
Rumah sakit memang menempel erat dengan ciri khas bernuansa putih. Pun juga dengan aroma yang sangat khas yaitu aroma obat-obatan. Akan tetapi hal itu pada detik ini tidak menjadi perhatian Ayana.
Hatinya pilu melihat betapa menyedihkannya sang ibu. Berbaring di atas ranjang. Dengan bagian kepala yang diperban. Dan juga bantuan oksigen.
Kakinya sudah sangat goyah ketika berusaha duduk di posisi terdekat dari ibu. Suster hanya bisa memandang Ayana dari balik pintu. Melihat betapa gadis itu sangat terguncang.
“Ibu, Ayana datang.”
Dengan lembut ia menggenggam tangan sang ibu. Menciumnya. Hatinya sakit melihat orang yang paling ia sayangi di dunia ini tampak tak berdaya.
Tadi dia mendapat penjelasan sang ibu sudah di tangani. Dokter sudah berusaha melakukan yang terbaik menangani ibunya.
“Tolong buka mata ibu. Jangan, jangan membuatku resah begini.”
Menghiba dan penuh permohonan. Suara Ayana membawa nuansa memilukan.
“Hem, ibu akan bangun bukan? Cepatlah bangun. Jangan menyerah begini.” tangannya semakin erat menggenggam tangan sang ibu.
“Ibu tau bukan aku tidak pernah berkeluh kesah kepada ibu.”
Menatap sang ibu. Tak ada respon dan hal itu semakin menyedihkan. Ayana ketakutan. Pada detik ini ia takut jika saja sang ibu tak lagi membuka mata dan malah secara tak terduga menghilang dari dunia.
Meski sekuat tenaga Ayana berusaha membuat suaranya agar terdengar ceria supaya alam bawah sadar sang ibu menyambutnya dengan baik. Tetap saja nyatanya hal itu tak terjadi. Suara lembutnya sudah berganti dengan suara serak kecil. Belum lagi isak-isak kecil menyedihkan ini tidak mau mereda.
“Aku tidak berkeluh kesah bukan karena aku baik-baik saja. Tapi...tapi anakmu ini berusaha agar ibu tidak perlu mendengar banyak kisah pilu tentangku.”
Tak ada tanggapan. Sudah pasti. Menggigit bibirnya Ayana berusaha kuat. Suster wanita itu masih setia berdiri di balik pintu. Berusaha tidak menjadi orang ketiga.
Mata sang suster bertatapan dengan dokter tadi yang ternyata kembali. Gelengan itu diberikan ketika sang suster menatap dengan tanda tanya.
“Bersiap-siap saja.”
“Dokter,” suster itu tak terima dia menyela dengan suara kecilnya menghampiri dokter itu.
“Anda tidak boleh mendahului takdir dok. Jangan, jangan bicara demikian. Tolong tarik ucapan anda.”
Suara suster itu tampak mengancam namun tersirat juga getaran ketidakberdayaan.
Ya tuhan, tolong kuatkan nona Ayana.
Ayana menghapus jejak air matanya. Berusaha memasang senyum. Pada wanita paling kuat sedunia ini. Yang sudah diuji oleh takdir. Diselingkuhi hingga mendapati gangguan jiwa.
Ayana ingin jujur betapa dia banyak menyimpan kisah kelam yang tak mau ia bagi dengan sang ibu. Bukan perihal tentang pikiran rasionalnya, bahwa orang dalam gangguan jiwa sudah pasti tak akan paham apa yang ia ceritakan. Atau apa isi menyedihkan yang ia sebutkan. Namun dia hanya ingin menyimpan hal itu. Bisa saja ia bercerita. Akan tetapi ia tak mampu.
“Tapi aku ingin berkeluh kesah sekarang. Supaya ibu bangun dan memelukku.”
Tangannya terjalin dengan gelisah. Sementara suara benda yang menunjukkan deteksi kondisi tubuh sang ibu masih setia menjadi fokus utama Ayana.
“Sebenarnya aku punya tidak punya banyak teman Bu. Haha, iya aku tidak punya banyak teman. Sejak dulu mereka sangat pemilih dan tidak pernah mengajakku dalam segala hal. Entah itu satu kelompok dalam berkemah, satu kelompok dalam acara olahraga, atau satu kelompok dalam perihal belajar.”
