dia...”


Ayana terdiam. Dia enggan sekali mengakui laki-laki itu. Bibirnya serasa tidak rela menyebut nama Ayah untuk laki-laki itu.


Ayana memilih menudukkan kepalanya.


“Pak Bowo itu ayah dari Bu Aya tuan.” Mira memberikan jawaban.


Ken memandangi Ayana yang terlihat tidak senang ketika kata ayah disebut oleh Mira. Meski begitu Ayana enggan untuk buka suara.


Nada lirih Ayana rasanya membuat semua orang merasa kasihan. Ayana mendapat rasa sakit dari orang terdekatnya sendiri.


“Jangan menangis.” Seru Ken, nadanya melemah sekali. Dia tidak pernah berusaha selembut ini kecuali pada sang mommy Angel. Namun kali ini hatinya serasa dibuat melembut karena melihat kerapuhan Ayana.


Mata Ken lalu beralih pada dua Debt Collector tadi.


Sekarang dia paham dengan situasi. Kekacauan ini terjadi karena ruko milik wyaan dijadikan sebagai jaminan.


Dua orang di depannya itu adalah Debt Collector yang menagih dengan cara kekerasan. Pinjaman juga bukan Ayana yang melakukannya.


“Dasar orang-orang bodoh.”Decihnya seakan ingin sekali meludahi dua orang itu. Hatinya geram bukan main.


Mereka semua terpelongo ketika Ken bersuara dan tidak disaring apalagi tatapannya memang tertuju pada dua orang debt Collector itu.


“A-apa?”


Si Bromo yang berkelas plontos nyaris tidak bisa berbicara karena syok.


“D-A-S-A-R ORANG-ORANG BODOH!” Ulang Ken dengan tatapan tajam.

__ADS_1


“Dengar...Kalian sepertinya tidak paham menjadi seorang debt Collector. Di sini kalian hanya mendapat kuasa untuk menangih hutang dan tidak boleh menyita barang-barang secara paksa. Apalagi! Menyita paksa Ruko ini. Penyitaan barang hanya bisa dilakukan atas dasar putusan pengadilan!”


Mereka semua melihat Ken. Ucapan Ken menjadikan pegangan mereka. Tatapan tajam dan amarah segera dilayangkan oleh Shera, Pak Gino, Riyan dan Mira.


Sedang Ayana dari tempat duduknya menatap punggung Ken.


“Nah melihat situasi sekarang, kalian sepertinya memang berniat ingin melangkahi kuasa pengadilan sekarang!”


Suryo dan Bromo terdiam. Mereka meneguk salivanya secara keras. Laki-laki di depan mereka ini berwibawa dan mengancam dengan kecerdasan dan pengetahuan luasnya. Mereka sudah tertekan sekarang.


Berbicara dengan orang yang paham ilmu, dan bukan hanya teori saja sulit untuk ditekan. Bagaimana ini? Laki-laki ini cerdas tidak main tangan namun sudah membuat mereka serasa ketar ketir.


Tadi juga berbicara menunggu pengacara.


Sialan! Datang dari mana laki-laki ini padahal tadi mereka sudah berhasil ingin menguasai ruko.


Ken lalu mengamati situasi yang sudah sangat kacau balau.


“Kerusakan properti, melakukan kekerasan, dan pengambil Alihan ruko tanpa ijin.” Ken memperhitungkan satu persatu poin yang bisa menjerat dua orang itu.


“Akan saya gunakan itu untuk menuntut kalian di Pengadilan! Dan kalian berdua, saya pastikan akan terjerat dan tidak mendapat pembelaan.”


“Kami tidak takut! Jangan coba-coba mengancam!” Si plontos itu tampaknya masih belum merasa tersudut sekali.


Bibir Ken menyeringai.


Pak Gino dari sini serasa mengenali Ken. Tapi Dimana?


Rasanya dia pernah melihat laki-laki itu. Familiar sekali wajahnya.


Tangan Ken sekarang terlihat menekan layar ponsel, matanya menatap lurus-lurus pada Bromo dan Suryo seperti berkata coba saja kalian tidak akan bisa lari setelah ini.


Dan mereka terlambat sadar bahwa mereka sudah masuk dalam masalah besar dan terjebak oleh pria berkuasa dengan banyak koneksi itu.


“Lex! Bergerak lebih cepat! Kenapa kau lamban sekali! Bawa kuasa hukum kita ke hadapanku sekarang!”


Ken tidak main-main. Bromo dan Suryo membekalkan mata karena gelisah.


Ken masih menjadi sorotan ditengah keterdiaman mereka.


“Datang ke kantor Ayana, 15 menit dari sekarang! Ada tikus-tikus yang harus kalian bereskan di sini.” Ujarnya lalu menutup telpon. Kata-katanya kejam sekali.


“Ka-kami hanya menjalankan perintah. Tapi mereka yang terus melawan. Karena itu lah kami jadi mengacau begini.” Si laki-laki berkepala plontos sudah takut. Yang dihadapinya orang yang ahli dan tidak awam. Bisa jadi setelah ini mereka akan masuk ke penjara. Maka dari itu ia ingin melimpahkan kesalahan pada bossnya.

__ADS_1


“Tenang saja, kalian tidak perlu melimpahkan kesalahan. Karena kalian semua akan masuk dalam daftar tuntutan.”


__ADS_2