Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
Ch 147~ Berdamai


__ADS_3

Angel menggelung selimut lebih dalam.


“Sayang kenapa malah kembali bergelung. ayo cepat kita harus makan.” Hans berusaha menarik paksa selimut yang menutupi Angel.


Angel pun semakin erat mendekap selimut tadi.


“Aku tidak mau makan. Aku terlalu malu untuk turun ke bawah.” Angel menjawab dengan ketus.


Ini salahmu, jika saja kamu tidak melakukannya di sana. Maka pakaian kita tidak akan berserakan di ruang tengah. Hah jika saja aku tidak menyambut ulahnya pasti pakaian itu juga tidak akan ada di sana...Jika saja...Hah sudah tidak ada kata jika semuanya sudah melihat itu.


Angel lesu, malu sekali. Hans berdecak lalu naik ke atas ranjang, meraup seluruh selimut bersamaan dengan yang bergelung di sana.


“Hans!” Angel melotot begitu terkejut. Bagaimana tidak tubuhnya diangkat Hans dengan begitu santai.


“Kita harus makan sekarang. Kalau menunggu rasa malumu menghilang mungkin beberapa abad lagi baru hilang. Karena pastinya setiap kau mengingat hal ini akan selalu membuatmu malu.” Tangan Angel dengan spontan melingkar di leher Hans. Ya benar ini kejadian yang akan selalu Angel ingat dalam hidupnya. Sayang sekali kejadian ini akan membekas dalam jangka waktu yang lama.


“Ya sudah! sekarang aku masih malu, tunggu nanti kalau aku sudah tidak malu saja baru makan.” Sahut Angel tak kalah dengan Hans.


“Kalau kamu tidak makan, maka aku tidak akan makan juga. Toh lebih baik seperti malam tadi, lebih baik aku...Me...makannnnn...” Pandangan Hans sudah menunjukan pasti bahwa lebih baik ia menyantap Angel. Hal itu membuat Angel membulatkan mata penuh. Bibirnya tebuka.


“Turunkan aku, aku akan makan sekarang.” Langsung begerak cepat. Hans tegelak. Membuat Angel jengkel.


“Kenapa tadi katanya tidak mau makan.”


“Ck, sekarang aku berubah pikiran aku mau makan.” Dari pada aku kau makan, membuat tubuhku lelah saja.


“Tapi aku sekarang juga berubah pikiran hanya ingin memakannmu.” Wajah Angel memerah. Eskpresi reaksi yang selalu Hans sukai.


“Hans!!” Angel langsung turun memberontak kuat. Hans hilang keseimbangan hingga mereka jatuh di atas tempat tidur. Angel segera menggulingkan tubuh berlekas menuju pintu. Takut jika Hans malah menyantap dirinya. Malam tadi saja ia sampai kewalahan menghadapi Hans yang sulit berhenti. Kalau sepagi ini harus melayani Hans rasanya Angel ingin pingsan saja.


“Ayo makan.” Wajah Angel terlihat garang bercampur dengan mata yang memelototi. Hans tergelak, padahal tadi hanya menggoda Angel saja. Tapi tentu saja reaksi istrinya itu selalu membuatnya gemas dan tetawa.


Hans membenarkan rambut Angel yang teracak tadi.


“Baiklah ayo.” Membawa tangan sang istri dalam genggaman. Langkah demi langkah membuat Angel semakin memelankan jalannya. Saat mereka ada di dekat tangga, baru hendak turun semua mata sudah menoleh.


Hah kenapa pandangan mereka seperti melihat artis saja. Ah mungkin saja kami sudah jadi artis toh pasti cerita pakaian yang tercecer sudah terdengar ke seluruh villa. Artis dadakan?... Hah aku malu sekali.


Angel memilih berjalan di belakang Hans mengekori Hans memegang pinggiran baju Hans.


Melihat kehadiran Hans Mama sudah berkacak pinggang sudah mau menceramahi jangan sampai ada lagi kejadian baju berceceran di waktu lain.

__ADS_1


“Kamu ini ya Hans, kalau...”


“Mah.”


Belum sempat Mama Rina menyelesaikannya papa sudah menyela. Mama Rina mendengus.


“Tolong jangan dibahas lagi sudah cukup tadi.”Papa Fadli bicara dengan tenang, namun efek untuk Mama langsung menurut memilih menyedokkan nasi untuk sang suami.


Papa Fadli tersenyum.


“Mama juga makan. Hans kenapa masih berdiri ayo duduk.” Hans mengangguk dan membawa Angel duduk.


Wajah Hans tidak terlihat rasa malu sekali. Berapa kali pun Bram melihatnya hal itu tidak ada meskipun pakai kaca pembesar tidak ada.


Hah aku melihat dua wajah yang sangat berbeda sekali. Yang satu terlihat sekali sangat malu, yang satu malah sangat datar tidak berekspresi. Bram


Aku sudah menduga reaksi kakak akan seperti ini. Begitu santai. Hana


“Ayo makan sayang.” Hans tersenyum lebar menyendokan nasi untuk Angel.


“Terima kasih, sayang.” Angel mengulas senyum yang di balas Hans dengan kecupan di kening. Hans memang selalu begini mengungkapkan rasa sayang melalui tindakan-tindakan yang nyata.


