
Ayana masih mencoba mencerna situasi sekarang. Pikirannya serasa masih linglung. Dijemput tiba-tiba oleh orang yang tak diduga. Lalu dipaksa membereskan pakaian dan menggeret kopernya. Dan sekarang malah terduduk pada bangku penumpang.
“And...” Baru saja hendak menyebut Anda Ken sudah menyela.
“Tata bahasamu.” Ujarnya pada Ayana. Manik mata mereka saling bertemu dan Ayana tidak sanggup untuk berpandangan dengan Ken. Tatapan itu seperti memiliki makna tersirat. Yang takut jika Ayana melihat lebih fokus, ia akan menemukan tatapan menuding dari mata Ken.
“Ka-kamu ingin membawaku ke mana Ken? Kenapa tiba-tiba datang dan memaksa ku ikut?” Ayana dengan susah payah baru bisa mengeluarkan patah kata dengan bahasa santai.
Dasar tuan muda. Perilakunya memang sangat tidak bisa diprediksi. Tiba-tiba menyuruh memutar balik arah dan memaksa anak gadis orang untuk ikut. Untung saja gadis yang ikut ini polos sekali. Coba saja dapat yang seperti nona Nara, bisa mati kutu pak Ken.
Alex membatin. Ya jika melihat betapa tegasnya sifat Nara, Ayana memang tampak kebalikan dari wanita itu.
“Kamu perlu ikut karena perlu melakukan tugas yang kuberikan. Kita akan ke pulau maldaves, akan ada acara reuni nanti. Saat di sana akan kubahas lebih lanjut mengenai pekerjaanmu.”
Ada rasa lega menyelusup hati Ayana. Pikirnya Ken akan melakukan hal buruk padanya.
Tampaknya kemarin aku memang berpikir terlalu jauh. Tanya itu mungkin bermaksud ingin membanggakan diri. Mungkin dia heran melihat perilakuku yang tidak terlalu memujanya.
Ayana pun sekarang mengulas senyum tipis.
Jika pun nanti dia ketahuan itu tidak masalah baginya. Jika Ken menghentikan perkerjaannya juga tidak masalah. Sebab jika Ken memang merasa tidak nyaman dengan sikap dia yang dulu dinilai terlalu menguntit Ken, Ayana merasa hal itu memang perlu mendapat dampak.
“Baiklah Ken.” Kalau nanti kamu mengenalku dan mengingatku. Kumohon jangan mempermalukan ku ataupun memakiku karena menyukaimu. Cukuplah suruh aku pergi. Maka aku akan pergi dengan senang hati. Toh tidak akan ada yang berubah.
Ayana mengulas senyum miris pada bibir tipisnya.
Sejenak Ken terpaku ketika melihat tatapan Ayana yang terlihat misterius itu. Selipan tatapan sendu itu membuat Ken ingin sekali mengulik isi hati Ayana.
__ADS_1
Gila! Dia tidak pernah bersikap begini!
Sejak dulu banyak wanita yang dia tolak! Tapi Ken tidak pernah berusaha memahami para wanita itu. Namun kenapa ia ingin memahami Ayana sekarang?!
Apa yang anak ini pikirkan? Aku melihat tatapan berkacanya tadi. Batin Ken.
Sedang dua orang itu tidak tau bahwa Alex sudah sepeti orang gila, yang sejak tadi melirik ke arah mereka secara bergantian.
Sial mataku sakit, karena berpindah ke sana kemari.
Peri baik: Kamu juga yang terlalu kepo Alex, kenapa kamu ingin melihat interaksi dua orang itu.
Alex menyetujui si peri buruk.
Peri baik: Jangan! Sembarangan menyebar berita adalah hal yang buruk!
Alex tersadar oleh peri baik.
“Hus hus pergi kalian.” Alex mengibas-ngibas tangannya ke udara dimana letak ilusi tadi datang.
“Siapa yang kau suruh pergi Lex!” Tersentak karena suara sang tuan muda. Tatapannya juga terlihat tajam.
“Eh itu, ada nyamuk tadi tuan muda.” Alasan klise. Ken berdecak melihat kelakuan Alex. Anak itu memang kadang-kadang aneh.
__ADS_1
Alex merasa lega karena sang tuan muda tidak melanjutkan kekesalan. Apa mungkin juga mengamankan emosi ya? Karena tadi ada Ayana? Ah Alex semakin membuat spekulasi dalam otaknya.
Mobil yang dikendarai sudah sampai pada sebuah lapangan penerbangan. Jet pribadi milik keluarga Prasetyo sudah terlihat dari posisi mobil mereka.
Ayana tercengang ketika melihat jet pribadi itu.
Apa kami akan naik ini? Wah orang kaya memang tidak main-main. Menjadi merasa sungkan.
Dan entah mengapa Ken tiba-tiba menjadi kesal, sebab matanya melihat dia sahabatnya yang ****** itu!
Si Dev, dan si Yayan!
Kenapa dua orang itu ada di sini! CK! Melirik pada Ayana yang memasang senyum polos.
.
.
.
Jangan Lupa Komen yok...
🙏😁
__ADS_1