Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
CH 122- Masa lalu Kelam Angel


__ADS_3

Drama malas pergi kekentor terus menyeret Angel sampai ke halaman depan rumah masih dibelit oleh pelukan erat oleh Hans. 


“Sudah sayang, kapan pergi kerjanya kalau begini.”


“Aku memang tidak mau pergi bekerja.” Mata Angel dibuat melotot. Sedangkan mama, papa dan Hana hanya bisa mencibir dari ruang makan.


Melambai setelah ciuman panjang. Setelah mobil Hans tak lagi terlihat Angel manatap awan lepas. Hari cerah.


***


Ayah, ibu dan Juna sekarang tidak lagi tinggal di desa. Mereka sudah menetap dirumah yang dibeli Hans. Dulunya rumah tersebut dibeli untuknya dan Angel, namun karena sang mama marah dan kesal tidak ingin sang menantu berdiam ditempat lain. Jadilah papa Fadli membuat Hans agar bisa mengerti mama, yang sudah mendamba menantu. Akhirnya Hans mengalah. 


“Sayang kita jalan-jalan yuk.” Mama menghampiri Angel, melongokan kepala.


“Eh jalan ke mana Ma?” Angel bangun dari tempat tidur dan mengambil posisi duduk. Mama mendatangi kamar miliknya dan Hans.


“Ya jalan-jalan, aja sayang. kita juga gak ada kerjaan dirumah, jalan-jalan lebih asyik. Hans juga pulangnya lama, baiknya kita jalan-jalan.” Ucap mama cepat. 


“Kalau mama sudah begini mana mungkin aku bisa menghindar, maaf Hans…” 


“Iya ma” 


Yes! Yes ! Yes!


“Sayang mama mengajak pergi keluar bolehkan?” Mengirim pesan baru satu menit sudah mendapatkan balasan bukannya balasan pesan malinkan telpon dari sang suami.


“Mau pergi kemana?”


“Jalan-jalan sayang, bolehkan?” Segera bertanya.


“Ck ck baru saja kutinggal mama sudah mengambil kesempatan.” Terdengar nada kesal Hans dari sembrnag telpon.


“Boleh pergi, tapi jangan berdandan! jangan pakai pakaian yang mencolok, atau nanti akan kucolok mata yang melirik ke arahmu.” Ultimatum segera.


“Cih.”


“Iya sayang, iya, jadi bolehkan perginya.”


“Kirim aku foto sebelum berangkat, kali kulihat kamu cantik kamu harus ganti pakaian, tidak-tidak kamu kan memang selalu cantik, jadi dandan yang jelek saja.” Lagi-lagi persyaratan pelengkap.


“Cih memangnya aku cantik dari mana sih, dandan saja jarang.”


ijin mau pergi pun harus melalui beberapa tahap.


***


Mereka mengitari mall sudah berpuluh-puluh kali. Bahkan pelayan yang dibawa mama sudah kewalahan karena membawa barang yang bertumpuk. 


Lelah berjalan-jalan mereka pun ke cafe untuk membeli beberapa minuman dan membasahi dahaga. 


“Mama seneng banget sayang, dari dulu mama mau kayak gini belanja bareng mantu, jalan-jalan gitu. Soalnya Hana sibuk sama kuliah, terus papa juga sering sibuk ngurusin bisnis, apalagi Hans. Jadi mama sendirian dirumah, untung ada kamu mama jadi gak kesepian lagi.” Menepuk membuat permukaan tangan Angel.


“Iya ma.” Sahut Angel, tidak menyangka juga ternyata mama merasa kesepian walaupun memiliki harta yang berlimpah.Ternyata benar tolak ukur kebahagiaan itu bukan uang. 


“Eh ada Angel nih.” Suara seorang wanita menyentak pendengaran Angel, seorang wanita yang sangat dikenalnya sekarang tepat berada di depan matanya, menampilkan wajah sinis.


“Siapa kamu nak?” Mama bertanya heran dengan ramah. Berbeda sekali dengan raut wajah Angel yang tidak bisa dikendalikan.

__ADS_1


“Bukan siapa-siapa...Tante siapanya ni cewek.” Ujar si wanita bertanya dengan tubuh yang mulai duduk tanpa diperintah meletakan tas bermerek di atas meja, dan menggeser posisi minuman Angel.


Melihat hal itu Angel segera menghidupkan alarm peringatan wanita jahat.


“Ada apa Sena?! Jangan menggangguku pergi sana, hidupku sudah tenang karena tidak bertemu kau!” Angel meninggikan suaranya tangannya tampak terkepal. 


Mama yang tidak paham situasi tampak begitu terkejut. 


“Cih, kau yang mengganggu hidupku pada awalnya jadi jangan sok. ” Cerca Sena dengan sinis.


