Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
CH 126- Sekarang Maunya Kelinci!


__ADS_3

Pekerjaan beralih tangan kembali, Hans menyerahkan pekerjaan kepada Bram. Sedangkan dirinya mengurus hal yang lebih penting lagi yaitu memenuhi keinginan sang istri.


Mereka sampai di supermarket. Angel tak melepaskan sedetikpun tautan tangan mereka. Lala sang pengawal mengikuti dari arah belakang.


“Apa bahan untuk membuat burger.” Bertanya kepada Angel, setelah berdiri di depan sajian beragam jenis sayur yang tampak fresh, bertumpuk dengan jenis berbeda-beda.


“Ada daging sapinya gitu sayang, terus ada bawang Bombay nya, ada sayurnya terus ada kejunya gitu. Jangan lupa rotinya.” Menjawab lekas dengan mata berbinar, bahkan terlihat sekilas sang istri tampak meneguk saliva. Mungkin sang istri benar-benar ingin makan burger.


“Kalau kau begitu menginginkanya bagaimana kalau kita beli saja saat ini juga.” Menawarkan untuk kedua kalinya, prosenya singkat dan juga tidak perlu dia harus memberantakan isi dapur nantinya.


Angel sudah menunjukkan raut wajah kesal. “Maunya bikinan Suamiku! Kenapa sih tidak mengerti, atau jangan-jangan kau tidak mau membuatkan burger untukku! Kau tidak mau memenuhi keinginanku!” Melepaskan pertautan tangan dan memberi jarak, Angel begitu sensitif sampai Hans dibuat begitu gelagapan dan heran sekaligus.


“Bukan begitu sayang, aku hanya tidak ingin kau menunggu.” Langsung memeluk sang istri. Tidak peduli bisik-bisik para pembeli lain melihat interaksi mereka.


“Wah pasangan istri yang serasi sekali.”


“Prianya begitu tampan sama halnya si wanita begitu cantik pula, pasti mereka pengantin baru.”


“Pria itu sungguh tampan.”


“Aku tidak masalah menunggu, maunya bikinanmu!” Kekeh lagi.


“Baiklah- baiklah.” Segera memberikan kecupan singkat di kening Angel.


Hans menurut, baru kali ini juga sang istri memiliki keinginan. Dan keinginan kali ini terlihat tidak mau dibantah. Karena keinginan pertama Hans harus mengabulkannya.


“Yang mana jenis sayur yang dipakai.” Mengangkat terong, dan jamur.


“Astaga mana ada orang membuat burger dengan bahan itu sayang.” Memukul lengan Hans pelan.


“Benarkah? lalu jenis sayur mana yang dimaksud? Aku tidak tau. Kau saja yang pilih sayang.” Dia bahkan tidak tau jenis sayur mana yang dipilih. Memang dia pernah mendengar makanan bernama burger, namun ia tak begitu menyukainya, jadi ia tak bisa mengindentifikasi Janis sayur yang dipakai, kecuali Daging sapi dan roti yang ia ketahui.


“Ini sayang.” Memberikan jenis sayur yang memiliki daun lebar berwarna hijau yang sudah dibungkus dengan rapi.


“Oh ini.” Melihat seklias lalu memasukkannya ke keranjang yang di bawa.


Angel membulatkan matanya saat jenis sayur tadi menumpuk di keranjang. “Sayang, tidak perlu banyak. Satu saja sudah cukup. Aku tidak akan mampu nantinya memakan semua ini.” Lagipula Angel hanya meminta dibuatkan satu porsi bukan porsi besar.


“Ini diperlukan.” Sahut santai. Angel hanya dibuat heran tanpa Hans menjelaskan lebih lanjut.


“Diperlukan karena jika aku gagal pada percobaan pertama, maka semua bahan ini harus memiliki duplikat agar nantinya aku bisa mengulang kembali.” Otak cerdasnya memikirkan ke depan. Bagiamana pun ia nantinya akan mencuri waktu untuk belajar otodidak di YouTube cara membuat burger yang baik dan benar yang rasanya nikmat.


