Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
CH 130- Pamer Seorang Hans Prasetyo


__ADS_3

Usia kandungan Angel memasuki bulan ke 2. Hans selalu memperhatikan istrinya. Setiap malam memijit kaki sang istri yang tampak sudah sedikit membengkak. Semua hal ia perhatikan.


“Sayang, apa ada yang diinginkan lagi?” Angel banyak kemauannya, lihatlah meja di depan sofa sudah penuh dengan piring.


Tawaran Hans ditanggapi dengan gelengan.


“Cukup, sayang perutku sudah penuh rasanya.” Bersandar pada sofa.


Hal itu membawa senyum merekah di bibir Hans. “Kenapa kau makin cantik sih. Padahal sedang hamil.” Tiba-tiba suara Hans yang tampak kesal membuat Angel menoleh lekas.


“Wanita hamil mana ada yang cantik, sayang. Wajah tembem gini.” Memajukan wajahnya.


“Apanya yang tidak cantik, malah semakin cantik dan bertambah sexy menurutku.” Lagi-lagi tercengang.


“Kapan sih lahirannya, aku jadi cemas kalau kau semakin cantik begini.” Menunjukkan raut wajah kesal.


“Nanti kalau makin banyak laki-laki yang menggodamu gimana.” Membatin kesal.


“Sayang jangan berlebihan, coba lihat itu.” Menunjuk Televisi menampilkan seorang wanita yang sedang meningklankan Krim kecantikan.


Hanya satu detik dilihat langsung menatap istrinya. “Yang seperti itu disebut cantik. Aku yang gemuk begini mana ada cantiknya.” Jelas Angel singkat.


“Kau ini aneh sekali, Mana ada wanita hamil semakin cantik. ”


“Cih, wanita tadi satu persen dari kecantikanmu pun tidak ada.” Mencium dahi istrinya lama. Hah?! Angel sungguh dibuat tercengang dan tak bisa berkata-kata.


“Sudah sini.” Mengangkat tubuh istrinya.


“Tambah berat ya.” Terkekeh geli, hal itu mendapat cebikan bibir dari Angel.


“Cih tadi bilangnya cantik sekarang malah bilang Aku tambah berat!” Protes langsung minta diturunkan.


“Sudah jangan banyak gerak. Tambah berat kan hal yang wajar karena kau sedang hamil. Kalau berat badanmu tidak bertambah itu yang tidak wajar.” Mencium istrinya dengan gemas. Sudah dipeluk di atas ranjang.


“Sini biar kupijat.” Duduk dan mulai memijit pelan betis istrinya.


“Selalu saja perhatian begini.” Batin Angel bersemu senang. Memang Hans selalu setiap malam memijit pelipisnya.


“Terima kasih ya sayang.” Senyum lebar.


“Bayar dong.” Seru Hans, Istrinya segera menatap.


“Mana ada aku uang sayang. Kan uang yang ada semua milikmu.” Menjawab polos.


Hal itu membuat Hans memejamkan mata sejenak.


“Siapa yang meminta uang.” Menukas kesal, polos sekali istrinya ini.


“Lho, tadi bilangnya minta bayar.” Sahut lagi.


“Bayaran... yang kuminta ini...” Tersenyum nakal dengan memainkan kancing baju Angel.


Sontak saja kode Hans, membuat Angel berpikir cara melarikan diri.


“Hoamm ... Aku mengantuk sayang.” Memejamkan mata segera. Takut jika Hans benar mewujudkan ucapan tadi. inilah cara yang terpikirkannya.


“Benar-benar tidak ada habisnya membuatku lelah. Kenapa tidak bisa beristirahat sih. Ya begini... kalau baik pasti ada maunya cih... dasar suami siapa sih ini.”


Angel yang pura-pura tidur membuat Hans tergelak lepas.


“Hah, kenapa dia malah tertawa.” Menilik sedikit.


“Angel, ” Suara menahan geli terdengar jelas. “Mau menipu yang benar dong. Katanya mengantuk kenapa matamu terbuka sebelah.”


“Haishhh.” Langsung buka mata. Rupanya ketahuan.


“Pfttt, lucu sekali sih. Menggemaskan cup ... cup ... cup ... Dimana lagi coba bisa dapat istri semenggemakan ini.” Mengukung tubuh Angel.


