
Seluruh keluarga sudah kembali ke villa. Mereka semua melirik pada pasangan Angel dan Hans yang tidak seperti biasanya. Ya, tidak seperti biasanya. Jika biasanya setiap detik pun mereka pasti melihat kemesraan dua pasangan itu, yang sekarang mereka lihat adalah sikap diam keduanya.
“Mas, kok mereka aneh ya?” Hana berbisik pada suaminya yang duduk di samping. Mereka sedang duduk di meja makan, dari arah sana masih bisa melihat pasangan yang dalam mode diam itu.
“Aneh gimana?” Bram mengernyit heran.“Orang dari tadi aku liat mereka lengket terus itu.” Hana berdecak. Bram memang tidak peka. Itu yang terlihat saja berpelukan. Hana bisa menilai dan merasakan perbedaannya.
“Ck.” Hana berdecak, semakin membuat Bram berekspresi polos.
Aneh bagimana sih? Hans memang begitu sejak dulu. Tidak kenal tempat selalu bermesraan dengan istrinya.
Sementara di ruangan tengah Hans melingkupi Angel dalam pelukannya. Dia menyesal dengan tingkahnya beberapa waktu lalu. Masih diingatnya awal pemicu keterdiaman Angel.
Ketika waktu itu Angel bilang 'Aku lelah. Mari berhenti.' Jantung Hans terasa direnggut paksa dari tempatnya. Pikirnya Angel menjurus pada perpisahan. Hal itu sungguh membuat ya bergetar.
“Apa maksudmu?!” Pertama kali merespon dengan nada tinggi juga pelukan erat.
“Apa maksudmu sayang?” Hans membalik Angel hingga menghadapnya waktu itu.
Angel memejamkan mata sejenak.
“Aku lelah Hans, aku mau ganti baju.” Angel berbalik meninggalkannya.
Sekarang ia merasa dalam situasi yang tidak menyenangkan. Angel terus diam, tidak mau menyahuti ataupun menatap matanya. Hans tidak suka pada situasi ini. Aksi marah Angel dengan cara diam malah lebih membuatnya merasa tidak nyaman. Angel tidak membuka satu suara pun lagi.
Sedang Angel merasa inilah saatnya ia mengambil sikap. Ia akan berusaha membuat Hans mengintropeksi diri.
“Kau marah sayang?” Hans mencium pipi Angel. Angel masih dalam aksi bungkamnya. Gerakan Hans yang tiba-tiba membuatnya duduk di pangkuan Hans membuatnya membulatkan mata penuh keterkejutan.
Namun ia menahan diri untuk berbicara. Juga tidak mau bertatapan mata dengan Hans. Hal itu semakin membuat Hans merasa sakit hati.
“Kenapa kau tidak bicara sayang. Bicaralah.” Hans semakin gusar. Meski Angel berada dalam dekapan namun Angelnya seperti tak bernyawa.
__ADS_1
Tidak ada satu patah katapun keluar. Meskipun Hans sudah mencium semua permukaan wajah Angel. Aksi diam masih berlanjut.
“Kenapa kau jadi begini? Apa karena laki-laki itu? Iya?!” Hans malah mengasumsikan hal yang tidak benar. Ia masih kesal sebab ada laki-laki yang berani mendekati sang istri.
Angel segera menatap Hans sekarang. Laki-laki ini masih saja tidak paham akar permasalahan.
“Turunkan aku.” Ucap Angel dengan nada dingin. Hal itu sungguh membuat Hans dilanda rasa tidak nyaman.
“Kenapa kau begini sayang.” Hans bicara lebih lembut. Semakin mendekap Angel, menekan punggung Angel agar menyentuh dirinya.
“Aku bilang turunkan. Begini saja kau tidak mau menurutiku, apa lagi hal lainnya.” Otak Hans segera memproses lontaran kata yang menekan itu. Tidak menuruti? Benar banyak hal yang jika Angel meminta perlu proses yang lama. Ini bukan permintaan tentang perhiasaan atau pun barang-barang branded. Tapi tentang diri Angel. Semuanya Hans yang mengatur.
“Kenapa kau jadi begini sih. Semua yang aku permasalahkan pasti itu untuk kebaikanmu.” Hans menjawab dengan serius.
Angel menghela nafas.
“Hans, aku tau itu. Tapi kamu sadar tidak bahwa sikap kamu ini sangat tidak baik.” Angel menekan suaranya, ia tau ada Bram dan Hana di meja makan sana. Takut jika suaranya nyaring sedikit saja maka akan ketahuan bahwa mereka sedang bertengkar.
“Sampai kapan kamu akan selalu mempermasalahkan aku harus pakai baju ini. Baju ini untuk di pajang saja. Yang ini membuatmu terlalu menarik. aku tidak suka. Sampai kapan? Sampai kapan?” Angel mengeluarkan semua yang dipendam, masih dengan nada ringan namun membuat Hans bungkam. Selama ini ia menahan diri sebab tidak mempermasalahkan, namun rasanya ini semakin menjadi.
Hans dibuat terperangah.
“Kenapa kau jadi memberontak begini?” Mata Hans malah menghunus tajam. Selama ini Angel selalu menurutinya, lalu sekarang kenapa? Kenapa?
Angel mengigit bibirnya kuat.
“Iya aku memberontak sekarang! Aku ingin kamu memahami ku. Aku sudah menahannya selama ini. Aku ingin kamu menempatkan segala sesuatu dengan sewajarnya Hans. Kenapa juga kamu bahkan cemburu ketika aku berhadapan dengan laki-laki?”
Sontak saja kata terkahir Angel, membuat Hans menggeram.
“Tentu saja ku cemburu! kau istriku! milikku laki-laki lain tidak boleh mendekatimu.” Sahut Hans dengan begitu sungguh-sungguh. Ia begitu gusar bercampur kesal, kenapa Angel mempermasalahkan ini?
__ADS_1
“Tapi penerapan cemburu kami terlalu berlebihan. Kenapa bahkan dengan ayahku kamu juga cemburu? Juna juga? Papa juga.” Angel menyebut semua nama orang-orang terdekat. Dan mungkin juga laki-laki yang tidak sengaja Angel lirik selalu membuat Hans cemburu.
Dirasa Angel, Hans tidak memahami perkataannya ia berdiri dengan paksa. Membuat Hans menggapai udara.
“Aku merasa kamu perlu perubahan. Kamu perlu berpikir dewasa. Aku ingin melihat cara kamu menerapkan kecerdasaan saat menghadapi ku. Bukan Hans yang menghadapi dengan amarah.” Suara Angel tampak begitu serius. Meninggalkan Hans dalam keterdiaman. Hans mengusap wajahnya kasar.
Angel menaiki tangga, tangannya mencengkram bagian pinggir.
“Aku tau kamu mencintaiku Hans. Aku tau dan sangat tau itu. Aku juga sangat mencintai kamu. Hanya saja aku minta kurangi keposesifan kamu. Kamu harus bisa menempatkan pemahaman dalam sikap yang kamu ambil.” Angel membatin mengambil langkah kembali.
Hans memang selalu menjadi pria bodoh ketika menghadapi Angel. Bagaimana pun Hans berpikir semua yang diterapkannya sudah benar.
“Aku tidak suka dengan situasi ini.” Hans mengelus nafas kasar.
Sementara itu Bram dan Hana memperkuat spekulasi bahwa dua orang itu memang sedang bertengkar.
.
.
.
.
Happy reading 🤗🤗🤗
Jangan lupa like ya...
Komentarnya juga 😂😂😂😂
love live
__ADS_1