Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
CH 114- Gaun pengantin


__ADS_3

   Persiapan pernikahan mulai dilakukan. Sesuai perundingan lokasi pernikahan akan diadakan di sebuah hotel milik keluarga Prasetyo. Untuk bagian propeerti dan juga makanan yang diperuntukan untuk tamu, mereka menyerahkannya kepada WO. 


   Beberapa hari lalu Angel pergi menghabiskan waktu bersama Vina dan Dina. Kabar gembira mengenai akan digelarnya pernikahan sang sahabat. Mendapat tanggapan yang begitu antusias. Vina merasa bahagia sahabatnya sudah mau menikah. Padahal dulu ia pernah berpikir hubungan yang terjalin antara dua insan yang berbeda kesenjangan tidak akan berhasil. Namun sekarang sahabatnya itu membuktikan. Bahwa itu hanya pikiran dangkalnya saja. 


Undangan pertama telah diberikan kepada kedua sahabatnya. 


***


   Bibir Hans tak hentinya menghujani permukaan tangan Angel dengan ciuman lembut.


“Sudah Hans, malu dilihat orang.” Angel berusaha menarik tangannya yang sedari tadi digenggam oleh Kedua tangan Hans dan dikecup berulang kali. 


Saat ini kedua insan yang hendak mengikat hubungan mereka ke jenjang yang lebih sakral itu, sedang menuju tempat fitting baju pengantin.


Hans menyahuti santai.


“Memangnya kenapa? Ini tangan calon istriku sendiri.” Pipi Angel menyembulkan rona merah, calon istri? Hatinya terasa berbunga ketika mendengar sebutan itu. Akhir-akhir ini ia terus mendengar sebutan baru untuknya yaitu calon istri. Ketika mendengar sebutan itu terus saja ia mendapatkan semulanya rona malu.


“Tapi kan malu.” Bisik Angel pelan. Hans mengulum senyum melihat rona malu-malu yang menyembul di wajah sang calon istri. 


“Baiklah.” Hans melepaskan jari tangan mereka yang saling menyatu erat sedari tadi. Angel melepas nafas lega, namun hanya sepersekian detik matanya dibuat membulat oleh kelakuan Hans. 


“Hans!” Sentak Angel.


“Kenapa? kalau begini bolehkan?” Hans menyeringai kemenangan. Sekarang posisi yang Hans perlihatkan semakin menjadi sorotan daripada,  saat tadi tangannya dihujani dengan kecupan-kecupan. Saat ini kedua tangan Hans melingkar sempurna di area pinggang Angel, hingga tubuh mereka saling menghimpit. Lebih parahnya sekarang kening yang menjadi incaran bibir seksi itu.


Aku memang tidak bisa melawannya. Wajahmu yang tampan sudah menjadi sorotan, kelakuan mu ini semakin membuat kita menjadi sorotan Hans.


Batin Angel.


Begini lebih baik, aku ingin mencolok mata laki-laki yang melirikmu sedari tadi!

__ADS_1


Batin Hans.


***


“Selamat datang tuan Hans prasetyo.” Sambutan hangat dari seorang wanita yang tampaknya merupakan pemilik tempat yang dipenuhi dengan berbagai gaun pengantin. Sesaat setelah masuk saja Angel dapat melihat berbagai macam gaun pengantin dengan model yang berbeda. 


“Kenapa modelnya terbuka begini?! Apa tidak ada yang tertutup.” 


Mata Angel yang semula mengagumi setiap gaun pengantin sekarang mulai menyurut dengan sikap Hans. Baru sampai Hans sudah berkomentar. Padahal kan disini Angel yang mau memilih gaun.


“Ini terlalu pendek, Aku tidak suka. Kaki mulus Angelku tidak boleh terekspos barang seincipun.” Hans sudah mengoceh melihat model-model gaun pengantin yang ada di depannya. 


Yang seharusnya memilih gaun pengantin malah sedang duduk diam, sembari dilayani oleh pekerja. 


“ Akan kami perlihatkan model yang lebih sesuai dengan keinginan Anda tuan. Ini hanya sebagian dari gaun pengantin yang kami miliki. ” Sunggingan senyum ramah berusaha tetap di Lesatkan si pemilik toko gaun pengantin. Jika saja si pelanggan ini tidak memiliki kekuasaan yang tinggi mungkin si pemilik toko sudah mengamuk dan menyuruh pergi.


Tapi apalah daya jika dihadapkan dengan sosok berkuasa yang memiliki banyak uang. Bahkan mungkin saja laki-laki didepannya ini membeli sebuah toko karena terlalu malas untuk membayar. Jadi tokonya yang dibayar semua barang akan diambil sesuai keinginan.


