
Taman
Di setiap sudut tampak sudah banyak orang-orang yang beraktifitas. Ada yang terlihat peregangan kecil, ada yang terlihat bermain dengan anak-anak sembari naik sketboard sehingga menambah keceriaan di pagi hari.
Sementara ada pula kelompok yang berkumpul lebih besar tepat di atas rerumputan yang terpisah dari perjalan kaki.
Dikelompokkan itu ada juga rombongan mama. Si kecil Nara terlihat sibuk main di atas rumput.
“Mana mah yang katanya ganteng?” Hana penasaran celingak-celinguk. Belum sempat mama menjawab si kecil Ken duplikat Hans sudah menyela.
“Loh kenapa bibi Hana mau melihat pria tampan?” Ken nyeletuk dengan gaya persis seperti Hans. Mama, Angel, Nara dan Hana melihat ke arahnya.
“Biar tambah semangat sayang olahraganya.” Sahut Hana berusaha lembut. Kenapa tatapan mata ank ini mirip sekali sih dengan kak Hans.
“Kan bibi sudah ada paman Bram. Kata Daddy seorang perempuan yang sudah menikah tidak boleh melihat laki-laki lain belama-lama.”
Eh kenapa anak ini pintar sekali bicaranya...Aduh..
“Mana ada bibi melihat laki-laki lain sayang. Bibi aja sekarang malah liat kamu.” Langsung berkilah.
“Terus kenapa tadi bicara mau liat yang gateng.” Hah...Hana gelagapan meminta bantuan mama. Mama menggeleng cepat.
Ken kemudian beralih pada sang mommy.
“Mommy kita pulang aja yuk. Bibi Hana mengajarkan yang tidak baik. Daddy sudah cukup untuk mommy. Daddy paling tampan di dunia ini.” Angel langsung tercengang. Dasar posesifnya Ayah sama anak sudah ketularan.
Mata Hana membulat, anak ini bicaranya lancar dan menusuk sekali tidak bisa ditipu.
Astaga kenapa anakku bisa berpikir jauh sekali sih. Bahkan sudah memikirkan antisipasi. ck dasar Hans selalu bicara dia yang paling tampan, dia yang paling luar biasa jadi anaknya mengakui itu. Duhhh
“Sayang mommy tidak seperti bibimu itu. Mommy di sini cuma mau olahraga, iya kan ma.”
Meminta mama juga ikut bicara. Mama menanggapi dengan sedikit gelagapan.
“Iya, Iya, kita olahraga di sini. Haha ... Ken sayang, mana ada yang mau liat laki-laki ganteng kita mau olahraga.” Jelas mama dengan gugup. Hah baru berhadapan dengan Ken saja gelagapan bagaimana dengan Hans sebab dia menculik Angel di pagi hari.
Heh kenapa cucuku ini pintar sekali.
Membatin membuang wajah ke arah lain.
Ken memasang wajah serius lalu mempercayai. Tiga wanita itu mengembus nafas lega.
Sesosok pria dengan wajah rupawan datang dengan tergesa. Mata semua ibu-ibu yang sudah berkumpul segera bersinar penuh kekaguman.
“Wah anaknya tampan sekali.”
“Kalo begini mah betah senam pagi.”
__ADS_1
“Instruktur senamnya tampan sekali, tambah semangat ini.”
Ibu-ibu yang pakai daster dan ada pula yang pakai baju olahraga segera berbisik. Sementara bagian Mama, Hana dan Angel tak kalah terkejut, memang kabar itu bukan hoax. Mama memang sering mendengar instruktur senamnya tampan jadi mama mengajak Angel serta Hana untuk ikut senam.
Serasa liat papa masih muda. Ya kayak gitu gantengnya.
Si ganteng tersenyum.
“Loh banyak sekali ya yang mau ikut senam.” Uajrnya masih dengan senyum.
“Pastilah mas, kan yang jadi instrukturnya ganteng banget.” Komentar wanita yang tampaknya masih berumur sekitar dua puluh lebih.
“Waduh bisa aja mba.” Sahut si ganteng.
“Ya udah kita mulai ya senam paginya. Ikuti arahan saya.” Perintahnya.
Ada yang memang serius mengikuti senam. Ada yang sibuk memotret diri.
Hana memang tidak banyak bergerak sebab dia sedang hamil. Sedang Angel benar-benar bergerak pun dengan anaknya Ken dan Nara yang asik sekali ikut senam.
Mama sudah menyusun rencana mau ngobrol dengan instruktur senam muda itu.
