
Kali ini Hans Prasetyo CEO yang tajir melintir lagi-lagi sedang memperlihatkan kekayaannya. Jet pribadi tak segan ia Lesatkan bersama pilot pribadi pula, ia sengaja membawa jet pribadi agar segala hal mudah dan tidak ribet.
Kali ini tujuannya adalah bulan madu di pulau xxx, ia memboyong Bram agar mengurus segala keperluannya saat disana juga para pembantu rumah. Si bungsu merengek ikut karena mau refresing, alasan kuliah yang menyesakan membuat Hans merasa tidak mampu menolak, dengan syarat jangan menggangu dirinya dan Angel saat di sana. Dan itu disanggupi dengan kata beres oleh si bungsu.
***
~Pulau
Sneakers yang membalut kaki sekarang menapak di atas pasir, gelungan air mengikis pasir tampak beberapa kali terlihat. Beberapa kali angin laut terus saja menerpa, hingga tubuh merasa sejuk.
Putri tidur tampaknya masih betah di alam mimpi. Sedari di dalam jet pribadi, hingga memakan waktu menuju pulau ini, Hans tidak lepas memeluk dan mendekap Angelnya.
Tak sekalipun ia berucap lelah karena harus menggendong anak istri yang masih terlelap dalam tidurnya. Ia malah senang, karena bisa berlama menatap lekat wajah polos sang istri.
“Gila! Gila gila! Ini bangus banget pemandangnya kak, huwa.” Berteriak dan berlari menuju air, kakinya seketika merasa sejuk karena dinginnya air.
Hans mengeryit melihat sikap Hana, matanya tertuju kepada sang istri.
“Jangan berteriak Hana, nanti kakak ipar mu bangun.” Seru Hans, hal itu tampaknya sudah terlambat putri tidur yang tampak terus menyusupkan badannya dalam kehangatan, Hans mulai membuka matanya.
“Hans…” Angel memanggilnya masih dengan suara lemah khas bangun tidur. Untung saja Bram punya respon bagus, kalau tidak mungkin ia sudah menabrak Hans dengan tubuhnya karena berhenti mendadak.
“Bukan Hans, tapi sayang.” Hans menyelipkan senyum di kalimatnya.
“Ck...ck.” Bram
Angel segera mengalungkan tangannya dileher Hans, takut jika terjatuh, dia baru sadar dengan posisinya yang berada dalam gendongan Hans.
“I-ini? Kita dimana?!!” Mata Angel benar-benar dibuat terkejut dengan posisinya sekarang, dia tidak mengenal sama sekali setiap sudut tempat yang baru saja sekilas matanya lihat. Dan lagi dia sekarang berada dalam pelukan Hans, ini sungguh membuatnya bingung. Seingatnya ia baru saja tidur di dalam kamar, dan sekarang malah.
“Kakak ipar sudah bangun ya? ayo kak, kita main.” Seruan itu berasal dari Hana, ia melambai semangat ke arah Angel.
“Hana…” Hans memperingatkan, Angelnya masih tampak linglung malah mau diajak main. Si bungsu malah tertawa lebar.
“Tuan muda kita romantis sekali ya, dari tadi nona terus digendong.” Bisik-bisik para pembantu.
Dari jarak ini mereka melihat jelas interaksi tuan muda yang mereka layani.
“Iya bahkan tuan muda tidak mengeluh sedari tadi, malah aku melihat senyum yang terus terlihat diwajahny.” Sahut satunya.
“Nona sungguh beruntung ya. Meskipun aku belum mengenal nona, namun kelihatannya nona sangat baik.” Ucap pelan si pembantu lainnya, ia merasa Nona yang akan terus mereka layani ramah.
Mendangar suara bisik-bisik yang tak begitu jelas Angel pun melongok, dagu bertumpu pada bahu Hans. Untuk kedua kalinya, mata polos yang menjadi daya pikat itu melebar.
“Sa-sayang turunkan aku!” Menjerit karena malu.
“Kita akan sampai sayang.” Sahut Hans.
“Aku mau turun, aku bisa jalan sayang.” Menatap dengan bibir mencebik, semakin malu sudah karena tampaknya ia semakin menjadi sorotan.
__ADS_1
“Aaaaaa, kami sebenarnya ada dimana? Aku sungguh tidak mengenal tempat ini, kenapa para pembantu juga ada disini? Hana ,Bram pun juga????”
“Jangan banyak bergerak, kalau kamu terluka bagaimana! Aku tidak mau tubuh istriku sampai terluka karena terjatuh.” Hans menghunuskan tatapan kesal. Angel terus berusaha lepas, dan tangannya semakin sigap dengan mendekap erat.
“Haaa? Apa aku tidak salah dengar? Terluka? Aduhh Hans ku jarak antara tanah dan tubuhku hanya berkisar kurang dari 2 meter dan juga aku tidak akan terluka semudah itu!” Menjerit dalam hati, namun tidak terucap takut jika kekesalan sang suami malah bertambah.
“Iya, iya makanya turunkan aku sayang.” Kembali memohon. Yang didapat malah decakan pelan dan tubuh berputar ia semakin jelas dilihat oleh para pembantu. Hanya satu orang yang acuh dengan situasi yaitu Hana, dasar dia sudah tampak berselfi ria.
“Bram, antarkan mereka ke tempat yang disediakan, Aku akan memanggilmu nanti.”
“Koperku jangan lupa dibawakan juga ya kak!” Teriak Hana dari kejauhan, Bram yang mendapat sebutan kakak, memasang wajah datar.
