
“Duduklah jangan bersikap ragu-ragu begitu.”
Ayana memilih segera menurut dan duduk di tengah ruangan Ken. Ruangan yang diisi oleh furnitur berkelas ini sangat nyaman dan sejuk. Setidaknya hal itu sedikit mendamaikan pemikirannya.
Ada Alasan mengapa Ayana datang ke kantor Ken begitu pagi. Ayana begitu tidak terima dengan kontrak kerja yang ada.
Adapun kontrak kerja yang di terimanya yaitu;
Kontrak kerja yang dibaca Ayana bisa dikatakan kontrak seumur hidup. Tertera jelas bahwa kontrak akan berakhir jika Wanita yang sesuai yang didinginkan Ken Baru Di dapatkan. Catat Baru di dapatkan! Selama 2 Minggu ini saja Calon-calon yang diajukan Ayana ditolak oleh Ken. Dari calon yang langsung dibawa Ayana bertemu Ken, ada pula calon yang dikirim Ayana gambarnya lewat Pesan WhatsApp berserta keterangan kelebihan para wanita itu. Namun Ken menolaknya hanya dalam kurun waktu 1 menit setelah pesan dibaca!
Hell bukankah tidak menampik kemungkinan bahwa ia akan menjalani kontrak seumur hidup jika calon yang diinginkan Ken tidak di dapatkan!
Ayana harus segera menemui Ken kapan pun waktunya, Di mana pun saat Ken memerlukannya! Hei hal itu memberatkan bukan? Bagaimana jika Ayana dipanggil saat sedang tertidur? Ini sudah melenceng dari pekerjaan yang akan dilakukannya!
Ada poin, dimana Ayana harus berbicara santai dengan Ken. Iya berbicara santai! Tidak ada penggunakan kata Anda saya, Tuan, serta berbagai kata-kata formal lain. Ayana sungguh dibuat pusing! Kenapa bahkan cara dia bicara harus diatur dalam kontrak!
__ADS_1
Itu hanya sebagain hal lainnya lebih memusingkan lagi.
“Minumlah.” Ken menyerahkan segelas air putih , kerutan dikening ya yang tadi begitu menukik sekarang mulai memudar. Ayana pun menginginkan pemikirannya.
“Terima kasih.” Ayana menerimanya dengan sungkan.
“Aku menyuruhmu datang ke kantor bukan sepagi ini.” Ken buka suara. Suaranya masih terdengar jengkel.
Alex masih disuruhnya untuk membereskan masalah dengan dua resepsionis kurang ajar tadi. Dua resepsionis itu memang perlu di buat mengerti. Kejadian ini bukan sekali dua kali. Bahkan beberapa kali dua resepsionis itu menolak tamu yang memang sudah Ken tunggu, karena menilai dari penampilan.
Sekarang karena hal ini terjadi pada Ayana. Hal itu begitu membludak kan amarahnya. Apalagi melihat Ayana yang bergerak lelah ketika melangkah ke dalam ruangannya. Ingin rasanya Ken kembali menyemburkan lahar kemarahan pada dua resepsionis itu. Tapi jika dia melakukan hal itu, maka para karyawan akan melihat bagiamana Ken yang begitu emosional. Hal itu tidak boleh terjadi. Jadi keputusannya untuk menarik Ayana masuk ke dalam ruangannya adalah hal yang paling tepat.
“Itu, saya hanya ingin segera membicarakan kontrak, tuan.” Ayana meletakkan gelas ke atas meja.
“Ck, bukannya sudah tertera dikontrak tidak ada bicara dalam bahasa formal!” Ken sudah merasa kesal, Ayana ternyata tidak penurut. Tampaknya Ayana adalah tipe wanita keras kepala yang suka beradu argumen.
“Benar, hal itu yang saya permasalahan tuan. Kenapa harus ada pengaturan cara bicara saya dalam kontrak kerja?”
Jeder! Hampir saja Ken tersedak, cara bicara Ayana yang serasa menyudutkan membuat dia berpikir bahwa ia sedang di hadapkan dengan hakim.
“Telingaku jengkel kalau mendengar kau berbicara 'Anda saya', dan juga kenapa kau memanggilku tuan. Aku bukan majikanmu.” Ken menjawab dengan nada kesal. Ya benar dia jengkel. Dia tidak suka dipanggil tuan oleh Ayana.
Padahal Ayana yang dulu diketahuinya memanggilnya dengan sebutan kakak. Ken jadi ingin segera mengulik apa Ayana benar tidak mengenalnya ya?
“Anda klien saya, karena itu saya memanggil Anda tuan.” Bukannya itu wajar?
Ayana berpikir.
Ken tersenyum culas.
“Justru karena aku klienmu, kau harus mengikuti keinginanku bukan?”
__ADS_1
Telak Ayana dibuat bungkam oleh pernyataan Ken. Bibirnya tidak bisa membantah. Iya jika kelinci menginginkan maka dia menginginkan hanya perlu menurut. Tapi dengan Ken mengubah cara bicara mereka, maka hal itu juga akan menipiskan jarak antara klien yang penyedia jasa.
“Baiklah hal itu bisa saya terima.” Dengan sangat terpaksa.
“Aku.” Koreksi Ken, tubuh Ken tiba-tiba mencondong membuat Ayana segera bergeser ke sisi kanan sofa, sebab siku mereka sudah saling menyentuh.
Tidak tau berasal dari mana getar itu. Membuat Ayana segera menggigit bibirnya. Dihadapkan pada wajah dengan pahatan sempurna itu, membuat jantung Ayana berdebar.
“Iya, tu...”
“Maksudku...A-aku Ken.” Tidak jadi melakukan kesalahan karena di pelototi. Percayalah ketika Ayana mengucapkan nama Ken ada getar samar di nada suaranya.
Getar itu terdengar sama di tengah ken, ketika Ayana manis yang selalu mengikutinya datang dengan membawa segelas botol minuman. Memberikan botol itu dengan wajah malu-malu pada Ken. Lalu menyebut. Kak Ken.
Ken terdiam cukup lama, memandang Ayana lekat-lekat. Sangat lekat hingga membuat mata mereka saling menyelami.
“Dengar Ayana, apa kau...bemar-benar tidak mengenalku?” Alis Ken saling bertaut. Menatap lurus pada Ayana. Kedip singkat di pupil mata Ayana semakin menambah kecurigaan Ken.
Suasana ruangan tiba-tiba hening seketika. Ketika lontar tanya itu tercuat dari bibir Ken.
Ken yakin bahwa yang di depannya ini adalah Ayana yang dulu. Apa yang terjadi pada wanita ini? Apa dia mengalami amnesia sampai-sampai tidak mengenal Ken? Atau memang Ken tidak sebeharga itu untuk selalu diingat?!
.
.
Ayo budimanlah jadi pembaca, jangan lupa untuk like dan komen...
Dengan memencet like tidak akan membuat kalian lelah, pun dengan komen...
Anggaplah itu sebagai bentuk penghargaan karena sudah disajikan cerita oleh saya..
__ADS_1
Terima kasih kepada kalian yang selalu meninggalkan jejak like dan komen...
Tidak lalu begitu saja.🤗🙏🏻🙏🏻🙏🏻