Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
CH 123- Memimpikan Kehadiran Malikat


__ADS_3

Rutinitas hari pun terus berlanjut, sering kali drama berangkat kantor terus terjadi. Harus banyak-banyak dikasih ciuman dan gelayutan manja baru mau pergi ke kantor.


Bram pun hanya bisa memijit pangkal hidungnya, karena jadwal kerja sekarang sering kali mundur satu jam. Protespun tak bisa, karena walupun ditunda hasil yang diberikan selalu luar biasa. Tentu saja seorang Hans memang tidak pernah mengecewakan.


“Apa semua berkas sudah siap, sekretaris Naura?” Tanya Bram pada sekretaris dengan level kerja cekatan yang tak kalah dengan Angel. Ia adalah pengganti Angel.


“Ya pak, semuanya sudah siap. ” Sahut Naura.


Segera saat Hans melangkah lebar, Bram dan Naura pun segera mengekori. Tujuan mereka saat ini bertemu dengan klien. Semuanya beres dalam kurun waktu 30 menit.


***


“Apa yang dilakukan sitriku? Apa dia tidak kesepian? Aku sangat merindukannya.” Bergumam dalam hati. Keluar dari mobil dia pun segera melangkah masuk ke rperusaban tempatnya mengabdi. Langkahnya terhenti tepat di lantai dasar, sorot matanya menajam.


“Sayang!” Teriaknya keras, membuat yang dipanggil berjingkit kaget, sama halnya dengan laki-laki yang ada di depannya.


“Sa-sayang.” Menghampiri dengan berlari dan segera mendapat pelukan erat serta sapuan ciuman di semua area wajah. Ia tidak lain adalah Angel. Rahang Hans rasnya dibuat mengeras, melihat Angga berdiri berhadapan dengan Angelnya. Dia tau betul bahwa Angga memiliki ketertarikan terhadap sang istri. Hal itu membuat dia kesal.


“Kenapa kemari?” Berucap dengan nada rendah, dengan sorot mata tak beralih menghadap ke arah Angga.


“I-ini pak, Bu Angel...” Angga ingin menjabarkan situasi namun Hans menukasnya segera.


“Siapa yang bertanya padamu.” Tukas Hans kesal.


“Maksud Anda juga kan termasuk saya pak, kalau bukan saya kenapa Anda malah menyoroti saya.”


“Maaf pak, saya tadi hanya menyapa sekr...”


“Istriku! Dia istriku, bukan sekretaris Angel." Astaga Angga lupa karena terbiasa.


“Sayang, kamu tidak suka aku kemari.” Sudah mencebikkan bibir. Mendengar suara dingin Hans, mungkin ini kesalahan karena inisiatifnya ingin memberikan kejutan.


“Ya sudah maaf aku pasti menggangu kan, ini Asisten Bram, untuk Anda saja. Nampaknya suami saya sedang sangat sibuk.” Hans gelagapan dengan respon Angel. Segera ia memeluk Angel.


“Bukan begitu sayang, aku suka! tentu saja aku suka! kapan aku tidak suka dengan sikap kamu!” Wah mereka menjadi sorot perhatian saat ini. Baru pertama kali para karyawan melihat seorang Hans yang tampak gelagapan.


“Aku hanya tidak suka, melihat kamu berhadapan dengan Angga!”

__ADS_1


“Lepas, aku mau pulang.” Memberontak. Sekali lagi gelagapan dengan respon sang istri yang keras Hans pun tidak ada pilihan selain menggendong smag istri.


“Kita bicara, Bram awas saja kalau kau berani menyentuh makanan buatan sitriku!” Tegasnya pada Bram, dia masih ingat tentang rantang makanan yang diserahkan Angel pada Bram dengan kasar tadi.


“Anda tidak perlu setegas itu pak, saya pun pasti akan menyerahkan makanan ini kepada Anda. Dari pada nyawa saya yang diserahkan nantinya.”


Naura yang baru pertama kalinya melihat Angel pun merasa terkaget. Pasalnya dia baru tau wajah istri sang atasan. tenyata seperti yang dirumorkan benar-benar cantik dan menggemaskan.


“Aku tidak tau apa pak Hans masih akan disegani, jika melihat situasi tadi.”


Angel diam tubuhnya dihimpit disudut lift, dipaksa melingkarkan tangannya di pinggang Hans, jarinya dirapatkan hingga sulit untuk memberontak kembali. Ia sedih karena Hans menyambutnya dengan tatapan kesal dan nada dingin.


“Jika tau begini aku tidak akan memberanikan diri ke kantor, aku bahkan harus melewati para mantan rekan kerjaku, mereka memeprlaikanku dengan sangat berbeda. Dan juga tatapan disetiap langkahku...”