“Kejunya beli yang benyak sayang.” Kali ini Mereka di depan sajian Keju yang tertata rapi dengan merek berbeda pula.


“Iya mau yang mana.” Angel segera menunjuk dan Hans memelihara sebanyak mungkin. Untuk itu. Wajah berbinar Angel terlihat saat semua bahan yang diperlukan sudah ada.


Tiba-tiba Angel mengacak-ngacak rambutnya.


“Kenapa sih sayang.” Heran.


“Sudah diam.” Raut wajah serius dengan tangan yang masih mengacak rambut Hans, terasa Angel membelah rambut Hans menyugar asal ke kanan dan ke kiri.

__ADS_1


“Cih, kenapa wajahmu tetap tampan. Padahal rambutmu sudah acak-acakan begini.” Cemberut, sekarang dia sensitif suaminya dilihat ibu-ibu pembeli lain.


“Memang aku tampan sayang.” Tertawa lebar.


“Cih sudahlah ayo cepat.” Menarik lengan suaminya. Sembari menghunuskan tatapan tajam ke sekitar.


“Apa yang kalian lihat dia suamiku! jangan bermimpi mendapatkannya!”


Setelah membayar, Hans menyerahkan barang bawaan kepada Lala yang sedari tadi diam dan menunggu untuk melakukan perintah.


***


Mama menunggu dirumah, tadi ia begitu tersentak saat sang menantu pergi dengan tergesa. Bertanya juga tentang Hans, dimana? Tentu saja diwajab mama sejujurnya bahwa anak super tampannya sudah pergi bekerja.


Terdengar suara deru mobil yang berhenti di pekarangan rumah. Mama berjalan dengan tergesa.


Hans keluar dari mobil tersebut, diiringi sang istri yang tampak memeluk erat. Lala si pengawal sang istri berganti tugas membawa kresek berisi keperluan untuk membuat burger.


“Sayang, Astaga mama kaget tadi. Kamu kekeh banget pergi, gak kayak biasanya.” Mama segera menghampiri sang menantu.


Mendengar itu Angel lekas merasa malu.


“Maaf ma, Angel kesel Hans tidak pamit. Makanya Angel nyusul Hans ke kantor.” Tutur Angel.


Plak


“Auu, kenapa mama memukulku.”


“Iya, kenapa mama memukul suami Angel.” Hah? Sontak saja sikap manja dan pembelaan Angel membuat mama heran berkali-kali lipat. Biasanya Angel santai saja saat ia sering memarahi anaknya itu, namun sekarang.


“Sayang kamu baik kan? Apa jangan-jangan Daren melewatkan sesuatu sampai-sampai kamu jadi berbeda begini.” Meraih tangan Angel.


“Eh, Angel baik ma. Cuma Kasian tadi, Hans nya jangan dipukul tadi udah Angel marahin.” Angel berkilah, entahlah tadi dia tidak mau sang suami dipukul-pukul begitu. Meskipun sakitnya tak seberapa.


Meskipun mama masih heran mama pun membiarkan kedua pasangan itu masuk.


“Duduk disini. Jangan dekat-dekat.” Hans memerintah membawa tubuh Angel di bangku yang biasa digunakan untuk makan bersama.


“Eh kejunya jangan dibawa semua, sayang.” Mengehentikan Hans yang berlalu membawa semua bahan.


“Aku mau makan keju, sembari menunggu burger bikinan Suamiku selesai.” Mata menunjukkan minat tinggi.


“Jangan! Tunggu saja sebentar...Bisa bawa puding bi.” Hans meneriaki bibi.


“Tidak mau puding, maunya keju!” Kekeh lagi. Akhirnya Hans menghela nafas, memperhatikan sebentar sang istri yang melahap potongan tipis keju.