“Kau mengejekku kan?” Cemberut.


“Siapa suruh akting tidur. Kalau jadi aktris pasti kau tidak akan laku. Aktingku jelek sekali.” Malu sudah dikatai dengan gelak tawa dari suaminya.

__ADS_1


“Cih siapa juga yang mau jadi artis. Nanti kau cemburu kalau aku akting ciuman dengan laki-laki lain.” Mau memanas-manasi, dan hal itu membuat tawa Hans surut.


“Coba saja kalau bibir ini berciuman dengan laki-laki lain. ” Menyentuh bibir istrinya.


“Akan kubuat laki-laki itu hidup di dalam tempat terpelosok. Dan tidak bisa menjadi seorang aktor lagi!”


Melihat tatapan tajam suaminya Angel menjadi gelagapan.“ K- kan cuma bercanda sayang. Siapa sih yang bisa kucium selain kamu...Cup...cup...cup...cup...” Mencium.


“Kau pikir ini cukup.” Ucap Hans masih dengan nada yang tak melunak.


“Iya, iya sini.” Cium-cium, banyak sekali.


Muachhhh


“Kok, jadi begini ya. Kan kau juga yang salah. Cih memanfaatkan keadaan saja.”


“Sudah kan sayang.” Senyum manis agar luluh.


Tatapan mata saling terkunci.


“Mana cukup, aku masih bisa membayangkan kau berciuman dengan laki-laki lain. Cium aku sampai aku puas.” Langsung saja Angel melotot.


“Dari mana dia bisa membayangkan. Aku bahkan tidak mengespresikan gerak tubuh, hanya ucapan tapi dia bisa membayangkan. Berlebihan sekali !”


“Kenapa tidak mau?” Sudah menyipitkan mata.


“Siapa yang tidak mau sayang, sini sini.” Mencium dengan memasang senyum secerah mentari.


Hans merasa puas, kapan lagi istrinya membubuhi ciuman sebanyak ini.


“Eh.” Terkejut karena Hans tiba-tiba berguling dan membuat tubuhnya dia atas tubuh Hans.


“Buat tanda disini.” Menunjuk garis lehernya.


“Apa!” langsung berteriak keras.


“Kenapa nada suaramu meninggi? Tidak mau iya?”


“Kan tadi sudah sayang” Memasang wajah dongkol.


“Pfttt Haha, lucu sekali. Makanya jangan membuatku mendapat celah kesempatan, begini kan jadinya.” Tertawa di batin namun memasang wajah galak dinyata.


“Jadi tidak mau?”


“Siapa bilang tidak mau aku mau.” Sial aku mengulang kosakata yang sama. Teringat beberapa detik lalu.


“Ya sudah sini.” Hans membuka bajunya. Angel langsung berdecak wah.


“Astaga, sebenarnya seberapa banyak dia berolahraga sampai ototnya terbentuk begini.” Menyentuh spontan perut sang suami.


“Sayang kalau terus menyentuhnya, maka...” melihat wajah sang suami yang tampak memerah Angel segera sadar.


“I-ini sa-salahmu sendiri! Kenapa harus buka baju segala.” Meneguk liur mata masih tertuju ke arah otot Hans.


Hans tergelak lepas ekspresi Angelnya begitu lucu. “Kenapa memangnya, nantinya juga kau tidak akan berpakian juga.” Menarik nakal baju bagian bawah Angel. Segera Angel menahan tangan Hans.


“Aku saja tidak bisa membuat tanda sayang. Mana bisa kita lanjut ke sesi selanjutnya.” Berucap begitu polos lagi.


“Ayo selepas ini kita tidur saja. Kenapa senang sekali sih mengerjaiku.”


“Lihat saja nanti, kalau banyak tanda yang kau bubuhkan akan kupertimbangkan.” Tersenyum.


“Okey, aku pegang ya ucapanya.” Segera mencondong kan diri. Manik mata polos Angel segera menghipnotis Hans.


Hans segera menekan punggung istrinya. Satu kecupan bermula lembut. “Apa benar begini?” Menatap Hans.


“Sayang kenapa kau terpejam,”


Plak


Pupus langsung rasa geli tadi dengan tepukan keras di pipi.

