Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
Ch 135- Kelahiran sang Malaikat


__ADS_3

Hari menjelang fajar, sejak tadi Angel sudah bangun dan merasa tidak nyaman dengan perutnya. Keringat dingin mulai mengucur di dahi.


“Nak, maunya apa, ini masih belum pagi sayang. Jangan banyak gerak ya.” Angel berusaha bicara dengan anak dalam perutnya. Ia berusaha berjalan kesana kemari mengurangi nyeri yang terasa. Sementara suaminya masih tertidur di atas ranjang.


“Huff...Huff... Sakit.” Begitu lirih.


“Akhh” Angel mengerang kesakitan, saat ini ia tidak bisa menahan lagi teriakan kecil dari mulutnya. Hal itu membuat Hans terkejut dan bangun dari tidurnya.


“Sayang kenapa?!” Wajah Hans terlihat cemas suaranya meninggi. Melihat Angel yang tersandar di bahu ranjang dengan memegang perut membuat ia terkejut bukan main.


“Perutku! Perutku rasanya sakit sekali.” Kucuran keringat kembali membasahi. Hal itu langsung membuat alarm peringatan muncul di kepala Hans.


“Astaga kenapa jadwalnya meleset! Harusnya kamu melahirkan 2 hari lagi!” Hans langsung mengangkat tubuh Angel. Mulutnya langsung mencerca dokter kandungan yang memprediksi tanggal melahirkan Angel.


“Sakit,” Angel kembali merintih. Membuat Hans semakin bergerak cepat.


“Iya sayang, tahan tunggu sebentar kita ke rumah sakit!” Nada Hans tidak ada tenangnya sama sekali.


Ia menggedor kasar kamar Hana yang tidak jauh dari kamarnya. “Hana bangun! Cepat! ” Suara Hans berteriak keras, sementara matanya tak lepas dari Angel.


“Kita akan segera ke rumah sakit, bertahanlah sayang. Nak sabar sedikit, istriku menjadi begitu kesakitan sekarang.” Masih sempat memperingati buah hati mereka.


“Apa sih ribut-ribut, masih ngantuk juga.”


Hana yang terbangun tidurnya pun lekas membuka pintu dihadapkan dengan Hans yang mennggedong kakak iparnya.


Hans langsung mencerocos.“Kakak iparmu mau melahirkan, bangunkan mama sama papa. Bilang kabari ayah sama ibu juga. Cepat!” Hans langsung berlalu setelah itu, Meneriaki nama pak Yanto. Untung saja pak Yanto sudah terbiasa bangun pagi.


Melihat raut wajah sang istri membuat Hans gusar.“Pak ke rumah sakit sekarang, Angel mau melahirkan.”


“I-iya tuan muda.” Pak Yanto segera membuka pintu belakang. Hans masuk segera. Mobil pun mulai melaju, otaknya sekarang Hanya dipenuhi kecemasan.


Sementara itu Hana lekas menuju kamar Mama dan papa.


“Ma, pa! kak Angel mau lahiran cepet bangun!” Teriak Hana.


Mama masih tidak mendengar jelas suara dari luar karena samar-samar namun ia sudah bangun.


“Ma! kak Angel mau lahiran cepet bangun!” Mendengar itu mama lekas menendang papa hingga papa terguling dan memekik terkejut.


Cara efektif, membuat bangun.


“Akhh, apaan sih mah.” Papa kesakitan bokongnya, menilik dengan mata sipit ke arah mama.


“Bangun! mantu mama mau melahirkan!” Teriak mama kencang, sial mama juga terjatuh karena tidak seimbang. Ia lekas keluar, papa masih mengerjap dan berusaha mengikuti mama.


“Mana dia? Mana Angel? ” Tanya mama segera saat berhadapan dengan Hana yang berada di depan pintu.


“Kakak udah duluan mah, bawa kak Angel. Tadi disuruh Kakak hubungi ayah sama ibu juga.” Terang Hana hal itu masih ditanggapi dengan kegugupan dari mama.


“Oke-oke kita harus segera nyusul.” Mama bicara sembari menuruni anak tangga.

__ADS_1


***


Sementara itu di dalam mobil Hans terus, berusaha membuat Angelnya meredakan sakit. Namun ia tak bisa membantu sama sekali.


“Sayang mana yang sakit? ” Kerutan di dahi Angel serta Merta terasa menular hingga ia ikut juga mengerutkan dahi.


“Ini sakit sekali, sudah sejak 20 menit yang lalu.” Penuturan Angel sembari meremas bagian perutnya membuat Hans diterpa rasa kesal.


“Kenapa tidak membangunkan ku! Seharunya langsung membangunkan ku. Lama sekali kamu bertahan dalam rasa sakit.” Mata Hans menyiratkan kecemasan mendalam. Jika saja posisi mereka bisa diganti maka Hans akan dengan suka rela menggantikan posisi sang istri. Iya dengan suka rela menyerahkan diri menggantikan merasakan sakit karena melahirkan. Namun hal itu tidak mungkin. Melihat raut wajah pucat Angelnya Hans serasa kalut.


“Pak lebih cepat pak.” Hans bisa merasakan ada celananya mulai basah dan ia tau itu berasal dari Angel.


***


Setengah berlari Hans masuk ke dalam rumah sakit. Masih menggending istrinya yang tampak kesakitan.


Kecemasannya selalu diawali dengan tepukan hingga semua mata tertuju ke arahnya. Sudah mendapatkan penanganan.


30 menit berlalu.


“Kenapa lambat sekali! Istriku kesakitan saat ini!” Hans gusar masih dengan tangan gemetar berada di sisi istrinya. Dokter yang sejak tadi terus mendapat teriakan memekikan berusaha menahan kesal.