Langkah Hans segera sampai ke depan kompor. Bahan tadi sudah dipersiapkan para pelayan dengan rapih, juga sudah dibersihkan. Hans hanya perlu memasak tidak perlu memotong atau hal ribet lagi.


Karena sibuk memperhatikan sang istri asap menjebul.


“HANS!!” Suara Papa menyetak, bola mata membulat Angelnya juga membuatnya terkejut. Ia pun menoleh ke arah fokus Keuda orang itu.

__ADS_1


“Astaga! Uhuk uhuk!” Batuk kuat.


“Matikan kompornya!” Papa meneriaki tapi tidak mendekat. lain halnya dengan Angel yang sudah turun dari kursi yang menggantung kakinya tadi.


“Sayang.” Panggilnya baru selangkah.


“Jangan mendekat! ” Hans menghentikan langkah kaki Angel.


“ Di sini banyak asap, sayang. Jangan mendekat nanti kamu batuk-batuk bi, Bibi tolong, Astaga kenapa bisa sampai gosong semua.”


Akhirnya semua terpelongo dengan keadaan dapur. Percikan minyak dimana-mana. Sayur yang tertata rapi berhamburan. Lalu teplon sudah masuk dalam tempat penyucian piring, sudah tidak berbentuk teplon lagi. Gosongnya bukan main. Daging gosong tercium begitu menyengat.


“Hans!” Mama datang berkacak pinggang.


“Mati kamu nak, kenapa membuat dapur kesayangan Mama kamu jadi berantakan begini. Papa tidak bisa membantu.” Papa Angkat tangan.


“Kamu ya! Sejak awal mama udah gak percaya kamu mau bikin burger. Hasilnya malah bikin Dapur Mama berantakan! ” Mambawa centong nasi.


“Ampun mah!” Berlari menjauh. Para pelayan hanya bisa tertawa melihat hal itu. Setelah Hans kalah dengan centong nasi mama.


Hans pun memasang wajah memelas ke arah sang istri.


“Maaf ya sayang, dagingnya gosong semua!” Malu juga, kebanggaan diri yang selalu dieluhakannya luar biasa sekarang tidak ada harganya lagi.


Raut wajah sang istri bukannya kecewa, malah tertawa. “Haha kau lucu sekali sayang. Pipimu hitam-hitam begini.” Tertawa lepas, sembari mengusap pipi sang suami. Mereka duduk di meja makan masih tak lepas dari tatapan tajam mama si penyayang Dapur.


“Ini semua karena kompornya tidak bagus. Harusnya kompornya bisa mengontrol panas dengan baik, supaya daging tadi tidak gosong.” Malah menyalahkan kompor.


“Halah! dari dulu juga kamu gak bisa masak! sekarang malah gaya-gayaan, akhirnya bikin dapur mama berantakan.” Mama masih tidak puas mengeluarkan rasa dongkolnya.


Hans melongos, membiarkan Angel membantu memberishkan wajahnya dengan tisu. “Ini gimana? mau aku pesankan saja ya burger. Atau mau minta butakan dengan chef langsung saja.” Tentu saja Hans Prasetyo yang tajir melintir akan mudah memberikan berbagai hal untuk sang istri tercinta.


“Sudah sayang, aku juga udah tidak mau makan burger sekarang.”


“Ha?” Tadi begitu menghiba, sekarang biacra santai sudah tidak mau makan burger.


“Sekarang maunya kelinci! ” Hans semakin terpelongo maksudnya bagaimana? Apa Angelnya mau makan kelinci?! Astaga Daren gila! Dia sudah memberi resep nafsu makan yang tidak sesuai, sampai nafsu makan sang istri jadi aneh begini!


.


.


Epilog


“Hacimm” Daren bersin, di ruang istirahat oaca melakukan operasi kepada salah satu persen.


“Apa ini? Kenapa rasanya ada yang mengumpatiku.” Daren.


.


.

__ADS_1


Happy reading


~Tyatyut


__ADS_2