
Ayana terdiam cukup lama, tubuhnya seperti terpaku tak bisa berjalan. Detak jantungnya serasa berpacu, hingga bibirnya tak kuasa untung ia gigit. Ruang minimalis yang selama ini digunakannya sebagai tempat berlindung sekarang terasa sunyi senyap.
Sepanjang perjalanan ketika Alex mengantarnya dia cukup lama mencoba berpikir, namun hingga sekarang pemikirannya belum mencapai titik kesimpulan.
Bahkan ketika Alex bertanya apa dia baik-baik saja Ayana hampir tidak menanggapi karena hanyut dalam pemikiran.
Alasan dari rumitnya pemikiran Ayana adalah...
Laki-laki itu...
Ken...
Kenan Prasetyo...
Laki-laki yang selalu ia puja semasa Sekolah Menengah Atas. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa laki-laki itu mengenalnya? Dia yang dulu si Upik abu yang tak kasat mata, mengapa bisa diingat oleh laki-laki itu.
__ADS_1
Laki-laki yang begitu sempurna dan dikagumi oleh banyak orang. Bahkan kemunculan Ken sekarang tidak mengurangi penilaian Ayana.
Ken itu cerdas dalam akademik, dalam olahraga dan dalam organisasi.
Kalau mengingat masa dulu sama saja seperti mengulik keping kisah kelam. Ayana yang dulu selalu dikucilkan, bahkan tidak dianggap. Mengapa dia tidak di ajak berteman? Mengapa dia diperlakukan begitu ? Memangnya apa yang salah.
Apa karena tampilannya? Dunia semasa awal Sekolah Menengah Atas, Ayana hanya seputar kesendirian dan ketabahan hatinya. Namun ada satu hal yang membuat Ayana merasa semangat dalam memulai hari.
Ayana ingat hari itu. Ketika sesosok laki-laki datang ke kawasan sekolah mereka. Laki-laki itu menentang tasnya pada satu lengan. Matanya legam yang menarik di naungi oleh sepasang alis tebal. Rambutnya yang tapi menambah kesan sempurna.
Dari atas hingga bawah aura laki-laki itu memang tampak sangat berkelas.
“Perkenalan Nama saya Kenan Prastyo.” Ken memperkenalkan diri dan mengamati sekitar. “Saya murid pindahan ,mohon bantuannya.” Meski wajahnya terlihat angkuh, namun tutur katanya terdengar lembut dan sangat bersahabat.
Ayana merasa sudah sangat tertarik pada sosok Ken. Hari itu di tengah lapangan, dengan desir lembut angin yang datang. Dia untuk pertama kalinya merasa jatuh cinta.
__ADS_1
Dunia Ayana menjadi jungkir balik. Dia yang biasanya mendekam di dalam ruangan kelas menjadi lebih aktif. Aktif dalam artian bukan bersosialisasi dengan teman-temannya. Melainkan aktif mengikuti pergerakan anak baru itu.
Semakin hari Ayana merasa menjadi lebih ringan dalam bersekolah. Karena ia melihat sosok itu, sosok yang tidak bisa diam di tempat dan sangat bercahaya.
Ayana berada pada garis terjauh. Sedang Ken adalah bintang utamanya.
Ayana cukup merasa puas hanya dengan melihat Ken dari kejauhan. Memandang lalu tersenyum kecil. Atau mencuri-curi pandang pada kakak kelasnya itu. Meski tidak saling menyapa melihat dari jarak jauh pun sudah cukup bagi Ayana.
“Bagaimana dia bisa mengenalku?” Lirihnya pelan. Memegang dadanya yang semakin berdegup kencang.
Tatapan Ken saat itu terlihat dingin dan serius. Apa yang dipikirkan Ken tentangnya? Ayana tidak ada maksud jahat sama sekali. Kedatangan Ken waktu itu ke tempat biro jodohnya bahkan mengejutkan dirinya.
Dia tidak pernah menyangka akan dipertemukan lagi dengan laki-laki pujaannya semasa Sekolah Menengah Atas itu.
Lantas bagaimana sekarang? Bagaimana sekarang ia harus berperilaku di depan Ken? Padahal ia sudah berusaha memasang wajah datar agar tidak mengganggu kenyamanan Ken. Lalu dengan Ken menyudutkan untuk membuatnya memberi pengakuan bahwa ia mengenal Ken. Apa laki-laki itu akan berubah pikiran sekarang?
__ADS_1
Bersikap dingin dengannya?
Ayana merasa semakin berpikiran berlebihan. Apa Ken tau bahwa dulu dia yang si Upik abu sangat menyukai Ken?