Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
Ch149~ My Husband


__ADS_3

Riak air sebab deburan yang dihasilkan oleh tubuh yang terhempas terlihat jelas. Air dari dalam kolam tersebut terlihat memercik abstark kedaerahan sekitanya. Seluruh tubuh hans tenggelam, lalu ia muncul kepermukaan dengan jari tangan yang menyuarakan kasar rambutnya. Terlihat begitu sangat mempesona hingga menjadi sorotan mata yang tak bisa berbalik.


Hans sedang tertawa senang menikmati air yang meredam tubuhnya yang panas. Memang ini waktu yang sangat pas untuk bermain di dalam kolam melihat cuaca yang begitu terik.


“Ken jangan usil dong.” Hans memperingati Ken yang usil sekali dengan sang putri. Asik sekali mengoyangkan pelampung yang Nara Naiki.


Bibir sang putri sudah mencebik. Padahal Nara lebih tua dari Ken, namun sifat putrinya itu memang manja. Ya wajar saja sih kan masih kecil juga.


“Daddy, Ken nakal Daddy...Nara mau jatoh.” Adunya, lalu menyemburkan Ken air melalui tangannya.


“Nggak Daddy, Ken mau bawa Nara ke tepi.” Kilah Ken dengan wajah jahilnya.


“Bohong! dasar adek jahil.”


Hans menggeleng pelan, kedua anaknya ini kadang-kadang akur kadang-kadang tidak membuatnya pusing.


Satu sisi lain terlihat Angel yang sedang mamandang sang suami dengan ulasan senyum yang begitu lebar. Wajahnya semakin terlihat berseri ketika tersenyum. Pemandangan yang sangat menyejukkan mata terpampang jelas hingga Angel menyelami dalam diam nuansa penuh keceriaan itu.


Susuan kepingan memori di dalam ingatannya terasa tertata dengan sangat apik. Mulai dari awal pertama pertemuan dengan Hans. Langkah besar yang Hans ambil dengan berusaha meluluhkan hatinya. Lalu meminta restu pada ayah. Masa lolongan kesakitan sebab melahirkan kedua anaknya, semuanya tertata dengan rapi. Selalu terpatri dalam ingatan Angel sebagai tahapan kehidupan yang ia jalani.


Titian takdir yang ia jalani dengan suka cita. Mencintai Hans Prastyo adalah sebuah kebanggan sendiri baginya. Baginya Hans adalah sosok yang sangat luar biasa. Sosok suami penyangga istri. Sangat penyayang bahkan ketika beberapa waktu lalu Angel menangis karena menonton sebuah sinetron. Selidik punya sedikit tenyata Chanel yang Angel tonton itu memang Chanel dengan sinetron penuh derita. Hans dengan rasa cinta yang membuatnya tidak ingin sang istri menangis lagi menghapus Chanel tersebut dengan keputusan telak.


Terserahlah pada saat itu Hans mendapat kekesalan Mama karena mama yang suka sekali nonton acara penuh luka pada chanel ikan terbang. Chanel itu pula yang membuat sang istri menangis.


“Mama streaming aja lah di hp, nggak usah ada lagi Chanel ikan terbang dirumah ini nggak boleh.”


“Eh, kamu ya Hans. itu Chanel kesukaan mama...Astaga mama nggak bisa lagi Ratapan hati seorang istri.”


Hah saat itu papa sedang meratapi mama yang begitu terobsesi dengan sinetron.


Hans berdecak.


“Ini nih yang buat Angel nangis. Judulnya aja kayak gitu. Nggak-nggak! nggak boleh lagi mama nonton begituan nanti Angel nangis lagi karena nonton itu. Pokonya Mama streaming aja.” Keputusan telak dari Hans.


Dasar rasa cinta Hans semakin melingkupi angel, semakin membubung tinggi.


“Daddy tau nggak apa bahasa mandarinnya lantai basah?” Ken sedang mengajukan tebakan pada sang Daddy sementara tangannya sibuk mengambil buah semangka yang tampak mengunggah.


Hans mengeryitkan kening lalu menjawab santai dengan sangat tepat.“Dìmiàn shī huá” Sebutan Hans dengan pelafalan mandarin sekali.

__ADS_1


“Eemm...Salah Daddy.” Tangan Ken mengandung pertanda salah besar.


“Salah dari mananya bener itu.” Protes Hans membawa Nara ketepian untuk mendekati sajian makanan yang baru saja dibawa olah para pelayan.


“Salah! Bahasa mandarinnya lantai basah itu...”


Keinginan Hans mengkerut menunggu jawab sang putra.


