
Beberapa jam sebelumnya...
Ini bukan sebuah pertemuan yang ayana inginkan. Sekalipun ia tak pernah ingin menjumpai sosok penghancur dalam keluarganya. Sosok yang tidak lain adalah—, sang Ayah.
Sosok figur sang ayah yang menggores luka di dalam dada. Sekarang sang ayah datang di hadapannya. Dengan wajah yang sangat Ayana benci.
Demi tuhan Ayana ingin sekali sekarang berteriak. Dan melakukan sumpah serapah yang tak pernah bisa dilakukannya sejak dulu.
Dia tidak memandang Ayahnya dengan tatapan sendu sarat akan kerinduan. Matanya di dominasi oleh kilat kemarahan.
Ya bagaimana mungkin seorang anak yang sudah merasa begitu trauma karena ditinggal sejak kecil, bisa menyambut sang ayah dengan tangan terbuka.
Hal itu tidak mungkin. Apalagi waktu kecil bagi Ayana adalah waktu dimana dia sudah paham arti perbuatan sang Ayah.
Apalagi sejak sang ayah pergi psikologi sang ibu terganggu hingga harus masuk dalam rumah sakit jiwa. Sejatinya Ayana ditinggal sejak kecil dan dipaksa tubuh dewasa dari usianya. Menghadapi dunia yang kejam dan penuh persaingan. Tanpa Ayah dan ibu.
Sekarang dengan rasa terpaksa yang besar Ayana duduk di salah satu kursi. Dengan tubuh yang kaku.
Di penghujung sudut cafe.
Lelaki yang sudah mulai berumur itu di hadapannya. Lelaki itu terlihat mencondongkan tubuhnya ingin lebih dekat menatap Ayana.
“Astaga anakku yang manis ini, ternyata kau sudah tumbuh besar ya.”
Itu permulaan yang sangat buruk bagi Ayana. Tubuhnya merespon dengan kaku.
Gigi Ayana bergemeletuk, sedang tangannya terkepal di bawah meja.
“Langsung saja, apa yang dirimu inginkan.”
Dia menekan setiap bait lontaran kalimatnya. Matanya menatap sang Ayah dengan tatapan tajam.
“Dirimu? Kau menyebut Ayahmu dengan kata ganti dirimu?!”
Bowo lelaki dengan tidak tahu malunya menggertak Ayana. Sehingga membuat pengunjung sekitar melihat ke arah mereka.
Pengunjung sekitar diam namun tetap melirik dua orang itu.
Mata Ayana berkilat semakin marah. “Lalu harus kusebut apa dirimu?... Ayah?” Ayana tertawa keras, dan penuh ironi.
Lalu matanya menatap lurus dengan tajam sang ayah.
“Ingin disebut begitu?” skeptis Ayana.
Bowo menjadi emosi melihat Ayana yang ada di depannya ini. Dia seharusnya mendapatkan penghormatan dari sang anak. Namun anaknya malah menjawabnya.
__ADS_1
“Kau tidak sopan sekali dengan orang tuamu putriku!” bentaknya lebih keras.
“Ya! Memang begini aku, aku tidak diajari sopan santun oleh orang tuaku. Anda tau kenapa? Karena lelaki yang katanya disebut sebagai ayah saya tidak pernah mengajarkan saya untuk berperilaku demikian!”
Ayana tertawa sumbang, membuat Bowo tercekat di tempatnya. Karena Ayah Ayana adalah dirinya.
“Dia tidak memberikan pengajaran apapun terhadap saya. Maka dari itu saya tumbuh seperti ini. Menjadi wanita yang tidak sopan.”
Jika saja bisa mungkin gelas kaca yang sedang Ayana pegang sekarang akan pecah.
Bowo menatap tajam Ayana.
“Tetap saja aku ini ayahmu. Lebih sopan kalau bicara.”
“Ah, sudahlah...Aku akan langsung pada intinya. Berikan ruko itu padaku dan aku tidak akan mengganggumu.” tangannya menengadah dengan sangat rendah. Seakan memerintah Ayana.
“Memberikannya?”
Pada lelaki penghancur ini? Mata Ayana berkilat semakin tajam. Memberikan ruko miliknya?
“Punya hak apa ayah meminta ruko milikku?” Geram Ayana.
Bowo langsung menggebrak meja. Menunjuk Ayana.
Kesabaran Ayana habis. Lelaki ini lagi-lagi mengaitkan Ken pada dirinya. Inilah yang membuat dilema terbesar Ayana dengan Ken.
“Ruko itu adalah milikku! Dan aku tidak akan memberikannya. Kalau ayah ingin mendapat uang seharusnya ayah bekerja bukannya meminta begini.” tandasnya keras.