“Tapi kusangka itu tidak masalah. Tapi, tapi... ternyata itu sangat membuatku kesepian.”
Sangat sepi. Karena sulit untuk mendapatkan teman ditengah kaum elit. Dimana Ayana sekolah karena mendapat beasiswa.
“Aku juga bekerja Bu. Aku tau dulu ibu bilang ‘Ayana tidak perlu bekerja Ayana hanya perlu sekolah dan hidup dengan sehat. Ada ayah yang akan mencari rezeki. Saat Ayana besar baru Ayana boleh bekerja.’ ...”
Hampir saja Ayana menangis tersedu namun ia menahannya.
“Tapi aku bekerja Bu. Melawan semua ucapan ibu.” wajah tersenyum namun manik mata semakin digenangi oleh cairan bening.
“Aku bekerja, menjadi pribadi yang lebih mendiri. Haha, aku ini serba bisa loh Bu. Jadi tukang cuci piring bisa, jadi tukang antar baju londryan bisa, jadi tukang antar makanan bisa.”
“Haha lihatlah Bu, tangan anakmu ini tidak cantik. Sangat tidak cantik. Kasar dan tidak terawat.”
Semuanya karena Ayana terlalu sibuk bekerja keras dalam hidup ini.
“Semuanya terdengar menyedihkan bukan Bu?”
__ADS_1
Jadi kumohon bangunlah dan peluk aku.
“Oh iya, aku ingat ibu punya janji kan akan membawaku ke taman bermain. Ibu harus menepatinya dong. Aku sudah sangat sabar—, aku tidak masalah jika masih perlu menunggu. Yang penting kita bisa jalan-jalan. Melihat dunia luar...”
Dulu ketika kecil Ayana dijanjikan akan dibawa ke taman bermain. Ayana masih ingat. Janji itu terucap ketika sang Ayah sudah jarang di rumah. Sudah jarang mengajaknya bermain. Nyatanya pengabdian sang ibu sebagai seorang istri malah dihadiahi oleh penghianatan. Hingga detik ini hal itu menyisakan goretan luka kelam dalam diri Ayana.
Mata Ayana tiba-tiba terbelalak. Merasakan sebuah usapan lembut di atas rambutnya. Kepalanya segera mendongak. Dan dia—, menemukan sang ibu memandang dengan mata sayu, juga seulas senyum manis nan tipis.
“Ibu...” Ayana tercekat.
“Putri ibu.”
Ibunya benar-benar sadar. Meski suaranya lemah tetap saja hal itu membuat dada Ayana merasakan kelegaan besar.
“Ibu, ibu sadar dan mengingatku?”
Ayana tak percaya. Ibunya mengingatnya? Memanggilnya dengan suara lembut nan menenangkan tadi.
“Tentu saja ibu ingat. Putri ibu yang cantik sedunia.”
Kerinduan itu menggebu-gebu. Suara teriakan rasa senang di dalam hati Ayana menjerit-jerit.
“Aku senang sekali ibu mengingatku. Ya tuhan, aku takut tadi. Ibu terlalu lama tertidur dan tidak bergerak sama sekali.”
Manik mata penuh kilau senang dan haru campur aduk.
“Sini kemarilah.”
Ibunya membuka tangan lebar-lebar. Menepuk sisi samping kanan ranjang.
“Ibu menyuruhku naik ke ranjang sekarang?”
“Iya kemarilah nak.”
“Tapi ibu akan tidak nyaman nanti. Aku di sini saja.”
“Naiklah Ayana. Ibu ingin memelukmu.”
Akhirnya Ayana segera perlahan mencoba mengambil posisi berbaring di samping ibunya itu. Memiringkan posisinya hingga menghadap sang ibu.
“Maaf ya sayang ibu tidak mengingatmu dengan baik.”
“Tidak, tidak ibu tidak bersalah sama sekali ibu tidak perlu meminta maaf karena tidak mengingatku.”
Jika boleh menunjuk kambing hitam dari kelamnya hidup mereka. Mungkin satu nama itu bisa menjadi orangnya. Yang tidak lain adalah sang Ayah.
Sang ibu memandang putrinya itu. Satu kecupan menghampiri kening Ayana. Lalu turun menuju pipi Ayana.