“Ini belum saatnya pak, baru pembukaan ke...”


“Kalau menunggu saatnya, istriku akan terus merasa sakit! Percepat saja!” Tukas Hans. Dokter wanita itu melongos kesal. Sudah berapa kali ia beradu argumen dengan laki-laki di depannya ini. Tadi masalah persalinan laki-laki ini banyak maunya, hanya yang berjenis kelamin wanita saja yang boleh menangani istrinya.


Lalu juga terus berteriak setiap sang istri meringis.


“Suami gila macam apa lagi yang datang kerumah sakit ini! Sudah cukup dulu kami pernah menangani proses persalinan dari seorang gengster. Rasanya begitu mencekam! Tapi sekarang! Hah...”


Hans ingin adu argumen lagi, namun Angel mengelus lemah pipinya.


“Sayang, tenang ini hal yang wajar dialami saat menuju masa persalinan.”


“Tetap saja aku tidak suka melihatmu begini.” Tangan Hans terus bergetar. “Kau saja belum melahirkan tapi sudah berteriak berkali-kali karena sakit. Bagaimana saat kau melahirkan nanti. Aku cemas...” Sudut mata Hans sudah digenangi butiran kecil air mata.


Angel tidak bisa membantah Hans.“Percaya padaku, sayang.” Angel berujar lembut dan Hans menciumi Angel dengan dalam. Dokter wanita bernama Narumi tadi memalingkan wajah, sama halnya dengan orang-orang pilihan yang dibawa di dokter untuk menemani persalinan Angel.


“Ternyata rumah sakit kami memang populer dengan para pesien yang suaminya begitu mencintai.” Senyum tipis terukir di wajah sang dokter.


“Dokter!!” Hanya sebentar. Karena Hans kembali berteriak ke arahnya dan membuatnya kesal.


Sementara itu semua keluarga berkumpul di luar dengan wajah cemas. Mama datang masih dengan memakai daster, papa masih memakai baju tidur. Hana menutupi baju tidurnya dengan jaket.


Sedangkan ayah dan ibu normal memakai baju biasa sama Juna dengan Juna.


“Duh mantu mama gimana nih, mama mau masuk juga.”


“Aku juga mau ikut, mba.” Ibu mendekat.


Ayah dan papa saling memijit pelipis melihat kelakukan istri mereka. Sedangkan Juna dan Hana tegang duduk di kursi panjang di sisi tembok.

__ADS_1


“Mana bisa mah, yang mendampingi Angel itu Hans semaunya.” Papa bicara dan hal itu mendapatkan decakan kesal dari mama.


“Anak kamu itu belum berpengalaman! Mama takut dia bikin ribut aja di dalam. Ada yang bisa keluarin dia gak?” Mama berucap, melihat atau persatu mata yang membola. Ya memang ucapan mama tidak ada salahnya. Sedari tadi Hans membuat pusing dokter melahirkan itu.


“Kalau kakak keluar, makin ribut ini rumah sakit mah. kak Hans bakal menggila karena diusir dari sisi kak Angel.” Komentar Hana, dan hal itu sukses membuat semua kepala menganguk setuju.


“Hishh mama mau masuk!” Kekeh, akhirnya baik di dalam ataupun diluar ruangan terjadi keributan.


***


Proses persalinan akan dimulai karena pembukaan sudah siap. Intruksi dokter diberikan.


“Tarik nafas dalam-dalam Bu jangan tegang.” Angel mengikuti menarik nafas dalam. Ia mulai mengejan, tangannya mencengkram lengan Hans dengan kuat.


“Hah hah hah.” Nafasnya terengah. Disuruh lagi melakukan dorongan.


“Sayang, ” Hans terus memanggil namanya.


“Akhhh”


“Dokter!...” Hans mau protes namun tatapan mata tajam sudah dilesatkan dokter Narumi si dokter garang. Seperti memperingati kalau banyak bicara keluar saja! Tentu saja Hans bungkam dan memilih menyeka keringat istrinya.


Bertarung sudah untuk menit keberapa Angel merasa kehilangan tenaga.


“Sayang! Jangan tidur buka matamu! Sebentar lagi sayang sebentar lagi anak kita akan lahir, jangan menyerah.” Ucapan Hans yang terdengar nyaring membuat Angel berusha menyadarkan diri. Iya anaknya anaknya harus lahir, setelah itu terserah jika ia pingsan ataupun nanti dijemput oleh sang maha kuasa.


Satu kali tarikan nafas ia mengejan dengan kuat. Hingga suara tangis itu terdengar nyaring. Matanya berkaca-kaca.


Anak mereka sudah lahir!


Malaikat mereka!


Malaikat yang mereka jaga dengan begitu ketat.


Sekarang rumah keluarga Prasetyo akan dipenuhi dengan tawa kecil si malaikat.


***


Epilog


Darren baru saja mendekat ke kerumunan pihak keluarga Prasetyo. Mata Hans berkilat ke arahnya. Lalu menenadang kakinya dengan keras.


“Akhh, kenapa kau menendang kakiku, Hans!” Daren tidak terima akan hal itu.


“Kau pantas mendapatkannya, apa-apa an dokter kandungan yang kau rekomendasi kan itu, dia bahkan salah memprediksi tanggal lahir anakku!” Sarana tercengang.


“Itu kan prediksi manusia Hans tentu saja mungkin ada kekeliruan.” Daren berargumen.


Mata Hans semakin melotot.


“Tapi itu juga yang membuat kami lengah. Sampai menantuku menahan sakit selama hampir 20 menit, karena tidak tau dia akan melahirkan!” Sentak mama. Lalu Darren dipukul habis-habisan oleh keluarga Prasetyo. Dasar keluarga gila!!

__ADS_1


__ADS_2