
Ayana benar-benar tidak tau apa yang terjadi setelah tubuhnya goyah dan ditelan kegelapan. Rasanya matanya berkunang-kunang tubuhnya goyah.
Yang terakhir dia rasakan dan sadari adalah. Ken segera memeluknya, tangan lelaki itu juga berusaha menepuk pelan pipinya.
“Ayana! Ayana! Ada apa? Sadarlah!” teriakan Ken menjadi hal yang terakhir ia dengar. Betapa lelaki itu terdengar mencemaskannya.
Penciumannya sekarang dipenuhi aroma minyak kayu putih. Gerakan mengelus kening dan juga kecupan di tangan ia sadari. Belum lagi desau suara kipas angin yang mengarah padanya.
“Kenapa dia tidak membuka matanya? Ini sudah lima belas menit.”
Ayana kenal suara itu. Itu suara Ken sangat dengan sekali dengan Indra pendengarannya.
“Dia akan sadar Ken sebentar lagi.”
Suara itu bersahutan. Yang satu terdengar cemas. Yang satu terdengar berusaha memberi pengertian namun dengan nada geram. Mungkin lontaran tanya itu sudah berkali-kali terucap.
Di ruangan itu hanya ada Nara, Ken dan Ayana. Yang lain ada diluar ruangan. Karena Ayana perlu diberi ruang agar bisa menyadarkan diri. Para karyawan Ayana, Pak Gino, Riyan, Shera, dan Mira semuanya hanya bisa menunggu.
__ADS_1
Nara memutar bola matanya melihat tingkah Ken. Bukan karena dia kekurangan empati terhadap Ayana. Tapi itu karena dia merasa Ken menjadi bodoh ditengah kecemasannya.
“Ck, ck pikiran rasional mu itu Ken di gunakan. Semuanya perlu proses. Tidak mungkin setelah kita berusaha membuat Ayana sadar, semuanya perlu...”
“Sudah sadar? Mau minum? Apa merasa baikan? Apa kepalamu pusing?”
Ayana sudah sadar, dan Ken membombardir Ayana dengan banyak pertanyaan. Nara terbungkam sudah, tidak melanjutkan cercaannya terhadap Ken.
“Minum saja ini dulu.”
Hatinya tiba-tiba terpukul. Dia mencebikkan bibirnya. Matanya mulai berkaca-kaca.
“Itu bukan mimpi? Semuanya nyata Ken? Ibuku? Ibuku benar-benar sudah tiada benarkah?”
Ken menarik nafas dalam-dalam. Melalui ekor matanya dia meminta kakaknya itu keluar dari ruangan. Karena mengerti situasi Nara pun keluar dari ruangan memberi ruang bagi dua orang itu.
Ken menangkup pipi Ayana. Mengusap butir air mata yang mulai jatuh. Itu butir air mata kesedihan.
__ADS_1
“Kamu tau katanya setelah badai, datanglah ketenangan. Mungkin situasi ini menjadi badai dalam kehidupanmu. Mengguncang, dan membuatmu terpukul. Tapi ingat sayang, di masa depan masih akan ada banyak hal yang menanti. Impian, pencapaian dan juga harapan.”
Ayana terbungkam menatap manik mata Ken.
“Jangan buat pandanganmu terhadap masa depan menjadi berkabut. Jangan berpikir begitu sayang.”
“Aku akan menjadi orang yang akan selalu ada di sisimu. Menemani, mendukung.”
Ayana terisak dia lalu memeluk Ken. Dia tersentuh oleh setiap bait kata dari pria di depannya ini. Itu sudah pasti bukan kata-kata yang bermaksud puitis. Ken memang ingin memberi dukungan dan juga pengertian padanya.
“Ken, terima kasih menemani dan terus berada di sisiku.”
Ken tersenyum, mengusap rambut Ayana. Merengkuh tubuh mungil itu dalam pelukannya.
“Aku berjanji sayang akan selalu ada di dekatmu. Tolong jangan berlarut dalam kesedihan.”
Karena aku... rasanya tidak sanggup melihat raut wajah terpukulmu setiap saat. Aku juga ikut kesakitan dalam setiap tangis mu.
__ADS_1