Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
CH 134- Suami Jahat!


__ADS_3

Harap cemas, itulah kondisi Angel saat ini. Takut jika Hans tidak kembali, takut jika Hans tak memunculkan batang hidungnya, tak bisa lagi mendekap tubuh suaminya.


"Ini sayang susunya." Mama menyerahkan satu gelas susu ibu hamil yang selalu rutin Angel minum.


"Makasih ya, ma." Ucapan Angel ditanggapi senyuman oleh mama. Angel menyesap sedikit demi sedikit susu tadi.


"Malam tadi nangis lagi ya?" Pertanyaan mama membuat Angel tersedak. Mama menatap lama, ada siratan sendu yang tenggelam di manik mata mama.


"Eh, gak kok mah." Angel berusaha berkilah.


Mama terkekeh singkat." Bohong, mama tau betul kamu sering nangis malam-malam." Manik mata mama dan Angel saling terkunci, Angel menghela nafas kasar.


"Sayang denger, Hans pasti pulang, Hans pasti akan kembali...laki-laki itu tidak mungkin membicarakan istri dan anaknya hidup tanpa dia. Sekarang kamu harus yakin, berdoa pada Tuhan bahwa Hans akan baik-baik saja. Jangan terus menangis sampai membuat kondisi kamu terpuruk jangan begini sayang." Mata mama berkaca-kaca. Kesedihan tergelam di sana, hingga susana begitu senyap.


Angel mengigit bibir bawahnya kuat. " Angel berusaha mah, Angel berusaha untuk kuat. Angel berusaha meneguhkan hati, berusaha menyakinkan hati bahwa Hans akan kembali, suamiku akan kembali. Tapi...Rasanya tetap saja menyesakkan mah." Mama tak kuasa untuk menumpahkan tangisnya ia memeluk Angel, mama berusaha mengusap bahu Angel.


Beberapa saat lalu mama sempat menangis karena berpikiran buruk, tentang anaknya yang mungkin mendapat musibah. Dan ia memerintah Papa dengan keras untuk mencari putra tercintanya.


Papa sudah berusaha kerasa sampai detik ini, namun juga tak membuahkan hasil. Akhirnya sekarang ia hanya ingin terbuka, dan berusaha membuat hati menantunya juga terbuka agar nantinya jika prasangka buruknya itu menjadi nyata Angel memiliki pegangan kata dari dirinya.


"Sayang."


Suara itu, suara yang begitu ia rindukan. Angel segera menoleh, matanya kembali dibuat berkabut. Mama pun sama halnya begitu terkejut.


"Sayang kenapa nangis?" Sosok itu tampak beerlari tergesa ke arah Angel.


Karena takut ini hanya sebuah khayalan, Angel pun dengan tangan gemetar melabuhkan tangannya di pipi sosok di depannya ini.


"Kenapa ini, kenapa menangis sayang?" Suara lembut itu, sentuhan ini juga begitu nyata. Ini nyata. Ini benar-benar Hans suaminya.


Rasa sesak itu menguap dengan derai air mata. Angel sudah memeluk sosok yang ia rindukan selama satu Minggu ini, sosok yang sempat menghilang hingga memperumit rasa sesak di dadanya.


"Hans!! Kenapa datang terlambat." Tangis Angel menghantar pilu yang mendera, sementara mama sudah menangis pula karena lega.


"Kenapa baru datang sekarang?! Kau berbohong pergi selama satu Minggu! ini sudah lewat satu Minggu!" Hans hanya bisa mengusap lembut punggung istrinya.

__ADS_1


"Maaf sayang aku terlambat." Hans mengeratkan pelukannya, beberapa hari lalu begitu berat untuknya." Sudah jangan nangis lagi." Angel tidak mau melepaskan pelukannya. Terus melengket dengan Hans, seperti takut jika suami yang di dekapanya saat ini akan pergi lagi tanpa kabar.


"Kamu jahat, kenapa telponku tidak diangkat! Kenapa?! Kalau kamu menjawab teleponku kan aku tidak akan secemas ini, kamu jahat!! Dasar suami jahat." Memukul belakang badan Hans, semnayra tangannya masih setia memeluk dengan erat. Meskipun sedang meluapkan emosi.


"Hans wajah kamu kenapa?" Mama baru tersadar dan mendekat. Begitu terkejut ketiaka melihat lebih jelas ada beberapa lebam di wajah anaknya.


Hans terlihat gelagapan. Angelnya juga sudah melepaskan pelukan dan menatapnya dengan intens, melihat setiap jengkal wajahnya.


"Wa-wajahmu, wajahmu...Ke-kenapa jadi begini?" Suara Angel terdengar cemas. Hans memejamkan mata sejenak." Kenapa lebam begini? Apa yang terjadi? Kenapa wajah yang menjadi asetmu tampak tidak baik?" Angel melontarkan tanya cemas masih dengan sisi polosnya.


***


Semua bermula disana, hingga aset perusahaan menjadi tidak baik-baik saja. Ya dugaan Hans selalu tidak salah menilai. Mobil yang dikendarainya dengan Bram diikuti mobil lain.


