Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
CH 93-Kondisi Hans (Part 2)


__ADS_3

Mimpi penuh kabut itu bagaikan dunia nyata bagi Hans .Dia berdiri di atas rerumputan di pinggir danau yang luas . kakinya tak beralas,merasakan langsung rerumputan membuat telapak kakinya merasa nyaman .


Dilihatnya seseorang sedang duduk di pinggir danau .Di bangku panjang dengan sandaran .


Dia mengenalnya ! dia mengenal tubuh itu Bahakan dari jarak jauh seperti ini.


“Kakek.” Dia berlari dengan girangnya bagaikan Kembali ke masa kecil .Kakeknya laki-laki yang paling dia kagumi dan dia sayang duduk pada bangku itu .Dadanya terasa membuncah bahagia .


Mata Hans berkilat bahagia benar ini kakenya! segera dia peluk kakenya itu!


“Kenapa berlari Hem ? Kamu bukan anak kecil lagi.” Suara yang dia rindukan begitu menyentuh dalam hatinya ,matanya berkaca penuh rasa bahagia .


“Kek Hans rindu.” Air mata kerinduan sudah mulai menetes .Hans berjongkok didepan kakeknya .Diusap kakeknya kelapa Hans dengan penuh kasih .“Kenapa kakek menghilang ...Hans tidak sanggup menghadapi kenyataan itu .”


“Haha kakek tidak kemana-mana.”


“Kakek bohong kakek menghilang tanpa pamit .Kakek meninggalkan hans .” Hans bersuara penuh kekesalan sang kakek hanya tertawa .Tawa itu sangat menarik .suara berat yang termakan usia memiliki karisma tersendiri .


“Sekarang…sekarang kekek tidak boleh pergi lagi hans tidak akan membiarkannya.” Hans berucap dengan suara tinggi dan lantang penuh rasa sakit .


“Cucu kakek sudah besar ternyata .”

__ADS_1


“Tentu saja .”


“Mau ikut bersama kakek.Kita bisa terus bersama mulai sekarang .”Uluran tangan kakeknya membuat Hans diam mematung .Seharunya dia tidak ragu mengambil uluran tangan itu .Dia paling menyanyangi kakeknya di dunia ,dan sekarang ini saatnya .Dia bisa bahagia bersama kakeknya .Bisa menghabiskan waktu dengan kakeknya .Kakeknya akan bersamanya dan tidak hilang lagi .


“Kenapa hem?”


“Entahlah kek rasanya ada sesuatu yang hilang sesuatu yang sangat berharga yang Hans miliki . Sesuatu yang membuat hans terasa sesak.”Mata Hans melayang ke arah langit .


“Ayo nak.”Ajak kakeknya lagi .


Hans yang sejak tadi mematung dengan perlahan mengambil uluran tangan kakeknya .“Kita akan selalu bersama nak .” Hans menganguk mereka terus berjalan menuju danau yang luas di depan mata .Suasana penuh kabut .


Di setiap langkahnya masih terus ada keraguan akan keputusannya .Matanya terpejam sejenak .


Jantung Hans teras berdetak dengan begitu cepat serta merta dia menepis tangan kakeknya .


“Aku melupakannya kek.Aku memiliki seseorang yang paling kusayangi saat ini .Dia menungguku sekarang .”Manik mata Hans penuh akan cairan bening .Dadanya menyerukan rasa sesak sekelebat bayangan Angel langsung berputar bagikan film .


“Aku tidak bisa pergi tanpa pamit seperti ini.Hans sudah berjanji akan membuat dia selalu bahagia .Membuat dia tidak menangis... dan jika Hans pergi tanpa pamit maka dia akan larut dalam tangis yang panjang .”


“Hans ingin menikahi dia kek ...Hans ingin ...” Suara Hans terasa tercekat ini hal berat .Namun meninggalkan Angel jauh lebih berat .

__ADS_1


“Hans ingin menjalani rumah tangga dengannya ...hidup bersama dan memiliki malaikat kecil dalam kehidupan kami ...Dia dia adalah wanita yang paling Hans cintai .” Buliran itu penuh rasa sesak dan cinta .


Senyum yang termakan usia itu penuh akan pengertian .“Impian Hans belum tercapai…maafkan hans kek hiks…hiks…”Hans mengusap wajahnya kasar dengan begitu tautan tangan mereka terputus .


“Kejarlah impianmu nak .Kakek akan selalu ada disini .”


Buliran air mata mengatarkan kepergian kakeknya .Kakeknya sudah hilang bagikan sebuah cahaya tepat di depan matanya sendiri .Dan dia menyaksikan ini untuk kedua kalinya .


Dokter terus berupaya mengunakan alat kejut jantung untuk membuat jantung Hans tetap berdetak .


Layar monitor mulai menunjukan garis kehidupan .Perlahan….perlahan dan semuanya normal .Buliran air mata tampak menetes di sudut mata Hans.


“Semuanya sudah normal dokter .”


.


.


.


Maaf hanya bisa up singkat ya 🤧🤧

__ADS_1


Happy reading


~Tyatyut


__ADS_2