Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
Ch 18~ Silvia


__ADS_3

Dari kejauhan Ayana bisa melihat sudah banyak orang-orang berdatangan. Yang pastinya orang-orang itu adalah teman seangkatan Ken. Sekarang Ayana lebih memilih menyembunyikan diri di dalam kamar.


Sekarang semakin berpikir, bagaimana ia harus menghadapi teman-teman Ken itu. Tidak mungkin kan dia ikut bergabung dengan santainya padahal dia hanya orang yang Ken ajak ikut untuk membahas pekerjaan.


Iya pekerjaan.


"Aku merasa sangat tidak pantas berada di sini."


Krasak krusuk terdengar, namun Ayana memilih memejamkan mata saja.


Sedang diluar sana mereka sibuk bersalaman dan saling sapa lalu memilih kamar yang mereka inginkan.


Hanya satu orang yang menetap tidak sibuk memilih kamar, sosok itu malah mendekati keberadaan Ken, Dev dan Yayan.


"Hai Dev." Silvia perempuan itu datang dengan balutan baju pantai. Ia berpelukan dengan Dev.


Karena dipeluk secara tiba-tiba Dev tidak bisa mengelak.


"Ken, lama sudah tidak bertemu ya." Silvia ingin bergelayut mendekati Ken. Namun Ken malah menghindar.


"Jangan berani menyentuhku." Tekan Ken penuh peringatan. Dia kesal melihat gelagat Silvia yang tampak gelinjangan.


Cih, dia masih tidak berubah ternyata. Tapi tidak masalah aku sudah punya rencana, agar pertemuan ini tidak berjalan sia-sia.


Berusaha memasang senyum palsu.


"Ehm, Oh iya udah lama banget kita nggak ketemu ya Ken. Gimana kabar Mama Angel sama Daddy Hans." masih berusaha senyum dan mengalihkan perhatian. Koper yang tadi ia lepas kembali ia tarik.

__ADS_1


"Basi." Ucap Yayan.


Ini si Yayan punya dendam apa sih sama Silvia. Dev.


Ken menatap lurus pada Silvia. Sebenarnya dia tidak terlalu menganal wanita ini. Ken semakin tidak senang dengan cara Silvia menyebut nama orang tuanya.


"Dengar, pertama bukannya kalau bertemu harus saling perkenalan diri dulu. Aku sudah lupa dengan nama-nama dan wajah-wajah teman-temanku. Kedua, siapa kau menyematkan embel-embel Mama dan Daddy dalam menyebut nama orang tuaku?" Tangan Ken bersedekap. Sorot tidak suka dari matanya tidak ia tutupi sama sekali, menatap Silvia dengan alis yang hampir menukik.


"Pfttt... buahahaha. ha ha ha ha. Nggak kenal Ken cuy, padahal tadi udah kayak gini nih..." Menirukan gaya Silvia yang lari-lari dengan kepala yang lenggak lenggok.


Fix Yayan punya dendam pribadi kayaknya.


"Lenggak lenggok cantik...lah nggak dikenalin." Yayan puas sekali tertawa sampai-sampai memukul-mukul lengan Dev.


"Anjir Yan, ketawa udah kayak cewek." Mengusap lengannya dan sedikit menjauh dari Yayan. Dev lalu melihat ke arah Silvia yang memasang wajah garang, seperti akan menerkam Yayan.


Oke tahan amarah tahan....tarik nafas keluarkan...


"Ehm, iya mana mungkin kamu mengingatku ya Ken wajar juga kamu kan memang jarang berada di kelas dan malah banyak masuk kelas pilihan. Namaku Silvia Ken." Masih berusaha memasang wajah lempang.


"Haah, suka heran sih sama modelan cewek yang udah ditolak masih lempeng, coba galayut-gelayut manjahh... kayak nggak ada malunya gitu kan ya?"


Yayan mengedip mata polos menatap lurus ke arah Silvia, meminta persetujuan. Dev geleng-geleng kepala dan berdecak mendengar ucapan Yayan.


Silvia merasa tertohok matanya terbelalak karena tersindir. Tangannya terkepal.


Yayan kalau mode mulut boncabe nggak ketulungan pedesnya.

__ADS_1


"Siapa yang kayak gitu?!"


"Lah kok, mukanya merah padam. Merasa tersindir ya?" Makin dibuat polos saja wajahnya itu, namun efeknya sangat menjengkelkan.


Silvia menghentak, sedang Ken hanya memasang wajah datar saja.


Mata Silvia mengedar.


"Kamar kamu yang itu ya Ken? Kalo gitu aku pilih kamar yang ini ya, yang ada di samping kamu." Sudah mau menyeret kopernya tanpa persetujuan.


"Eitss, Silvia ruang itu sudah ada pemiliknya. Sekarang yang tersisa di penghujung sana." Dev menunjuk jauh ke arah seberang.


"Hah? Siapa yang menempatinya?"


"Dia orangku, dan tidak ada yang bisa mengusir dia dari ruangan itu." Ken berucap tegas. Tau gelagat wanita bernama Silvia itu yang akan melakukan konfortasi. Lebih baik dia duluan menekan agar Silvia sadar diri.


Mulut Silvia terbungkam dan tidak bisa lagi berbicara. Dia perlahan menjauh dengan senyum masam.


Sial! Posisi kamarnya jauh sekali dengan milik Ken. Menyebalkan sekali!


.


.


.


Ada yang kayak Yayan nggak sih di sini, memantau 😁

__ADS_1


__ADS_2