
Sejak Pembicaraan pertama Ken dan Ayana waktu di cafe mereka belum bertemu lagi. Ken sibuk dengan dedline proyek yang sedang ia garap bersama tim. Sehingga menyita waktu dan pikirannya.
Saat ini Ken terlihat sedang sibuk memandangi layar laptopnya, kacamata bertengger angkuh di pertengahan hidung mancungnya. Ia baru saja menyelesaikan rapat bersama tim bebepa waktu lalu.
“Tuan.” Alex tiba-tiba datang ke hadapan Ken.
“Ada apa?”
“Dibawah ada perempuan bernama Ayana yang meminta bertemu dengan Anda. Perempuan itu sudah menunggu sejak Anda rapat tadi.” Jelas Alex lugas.
Ken melepaskan kecamatan yang membingkai manik mata legamnya, kepalnya mendongak. Telinganya begitu tersentak mendapat informasi.
“Kenapa kau baru memberitahu sekarang.” Ken berdecak bangun dari tempat duduknya. Ayana itu orang penting, yang sudah ditunggu-tunggu Ken kedatangannya. Tapi malah disuruh menunggu, oleh anak buahnya ini.
“Persilahkan dia naik sekarang.” Nada suara Ken hampir membentak, menunjuk pula ke arah luar.
“Eh, ba-baik tuan.” Sahut Alex segera. Si tangan kanan. yang lebih mirip babu itu melangkah lebar-lebar menuju luar ruangan sang CEO.
Ck, apa perlu nada suaranya naik begitu? Padahal kan ini hanya seorang perempuan saja
“Alex.” Belum sampai menuju pintu Alex kembali di panggil. “Lain kali kalau perempuan itu datang, langsung persilahkan saja. Karena dia sedang mengemban proyek masa depanku. Dan kau sudah melakukan kesalahan karena sudah menunda progres masa depanku. ” Ken menatap tajam pada Alex dengan berlipat dada.
Alex meneguk ludahnya kasar, pikirnnya serasa dipukul dan didasarkan. Astaga itu perempuan yang ditunggu tuan Ken kan. Perempuan yang diminta mencari calon istri potensial tuan. Astaga aku memang sudah membuat kesalahan. Dasar Alex.
“Maafkan saya tuan muda, saya sedikit lupa.” Alex meringiskan senyum penuh permohonan. Pantas saja nada suara sang tuan muda terndbsgsr hendak membentak. Dia memang pantas mendapatkannya.
“Lupa? hah, kau dihukum Lex. Semua pekerjaan hari ini kau yang mengerjakan bersama sekretaris. Sementara aku akan menambah progres dalam masa depanku.”
__ADS_1
Alex terperangah.
“Mana bisa begitu tuan.” Alex merengek, sudhs lembur beberapa hari dan sekarang malah mendapat tugas tambahan.
“Syuttt! Kerjakan saja, itu hukuman. Mana ada tawar menawar dalam hukuman.” Ken mengambil jasnya, melalui Alex. Yang tanpa sepengetahuan Alex ada senyum samar di bibir Ken bersamaan langkah yang terlihat lebar-lebar.
“Sial, kasurku.” Alex menekuk wajahnya, berdecak sebal. Tampaknya bisnisnya itu memang ingin menyiksa dirinya.
Sesampainya di lantai dasar Ken melangkah lebar. Mendapati Ayana tidak sendirian tapi bersama sosok perempuan.
Ayana yang melihat Ken segera mendekat sembari menyeret perempuan disampingnya.
“Selamat siang tuan.” Ayana mengulas senyum lebar. Ken menikam alisnya dengan tangan yang masuk dalam saku celananya.
Tau akan arti tatapan itu Ayana mendekat dan memberi kode pada Ken agar menunduk.
“Menunduklah tuan.” Ayana melirik-lirik sekitar. Walau masih tidak paham Ken mengikuti.
“Saya membawakan perempuan yang cocok menjadi calon istri Anda.” Bisiknya ceria. Sontak saja mata Ken melotot. Ken menatap sekitar dengan waspada. Bagian resepsionis tampak menatap mereka dengan penasaran.
“Kenapa kau membawanya kesini!” Ken mendesis kesal.“Ikut aku, dan suruh perempuan itu pergi.” Bisiknya balik pada Ayana.
Senyum Ayana pudar matanya membulat penuh mendengar ucapan perintah one yang begitu santai.
“Loh mana bisa begitu tuan.” Suara Ayana meninggi. Ken melotot sebal karena disoroti olah para karyawannya.
Aku sudah sangat bekerja kerasa membawa wanita itu. Mana bisa menyuruhnya pergi begitu saja.
__ADS_1
Melirik gelisah pada wanita yang dibawanya yang sudah berekspresi jengkel. Padahal tadi ada binar kegaum karena melihat sosok Ken.
“Kenapa kau meninggikan suaramu!” Ken sudah mulai mode galak, menarik Ayana lebih dekat pada tubuhnya.
“I-itu karena anda semena-mena menyuruh pergi perempuan yang saya bawa.” Sahut Ayana dengan kesal bercampur takut-takut. Pupil Ken membesar melihat raut wajah berani membantah dari Ayana. Pikirnya perempuan ini adalah sosok yang lemah lembut, ternyata keras juga ya.
Memejamkan mata sejenak Ken kemudian berbisik lebih dekat dengan telinga Ayana.
“Dengar kau sudah salah membawa wanita itu kemari, karena dalam pekerjaamu aku tidak pernah mengijinkanmu untuk memproses pencarian calon istriku sendiri.” Ayana merinding mendengar suara Ken.
“Jadi ini bagiamana tuan?” Suara Ayana sudah mencicit, jadi dirinya sudah salah pegerakan. Sia-sialah keringat berkucuran yang sudah ia kuras selama satu Minggu ini karena mencari calon istri ideal yang sesuai dengan permintaan Ken.
Ken mendorong kening Ayana membuat Ayana temundur. Hal yang dilakukan Ken itu membuat para karyawan syok! Iya syok! Karena baru kali ini mereka melihat kilat jahil dari mata Ken.
“Progresnya akan dimulai dari instruksiku, jadi bicara dan suruh perempuan itu pergi. Lalu kau ikut denganku.”
.
.
.
Progres pencarian calon istri akan dimulai.
Huwaa udah lama nggak ketemu ya, maaf sudah lama Hiatus. Ini karena ada yang lebih di prioritaskan dibanding dengan menulis. Sekarang sudah berangsur beres, jadi bisa sudah menulis dengan leluasa.
Berikan banyak cinta untuk kisah Ken dan Ayana ya🤗
__ADS_1