“Ya jangan lupa juga koper adikku.” Mendapatkan jawaban iya Hans pun berlalu mengarah dengan langkah berbeda dengan rombongan Bram.
“Sungguh! Aku ingin berhenti bekerja! kenapa Anda membawa saya ke acara bulan madu Anda sih pak? Huff.”
Menyugar rambut lalu menggiring para pembantu.
Lain lagi dengan Angel dan Hans.
“Aaaa!...” Menjerit saat Hans membawanya berputar.
“Sayang jangan bermain-main kalau aku terjatuh nanti bagaimana?”
“Tidak akan, nah istriku yang cantik sudah mendarat dengan sempurna.” Senyum lepas terulas di bibirnya.
“Kenapa malah meluk-meluk begini sih? Kan aku masih bingung.” Cemberut dengan Hans yang tampak sudah mengambil posisi nyaman. Angel mengangkat kepalanya yang terbenam di dada sang suami.
“Ini dimana sayang? Kau belum menjawab pertanyaanku? Kenapa aku tidak sadar aku dibawa kemari? Seingatku aku tertidur dikamar setelah…” Pipinya seketika merah padam, ehem. Hans tergelak melihat itu dan menciumi seluruh bagian wajah Angel.
Si bungsu berpaling cemberut, menjauh tidak mau melihat pengantin baru yang sangat agresif.
“Setelah apa?” Malah menggoda sang istri.
Angel menjadi salah tingkah.“ Ya, setelah begitulah,...sudah kembali ke topik awal.” Memilih bungkam kelu bercampur malu untuk burucap hal yang sensitif.
“Istriku sungguh pemalu.” Mencubit pelan pipi Angel.
“Sayang…” Meminta penjelasan tidak merespon godaan.
“Kita di pulau xxx, sekarang kita akan berbulan madu disini .” Angel dibuat teperangah, matanya seketika mengedar kesekitar melihat jelas, jika saja ia salah dengar. Ini benar-benar pulau terkenal itu!
“Aaaaaa, kita di pulau xxx, Aaaa, benarkah?” Bertanya, masih tidak percaya naik ke atas tubuh Hans.
“Lihatlah dia senang sekali, tidak sia-sia aku membeli pulau ini untuk bulan madu.” Ha? Batinmu Hans. Bukannya mereservasi malah membeli?!!
“Sayang, aku mau jalan-jalan.” Sudah mau berdiri namun tubuhnya kembali ditarik.
“Ku pikir ada yang salah dengan responmu sayang.” Ucapan Hans membuat Angel heran. Apa yang salah? Apa salah jika kagum pada pulau terkenal?
__ADS_1
“Seharunya yang membuatmu senang bukan karena pulau ini, tapi alasan kita berada di pulau ini.” Menggigit telinga Angel.
“Kita akan bermulan madu disini.” Bisikan Hans, membuat tubuh Angel seketika meremang. Rona merah yang menjadi ciri khas saat ia malu pun terlihat jelas. Ucapan Hans tentang bulan madu tadi bagaikan angin yang lewat saja, namun setelah diperjelas, ia begitu terkejut.
“Aaaa, lihat matanya itu, tanganmu kemana sekarang, hei tuan muda lihat situasi dong, jangan bertingkah ini ruang terbuka.”
Porsi sentuhan fisik sekarang meningkat drastis, jika dulu Hans harus menahan diri sekarang, ia sudah bisa leluasa. Menyentuh setiap inci tubuh sang istri.
Bibir yang cemberut dengan kening mengkerut semakin menambah kecantikan sang istri.
Yang sudah Angel duga pun terjadi, setelah tangan nakal Hans bermain, tekuk nya di tekan lalu bibirnya dicium dengan dominan oleh Hans. Mungkin jika dilihat dari jarak jauh saat ini Angel yang agresif karena posisi tubuhnya berada di atas Hans.
“Astaga bagaimana jika ada yang melihat.”
“Hmpp...” Berusha lepaskan diri namun tak bisa lepas sedikitpun.
***
Titian diatas jalan berkayu mereka lewati. Dengan tangan yang tak lepas pertautannya saling merapat, dan tubuh saling menghimpit mereka pun berjalan di atas titian. Angel terus melongakan matanya ke arah bawah, air jernih dapat membuat mata polosnya dapat melihat jelas terumbu karang dan juga ikan-ikan kecil dengan corak berbeda yang berenang bebas.
Kakinya terus melangkah sampai…
Matanya dibuat terjagum-kagum. Hans ikut berlari saat sang istri, begitu semangatnya. Ia pun melihat ke arah mana mata itu memandang lekat.
Senja, hal itu menarik perhatian sang istri. Ia memeluk Angel dari belakang memberikan kecupan ringan, ia tak begitu menyukai senja, namun sekarang tampaknya ia pun mulai menyukainya karena tertular oleh sang istri.
Ketika piringan matahari secara keseluruhan telah hilang dari cakrawala. Saat itu lah semua pemandangan itu usai berganti dengan gelapnya malam, Angel menjerit saat tubuhnya di gendong secara tiba-tiba.
“Kita mandi bersama.” Ha?!! Gawat ia tidak bisa mengelak, pintu kamar dibanting seakan menandakan ketidaksabaran. Malam pertama bulan madu pun dilalui.
.
.
.
Hayoo Vote,
Kasih like nya jangan lupa loh...
Komennya juga ❤️❤️
Happy reading
~Tyatyut
__ADS_1