
Ken sudah membawa Ayana ke sudut ruangan, dia tidak peduli dengan nada rendah Ayana yang memujinya agar bersabar dan duduk lebih dulu.
Mana lagi ken melihat dua pria yang duduk di depan Ayana. Perempuannya ada dua laki-lakinya ada dua.
Apa Ayana sedang berkencan?!
Pemikiran itu membuat amarah Ken semakin menggelegak.
“Apa yang kamu lakukan di sini jelaskan! Kamu bahkan bersama dengan beberapa pria tadi. Apa kamu ingin bermain-main Ayana?! Kamu tidak ingat statusmu yang sudah menjadi kekasihku.” Ken seolah dibakar amarah. Dia menyudutkan Ayana dengan tuduhan berdasar penglihatan sekejapnya.
Ayana yang tadi ingin menjrlaskan dengan bahasa lembut merasa ditampar oleh tuduhan itu. Apa Ken begitu mudah menuduh seseorang?
“Aku ingat! Status yang hanya akan bertahan satu bulan itu aku ingat ken.” Ken tersentak, tatapan ketakutan dari Ayana memudar.
Berganti dengan tatapan kesal.
Namun Ken tidak paham berbicara dengan perempuan tidak bisa saling tarik urat, sebab hanya akan menambah perselisihan.
“Lalu apa tadi?! Kamu seharian ini tidak menjawab teleponku, mengabaikan pesanku dan ternyata. Kamu malah sedang bersama dua pria muda!” Nadanya malah tinggi.
Ayana merasa sakit hati dengan tuduhan Ken. Padahal Ken bisa saja bertanya baik-baik.
Siapa itu?
Apa yang kamu lakukan di sini?
Sejenak Ayana merasa Ken bagai gambaran sang ayah.
Ayana menarik nafas dalam-dalam.
“Dia klineku Ken, kalau kamu tidak percaya itu tidak masalah. Dan kami datang ke sini juga bukan kemauan kami. Kami hanya mengikuti apa yang klien inginkan.”
“Apa jawaban itu membuatmu puas?”
“A-ayana aku...” Ken tidak bisa mendefinisikan apa yang dirasakannya.
Ayana dengan kerasa melepaskan diri dan menyentak tangan Ken. Rasa bersalah menelusup hati Ken.
“Tolong jangan menuduhku begitu! Karena aku tidak punya niatan sama sekali melakukan hal yang tak terpuji selama aku terikat dengan seseorang.” Ayana menajuhinya dengan memasang wajah keras. Meninggalkan Ken yang tertegun.
Mana mungkin orang yang trauma akan tragedi perselingkuhan orang tuanya ingin berselingkuh pula. Otak Ayana sudah mencatat bahwa perselingkuhan itu hal yang buruk dan patut dijauhi.
__ADS_1
Sebab perselingkuhan akan membawa perpecahan. Namun Ken otaknya tidak sampai berpikir ke sana. Dia menjadi tidak rasional dan terbakar amarah karena melihat Ayana di sini.
“Kau sudah membuat masalah dev.” Bisik Yayan. Melihat gerak gerik Ayana dan Ken tadi tampaknya ada pertengkaran sengit.
Dev menatap ragu-ragu pada posisi Ken dan Ayana.
Matanya kemudian bersitatap dengan gadis yang tampak tomboy di samping Ayana.
“Kau yang memberitahu lokasi kami ya?” Bibir gadis itu berucap tanpa suara. Namun Dev masih bisa menangkapnya dengan jelas.
Dev menaikan alisnya dan memejamkan matanya pertanda bahwa iya.
Shera yang mendapat jawaban itu rasanya ingin melemparkan botol kaca yang tersaji di meja.
Sial sekali laki-laki ini! Kami pun tidak ingin ada di sini! Tapi dia malah melaporkan Bu Aya pada calon suaminya. Shera melirik sang atasan. Raut wajah yang tadi tampak was-was dan berhati-hati. Sekarang berganti mengeras kesal.
Shera masih ingat dengan Ken. Ken adalah laki-laki yang datang menjadi penyelamat mereka. Ken juga mengguncang mereka dengan Teru menerus menyebut Ayana adalah calon istrinya. Yang berarti Ken adalah calon suaminya.
Laki-laki ini memang membuat masalah! Shera geram.
Pembicaraan dengan keliennya selesai.
Dia melihat Ken mendekat. Saat Ken mengambil tangannya Ayana menghempaskannya.
“Ayo kita bicara ayana.” Nada suara Ken tedengar lembut.
Ayana tertawa sinis. Melihat itu shera yakin sang bos sedang sakit hati.
“Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi Ken. Berpikirlah semaumu. Aku mau pulang sekarang.” Suara Ayana terdengar dingin. Dia berusaha berlalu dan meninggalkan Ken.
Dia masih tidak terima Ken menuduhnya begitu. Pemikiran antisipasinya membuat bayang di masa depan. Bagaimana jika sifat Ken akan begitu di masa mendatang?
“Akkhhh...”
Ayana tersentak. Shera yang melihatnya menutup mulut.
“Apa yang kamu lakukan! Lepaskan aku Ken!”
Tubuh Ayana sudah tersangkut dibahu Ken.
“Aku bilang kita perlu bicara.” Ken menepuk pantat Ayana. Membuat Ayana meringis. Dia balik mencubit Ken dengan keras.
__ADS_1
Namun laki-laki itu tidak merasakannya. Mereka menjauh dan meninggalkan lokasi.
Shera yang ditinggal pun memutuskan akan pulang juga. Namun langkahnya sejenak terhenti ketika menatap sosok laki-laki yang tadi.
“Gadis yang tadi bersama Ayana sedang menuju ke arahmu dev.” Lapor Yayan.
Dev tau itu ia hanya memasang senyum kecil. Gadis itu tidak menyembunyikan kekesalannya.
“Bisa kita bicara sebentar?” Shera bicara langsung tak mau basa basi.
“Wow, bukannya kita perlu saling berkenalan dulu, gril.” Dev mengedip mata seperti aksinya yang biasa ia lakukan.
Namun bukannya tatapan memuja yang didapat malah tatapan jijik.
Hell
“Kau tidak perlu tahu namaku, aku hanya ingin berbicara sebentar!” Dan memukul wajahmu mungkin. Karena sudah membuat Bu aya kesayanganku menjadi mendapat masalah.
Ken tergelak lepas. Membuat Shera heran. Yayan pun heran. Merasa aneh dengan sikap sahabatnya itu.
“Hei, kau tidak lihat aku sedang mengobrol dengan pria ini?” Shera baru menyadari ada gadis yang bergelayut di dekat Dev.
Matanya menyipit kesal.
“Ayo bicara sebentar!” Kesalnya sudah menjubun sudah mau menarik tangan Dev juga.
Wah gadis ini tampaknya sedang marah sekali. Baru kali ini Dev dihampiri gadis karena marah. Biasanya gadis menghampirinya karena tertarik.
Yayan mengintip Dev dari sudut matanya. Dia melihat senyum kecil di bibir Dev. Matanya sontak saja membulat melihat hal itu.
Eh tunggu, ada apa dengan senyum kecil Dev itu? Apa malah dia yang.....tertarik?
“Baiklah ayo bicara, kucing galak.”
Mendengar panggilan itu Shera rasanya ingin menendang tulang kering Dev dan membanting tubuh itu dengan keras.
Dev memberi kode pada Yayan untuk mengurus gadis yang tadi bicara dengannya.
Sialan Dev ini!
Yayan itu horor kalau mengutus gadis yang model mmanja-manja begini.
__ADS_1