
Sebuah helikopter yang sedang mengudara menarik perhatian warga desa. Mereka dibuat heran sekaligus takjub, baru pertama kali sebuah helikopter mengudara di daerah pegunungan ini. Yang berada di warung kopi keluar ke jalan ingin melihat lebih leluasa helikopter tadi.
Ayah dan ibu yang sedang di kebun membuka topi penutup kepala, mereka menengadah menyoroti pergerakan helikopter.
“Yah, itu helikopter nyasar ya? ” Tanya ibu dengan polosnya. Ayah sama herannya dengan ibu sehingga menggidikan bahu sebagai jawaban.
“Tidak biasanya ada helikopter ke desa yah? Apa tidak sebaiknya kita pulang aja? Bagaimana jika yang datang tokoh penting ” Ucap ibu menduga sekaligus menyarankan. Bagaimana pun ayah adalah seorang kepala desa. Jika yang diduga ibu benar maka ayah sebagai kepala desa harus menyambut sosok tersebut. Akhirnya ayah menganguk setuju.
“Iya Bu, kita pulang aja sekarang. Biar tau lebih jelas siapa yang datang.” Ibu mengguk, dua makhluk Tuhan yang sudah terikat janji suci itu kemudian berjalan berbarengan menuju rumah.
***
Ditengah pegunungan, dan juga ditengah paralayang yang mengudara, Tubuh Hans begitu kokoh menahan Angel yang memeluknya.
“I-ini benar Hans kan? Kau Hansku? Kau sudah datang.” Buliran air mata mewarnai pertanyaan tergesa si kekasih, Angel masih tidak percaya Hans ada di depannya.
“Aku, Aku tidak bermimpi kan? Aku tidak mengharapkan akan bertemu secepat ini, namun aku sangat bahagia...hiks...hiks...Hansku.” Memeluk erat Hans, lagi. Sekarang kakinya sudah menyentuh rerumputan kembali. Bibir Hans tak hentinya mengulas senyum kebahagiaan.
“Iya, iya ini aku.” Sorot mata Hans menghujam dalam manik mata Angel, ibu jarinya dengan lembut mengusap cairan bening yang membasahi pipi sang kekasih, sementara tangan Angel tetap setia memeluk erat Hans.
“Maaf karena membuatmu menunggu lama. Sekarang kuharap semuanya akan berjalan lancar.” Dilubuk hati terdalamnya, Hans merasa malu bertemu dengan ayah Angel. Dia pria yang terlalu takut kehilangan Angel dan terlalu posesif, sampai-sampai ia mengikat Angel dalam sebuah pertunangan.
Bagaimana pendapat seorang ayah mengenai anaknya yang terikat sebuah hubungan namun tidak diketahui.
Hnas berusaha menyiapkan mental dan hati. Sekarang, mulai detik ini juga dia akan berusaha menunjukan sikap dan perasaan tulusnya. Dia akan membuktikan bahwa ikatan yang dia bentuk secara tergesa-gesa itu benar-benar tulus dan bermakna dalam.
Angel mengangguk ragu, sorot mata teduh Hans menghangatkan hatinya.
“Kuharap juga begitu, se-sekarang aku merasa lega selama satu bulan ini aku merasa begitu berat. Aku takut bagaimana jika ayah...jika ayah...” Angel tidak melanjutkan kalimat kecemasannya.
“Serahkan semuanya kepadaku. Kau tidak mengenalku, aku Hans Prasetyo. Pria cerdas, tampan dan kompeten. Ayahmu akan sangat rugi jika tidak menerima menantu dengan kualitas super ini.” Wah wah jiwa narsis dan melambungkan dirinya sendiri kembali datang. Angel mencubit pinggang Hans gemas.
“Ayah tidak melihat kelebihan yang kamu miliki Hans…” Angel mengingat bibir bawahnya, Hans mengerti kegelisahan Angel.
Dia kemudian mengambil sulit rambut Angel dan menyelipkannya di telinga Angel.
“Aku tau, seorang ayah pasti ingin mendapatkan seorang laki-laki yang paling mampu melindungi putrinya. Jadi mulai saat ini aku akan membuktikan bahwa Hans Prasetyo adalah orang yang paling cocok untuk itu. ” Ucapan Hans terdengar begitu dalam hingga membuat hati Angel terenyuh. Inilah dia laki-laki yang dia cintai.
“Sudah berhemti menangis.” Hans berlagak cemberut menirukan wajah Angel sekarang, hal itu membuat Angel tergelak.
“Nah begini lebih cantik.” Angel senang sekali sekarang, matanya bahkan sampai menyipit karena tersenyum begitu lebar.
“Huff.” Hans mendesah lemah, hingga membuat Angel mengerutkan kening samar. Mata polos Angel menatap Hans dengan heran.