Ayah Yoto, Ibu, Ken dan Nara tidak terlihat di meja makan. Tadi Papa Fadli menyebutkan sedang bermain di belakang villa, katanya ada tanaman bunga matahari. Papa Fadli sempet memejamkan bahwa kedua cucu mereka itu sangat antusias ingin melihat jadi ayah dan ibu yang mendampingi. Hana dan Bram sudah selesai makan menuju belakang rumah pula.


“Nak, kenapa pakai baju tertutup sekali. Bahkan leher kamu saja tertutup. Cuacanya panas loh, baiknya pakai baju lengan pendek aja nak.” Mama Rina memberi saran pada Angel. Terlihat sekali Angel tidak nyaman memakai baju tertutup ini.


Angel mengiris. Aku juga maunya begitu mah, tapi Hans memberikan tanda di leherku dengan sangat banyak...Hah kebiasannya tidak pernah berubah. Melirik ke ara Hans.


“Aku yang memilihkan Angel baju mah. Dengan begini malah tampak lebih cantik.” Hans memuji lekas supaya Mama berhenti bicara.


“Apa gunanya coba cantik kalau dipakai serasa nggak nyaman. Lebih baik memakai sesuatu yang nyaman sesuai dengan diri sendiri. Jangan memaksakan sesuatu yang tidak cocok.” Mama Rina berakhir dengan memberi petuah. Semakin membuat batin Angel menjerit.


Hans mengusap tekuknya.


“Iya mah, sekarang Angel hanya sedang menghargai pilihan Hans. Makanya Angel memakai ini supaya Hans tidak kecewa.” Angel membela Hans dengan sangat mulus. Membuat mama yang ingin mengomeli Hans berhenti. Memang sesekali istri perlu meneteskan suami. Jadi Mama bungkam.


***


Wah benar sekali. Belakang villa adalah tamannya bunga matahari. Begitu tinggi dan lebat. Untuk pertama kalinya Angel melihat bunga matahari hal ini sungguh sangat mengagumkan.


“Wah, indah sekali.”

__ADS_1


“Sayang ayo kita ambil foto.” Menggandeng tangan Hans. Dengan langkah lebar.


“Hei Ken, foto aku sekarang.” Nara yang merasa lebih tua dari Ken memerintah.


“Minta tolong fotokan aku. Bilang begitu baru aku mau mengambil foto untukmu.” Ken berlipat dada. Apa? mau diambil gambar tidak? kalau mau ikuti apa yang dia katakan. Sepeti itulah arti dari seringainya.


Nara manyun.“Tolong foto aku ken.” Ken tersenyum dan mengambil gambar sang kakak dengan sangat lihai.


Hans menjadi fotografer untuk sang istri yang ingin mengabadikan moment. Beberapa moment diabadikan, Angel yang memang cantik malah semakin cantik ketika di dalam gambar.


Mengambil gambar dengan saling berpelukan erat menyandarkan kepala di dada bidang sang suami. Hans memasang wajah penuh senyum, Ken menjadi fotografer dadakan.


Terdengar suara dari arah belakang.


“Dilmera ligaya cupeke....Chory...Chory...cupke cupke.” Hah mama sedang bersenandung lagu India. Sedang papa menjadi pengambil video. Tergelak lepas rasanya ketika melihat itu.


“Papa yang bener dong ambil videonya.” Mama berdecak.


“Ini sudah yang paling bener mah, sampe keringatan gini loh.” Sudahlah dua orang itu malah bertengkar kecil karena si artis mau hasil video sempurna.


Angel merasakan angin yang berhembus, memejamkan mata. Nyaman sekali, liburan begini memang terasa menyenangkan. Tubuhnya terdorong ke depan membuatnya terkejut segera berbalik.


“Mengejutkan saja.” Decaknya melototkan matanya penuh. Hans memilih memeluk Angel dari belakang memberikan kecupan singkat di bibir sang istri.


“Sayang.”


“Hem?”


“Sayang.”


“Hem?” Angel berbalik menatap Hans, dua kali di panggil sepertinya Hans ingin ia menghadap Hans.


“Kenapa?” Angel menautkan alisnya. Hans mengusap pipi Angel dengan lembut dengan senyum yang terlukis di sana.


“Semalam rasanya berat sekali, didiamkan oleh istriku rasanya tidak nyaman dan menyakitkan.” Tatapan mata Hans menghujam dalam kalimat penuh keseriusan. Angel menjadi kelu. Mantap ke arah Hans dengan mata yang mengerjap.


“Kenapa dibahas lagi?” Berusaha ia menaggapi dengan sesuai.


“Aku harus membahasnya karena ini sebagi pelajaran dalam hubungan kita.” Angel diam.


“Di waktu lain mungkin secara tidak terduga akan ada pertengkaran di antara kita. Pada saat itu kumohon jangan berdiam, jangan menyimpannya. Nantinya akan menimbulkan luka tak kasat mata. Lebih baik kita bicara meskipun saling tarik urat leher tapi kita tau akar permasalahannya.” Ucapan Hans begitu serius dan segera dipahami Angel.

__ADS_1


Mengulas senyum.“Baiklah aku mengerti, aku akan langsung bicara ketika nantinya ada yang mengusikku.” Senyum Hans merekah lebar.


“Tapi semoga saja tidak ada kata lain waktu.” Hans memeluk Angel erat yang di balas Angel dengan pelukan erat pula.


__ADS_2