"Lebih cepat Bram! mereka sedang menjadikan kita target, Lanjukan mobil ini dengan kecepatan penuh!" Instruksi Hans segera mendapatkan degupan jantung di diri Bram.


Sial! mobil oleng ketika melewati jalan berkelok, Mereka berdua sudah tak sadarkan diri.


Semtara wajah-wajah penuh dendam mulai mendekat ke arah mereka.


"Ck padahal ku kira akan kehilangan jejak menyangka akan semudah ini." Ucap salah satu. Ia kemudian memerintahkan pada anak buahnya membawa Hans dan Bram yang sudah tidak sadarkan diri.


Byurr


Tubuh Hans dan Bram langsung basah, mereka segera meraup udara dengan lekas, begitu terkejut. Asing dan mencekam itulah susana saat itu.


"Sadar!" Suara itu berbicara menggunakan bahasa Jepang. Bram dan Hans seketika terdiam, mata mereka melotot. Orang ini! orang yang dulu pernah mereka beri pelajaran! Asisten kliennya!


"Terkejut? Jangan terkejut begitu, seharusnya kau sudah bisa menduga akan terjadi hal seperti ini." Seringai jahat mulai terlihat.


"Meskipun aku lihai, tapi melihat banyaknya mereka aku cukup ragu bisa mengalahkannya. Harus memakai strategi." Bram mengamati sekitar dengan hati-hati.


Hans tertawa dengan begitu lantang, hingga membuat amarah si asisten mantan kliennya itu memuncak." Memangnya apa yang kau dapat dengan bersikap begini? Kau seharusnya mengenal siapa aku? Berani sekali kau menyentuhku!"


Bughh

__ADS_1


Satu pukulan keras menghantam pipi Hans.


"Banyak bicara sekali kau!" Teriaknya dengan begitu menggema dengan kilatan amarah.


"Cuihhh!! Dasar pengecut menyerang saat aku tidak berdaya." Hans memprovokasi dengan begitu kasar.


"Memang itu yang kuinginkan!... Aku tentu saja mengenalmu! kau yang membuat masa depanmu menjadi suram! kau yang membuat jari tanganku tak lagi bisa bergerak bebas! kau yang membuat hidupku hancur !!" Ya benar ungkapan itu tidak ada salahnya ,hidup asisten klien ini seketika hancur, saat ia ternyata sudah membuat masalah dengan seorang Hans.


"Kau pantas mendapatkannya! karena berani menyentuh wanitaku!" Mata Hans terlihat begitu kelam dan dingin.


"Oh kalau begitu sekarang kau juga pantas mendapatkan amarah dariku!" Kembali pukulan ingin dilayangkan namun Hans segera menghindar, kakinya yang sejak tadi berusaha ia lepaskan ikatan mulai bergerak. Bangku tadi ia angkat dan mulai melakukan sekarang, dengan tangan yang masih terikat.


Mata laki-laki di depan Hans itu seketika membulat. Bram juga sudah bergerak mulai menghalau dan menyerang mengunakan kursi yang keras tadi.


"Sial! hajar mereka!!"


Gigi Hans bergemeltuk keras, pancaran mata kelamnya begitu membuat suasana menjadi menyeramkan.


Ikatan tali di tangan dan kaki sudah terlepas, mereka di kelilingi oleh 7 orang.


"Kau hadapi 5 sebelah kanan, dan aku 2 sebelah kiri." Bisik Hans pelan pada Bram. Mata Bram langsung melotot.


"Yang benar saja pak." Balas Bram.


"Kalau aku melawan mereka semua wajahku bisa bonyok, wajahmu saja yang bonyok Bram!" Sempatnya memikirkan wajah padahal di situasi genting.


"Hiyahhhh"


Semuanya saling menyerang, meskipun Hans lihai namun tetap saja mereka kalah orang. Wajahnya mendapatkan beberapa pukulan keras.


"Rasakan ini!!!" Hans menerjang tanpa ampun asisten klien yang beraninya menyentuh dirinya dengan bogem mentah.


Dada sang klien langsung teras retak karena Hans menyerang tepat di tengah dada. Patah tulang mungkin tak terelakan.


"Beraninya kau! Bermain-main denganku! beraninya aku menghentikan jalanku!" Hans memukul dengan keras! sial padahal ia harus bertemu dengan istrinya. Dadanya masih kembang kempis, pria didepannya itu sudah tekelapar tak berdaya.

__ADS_1


"Pak saya ingin mengundurkan diri!" Teriak Bram begitu frustasi. Sudah cukup hidupnya hampir menuju jurang kematian beberapa kali, dan itu selalu saja jika bersama Hans.


Begitulah awal dari komunikasinya dengan Angel terputus, ia harus berada di kantor polisi. Bagiamana pun itu bukan negaranya, dan semuanya terasa sulit menyelesaikan. Sial semua barang yang ia miliki hilang!


__ADS_2