Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
CH 112-Kunang-Kunang


__ADS_3

Malam hari pun tiba. Itikad baik Hans diterima ayah dengan lapang dada. Beliau dengan teguh rela melepaskan putrinya kepada Hans yang dinilai memang pantas untuk sang putri.


Setelah makan malam, dua keluarga berkumpul di ruangan tengah. Sekarang mereka duduk lesehan. Mereka membentuk lingkaran sempurna, Hans dan keluarga yang tidak terbiasa duduk lesehan pun terlihat merasa nyaman. Mereka tidak mempermasalahkan kondisi yang ada.


“ Pak Fadli, saya sebagai kepala keluarga ingin menuturkan situasi agar lebih jelas.” Ayah membuka suara, dua kepala keluarga itu saling pandang dengan sorot mata teguh.


“Silahkan pak besan.” Ayah berdehem pelan dengan sebutan besan dari papa Fadli. Dada papa Fadli membusung merasa bangga dengan sikapnya.


“Saya menginjinkan anak saya untuk dipersunting oleh nak Hans dengan lapang dada.” Mama merasakan keharuan. Sementara yang menjadi pembicaraan memasang ekspresi tegang.


“ Iya pak besan.” Sahut papa tenang.


“Jadi saya ingin meminta satu hal sekarang, kepada nak Hans.” Ucapan ayah terdengar serius.


Detak jantung Hans seketika tak beraturan, sekarang dia dapat melihat lagi tatapan penuh ketegasan yang dilesatkan oleh ayah.


“ Silahkan ayah mertua, saya akan berusaha menyanggupi apa pun yang ayah mertua minta.”


Oho benar ini anakku!! lihat itu dia tegang, tapi tetap berusaha mengendalikan ekspresinya. Papa Fadli.


“Baiklah nak Hans saya minta pernikahan kalian dilaksanakan sesegera mungkin.” Permintaan ayah terdengar begitu tegas dan menuntut.


Hans bernafas lega, ia pikir ayah akan mengatakan sesuatu yang diluar nalar atau apapun hal yang sulit namun ternyata—, permintaan ayah sama dengan kemauan dirinya pula.


“ Saya memang berencana tidak menunda hari pernikahan saya dengan Angel, ayah mertua." Hans menyanggupi permintaan ayah. “ Bahkan jika diperbolehkan maka sabtu ini akan saya persunting Angel tanpa keraguan.” Sapuan lembut di tangannya yang berkeringat menghantarkan gelenyar rasa tenang di diri Hans. Si pelaku tidak lain adalah Angel.


Dia terlalu bersemangat, bagaimana bisa mempersiapkan pernikahan jika Sabtu menikah. Mama hendak menepuk jidatnya mendengar jawaban Hans.


Senyum ayah melukis lebar, beliau merasa senang dengan respon calon menantunya.


“ Sini nak.” Ayah merentangkan tangannya. Mata Angel yang tadi sudah menggenang, sekarang mulai menjatuhkan bulir air mata. Ayah tersayangnya, ibunya kedua orang tuanya menyetujui hubungan dengan Hans. Hal itu merupakan kebahagiaan luar biasa baginya.


“Ja-jadi besan.” Ayah terdengar canggung dengan ucapannya. Angel berada dipelukannya dengan ibu yang mengelus lembut punggung putri semata wayangnya ini. “ Saya dengan ikhlas menyerahkan putri saya kepada nak Hans. Karena itu mohon jaga dia, sayangi dia, sebagaimana saya menyayanginya.” Papa dan mama diembankan sebuah kepercayaan oleh ayah.


Mata ayah dan papa saling dipertemukan.


“ Saya sebagai calon mertua dari nak Angel, akan berusaha menyanggupi permintaan Anda pak. Saya akan berusaha dengan segenap hati menyanggupi permintaan Anda.” Suara papa terdengar teguh.

__ADS_1


Ayah mengguk menerima perkataan papa.