***


“Kenapa cemberut Hem?” Bertanya lembut, sudah berada di dalam ruangannya. Dan tubuh sang istri menguasai tubuhnya di sofa, lalu tangan Hans menekan punggung sang istri agar saling menempel.


Masih diam, memilih tidak menjawab pun matanya yang tak menatap. “Sayang maaf, aku bukannya tidak menyambutmu. Aku hanya terkejut tadi. ”


“Kamu tau kan, aku dulu tidak suka kamu dekat dengan Angga, maka dari itu aku mengutus Bram untuk menggantikanmu. Sama halnya saat ini, aku tidak suka melihat itu.” Mendengar Hans tidak kesal dengan dirinya membuat Angel lega.


“Tapi kan sayang, dia hanya menyapa tadi.”


“Kau membelanya.” kembali kesal.


“Bu-bukan begitu sayang.” Langsung menyanggah.


“Lalu apa maksud kata mu tadi.”


“Itu bukan pembelaan tadi hanya sekedar, bicara saja.” Ya aku bicara apasih, aku kan jadi bingung kalau kamu kesal begini.


“Kau juga kenapa tidak izin saat pergi.” Wah Masalah baru, Hans sudah malas membahas Angga.


“Kalau aku ijin kan bukan kejutan namanya sayang.” Membela diri.


“Tapi tetap saja, jangan pergi sendirian begini.”

__ADS_1


“Aku tidak pergi sendiri, aku bersama lala.” Kembali menyanggah. Lala adalah wanita dengan teknik bela diri tingkat dewa. Hans menugaskan wanita itu sebagai supir sang istri sekaligus pengawal.


“Huff, baiklah kali ini kumaafkan.” Mencium lama dengan *******. Bahaya harus segera dihentikan ini.


“Sa-sayang, Cukup ini waktu makan siang.” Berusaha berucap dengan nafas tersengal.


“Aku memang ingin makan siang.” Menyeringai dan dengan satu kali gerakan membawa tubuh sang istri menuju ruang pribadinya. Tak lupa pintu dikunci dengan segera.


Pergumulan panas, di siang hari dilakukan. Untung saja ruang pribadi itu kedap suara, jika tidak Bram akan semakin berfantasi liar ketika mendengar suara mereka.


1 Jam bergumul dengan sang istri mendapatkan kepuasan tersendiri. Tenaganya terasa penuh walaupun belum akan siang. Dia bekerja dengan mengurung diri di dalam ruang pribadi bersama sang istri.


Akhirnya pekerjaan pun ditunda karena tak kuasa melihat punggung mulus sang istri yang terbuka.


“Sa-sayang, apa yang kamu lakukan.” Berkata lemah, karena lelah.


“Apalagi...” Menyeringai. Jeritan erotis kembali terdengar. Kelelahan itu dibanjiri dengan keringat panas, sang istri sedang menyurukan badan ke tubuhnya.


“Bram, perintahkan Sekretaris Naura untuk membeli pakaian baru untuk istriku, jangan lupa ******” Pakaian dalam beserta BH dan celana dalam beserta ukuran di katakan dengan jelas. Bram yang mendengarnya malah merasakan situasi yang tak bisa dijelaskan. Rasanya pipinya merah padam malu. Harus meminta Naura untuk membeli yang dikatakan Hans.


“ Apa kamu sebentar lagi akan hadir sayang.” Menyingkap selimut dan mencium perut sang istri. “ Kalau kamu hadir, jangan membuat Mamamu lelahnya. Sudah cukup papa membuat Mamamu lelah, kamu jangan juga. Jangan rewel, dan buat mamamu merasa nyaman ya.” Berbicara di depan perut sang istri. Angel bukannya tidak menyadari itu, Sudah hampir 3 bulan menikah namun kabar kehamilannya belum muncul. Hal itu membuat dia merasa bersalah dengan Hans yang begitu memimpikan seorang anak. Tak terasa cairan bening menggenang disudut matanya.


“Tuhan berikanlah berkahmu, ijikanlah seorang malaikat tumbuh di dalam janinku. Akan kujaga dia dengan penuh kasih sayang, Kami memimpikan seorang malaikat. Jadi mohon berikanlah kepada kami.”


.


.


.


Happy reading


~Tyatyut


Wah-wah baru kembali nih, Selamat membaca, walupun gak banyak semoga bisa mengobati ya, soalnya masih ada beberapa hal yang harus saya urus.


Kasih komen kalian dong, harapan tentang ini novel.^_^

__ADS_1


__ADS_2