“Ya perlihatkan semuanya, yang kulihat saat ini tidak ada yang sesuai dengan kriteriaku.” Seru Hans tegas, kemudian menghampiri Angelnya yang sedang duduk dengan nyaman. 


Sungguh para pelayan toko juga merasa aneh, baru kali ini mereka mendapatkan pembeli gaun pengantin, yang memilih gaun pengantinnya malah si pria. Bukan si wanita. 


Memang sih dari pada terlihat cerewet, malah suara Hans yang terdengar terus menilai dan menilai begitu menggetarkan, pikir mereka. Wajah laki-laki ini sangat rupawan, sampai-sampai mereka merasa tidak keberatan harus berlama-lama mendengar, dan melihat raut wajah kekesalan yang semakin menawan di setiap detiknya.


“Ini tuan gaun pengantin Andalan kami.” 


Suara si pemilik toko mengusik Hans yang sedang mengusili Angel. Mata si calon istri seketika terpukau dengan gaun pengantin yang begitu indah. Kaki Angel melangkah dengan ringan menuju gaun pengantin yang baru saja diperlihatkan.


“I-ini sangat indah.” Pujinya, jari tangannya dengan perlahan menyentuh bagian-bagian gaun pengantin. 


“Kau suka?” 

__ADS_1


Mendapat pertanyaan yang jawabannya sangat pasti itu membuat Angel menanggapi kepala kuat dengan polosnya. 


“Iya aku menyukainya Hans.” 


Binar mata dan senyum yang melukis di bibir sang calon istri menekan kehendak Hans yang ingin mencari gaun pengantin yang lain. Saat itu ia baru tersadar arti sebuah gaun pengantin bagi seorang wanita. Ia hampir saja menghancurkan mood calon istrinya yang harus memakai gaun pengantin sesuai dengan kehendaknya. Memang harusnya begini si pemakai yang sejatinya memilih dan menilai. Apalagi ini adalah gaun pengantin yang akan dipakai sekali seumur hidup.


“Baiklah, sekarang kau harus mencobanya.” Ucap Hans dengan lembut. Angel tampak terheran.


“Eh memangnya harus dicoba?” Tatapan mata polos yang membuat ia jatuh cinta sejak awal, membuat Hans tergelak lepas.


“Tentu saja sayang, aku ingin melihat calon istriku memakai gaun pengantin saat ini juga.” Suara berat Hans, membuat sembulan rona merah semakin menjadi di pipi Angel.


Para pelayan toko pengantin terkenal tadi mulai membantu Angel memakai gaun pengantin. Rambut Angel yang tadinya digelung asal sekarang dibiarkan tergerai hingga menutupi bagian bahu.


Sang calon pengantin pria sedang menunggu, ia seakan sedang menebak keindahan sang calon istri di balik tirai. Matanya terus tertuju ke arah tirai yang tertutup sesaat setelah Angel masuk. Ia mengigit jari tangganya.


Dadanya seakan dibuat meledak, bola matanya membulat lebar, dengan tangan yang lunglai karena begitu terkagum dengan tampilan sang calon istri. Tanpa polesan make up dengan rambut tergerai Angelnya sudah tampak begitu cantik. Apalagi saat hari pernikahan mereka nanti. Oh sial ia tidak rela kecantikan Angelnya harus dinikmati semua tamu. Haruskah ia mengeliminasi para tamu undangan pernikahan lagi? Ia bahkan tidak mengundang para pejabat tinggi hanya para keluarga dan teman terdekat yang diundang. 


“Hans! Hans! bagaimana? Apa ini terlihat bagus?”


Hans memasang wajah kesal, apalagi saat tadi Angel membenarkan tatan rambut yang tergerai bagian atas dan leher jenjang Angelnya terlihat begitu indah!


Sial pikirannya mulai mau meledak! Angelnya begitu cantik! Dan ia tidak mau Kecantikan Angelnya dinikmati orang lain!! Entah bagaimana acara pernikahan pria narsis, yang begitu posesif ini. Mungkin laki-laki ini akan sangat sibuk memelototi mata-mata yang singgah ke Angelnya.


~


~


Bentar lagi pernikahan mereka akan berlangsung. Semua pembaca diundang untuk menghadiri pernikahan halu antara dua insan halu yang sudah begitu dalam jatuh cinta.


Nah untuk yang kemarin minta undangan malam pertama? mau ngapain itu🤣🤦🤦

__ADS_1


Happy reading


~Tyatyut


__ADS_2