
Ketika Ken baru saja keluar dari dalam mobilnya. Dia sudah terheran ketika matanya menangkap dua buah motor yang melintang tidak beraturan. Matanya segera tertuju ke dalam kantor milik Ayana.
Suara-suara teriakan yang tampak tidak jelas dan juga jeritan membuat langkah Ken segera bergegas.
“Apa yang terjadi?” Dia masih terus berlari hingga kaca tipis yang digunakan sebagai penutup pintu itu segera ia buka.
Sesosok perempuan tampak menangis menghalangi pintu. Ken tidak sempat bertanya ketika matanya beralih ke sudut lain.
Matanya tiba-tiba saja membelalak sempurna.
Disana dia menemukan Ayana! Gadis dengan tubuh mungil itu tampak dijambak rambutnya dan diseret.
“BERANINYA KAU MENYENTUH RAMBUT CALON ISTRIKU!!”
Ken sudah dikuasasi amarah. Dia menerjang tubuh laki-laki kurang ajar itu. Laki-laki yang sudah berani menyentuh rambut Ayana! Ingin sekali juga Ken menghantam bogem mentah dan meremukan wajah laki-laki itu. Namun lebih dulu ia mengusap rambut Ayana.
Amarahnya tidak meredam sedikitpun karena melihat Ayana yang menyembunyikan wajahnya karena menangis. Ken tau Ayana pasti sangat merasa kesakitan.
Tangannya terkepal hingga buku-buku jarinya memutih. Ia berusaha membenarkan kembali rambut Ayana. Gadis itu tampak bergetar ketakutan dan menangis.
“Tenanglah.” Ken berusaha menepuk punggung Ayana. Belum selesai dia menenagkan Ayana amarah tiba-tiba saja kembali dibuat ingin melimpah ruah. Karena suara laki-laki yang sudah berani menjambak rambut memerintahnya.
“Apa yang Anda lakukan! Jangan ikut campur! Pergi sana!”
Mendengar nada perintah itu, Ken segera berbalik dan melayangkan tatapan tajam penuh perhitungan. Urat-urat ditubuhnya tampak mengencang, wajahnya memerah.
“Siapa yang berani-beraninya kau perintah sekarang!” Lagi-lagi suara Ken bagai rauman SINGA!!
Laki-laki berkepala plontos itu memegangi tangannya yang sakit dan termundur satu langkah. Aura Ken benar-benar membuatnya tau bahwa dia sedang berhadapan dengan orang yang salah.
Tubuh Ken sudah terlatih. Dalam Olahraga sehari-harinya Ken dilatih salah satu mantan legendaris dari MMA, yang selalu memenangkan kejuaraan. Jika sekarang dia perlu adu kekuatan maka dia tidak akan takut sama sekali.
“Iya siapa yang mau kalian perintah. Sejak tadi seharusnya kalianlah yang pergi!” Suara itu berasal dari Shera yang sudah berdiri. Gadis itu tampak acak-acakan. Suryo salah atau Debt Collector segera bangun dan mendekati kawannya.
“Iya kalian yang seharusnya pergi. Ruko ini tidak bisa diambil alih dengan paksa. Yang melakukan peminjaman juga bukan Bu Aya.” Pak Gino buka suara. Kembali pasang badan. Sungguh semua orang tampilannya sudah sangat acak-acakan.
Semua mengangguk setuju.
__ADS_1
“Tapi Ruko ini sudah dijadikan jaminan. Jadi keluar kalian semua!!” Teriak Bromo si plostos. Dia berang sekali sekarang. Tubuhnya bersiap akan melakukan perkelahian.
Ken memundurkan tubuhnya. Dia menjaga Ayana agar tetap berada di belakang tubuhnya.
“Perempuan jangan maju! Kau jaga Ayana!”
Ken bisa melihat Bromo sudah mengambil kursi dan akan menyerang dirinya.
“Ken! Jangan Ken, merasa sangat kasar!” Ayana mencegah langkah Ken yang akan maju. Dia masih di serasa rasa takut dan gemetar sekarang. Rambutnya acak-acakan. Dia sudah seperyo dibantai oleh para pria tak berperasaan.
Melihat kondisi Ayana yang tampak takut Ken berusaha memberikan keyakinan.
“HAH, Masih sempat-sempatnya kalian bersikap romantis, setelah ini kalian tidak akan bisa bersikap begitu lagi...”
Setelah itu niat si kepala plontos yang ingin menghantam keras kursi ke arah Ken. Malah tidak membuahkan hasil. Ken menerjangnya hingga dia harus termundur. Reflek tubuh Ken sungguh sigap. Hingga membuat si kepala plontos terpelongo.