Bowo terbakar amarah. Anaknya tidak lembut sekali.
“Kau benar-benar ya! Aku sudah susah payah mencuri dokumen itu. Kenapa kau malah membuat semuanya rumit.”
“Susah payah?” Ayana tertawa sumbang dengan keras. Demi tuhan telinga mana pun yang mendengar lelaki itu berucap demikian pasti akan tertawa.
“Susah payah Ayah bilang? Tindakan ayah yang mencuri sudah ayah bilang sudah payah? Kalau begitu bagaimana denganku!”
Ayana menepuk dadanya dengan keras. Sangat keras sekali. Dia sudah berdiri menjulang di depan ayahnya. Perhatian pengunjung semakin tersorot ke arah mereka.
“Bagaimana denganku yang sudah membangun ruko itu dengan sangat bekerja keras. Ayah tau aku membangun Ruko itu dengan susah payah.”
“Aku mencari uang ayah. Aku mencarinya. Tidak ada yang bisa kuharapkan selain diriku sendiri. Aku bekerja keras, pagi pergi lalu pulang malam.”
Dada Ayana memburu.
“Ayah tau? Tangan ini? Tangan ini sudah sering sekali menggigil karena terlalu banyak mencuci piring, belum lagi kulit ini tidak pernah mendapat perawatan. Selalu ditempa oleh matahari. Belum lagi kaki ini, kaki ini pernah patah karena terlalu banyak bekerja keras. Sampai-sampai tertabrak dan terpental karena kecerobohan pengendara.”
__ADS_1
“Dan ayah, dengan tidak tahu malunya meminta ruko yang dibangun dengan titik keringatku?”
“Setidaknya kau harus ingat balas jasa Ayana! Aku ini ayahmu!” balas bpwo keras.
“Kau anak kurang ajar! Tak tahu diuntung! Anak sialan!” sumpahnya.
“DEMI TUHAN!” Ayana membanting keras gelas kaca tadi. Hingga menyisakan pecahan.
Matanya lurus menatap sang ayah.
“Apa ayah lupa dengan perbuatan Ayah?! Sampai-sampai masih dengan tidak tahu malunya meminta balas jasa? Sekarang aku tanya jasa mana yang coba ayah minta sekarang?”
“Sejak aku sangat kecil sekali ayah sudah pergi bersama selingkuhan ayah! Tidak memberikan sepeser uang pun pada aku dan ibu. Kami menderita.”
“Ibu bahkan menjadi gila karena ayah tinggalkan. Ibu gila karena ayah berselingkuh! INGAT! AYAH BERSELINGKUH DENGAN WANITA ITU!”
“Kumohon jangan membuat cerita simpang betapa Ayah sangat berjasa dalam hidupku. Karena ayah tidak lebih dari penghancur dalam kehidupanku.”
Ayana dengan derai air matanya berlari menjauh dari dalam cafe itu. Dia tidak lagi sanggup mentoleransi sikap sang ayah.
Meninggalkan Bowo dalam keterpakuan.
“Lelaki itu tidak tahu malu, dia sudah berselingkuh dan sekarang malah ingin memoroti anaknya.”
“Iya, bisa-bisanya ada lelaki tak berguna begitu di dunia ini.”
Di depan cafe itu Ayana dengan segala rasa sesak di dadanya masih berlari. Sialan! Ayahnya datang meminta ruko miliknya. Lucu sekali nasibnya ini.
Kenapa nasibnya penuh derita? Ya Tuhan Ayana rasanya tidak sanggup lagi. Demi tuhan ini sangat melelahkan.
Apa dia benar-benar anak sial? Apa dia anak sial?
Apa kehadirannya di dunia ini yang sebenarnya membawa malapetaka bagi sang ibunda.
“Demi tuhan, anak sialan ini hanya ingin memperoleh sedikit kebahagiaan…Hikss…” Ayana menangis keras dengan segenap rasa sesak di dada. Dia lemah dan tak mampu menahan segala beban yang menempanya.
Dia masih terus menangis di pinggir jalan itu. Sampai sebuah dering telepon terdengar. Masih dengan tangisnya. Ayana memandang ke arah depan.
“Hei! Perempuan lari! Jangan disana! Ada mobil yang melaju kencang lagi!!!”
“Hei!”
Silau lampu mobil itu memancar hingga mengenai mata Ayana. Matanya membulat penuh derai air mata.
Inikah akhir dari kehidupannya yang melelahkan? Matanya terpejam, dia teringat dengan sang ibunda. Lalu juga...Ken...
__ADS_1