“Apa!” Angel tidak dapat berkata bertemu dengan wajah yang paling dibencinya selama hidup tentu bukan hal yang menyenangkan. Wanita ini sungguh luar biasa liciknya.


“Eh, siapapun Tante, Aku cuma mau ngasih tau kalo si Angel ini sebenarnya seorang pencuri! Bukan cuma curi orang tapi dia juga curi kekasih orang!” Mulut Sena begitu berapi!


“Cukup!” Angel menggebrak meja, mama segera memeluk dari samping. Wanita ular ini masih memendam kebencian tak berdasar padanya.


“Sabar sayang sabar.” Memusut bahu sang menantu.


“Kenapa malu? Gak nyangka tampilan udah kayak orang berduit, pasti hasil nyuri lagi ya lo.” Ejek Sena dengan begitu keji.


“Hei jaga omongan kamu ya!” Sergah mama dengan emosi. Apa-apaan! Wanita ini bicara seenak jidat tentang sang menantu! 


“Cukup! Kubilang cukup-cukup! Sudah cukup di masa lalu gara-gara kamu hidupku hampir hancur! ”Angel menepuk dadanya keras.“Semua yang keluar dari mulut dia itu bohong. Angel tidak pernah sekalipun, mencuri satu persen uang yang bukan milik Angel. Hidup Angel hampir hancur karena dicecar dimana-mana karena kesalahan yang tidak Angel lakukan.” 


“Mama tau siapa yang sebenarnya mencuri?” Angel melayangkan tatapan tajam ke arah Sena yang tampak begitu terkejut dengan perubahan Angel. Dulu Angel mudah ditindas, kenapa yang berhadapan dengannya sekarang berbeda, bahkan mata Angel tampak membara.


“Dia mah dia!! Titik kecerobohan Angel dulu adalah percaya dengan ucapannya, ternyata dia yang mengambil uang toko.” Mengulik kenangan buruk membuat Angel begitu marah. 


“Kamu!!” Mama naik pitam “Berani sekali kamu memfintah menantuku! Dasar tidak tau malu! Kenapa muncul dengan tidak tau malu dan menunduhkan hal yang tidak dilakukan menantuku. Dasar wanita keji.” Keributan dikafe menarik perhatian semua orang. 


“Angel punya bukti, tidak kan? Jadi jangan asal nuduh, semuanya tau kamu yang ngambil duit itu, bukan aku!” Sena bersmirik menjengkelkan. Angel melipat bibirnya. Sudahlah Angel tidak mau menahan dan menjadi orang baik lagi ia ingin melepas semua rasa sesak yang diakibatkan oleh Sena. Semua rasa karena ditindas dan dikucilkan karena tuduhkan yang bukan dia pelakunnya! 


“Karena kamu picik! Makanya menantuku yang polos terjerat!” Mama semakin marah, dia menjambak keras rambut Sena. Hingga Sena mengaduh kesakitan.


“Ma,mama.” Angel begitu tersentak dengan respon mama yang lebih cepat darinya.


“Akhhh lepas tante, rambutku habis krimbat, akhhh jangan tarik -tarik baju. Bajuku mahal, Eh Angel bantu lepasin ini Tente dong!” Hiteris rambut dijambak dan baju ditarik-tarik.


“Mah udah mah, semuanya udah lewat juga! Udah mah.” 


Mendengar Angel yang masih berlaku baik mama semakin menatap tajam Sena.


“Lihat ini! Contoh perilaku menantuku! Disaat kamu sudah memiliki kesalahan yang membuatnya begitu terpuruk, dia bahkan tidak membalas kamu sedikitpun, bahkan dia hanya tidak ingin bertemu dengan kamu! Tapi apa ini, dasar tidak tau malu!” Sena semakin menjerit karena rambutnya sudah tertarik hingga kulit kepanuhan terasa sakit.


“Lepas Tante TUA!!” 


***


~Kantor polisi


Tidak pernah Hans duga ia akan menemui wajah acak-acakan sang istri sembari duduk di depan polisi. 


“Sayang kenapa ini!” Langsung tersentak dengan wajah Angel dengan sudut bibir yang pecah.


“Tidak apa-apa sayang, hanya sedikit pertengkaran.” Sahut Angel berusaha mengulas senyum namun sudut bibirnya terasa perih.


“Jangan banyak bicara bibirmu terluka.” Masih berjongkok di depan sang istri.

__ADS_1


“Siapa! Siapa yang melukai istriku!” Berteriak keras di kantor polisi bahkan pak polisi yang tertidur pun terkejut dibuatnya. Nyali Sena seketika ciut tenyata dia berhadapan dengan Hans Prasetyo. Jantungnya selama dibuat copot dari tempatnya.