“Tutup saja mulutmu itu dan rasakan akibat dari perbuatanmu!” Teriak Ken.
“Hiyaaaaaaaaa” Riyan bersuara keras karena melawan Suryo yang tenaganya tampak bertambah ekstra. Pak Gino ikut pula membatu Riyan. Mereka kepayahan sekali.
Ayana menatap cemas semua orang.
“Lepas! Lepas! Uhukk ohokkk... saya kalah saya kalah...tolong saya tidak bisa bernafas.”
Ken bukannya melepaskan semakin melilit dan memberikan pelajaran.
“Apa kau juga memikirkannya saat tadi menjambak rambut calon istriku bahwa dia kesakitan?!Hah!” Ken yang berkuasa sekarang!
Ayana bisa melihat raut wajah Ken yang setiap detiknya semakin menggelap. Sungguh ini pertama kalinya Ayana melihat sisi Ken. Sisi yang dilihatnya dari Ken selalu sisi Ken yang luar biasa tenang jarang berekspresi. Namun kali ini ketenangan itu tidak ditemukannya sama sekali.
“Apa kau ingin menyerah juga?” Tanya pak Gino pada Suryo dia sudah babak belur. Suryo menangis dan tidak bisa menjawab.
“Ken cukup, kamu akan membuat kepalanya patah nanti.” Ayana masih saja bisa memikirkan laki-laki itu. Bersumpah demi apa pun Ken rasanya ingin sekali membuat hati Ayana keras.
“Ambilkan tali sekarang! Ikat dua orang ini.” Setelah perintah dari Ken itu, Riyan segera bergerak mengambil tali. Di gudang ia menemukan tali.
Ken benar-benar mengikat dua orang itu. Mereka berhimpitan yang duduk di lantai. Pasrah. Dan tidak bisa lagi berkutik.
__ADS_1
“Bu Aya, nggak papa kan Bu? hiks...saya takut Bu aya tadi di tarik tarik rambutnya... Gimana bu.” Mira mendekati Ayana. Gadis paling muda itu cemas sekali. Dia terlalu lemah untuk bisa bertahan seperti yang lain. Dia takut sekali.
“Minggir.” Ken menyela. Dia tidak segan mengangkat dagu Ayana dan memeriksa Ayana. Sudut bagian mata Ayana terlihat terkena cakaran.
“Sialan! Berani sekali kau merusak wajah calon istriku!”
Bromo yang sudah tidak berdaya hanya bisa terjengkit dari tempatnya.
“Ken...ini hanya luka kecil.” Lirih Ayana yang merasa Ken berlebihan. Dia pun tau ada luka di dekat pelipisnya.
Untuk ucapan Ken yang menegaskan kata calon Istri Ayana terus merasa degup jantungnya dibuat berpacu. Dia terlalu bodoh untuk menyimpulkan sesuatu.
Kenapa laki-laki ini terus berkata Bu Aya adalah calon istrinya?
Astaga apa Bu Aya akan menikah dalam waktu dekat? Shera
Ken menggeram raut wajahnya terlihat gusar.
“Kau tolong ambilkan kotak P3K, bawa kemari.” Pintanya pada Shera. Nadanya sekarang terngar cemas.
“Ah, eh iya.” Shera menurut dan berlalu.
“Kau.” Tunjuk Ken pada Mira. “Tolong ambilkan Ayana minuman.” Pintanya dengan nada rendah.
Mira mengangguk dan berlalu.
Lalu pada tatapan lama yang Ken layangkan pada Ayana. Ken tiba-tiba saja sudah memeluk Ayana. Dalam diam tubuh Ayana menegang karena terkejut.
Semua yang melihat pun sama terkejutnya. Ken memeluk Ayana erat-erat sampai hampir meremukann tubuh Ayana.
“Ken.” Ayana mencoba mengusap punggung Ken.
“Aku takut.” Baiknya lirih dan hanya bisa didengar oleh Ayana. Ayana tidak tau bagaimana menyikapi tingkah Ken. Karena itu ia pun memberikan pelukan balasan supaya Ken lebih tenang.
Dia belum bisa mencerna apa yang Ken pikirkan sekarang.
Sedang semua orang berpaling karena merasa malu.
__ADS_1
“Jangan terluka ayana.” Ucap Ken sebelum membenamkan sebuah ciuman di kening Ayana. Rasanya Ayana tidak bisa mengelak aplagi ditambah dengan usapan lembut di kedua sisi kepalanya. Sikap Ken sangat lembut dan terasa asing. Namun menenangkan baginya.