
“Wah kebetulan sekali Ayana.”
Rafka tampak bersemangat sekali.
“Aku tidak menyangka tentanggaku tenyata kamu. Bagaimana kabarmu.” Tanyanya tersorot pada Ayana. Rafka baru saja pindah, dan ingin berkenalan dengan tentangnya. Tidak menyangka sekali dia malah bertemu dengan Ayana.
“Ehm, baik.” Ayana masih terkejut mendapati Rafka di depannya. Dia memang dekat dulu dengab Rafka secara Rafka dulu satu kelas dengnnya.
Jika Ken punya pengikut gadis bejibun yang selalu mengekorinya di masa bangku sekolah menengah atas. Maka Ayana pun punya seseorang yang mengikutinya.
Orang itu tidak lain adalah Rafka. Laki-laki yang sekarang berdiri di depan mereka. Laki-laki yang kedatangannya membuat Ken kesal dan gusar.
“Baguslah aku punya tentangga yang ku kenal.” Masih begitu antusias. Tidak menyadari bahwa Ken menghunus tatapan marah padanya.
“Eh iya.” Ayana menyadari Ken yang sejak tadi diam, jadi dia menoleh ke arah Ken.
“Ada perlu apa?”
Rafka menoleh ke arah sumber suara yang terdengar dingin, dia menemukan tatapan dingin yang tak di tutup-tutupi.
Kening Rafka berkerut. Seolah-olah beberapa detik ia meneliti Ken, matanya langsung membulat begitu menyadari siapa sosok di depannya itu.
“Astaga, kebetulan sekali bertemu dengan kakak senior.” Rafka mengulurkan tangan.
“Saya Rafka, kita satu sekolah dulu.”
Ken menjabat tangan Rafka memberi remasan. Membuat Rafka mengerang kesakitan.
“Jadi ada perlu apa Rafka?” Tatapan Ken mengintimidasi. Dia tidak suka dengan kehadiran Rafka yang tiba-tiba begini. Tiba-tiba datang dan menjadi tetangga Ayana.
Mereka bertetangga mulai sekarang. Bagaimana kalau sampai laki-laki ini melewati batas? Bagaimana kalau sampai dia terus mengusik Ayanaku? Mereka bertetangga dan pasti akan sering bertemu. Ken semakin kesal dan semakin mencengkram tangan Rafka.
“Akhhh.” Rafka mengerang sakit.“Tolong lepaskan tangan saya.” Pinta Rafka.
“Ah maaf sekali.” Kata maaf itu ternyata tidak ikhlas malah Rafka bisa melihat senyum tipis terulas di bibir laki-laki di depannya itu.
Cengkeramannya kuat sekali, sudah seperti orang yang punya dendam saja. Rafka melirik Ken. Kami bahkan jarang berpapasan dulu, tapi kenapa matanya malah membara sekarang?
“Ayana, aku membawa kue bolu ambilah.” Menyerahkan kue bolu yang diletakkan di atas piring pada Ayana. Baru saja Ayana akan menyabut dan mengucap terima kasih.
Namun laki-laki di sampingnya itu yang melakukannya.
“Terima kasih.” Ken menyambutnya. Suaranya terdengar dingin.
Astaga, kenapa dia bersikap begini.
__ADS_1
Rafka menahan rasa kesal karena melihat perilaku Ken. Dia tersenyum pada Ayana.
“Ah aku tadi niatnya membawa bolu sembari bercakap dengan tetanggaku.” Rafka tersenyum lembut.
“Sekarang sudah kan?” Nada suara Ken menyiratkan pengusiran. Dan Rafka menyadari itu.
Kenapa laki-laki ini semakin dilihat seakan menganggap dia musuh ya?
“Ken.” Ayana memperingati. Kenapa Ken malah bersikap kasar begini? Sejak tadi juga menunjukkan wajah tidak bersahabatnya.
“Iya sayang.” Mata Ayana melebar, terkejut dengan ucapan Ken.