“Kamu harus kuat ya sayang. Ibu sangat menyesal tidak bisa membuat putri ibu bahagia. Tapi ibu berharap kamu berdamai dengan masa lalu. Supaya kamu bisa menjalani hari dengan tenang. Jangan menyimpan dendam. Hal itu tidak berguna.”
“Bu, jangan berkata begitu.”
Menahan tangis Ayana menyurukan kepalanya. Tangannya dengan hati-hati memeluk ibunya itu.
“Aku bahagia, ada sebagian hari di mana aku merasa bahagia. Kalau ibu sudah sehat mari kita jalan-jalan. Kita liburan.”
Ayana kira mereka bisa menjalani hari dengan normal. Hanya dia dan sang ibu.
Ayana tak mendapat sahutan. Jadi ia mendongak. Tiba-tiba saja rasa tidak nyaman merayap di relung dada.
“Ibu. Apa ibu tidur?”
Kening Ayana mengerut. Nafas sang ibu tampak tidak baik. Seakan menderu-deru.
“I...iya, ibu se, sedikit mengantuk sayang.”
“Oh ibu boleh tidur. Ayana akan di sini.”
__ADS_1
dengan nada ceria Ayana meminta sang ibu agar istirahat.
“Ibu sangat menyayangi putri ibu.”
Kecupan menghampiri atas kepala Ayana. Tak ada lagi suara pembicaraan di antara mereka. Keheningan tercipta.
Senyum Ayana masih terulas. Namun kenapa tiap detik yang ia lalui terasa mencekam?
Detik berlalu...
Menit pertama...
Menit kedua...
Menit kelima...
Menit kelima belas...
Tit Tit Tit Tit
Dada Ayana berdebar. Ia segera bangun. Melihat layar yang EKG, alat yang mengukur dan merekam kondisi jantung sang ibu.
“Kenapa garisnya...”
“Dokter!”
Ayana sudah berteriak keras!
“Dokter! Ada yang aneh dengan alat itu. Dokter tolong periksa ibu saya.”
Dokter yang tadi memang berada di luar ruangan segera berderap masuk ke dalam. Diikuti oleh suster.
Astaga, padahal tadi baru saja mereka saling berpelukan. Saling mengasihi. Ibunya tadi bilang hanya ingin tidur. Ibunya hanya ingin tidur. Bukannya meninggalkannya.
Tit Tit Tit Tit
Tapi kenapa sekarang...
Dokter itu berbalik ketika Ayana melihat garis lurus tertera di layar. Matanya terbelalak. Tubuhnya bergetar.
“Pukul 22.15 WIB. Pasien atas nama Ibu mawar telah meninggal dunia.”
“Tidak! Itu tidak mungkin dokter! Dokter anda pasti salah. Ibu saya, ibu saya tidak mungkin meninggal. Beliau baru saja membuat rencana akan pergi berliburan dengan saya. Tidak mungkin!”
Ayana memeluk tubuh ibunya itu. Suster menangis. Isak keras kepiluan memenuhi ruangan. Jerit putus asa Ayana memilukan telinga.
Dia mencoba menyadarkan ibunya. Namun yang didapatnya hanya tubuh tanpa respon. Membuktikan kebenaran dari perkataan sang dokter.
“Ibu! Akhh, Hiksss...Hiksss...kenapa ibu pergi secepat ini. Ya tu, tuhan.”
Ayana mencium kening ibunya. Dia menangis tersedu dengan keras.
Ibunya telah tiada. Dan sekarang sosok yang menjadi penyemangat'nya tak lagi bisa ia lihat.
Suara pintu yang dibanting keras terdengar. Dan semua orang terkejut, dokter, suster terkejut.
Terlebih lagi Ayana. Matanya semakin berair dia melihat Ken di sana.
“Ibuku, baru saja meninggal Ken.”
Suara Ayana bahkan hampir tak terdengar.
Lelaki itu melangkah lebar-lebar segera memeluk Ayana. Berlabuh di dada Ken. Ayana semakin menumpahkan rasa sesaknya.
“Aghh, hiks, hiks, ibuku sudah tiada. Ibuku sudah tiada ken.”
“Menangislah, berduka'lah, aku akan ada di sini sayang.”
__ADS_1
Merasakan tempat berlabuh untuk merengkuhnya. Ayana menjadi semakin menangis pilu.
Dan Hans Prasetyo hanya bisa terdiam terpaku di sana.