“Hasihh aku merindukan ini.” Angel tidak siap saat Hans membombardirnya dengan ciuman bertubi-tubi.
“Cup...cup...cup…cup...cup...cup…”
“Hans, sudah.” Berusaha menjauhkan wajahnya Hans dengan tangannya . Raut wajah Hans berubah datar, hal itu membuat Angel memuatr bola matanya malas. Dia merasa malu dengan ramainya daerah pegunungan ini. Apalagi para penikmat paralayang mulai mendarat hingga semakin banyak yang berkumpul, tindakan Hans saat ini pasti disoroti.
__ADS_1
Pak palatih yang semula menatap heran sekarang terkejut.“ A-apa ini astaga, anak pak kades ternyata memiliki kekasih. Wah laki-laki desa pasti pada patah hati.” Pak pelatih yang terkejut langsung memikirkan para laki-laki desa yang menjadikan Angel Medan magnet kecantikan. Nampaknya mereka akan segera kecewa, karena bunga desa yang baru saja tiba ternyata sudah memiliki kekasih, apalagi penampilan kekasih si bunga desa terlihat sangat bersinar. Pak pelatih sebagai laki-laki juga dibuat jatuh cinta dengan tampilan seorang Hans.
“Sudah, malu dilihat banyak orang.” Angel menjauhkan tubuhnya namun Hans tetap memeluk Angel dengan begitu erat, kedua tangan Angel menempel di dada Hans.
“Hans.” Tindakan Angel yang mendorongnya jauh membuat Hans kesal.
“Memangnya kenapa, aku hanya mencium kekasihku.” Jawaban Hans terdengar begitu santai, namun keningnya sudah berkerut dalam.
Angel Mengeleng pelan, merasa kepekaan Hans begitu surut.
“Haishh pokoknya tidak boleh! Memangnya kau mau mendapat amukan ayah?” Ha? Amukan? Mata Hans dibuat membulat seketika. Ini artinya jika dia melangkah jauh lagi maka ayah Angel mungkin akan marah ke dirinya.
“Wah ternyata ayah mertua memiliki prinsip anaknya tak boleh disentuh sembarangan ya?” Angel mengangguk mantap.
“Kau harus bersabar.” Tawa Angel pecah melihat tingkah Hans yang termenung tak merespon. Tampaknya pikiran Hans sudah berjalan kesana kemari.
“Ku rasa ini Akan sangat berat.” Keluhnya
“Ayah mertua terdengar sangat keras. Hisshh, kenapa Ayah mertua tidak memberikan pertanyaan saja nantinya? Aku pasti bisa menjawabnyaa degan kecerdasanku ini. Tapi…” Hans tiba-tiba merasa tidak berdaya meski memiliki otak cerdas, karir mapan, dan wajah yang begitu paripurna.
Tidak Hans kau harus percaya diri. Buktikan bahwa kau adalah laki-laki yang pantas! Dan menjadi satu-satunya untuk Angel Rasinta!
Juna tak bisa berkata-kata matanya terbuka lebar, dengan mulut yang terbuka lebar pula.“ Astaga, itu kakak ipar? Wah Kaka ipar sungguh kaya raya. Helikopternya…” Berjalan dengan spontan dengan mata tertutup pada arah helikopter.
“Sungguh luar biasa!!” Eh ini teriakan bukan dari Juna melainkan dari arah seorang wanita berkacamata besar dengan topi kebesaran pula. Mata Juna dibuat memicing heran.
Mama segera melepaskan kacamatanya dan meletakan ya di atas topi kebesaran.
“ Kamu ini tidak memahami apa itu keindahan alam. Lihat sekeliling kamu.” Menunjukan pegunungan, dengan awan-awan yang begitu cerah, hari yang sudah mulai teduh menambah hawa sejuk dan nyaman. “Wahhh banget suasananya, Angel sayang mamah gak tau tempat kamu tinggal seindah ini. Kalau tau udah dari dulu mamah boyong papa sama Hans berlibur disini, kan asyik kampung-kampung gitu.”Mama Rina begitu kagum dengan kondisi desa Angel yang begitu indah, sampai-sampai ia berandai-andai ingin liburan disini.
“Haha,i-iya tante.” Angel menaggapi dengan ucapan canggung, mama Rina sekarang sudah mendeklarasikan bahwa dia ingin dipanggil Mama secara tidak langsung. Namun tetap saja bibir Angel masih terasa canggung untuk itu.
“Aduh masih canggung banget sih calon mantu, sini peluk dulu.” Mengahmbur dan memberikan ciuman ke arah Angel. Astaga Angel sekarang tau dari mana Hans yang suka nyosor beralsal, ini dari Mama Rina tampaknya.
“Udah-udah jangan dicium-cium Angelnya Hans.” Hans tampak tidak suka dengan kelakuan si Mama yang agresif dengan sang kekasih, dia langsung menarik Angel jauh dari terkaman Mama dan membenamkan wajah Angel di dadanya.