“Lhi-Chin.” Gelak tawa mengakhiri jawaban Ken terdengar sangat renyah. Hans menepuk dahinya lalu mendengus.


“Dasar ya plesetan kata kamu itu ya Ken, ck ck.” Hans berdecak mengangkat tubuh sang putra untuk masuk dalam kolam renang.


“Haha, bener kata Oma Daddy kalo dikasih tebakan nggak bakal bisa jawab.” Putra kecilnya itu berujar masih dengan gelak puas.


“Mana Daddy tau kalau yang kamu ajukan itu tebakan, Ken. Kamu aja sering adu argumen sama daddy.”


“Makanya dad jadi kayak Ken dong. Cerdas tapi juga bisa tebak-tebakan. Seru loh...”


Hans berdecak, memang Ken adalah duplikat dirinya sendiri. Kesombongan yang tidak bisa dibantah sama sekali.


“Lagi ngomong apa sih seru banget.” Angel mendekat membawa nampan yang berisi nasi goreng seperti keinginan sang putri.


“Sini mom sini...”


“Sabar nara.” Hans mengangkat tubuh putrinya itu agar naik ketepian. Nara lelah berlalu menuju meja tempat Angel meletakkan nasi goreng.


“Segitunya.” Ken berdecih memasukan satu semangka kedalam mulutnya. Nara melas menanggapi adik kurang ajarnya itu.


“Makan yang pelan sayang.” Angel mengelus lembut rambut sang putri.


“Enak mom.” Sahut Nara dengan mata sipit serta mulut penuh suapan nasi goreng seafood tadi.


“Kenapa kamu yang bawa sayang? Apa tidak ada pelayan?” Hans naik ke atas tubuhnya yang memang basah mengepak hingga terlihat semakin seksi. Rambutnya di sifatnya secara kasar.


“Ada syang. Tapi aku emang yang mau bawa sayang, lagian bawaannya juga nggak berat cuma satu nampan aja.” Angel segera menyahut lekas, tau bahwa Hans tidak suka dengan sang istri yang melakukan kegiatan seperti pelayan.


Ku rasa di masa tua aku tubuhku akan kaku karena selalu dilarang melakukan kegiatan berat.


Hans berdecak mengambil handuk yang disodorkan sang istri dan segera mengambil posisi duduk di samping sang istri sembari memeluknya erat.

__ADS_1


“Sayang!” Angel memukul tangan Hans yang nakal karena jatuh pada tempat favoritnya tadi. Semakin kesini tingkah laku Hans semakin tak terkendali sekali.


Hans tergelak menciumi istrinya itu dengan begitu gemas membuat Angel harus menajamkan mata karena ciuman bertubi-tubi di setiap inci area wajahnya.


“Sudah sayang.” Suka sekali sih menciumiku. Kenapa tidak ada habisnya.


“Kenapa aku tidak suka?”


Angel memasang senyum ringisan wajah agan akan merajuk sekarang. Cih lilahtlah tingkah memang begini manja sekali.


“Terntu saja suka dong. Maksudnya gantian.” Angel menciumi Hans dengan sangat lembut dan perlahan, dari kening —, turun pada bagian kelopak mata, sangat perlahan. Begitu lembut dan tenang, juga perlahan membuat sudut bibir Hans mengembang sempurna. Istri kejutnya ini saat mencium memasang sangat lembut. Berbeda dengannya yang selalu menggebu-gebu.


Mata Hans terbuka melihat senyum ayu dari manik mata jernih milik sang istri.


“Astaga,aku tidak tahan lagi sayang .”


Angel mengerut tidak paham, namun dirinya tiba-tiba memekik keras.


“Akkkkhhh.” Hans membawanya tubuhnya masuk ke dalam kolam.


Angel memukul bahu Hans keras. Hans malah tertawa membawa kaki sang istri tetap melingkar di tubuhnya.


Sementara dari kaca mata Ken, ia mengambil gambar kedua orang taunya itu dengan kamera yang tidak lepas dari dirinya. Sungguh gambar yang terlihat memang diambil dengan sangat baik, juga gambaran nuansa kebahagiaan yang segera tertangkap bagi siapa saja yang melihatnya.


“Aku mencintaimu, my Angel.” Bisik Hans. Angel mengulas senyum mendekatkan bibirku mereka hingga hidung mereka saling bersentuhan.


“Aku juga... My husband.”


.


.


.


Duh lama dah nggak up ya, komen yang banyak yukkkkkkkkkkkkkk


Jangan lupa vote


Like...

__ADS_1


__ADS_2