Ken terlihat posesif dan menujukkan kepemilikannya terhadap Ayana. Memeluk Ayana dari samping. Melembar bom yang membuat Rafka terkejut.
Senyumnya tampak culas ketika menatap Rafka.
“Maaf sekali Rafka, tidak ada cakap cakap lebih. Kami sedang sibuk. Sepagi ini aku membantu Kekasihku untuk membersihkan rumahnya. Jadi tidak bisa menyambut tamu.” Ken tersenyum elegan. Namun senyumnya tak sampai ke area mata. Menunjukkan bahwa senyum itu tak ikhlas sama sekali.
Kata kekasih itu juga tampak dipertegas seakan, Ken sedang menyiratkan peringatan pada Rafka. Agar tidak berani-berani menyentuh miliknya.
“Ayo masuk sayang.” Ken tidak membuat celah agar Ayana menolak. Dia sudah mendorong Ayana masuk.
Ken lalu memandang Rafka penuh perhitungan. Menatap rumah-rumah sekitar.
“Apa lagi yang ditunggu?”
***
“Kenapa kamu bersikap begitu Ken?” Ayana langsung mencerca Ken.
“Memangnya aku harus bagaimana? Kau ingin aku menyambutnya begitu?” Suara Ken terdengar kesal.
“Bukannya begitu, hanya saja kenapa tiba-tiba kamu malah bersikap kasar?” Ayana merasa tidak nyaman dengan sikap Ken.
Sejenak Ken terlihat akan melimpah ruah'kan kekesalannya. Namun dia tersadar dan mengambil haluan lain.
“Aku kesal dia datang di waktu yang tidak tepat.” Mengelus bibir Ayana. Dan Ayana segera tersadar dengan maksud Ken. Rafka ditangani di saat Ken hendak menciumnya. Ah kalau begini wajar Ken terlihat kesal.
Semburat rona merah menghiasi pipi Ayana karena merasa malu.
Ken tidak mungkin mengatakan bahwa dia merasa kesal dengan kehadiran Rafka yang tiba-tiba.
“Ayana, kalau pun nanti dia datang. Kamu tidak boleh membawanya masuk ke dalam rumah oke?” Ken memberi pesan.
“Memangnya kenapa?” Bertanya polos.
__ADS_1
“Aku tidak suka. Aku tidak mau membuat celah bagi orang ketiga masuk. Di sini aku sedang berusaha memikat hatimu. Aku memberimu waktu untuk menyukaiku, dan tidak adil... kalau sampai dia tiba-tiba malah membuat semuanya berantakan.”
“Kamu paham.” Menatap Ayana dengan lembut. Dan penuh harapan.
Ayana tercenung dalam manik mata Ken. Manik mata itu menyorot keresahan, seakan takut miliknya akan diambil oleh orang lain.
Ayana pun mengangguk, menuruti permintaan Ken.
Ah Ken memutuskan akan lebih mengawasi Ayana. Kalau sampai Rafka berani-beraninya mencari celah untuk memikat hati wanitanya. Ken akan membuat perhitungan pada Rafka.
.
.
.
.
Wah maaf sekali ya beberapa hari nggak update. Aku sembari nulis Bram ini, jadinya bagi waktu. Semoga tetap mengikuti cerita Aya sama Ken ya...
Mereka juga punya Instagram loh...
👇
Dibawah ini penampakannya.
@_tya_1030
Yang mau masuk grup ku juga boleh yuk, masuk ke sana.
Terima kasih kepada tangan-tangan ringan...
Yang jarinya tak berat memencet tanda jempol, apalagi melayangkan waktu menggerakkan jari untuk berkomentar...
Makasih sekali...
Makasih juga yang nyubangin point' ngasih hadiah...
Ataupun ngasih votenya...
Berarti sekali semuanya itu men teman...
__ADS_1
Kalian itu berasa mengapresiasi penulis...
Terima kasih kenapa tangan ringan.🙏😄