“Eh eh.” Angel menjerit lemah takut jika tubuhnya limbung karena diperebutkan.
“Kamu ini ya Hans! Mama lagi kengen-kangenan sama Angel, malah kamu sembunyiin Angelnya.” Melotot ke arah Hans. Mama berusaha mengeluarkan Angel dari pelukan Hans , namun tidak berhasil. Angel tertawa karena sentuhan mama Rina terasa menggelitik ditubuhnya.
“Pokoknya Hans gak suka mama meluk, cium Angel kaya gitu.” Kekeh dengan sikap keras kepalanya, Angel tampak pasrah dengan sikap Hans, dia juga lelah tertawa karena diperebutkan.
Baru saja mama hendak membuat suara, sebuah sumber suara lain menyentaknya.
“Kakak!...Kakak ipar.” Seruan itu berasal dari Juna yang mendekat, cengiran khas Juna tampil saat ia sudah mendekat.
“Eh siapa ini.” Mama Menatap heran Juna.
“Ini adek saya Tante, namanya juna.” Sahut Angel.
__ADS_1
“Aduh adeknya nak Angel ya. Masih muda banget ini.”
Mama mengusap bahu Juna, sedangkan Hans mengacak rambut Juna dengan satu tangan yang masih mengapit Angel. Juna merespon dengan senyum ramah.
Mata Hans dibuat heran dengan tingkah papa Fadli. Di saat mereka sibuk berbicang papa sibuk sendiri masih di dekat helikopter.
“Papah ngapain sih mah?” Pertanyaan Hans yang terdengar polos membuat Juna , Angel dan Mama melihat ke arah papa Fadli.
Mulut mama terbuka lebar merasakan kegelian dengan tingkah sang suami. Angel berkerut kening samar. Juna menatap bingung saja. Ekspresi mereka terbentuk karena papa Fadli ternyata sedang asyik berfoto ria di dekat helikopter.
“Ya pose nya bagus pak.” Papa meletakan jari tangannya di dekat kening membentuk pistol. Fotografer dadakannya ternyata ialah pak pilot. Hadeuhhh papa Fadli ternyata tidak mau kehilangan moment.
***
Hans menunjukan raut wajah kesal ditengah perjalanan. Mereka sekarang sedang berjalan menuju kerumah Angel.
“Angel kemari.” Mata polos Angel menatap Hans.“Kenapa? Eh…” Hans malah menaikan tukup kepala jaket Angel. Ya Angel memang memakai jaket tadi. Juna, mama dan papa masih lanjut berjalan tidak menyadari Angel dan Hans yang tertinggal. Mama dan papa berbicang kecil dengan Juna.
“Pakai jaketnya dengan benar! Wajahmu menarik perhatian sekali ! Aku tidak suka itu!” Raut wajah Hans terlihat begitu kesal.
“Apa-apaan sepanjang jalan ada laki-laki yang melihat wajah cantikmu! Aku tidak suka itu!!” Nada berat Hans yang setengah berbisik membuat Angel bergidik. Sorot mata Hans terlihat begitu dingin, sementara ekor matanya menatap sekitar.
“Tidak bisa begini! sebaiknya kau kugendong saja. Jalanmu lambat sekali.” Seruan Hans terdengar begitu gila.
“Hans! Kita akan semakin menjadi sorotan sekarang.”
Haishh ini membuatku gila, kenapa semua mata laki-laki itu melihat Angelku !! Jika mereka melihat ku, aku bisa memahaminya karena wajahku memang tampak luar biasa mengagumkan. Tapi Angelku! Kenapa mereka melihat Angelku !! Rasanya aku ingin mencolok mata mereka.
Dengan hati yang masih berkilat amarah Hans berjalan cepat.
“Kita sudah sampai.” Ucap Angel. Mata Hans segera melihat rumah kediaman Angel.
Kakinya tanya dibuat beku ditempat, Mama papa dan Juna sudah berada di depan mereka.
Deg deg deg deg.
Matanya tadi bertatapan dengan seorang pria paruh baya, laki-laki itu berdiri tepat di muara pintu. Entah kenapa rasanya laki-laki itu memiliki aura yang kuat pikir Hans. Jangan-jangan?!!
Langkah laki-laki paruh baya itu mendekat, hingga Hans bisa leluasa melihat wajah yang begitu tegas. Mulut Hans rasanya kelu, tak bisa terbuka.
“Selamat datang, calon menantu!” Berhadapan langsung dengan ayah mertua membuat Hans terdiam ditempat. Salaman pak Yoto begitu erat dan mencengkram tangannya.
.
Pfttt...Beuh gimana ini? 😂
Happy reading
~Tyatyut
__ADS_1