“Ji-jika nanti.” Nampaknya ada hal lain yang ingin ayah utarakan. Namun suara ayah yang bergetar membuat semua mata semakin memfokuskan diri. “ Jika suatu saat nanti nak Hans sudah tidak bisa menjadi tempat berlindung anak saya. Maka kembalikan dia kepada saya–, kembalikan dia ketika rasa sakit yang ditimbulkan baru sedikit, Hanya itu yang saya minta.” Hati Hans terasa tersentuh, ucapan ayah begitu dalam dan menghantam relung hati terdalamnya. Ayah meminta jika Hubungannya dan Angel suatu saya nanti mencapai titik jenuh, atupun rasa sakit, maka ayah meminta sebagai orang tua agar anaknya segera dikembalikan sebelum masuk dalam masa keterpurukan karena rasa sakit.


Mama ibu dan Angel yang memang perasa, merasa tersentuh dengan ucapan ayah dan mulai menitikkan air mata.


“Hiks...” Suara Angel terdengar jelas karena menangis, hal itu hampir aja menggoyahkan pikiran Hans. ia kemudian memantapkan diri kembali.


“ Saya akan berusaha menjadi tempat berlindung Angel sampai akhir hayat saya, ayah mertua. Saya memang tidak bisa memprediksi masa depan, namun saya akan mempertegaskan bahwa—,Selama saya masih bernafas maka hanya akan ada satu wanita yang mengisi hati saya. Hanya ada satu wanita yang akan menjadi istri saya! Dan hanya akan ada satu wanita yang menjadi ibu dari anak-anak saya, dia tidak lain adalah Angel Rasinta putri semata wayang Anda!” Bibir Hans bergetar karena dia masuk dalam emosi. Ayah yang mendengar tegasnya dan dalamnya perkataan Hans mendapatkan sebuah keyakinan. Matanya tak lepas menatap Hans lekat.


“Dan jika suatu saat saya harus melepaskan Angel...” Suara Hans nampak bergetar.


“ Hanya maut lah yang nantinya akan memisahkan kami.” Serunya penuh keyakinna. Semua mulut terdiam, kata-kata Hans lebih dalam lagi dari ayah. Mama sudah menggunakan lengan baju papa sebagai pengganti tisu. Ayah tak kuasa untuk menitikan air matanya. Ibu menghapus jejak air mata di sudut.


Papa menggumamkan betapa mengagumkannya anaknya. Sedang Juna ikut menatap penuh binar bahagia.


Ya selama dia masih bernafas maka Hans tidak akan pernah melepakan Angel. Hanya ada satu wanita yang bisa mengisi hatinya. Angel Rasinta! tidak ada yang lain.


“ Ayah pegang kata-kata kamu nak.” Hans mengangguk mantap.


Aku tampaknya memang tidak salah memilih menantu, sejak awal aku sudah suka dengannya. Sikap tulusnya terpancar begitu jelas sampai-sampai aku tidak bisa menunda lagi keinginan untuk melepaskan anakku.


***


Hans yang sedang menatap kosong jendela di malam yang gelap. Menangkap pergerakan sosok yang begitu dia kenal, bahkan jika harus mencari sosok itu dengan mata terpejam Hans pasti akan sangat mengenalinya.


Perjalanan yang tidak panjang segera membawa Hans ke depan rumah. Dilihatnya sosok kesayangannya sedang berdiri diam, dengan tangan yang mengelus lengan.


“ Kenapa keluar ?” Hans membalutkan selimut ketubuh Angel, yang sempat ia bawa tadi.


Senyum manis yang selalu terukir kembali mewarnai bibir Angel. “ Hanya ingin." Sahutnya.


“ Hanya ingin?” Hans memalingkan tubuh Angel agar menghadapnya sempurna. Pertanyaannya ditanggapi anggukan oleh Angel.