“Dia nak, Dia! Wanita yang mukanya kucel itu, dia yang habis-habisan berkelahi dengan angel!” Sudah mau berdiri dan menjambak lagi.


Sena menggeram kesal karena dikatakan kucel.


“Bu sabar Bu, sabar! ” Pak polisi berusaha menengahi mama yang sudah naik pitam kembali. 


“Kau!” Suara rendah Hans lebih menakutkan dari pada teriakan yang menggema tadi. “Pak, tuntut mereka karena sudah berani menyentuh Istri dan ibuku!” Menekan perintah pada pak pengacara. Mama tertawa kemenangan melihat wajah Sena yang tertunduk dalam.


“Sial nak gigi mama patah! Udah tua gigi makin berkurang. Huwaa…” Untuk pertama kalinya mama membuat Keributan lebih besar di kantor polisi karena satu gigi nya patah.


***


Sekembalinya ke rumah papa sudah menyambut mama yang menangis tersedu. Sedangkan Hans masih dengan posisi menggendong Angel. Pekerjaan hari ini terpaksa ia serahkan ke Bram! Karena telpon dari mama mengabarkan ada di kantor polisi beserta penjelasan yang membuat Hans begitu emosi!


“Sini lihat, seberapa keras dia memukul wajahmu sampai bibirmu berdarah begini.” Begitu kesal dengan tautan alis yang menyatu, memadukan kekesalannya begitu memuncak. 


“Aku juga membalasnya sayang, ini hanya sedikit saja. Kau tidak liat tadi siapa yang paling parah.” Sombongnya namun seketika meringis.


“Sudah jangan banyak bicara! Tunggu disini.” Begitu kesal,dan berlalu tergesa mengambil kotak p3k.


“Aku tidak suka melihat tampilanmu yang begini. Kamu sangat berharga untukku sayang, jangan sampai terluka begini lagi. Atau kau… akan melihat aku gila karena marah!” Tegas Hans, dengan suara berat. Dia masih saja kesal dan marah. Angel hanya bisa diam dan pasrah saat Hans mengobati sudut bibirnya.


“Aku hampir saja menampar wanita itu! Jikalau dia tidak wnaita aku pasti sudah membantainya tanpa ampun. Berani sekali membuat Angelku teluka, bahkan ada cakaran di sekitar lehernya! ” 


“Apa yang terjadi?” Bertanya lembut setelah berhasil mengobati bibir Angel.


“Hanya sedikit insiden.” Angel berusaha mengelak, matanya tak berani menatap Hans.


Dengan lembut Hans mengusap dagu Angel, hingga manik mata mereka saling terpaku.


“Jelaskan, jangan sampai aku mengetahuinya dari orang lain.” 


“Ta-tapi jangan marah ya sayang.” Cemas dengan respon Hans yang selalu diluar nalarnya. Hans menghela nafas kasar, dan menganguk.


“Di-dia hanya salah satu orang yang tidak ingin kutemui lagi, namun ternyata kami bertemu.” Angel berkata lirih. Hans masih menunggu kelanjutan cerita Angel.


“Dulu aku bekerja di toko roti, dulunya dia temanku, dia meminta tolong untuk digantikan mejaga toko malamnya, aku mengiyakan itu.” Suara Angel tampak memberat.


“Ku kira semuanya baik-baik saja, sampai esok harinya aku malah dituduh mengambil uang yang ada di kasir. Padahal aku tidak mengambilnya sama sekali, semua hal memberatkan ku. Aku bodoh karena percaya denganya, saat-saat aku dicerca habis-habisan, dan dipecat, dia masih bersembunyi di balik topengnya dan menjadikanku kambing hitam...Aku…aku...menanggung rasa sakit yang begitu dalam ...karena...karena…” Angel tak lagi melanjutkan kalimatnya karena smluan membuat itu mengugurkan air mata yang mengenang karena mengulik rasa sakit masa lalu.


“Cup...cup...cup...berhenti menangis sayang. Itu membuatku sakit.” 


“Hikss...aku tidak mau mengingatnya lagi, aku juga sudah meluapakan rasa kesalku tadi. Semuanya terasa lepas…hikss..sekarang aku hanya ingin hidup tenag, tidak mau lagi berurusan dengannya.” Suara Angel semakin serak karena menangis. Hans sungguh kesal! Melihat titik demi titik air mata sang istri. 


“Ternyata dihupmu berat sekali sayang, harus menanggung kesalahan yang tidak kau lakukan. Aku akan melindungimu sayang, selama kau menjadi istriku aku tidak akan membuatmu mendapatkan ketidakadilan seperti masa lalumu lagi. Tidak akan pernah! ” 


.


.


.


Happy reading


Jangan lupa komennya .

__ADS_1


__ADS_2