Beberapa saat menuju akhir dari senam. Mama mengajak semua mendekati instruktur senam tadi.
“Duh nak kita jadi sehat gara-gara ikut senam begini.” Mama membuka pembicaraan.
“Haha syukurlah Bu bisa bermanfaat senam yang dilakukan.” Sahut si instruktur senam. Matanya kemudian bersitatap dengan Ken yang menghujam tajam berdiri tepat di depan Angel dengan berpilapt dada. Ya Ken tidak bisa menjulang sebab masih kecil.
Kenapa aku merasa ada aura dingin ya...
Angel merinding dan mengusap bagian tekuk.
Nara kemudian menoleh ke arah belakang, seruan Nara si kecil membuat mereka terkejut bukan main.
“Daddy... Paman... Oppa...”
Angel langsung membulatkan matanya segera memutar posisi tubuh.
“Ha-Ha-Hans...” Angel gagap, meneguk salivanya. Oh dari sini ia sudah melihat Hans yang melangkah dengan tergesa dengan raut wajah yang semakin dekat semakin terlihat, kekesalannya.
“Daddy.” Nara segera berlari mengejar daddynya. Digendong Hans Nara segera masih melangkah menuju Angel.
Hans memandang kesal posisi perkumpulan tiga wanita itu. Satu pria tampak ada di posisi terdekat Angelnya.
Berani sekali dia mendekati Angelku!
Sementara posisi Hana tidak bisa bergerak sebab melihat raut wajah Bram yang tampak begitu datar.
__ADS_1
Ini kenapa wajahnya begitu datar. Hana
Tiga pria itu datang dengan posisi bersisian.
“Sayang kemari.” Langsung menyergap Angel dengan suara yang tampak dingin.
“Sayang, tadi mama yang ngajak kemari. Mama juga yang ngajak ngobrol sama si ganteng aku cuma ikutan.” Langsung mengakui dosa. Tapi lebih melimpahkan kepada mama. Wah dasar menantunya ini mama langsung tercengang.
Sedang di instruktur senam merasa terheran, dan juga terintimidasi sebab tiga pria itu datang dengan mata yang berkilat tertuju ke arahnya. Memangnya apa salah dia?
“Si ganteng?” Eh intonasinya tampaknya Angel sudah salah bicara.“Kau menyambutnya si ganteng?!”
“Ma-mana ada sayang. Aku ikut-ikutan saja. Dia tidak ganteng sama sekali kalau dibandingkan kamu...Haha...mana yang yang lebih ganteng dibanding suamiku ini.” Satu ciuman di lesatkan supaya meredam situasi. memeluk erat juga. Si kecil Ken sudah menduga situasi ini akan terjadi.
Hans berdecak sebal lalu peehtain tertuju ke arah Mama. Bram terlihat sudah mengambil posisi di sisi Hana.
“Mama kenapa mengajak Angelku ke sini.” Langsung menghunus tatapan tajam. Sementara tangan satunya sudah memeluk Angel dengan posesif. Menunjukan sekali bahwa Angel miliknya.
“Ya olehraga dong Hans.” Sahut Mama.
Hans berdecak sebal.
“Mana ada olahraga dad, bibi Hana malah sejak awal mencari si ganteng.” Hana langsung membukatkan mata terkejut keterangan Ken membuatnya meneguk saliva.
Astaga kenapa keponakanku mengadu begini sih.
“Benar itu sayang?” Kata sayang yang Bram lesatkan terdengar menekan. Satu tangan Bram sudah sejak tadi berlabuh di bagian lengan Hana menghimpit.
“I-itu, aku penasaran karena mama terus bicara tentang instruktur senam yang tentang jadinya gitu. Kamu tau kan mas aku itu kalau digituin makin penasaran.” Bicara lancar dengan atau kali tarikan nafas. Deg deg an juga.
Maaf ma , sekali-sekali jadi kambing hitam.
Dasar anak-anak ini malah menyudutkan ku.
“Angelku kita pulang.” Hans bergerak langsung tidak lupa menatap tajam si laki-laki sintruktur senam.
“Ayo kita pulang.” Bram mengajak Hana lekas dan Hana mengangguk.
Sedang papa tanpa banyak bicara melangkah mendekat hanya satu kata saja yang membuat mata mama super terkejut.
“Ayo R I N A K U , kita pulang.”
Ha?!!
“Papa geli ih! ” Mama duluan berjalan tidak mau mendekat dengan papa. Malah geli. Ih kenapa suaminya jadi begitu.
“Papa kerasukan Apa?!!!!!!”
__ADS_1
.
.