__ADS_1


“Mana ada aku tidur. Kalau kau banyak bicara begini kapan selesainya.” Gusar sudah, padahal menunggu lanjutan dari sapuan lembut malah ditepuk pipinya.


“Oh iya. Makanya jangan tidur.” Lanjut lagi. Sekarang alis Angel bertautan. Mengecup Keras leher Hans. Sampai membuat Hans menengang.


“Apa ada tandanya? Kenapa tidak terlihat. Tuh kan sayang aku tidak pandai.” Mau coba negosiasi. Wahai Angel ketidakpandainmu itulah yang membuat Hans semakin suka.


“Satu saja tidak terbentuk sayang.” Mengelus letak bagian yang berusaha ia beri tanda tadi.


“Bisa gila aku.”


“Kau ini masa tidak belajar. Aku kan sering melakukannya.”


“Ya sudah aku coba lagi.” Mencoba mengingat cara perlakuan Hans.


Sekarang Angel menyesap keras berserta sapuan lembut. Kadang juga menggigit kecil karena mau cepat membuat tanda.


Lenguhan Hans membuat Angel melotot.


“Kenapa kau berharap begitu.” Menutup dada dengan tangan. Hans segera mengumpat dan membalik diri.


“Aku sudah tidak tahan lagi.” Mata Hans menyala gairah segera melesakkan ciuman dalam ke bibir istrinya. Sementara tangannya mulai nakal menelusup ke setiap sisi.


“Tuh kan dia tidak menepati janjinya! Hans kau benar-benar ya !”


***


Esoknya Hans pergi bekerja dengan senyum lebar. Dasi yang sempat dibalutkan dengan pelototan kesal dari istrinya sekarang dilepasnya. Terang-terangan berkaca melihat hasil karya sang istri.


“Haha karena dia menggigit jadi bekasnya terlihat jelas.”


Pak Yanto yang menyupir menjadi salah fokus. Dia pernah muda dan tau betul tanda yang berada di leher tuan mudanya itu. Melihatnya sekilaspun ia merasa malu. Namun tuan mudanya itu malah membuka lebar bagian atas kemeja.


Masuk ke pelantaran perusahaan, sosok Hans yang biasanya terlihat rapi dengan balutan baju kerja lengkap sekarang menarik perhatian.


Dari jarak yang cukup dekat ini mereka dapat melihat jelas tanda Cu*pang di leher sang CEO.


“Astaga! Sekretaris Angel tenyata Ganas juga ya.” Komentar salah satu wanita.


“Haha iya. Wah...” Mereka merasa malu sekaligus berdecak. Tidak menyangka juga Sang CEO dengan percaya diri nya menampilkan maha karya sang istri.


“Apa yang kalian lihat, ini karya istriku!” Malah menyombongkan di dalam benak, sudah tersenyum kecil.


Dina yang sedang meminum kopi pun dibuat mengucurkan kembali air kopi ke dalam gelasnya.


Vina hanya bisa terdiam kaku.


“Itu bener temen kita yang lakuin, Vin?” Bertanya masih dengan raut wajah tercengang.


“Pikir aja, kalau bukan Angel siapa lagi.” Sahut Vina. Wah wah wah teman mereka sudah menjadi begitu ganas tenyata.


“Sampe ada bekas gigitan gitu, biru bangat.”


Kehebohan terjadi di perusahaan karena ulah Hans. Bahkan di rapatpun banyak yang melirik.


“Huff saya tidak tau apa yang Anda pikirkan pak. Namun jika saya menjadi Anda maka saya akan sangat merasa malu.” Bram hanya bisa membatin.


Sedangkan yang dirumah yang mendapat kabar dari sang sahabat langsung berteriak, muka juga memerah karena malu!


“Hannnsss sebenarnya apa yang kau pikirkan! Kenapa memamerkan hal yang begitu, Kenapa menunjukkannya pada semua orang!” Angel hanya bisa menutup wajah malu, tidak terbayangkan olehnya Bagaimana reaksi orang-orang ? memikirkannya saja semakin merasa kesal, dasar HANSSS!!


.


.


.


Alur dipercepat supaya cepat tamat. Kalian pasti udah pada bosan kan.


Happy reading


~Tyatyut

__ADS_1


__ADS_2