“Iya, aku terlalu larut dalam sedih bercampur senang sampai-sampai ingin mencari udara segar.” Ungkap Angel. Hans dengan lembut membenarkan posisi selimut tadi agar lebih merapat ditubuh Angel.


“ Kenapa kau sedih? Padahal aku senang setengah mati karena ayah mertua meretui hubungan kita.” Hans bertanya heran.

__ADS_1


Bibir Angel mencebik lucu. “ Kan aku bilang sedih bercampur senang.” Angel mengigit bibir bawahnya. “ Aku sedih karena sepertinya aku harus berpisah dari orang tuaku. Aku sangat tersentuh tadi, bagaimana bisa kalian beradu kata yang begitu dalam. Aku sampai-sampai berpikir apa hansku seorang penulis novel handal? hehe” Angel mengungkap dengan kekehan di ujung kalimat.


“ Aku hanya mengungkapkan apa yang ada di hatiku sayang. Semua yang kukatakan tadi berasal dari lubuk hati terdalamku, dan bukan sekedar rangkaian kata manis dibibir.” Meskipun Hans yakin Angel percaya dengan ungkapan katanya, namun ia ingin menegaskan lagi hal itu.


“ Percaya padaku, meskipun nantinya kau akan menjadi nyonya Prasetyo, namun kau akan selalu menjadi putri dari seorang Yoto Ardian! ” Artinya meskipun Angel nantinya akan menjadi istrinya, Angel akan selalu menjadi bagian dari keluarga ayah Yoto, tidak ada yang namanya Angel akan menjadi miliknya seutuhnya.


“ Terima kasih Hans, sudah mau menerima aku yang tidak memiliki apa pun ini menjadi calon istri...”


“Syutt...” Hans menekan permukaan bibir Angel, tatapannya terlihat kesal. “Aku adalah orang yang beruntung sayang, jangan merendahkan dirimu karena dimataku kau adalah hal yang paling berharga. Jangan berkata seperti itu lagi aku tidak suka.” Alis Hans saling bertautan.


Angel menganguk paham. Ditengah kelegaan dan keharuan setelah saling mengungkap rasa, mata mereka dibuat begitu berbinar dengan kerlap kerlip di sekitar. Bukan berasal dari lampu namun,


“ Kunang-kunang!” Angel berseru riang, dia berjalan mendekat ke arah kunang-kunang yang tampak bergerombol begitu banyak.


“ Hans, lihatlah ada kunang-kunang. bukankah ini sangat indah.” Senyum Angel tak hentinya berpendar. Dia dikelilingi banyaknya Kunang-kunang sementara Hans hanya memakai pemerhati wanitanya.


Kunang-kunang yang begitu banyak dan memancarkan cahaya, menjadi hal yang sangat menarik bagi Angel. Ia menggunakan jarinya berusaha meraih kunang-kunang.


“Dia menggemaskan sekali!” Gumamnya kecil dengan menahan diri.


Jika saja ayah mertua tidak ada maka kamu akan kucium habis-habisan sayang. Bisa gila aku, kau begitu menggemaskan.


Entahlah Hans tidak bisa menemukan titik jelek Angel. Angelnya selalu cantik dimanapun dan kapanpun. Dan saat ini menjadi moment indah Hans dalam menggagumi kecantikan Angel.


.


.


.


Jika berkenan berikan ulasan mengenai novel ini sebanyak-banyaknya ya semua. Apa perasan yang kalian dpat saat mbaca novel ini dari part 1-sekarang. Mohon ulasanya.


Dan jika berkenan pula, say minta kasih rate lima untuk novel ini. Terima kasih 🙇🏻‍♀️🙏🏻🙏🏻


Dan jika berkenan pula jangan lupa tinggalkan jejak like di setiap part. Dan jika berkenan pula...Banyak banget Thor😲..Eh gak jadi lah itu aja😌😙😙🙇🏻‍♀️🙇🏻‍♀️🙇🏻‍♀️


Happy reading

__ADS_1


~Tyatyut


__ADS_2